Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Seonggok Sampah


__ADS_3

Brian sedikit berlari menyusul istrinya yang sudah mendahului dia. Namun, langkahnya melambat seiiring dengan netra nya yang melihat Byan berjinjit di depan meja resepsionis.


"Tante, Tante Sisil turun pangkat ya. Kenapa sekarang ada di sini? Bukannya udah jadi asisten CEO?"


Sisil tidak menjawab, rahangnya mengetat tat kala dia membuat gigi atas dan bawahnya beradu. Dia menatap tajam gadis itu, namun ketika dia melihat Brian ada di belakang Byan, dia langsung menunduk tidak berani menatap gadis itu lagi.


"Ikh, Tante gak asik. Byan pergi dulu Tante. Jangan lupa bawa payung kalau pulang, hari ini sepertinya akan turun hujan."


Byan berbalik. Dia langsung tersenyum melihat suaminya yang berdiri di belakangnya. "Ayok pulang Om!" Byan merangkul lengan Brian dan menuntun pria itu untuk segera keluar dari perusahaan.


"Kamu ngapain ngobrol sama Sisil, kurang kerjaan banget."


Byan mengerutkan keningnya. Dia yang kini sudah duduk di samping Brian menatap pria itu lekat. "Om, Byan kan cuma ngobrol aja, gak ngobrol sih, soalnya cuma Byan yang bicara. Mungkin Tante Sisil pagi sariawan. Tapi kenapa Om sepertinya terlihat sangat kesal?"


"Mulai sekarang jauhi Sisil By, jangan membuat hubungan apapun dengannya."


Meskipun tidak mengerti, Byan mengangguk. Dia menggeser tubuh suaminya sampai Brian mentok ke pintu mobil. Setelah itu, dia melepas tasnya dan melemparkannya ke jok depan.

__ADS_1


"Byan capek Om, Byan mau istirahat dulu." Byan membaringkan tubuhnya dan mejadikan paha Brian sebagai bantalan."Tapi Aldi ke mana ya Om, dia gak nyasar kan? Kenapa gak pulang bareng kita?"


"Mungkin pulang sama Ayah," ujar Brian sembari melepaskan jas yang dia kenakan lalu menyelimuti pinggang sampai ke lutut gadis cantik itu.


****


Hari ini adalah hari terakhir mereka melakukan ujian. Byan dan teman-temannya langsung berhamburan keluar dari ruangan. Mereka terlihat sangat bahagia dan lebih lega. Ada beberapa dari mereka yang memasang wajah lesu seperti tertekan namun tidak banyak.


"Wah, hebat ya, sekarang kita tinggal menunggu hari sampai kita benar-benar keluar dari sekolah ini." Dita merangkul bahu Byan dan Navisa. Ketiga orang itu berjalan dengan wajah yang cerah, secerah mentari di pagi hari.


"Hahah, seneng ya udah bebas. Udah bisa sering-sering open BO dong sama Om dan Sugar Daddy nya!"


"Mulut Lo busuk kayak ta* Agnes. Kalau iri bilang aja. Kenapa harus mengatakan hal-hal tidak penting seperti itu. Lo tahu, mulut Lo itu udah bau sampah gara-gara negabcot hal gak penting mulu."


"Hah, lagi-lagi Lo ikut nimbrung Dita. Lo udah ketularan lotehnya pasti sama si Byan. Lo pikir kalian ini cantik, populer, jadi kalian bisa bertingkah seenaknya. Ngaca dong, jangan bikin malu aja!" sinis Agnes pada Anandita. "Selain gadis miskin yang ngandelin bantuan negara, kalian itu bukan apa-apa. Kalian ini hanya seonggok sampah yang di buang pun sudah tidak layak." Agnes berbisik di telinga Dita, orang yang di bisiki tersulut dan ...


"Byurrrrrrr!"

__ADS_1


Dita dan Agnes menoleh dengan wajah yang baju yang sudah habis basah.


"Aldi!" geram kedua orang itu marah. Aldi mengangkat bahunya acuh lalu melempar ember yang tadi bekas air pel ke sembarang arah.


"Sorry, tadi gue liat asap dari kepala kalian. Gue pikir ada yang terbakar." Dengan santainya Aldi beralasan. Dia tidak memperdulikan wajah Dita yang semakin memerah. Sedangkan Agnes. Dia menatap Aldi tidak percaya dengan apa yang baru saja pria itu lakukan padanya.


"Aldi gila! Lo cari mati sama gue hah?"


Aldi langsung berlari ketika melihat tatapan membunuh Dita yang gadis itu layangkan padanya. Dita sudah seperti seekor banteng yang siap untuk menyeluduk Aldi kapan pun. Byan dan Navisa tertawa melihat tingkah konyol Aldi dan sahabat mereka. Begitupun dengan anak-anak yang lain. Situasi yang sebelumnya tegang berubah menjadi lebih ramai karena gelak tawa dari mereka yang melihat Aldi dan Anandita.


"Kamu kerabatnya Aldi kan, maaf baru menyapa mu. Aku Mike!"


Tiba-tiba pria itu mengulurkan tangannya di depan Byan. Byan yang polos dan tidak terlalu peka menjabat tangan itu tanpa sungkan.


"Sahabat Aldi kan!"


Mike mengangguk dengan senyum di wajahnya. Dia memperhatikan Byan dari atas sampai bawah. Masih menggenggam tangan Byan.

__ADS_1


"Pantas saja Aldi menyukaimu, kau ternyata memiliki pesona yang jarang gadis lain miliki. Daya tarik mu biasa saja di awal. Namun semakin lama, kau semakin cantik dan membuat orang nyaman ketika terus menerus memandang wajahmu. Kau istimewa Byan."


To Be Continued.


__ADS_2