
Setelah bergulat cukup lama, pada akhirnya Bima dan Aldi menyerah. Mereka berdua melakukan shalat ashar meski dengan sedikit paksaan. Sementara Brian, dia tidak melakukannya sama sekali. Laki-laki itu masih kekeuh kalau shalat tidak bisa dipaksa, padahal, bukan maslah dipaksa atau enggak, namun kebiasaan, jika kita membiasakan diri untuk shalat tepat waktu, lambat laun kita akan mulai terbiasa dan akan sulit untuk meninggalkan shalat.
"Wah, Kak Bima, Kak Bima itu harus lebih lincah, jangan main hajar-hajar aja, liat tu, nyawa Kakak udah dikit banget masih aja mau ngelawan musuh." Bian sejak tadi terus mengoceh karena permainan Bima yang menurutnya masih nob banget. Kalau Bian jago main game pantas aja sih, gadis itu tidak pernah di ijinkan keluar rumah oleh ayahnya. Jadi kegiatannya sehari-hari ya cuma main game.
"Kamu belajar sama siapa sih Bi?" Aldi bertanya karena penasaran.
"Aku belajar sendiri lah, otodidak, mana ada yang mau ngajarin aku, yang ada nanti malah di marahin Ayah."
Brian hanya memperhatikan ke tiga orang yang sedang sibuk bermain game dengan seksama. Jika di perhatikan, ketiga orang itu memang cocok menjadi saudara, dalam artian, jika Bian jadi anak bungsu, masih sangat cocok.
"Akh!" Bima memekik sembari bersandar lesu pada sandaran kursi.
"Hahah, kau kalah lagi Kak!" Aldi mengejek Bima. Bian hanya tersenyum. Sebenarnya jika seperti ini, Bian seperti merasa sedang ada di rumah ayahnya.
"Aku akan bermain untuk mu!" Brian mengambil ponsel Bima dan mulai masuk ke rank. Aldi dan Bian saling pandang. Namun detik berikutnya, mereka kembali fokus pada layar ponsel dan mulai masuk ke mode rank lagi.
__ADS_1
10 Menit kemudian, Bian mengerutkan keningnya. Ini benar-benar tidak masuk akal, bagaimana bisa suaminya bermain dengan sangat lincah, padahal Bian belum pernah melihat laki-laki itu bermain game sebelumnya.
"Om, jangan begitu. Kok main keroyokan sih, Aldi, kamu itu jangan muter-muter di sana terus, bantuin aku, kalau enggak bentar lagi aku mati. Oy Om, ikh ....
Victory!
Brian tersenyum lalu melempar ponselnya kembali kepada Bima. "Gimana? Udah kalah masih mau main?" Brian berbicara dengan nada suara mengejeknya. Bian mengerucutkan bibirnya kesal. Dia turun dari atas ranjang lalu menghentakkan kakinya sembari menatap Brian sengit.
"Bian gak mau main lagi sama Om Brian."
****
Bian masih kesal dengan Brian. Sebenarnya Brian gak salah, namun Bian merasa harga dirinya di injak-injak karena Brian berhasil mengalahkannya dalam game.
"Bian!"
__ADS_1
Bian menoleh ketika namanya di panggil. Bian tersenyum lalu menghampiri orang itu. "Ayah!" gumam Bian mendekat ke arah Nugroho.
"Ada yang ingin Ayah bicarakan padamu Nak, bisa kita ke taman sebentar?"
Bian mengangguk. Wajah Nugroho terlihat sangat serius. Mungkin memang ada hal penting yang ingin dia bicarakan, namun apa itu? Bian pun belum tahu. Bian hanya mengikuti Nugroho yang sudah mulai berjalan di depannya. Bian berhenti ketika Nugroho berhenti. Mereka berdua duduk di bangku panjang yang ada di taman rumah mereka. Bian masih menunggu apa yang ingin di bicarakan oleh mertuanya, sampai pada akhirnya, Nugroho menarik napas panjang lalu membuangnya kasar. Nugroho sebenarnya tidak enak harus membicarakan ini, namun demi kebaikan bersama, Nugroho harus melakukannya.
"Jadi begini Nak, sebenarnya alasan Ayah menjodohkan Brian dengan kamu adalah karena ... karena Br-ian memiliki sorang pacar yang kurang baik. Ayah ingin memisahkan mereka berdua namun tidak bisa. Prilaku mereka hampir sama, jadi sangat sulit membuat mereka jera. Ayah sudah beberapa kali mencoba untuk memberitahu Brian, namun dia tidak mau mendengarkan ayah." Nugroho berbicara dengan wajah sendu juga wajah yang merasa sangat bersalah kepada Bian.
"Bian sudah tahu Ayah."
Nugroho langsung mendongak dan menatap menantunya blekat. "Apa? Kamu sudah tahu kalau Brian punya pacar?"
Bian mengangguk sembari tersenyum.
To Be Continued.
__ADS_1