Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Keresahan Brian


__ADS_3

Morning Guys ....


.


.


.


Malam hari setelah semua keluarganya pergi, Brian masih setia duduk di kursi di sebelah ranjang sang istri, tangannya masih menggenggam erat tangan istrinya yang terasa sangat hangat. Brian menyuruh semua orang untuk pergi karena dia ingin merawat dan menjaga istrinya sendiri, Brian juga membutuhkan ketenangan untuk Byan dan juga bayi-bayinya.


Brian menatap perut buncit istrinya lekat, hatinya bergemuruh, rasanya dia sangat ingin mengatakan kalau dia agak kesal kepada bayi-bayi yang ada di perut sang istri.


"Hey Baby twin's! Daddy sudah bilang jaga Mommy, kalian dengar baik-baik, kalian nggak boleh nakal, kalian harus membuat Mommy kalian nyaman setiap hari, Daddy berbicara seperti itu kepada kalian kenapa kalian tidak mau mendengarkan Daddy, apa karena Daddy selalu mengganggu kalian di dalam sana? Jadi kalian marah dan merajuk kepada Daddy hah?"


Byan yang tadi tidur tersenyum mendengar suaminya mengoceh sendiri. Meskipun dia masih memejamkan mata, namun tingkah suaminya benar-benar sangat lucu, dia mengobrol dengan bayi-bayi yang jelas ada di dalam perutnya, dia berbicara seolah-olah dia sedang mengobrol dengan orang dewasa.


"Iya Daddy, kita memang nakal, kita kesal kalena Daddy tellalu sayang sama Mommy, kita juga ingin disayang Daddy, sepelti Daddy menyayangi Mommy!" Byan berbicara seolah-olah dia adalah bayi yang ada di dalam perutnya sendiri.


"Kalian itu tidak boleh seperti itu, Daddy sayang sama Mommy karena Mommy, Daddy bisa memiliki kalian, memangnya kalian nggak sayang sama Mommy? Mommy kalian itu sudah berjuang banyak untuk kalian, kalian nggak boleh cemburu seperti itu, justru kalau kalian sudah lahir, kalian harus lebih menyayangi Mommy daripada Daddy, cukup hormati Daddy dan berikan kasih sayang kalian sepenuhnya untuk Mommy kalian, jika begitupun Daddy akan tetap menyayangi kalian, namun ingat satu hal, seperti apa yang sudah kalian ucapkan, Daddy tetap akan lebih menyayangi Mommy daripada kalian."

__ADS_1


Byan tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Jangan berbicara seperti itu, apa Om benar-benar tidak masalah jika mereka nantinya akan lebih sayang sama Byan?"


Brian menoleh ke arah sang istri, pria itu tersenyum dan mengusap lembut kepala istrinya, mengecup kening istrinya sekilas lalu kembali berucap. "Aku tidak akan pernah menyesal dengan apa yang telah aku ucapkan, kau memang sudah berjuang banyak untuk mereka, jika kau berjuang untuk mereka, sama saja seperti kau sedang berjuang untukku, aku tidak masalah jika mereka menumpahkan semua kasih sayangnya kepadamu, jika suatu saat mereka hanya menghormatiku, aku tidak keberatan!" ucap Brian.


Byan kembali tersenyum, dia sangat bersyukur meskipun keadaannya bisa dibilang tidak baik-baik saja, namun jika suaminya memperlakukannya seperti ini rasanya matipun dia sudah ikhlas.


"Om, jika nanti hal buruk terjadi sama Byan, berjanjilah! Berjanjilah untuk menyelamatkan bayi-bayi kita, Om sudah pernah memilihku satu kali, jika kali ini terjadi lagi, aku mohon, selamatkan mereka, Om harus ingat perjuangan Byan untuk mempertahankan mereka, jika suatu saat Allah berkehendak lain, dan Byan pergi sebelum bisa membesarkan mereka, tolong jaga dan rawat mereka seperti Om menjaga dan merawat Biyan saat ini, mereka akan menjadi anak-anak yang baik, mereka akan menyayangi Om. Mereka akan menjadi anak-anak yang sholeh, mereka juga akan menuntun kita menuju surganya Allah."


Brian menggelengkan kepalanya, tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak, kenapa Byan mengucapkan kata-kata yang sangat dia benci, jangankan perpisahan yang abadi, perpisahan di dunia saja sudah membuat Brian merasa tercekik, Brian menunduk memeluk sang istri dengan tubuhnya yang bergetar hebat, laki-laki itu menangis di atas dada istrinya. "Jangan katakan hal seperti itu, kita harus percaya kepada Allah, Allah akan menjagamu, kau akan ada di dalam penjagaan yang paling baik, semua orang menyayangimu mereka akan mendoakan yang terbaik untuk kesehatan mu. Jangan berbicara seperti itu, tidak akan ada orang yang lebih menyayangi anak-anak kita selain kau, kau harus optimis, demi anak-anak kita. Sekalipun aku adalah ayahnya, cobalah untuk berpikir bahwa aku tidak mungkin menyayangi mereka dan merawat mereka seperti kau yang akan menyayangi dan merawat mereka dengan baik. Jika kau mengatakan itu lagi, aku benar-benar akan marah sayang."


Byan memeluk suaminya dengan air mata yang bercucuran, Byan juga tidak tahu kenapa dia malah mengatakan hal seperti itu, dia bukan pesimis, hanya saja dia harus mengatakan hal itu karena umur orang itu tidak ada yang tahu, meskipun dia ingin hidup lebih lama dan melihat anak-anaknya menikah dan memiliki cucu, Allah tetaplah yang maha berkehendak.


****


"Apa maksudmu Sayang? Kau ingin membatalkan pernikahan kita?" tanya Rendy dengan suara yang sedikit meninggi.


Navisa mengangguk dengan mantap, dia tidak berpikir untuk dua atau yang ketiga kalinya, ketika Rendy mengatakan itu, dia sudah yakin bahwa keputusannya ini sudah benar.


"Aku sudah bilang undur pernikahan ini, atau kita batalkan saja. Kau tahu sahabatku Byan? Dia masih berbaring di rumah sakit, saat ini dia sedang berjuang untuk hidupnya dan juga hidup bayi-bayi di dalam kandungannya, lalu kau pikir aku mau menikah dan berbahagia di saat sahabatku sedang berjuang untuk hidup dan mati. Kakak pikir aku adalah orang jahat yang hanya memikirkan diriku sendiri, tidak, Byan itu sudah menjadi bagian dari hidupku, aku memang mencintaimu, tapi aku sangat menyayangi Byan. Maafkan aku, maafkan aku karena keputusanku mungkin Kakak dan keluarga Kakak akan sangat terluka, Kakak boleh meninggalkan aku jika memang tidak bisa menerima keputusan dariku, namun suatu hal yang harus Kakak ingat, aku mencintaimu, namun saat ini memang belum waktu yang tepat untuk melakukan pernikahan."

__ADS_1


Rendy termenung dengan wajah yang menunduk dalam, jujur saja rasanya dia ingin memaki dan meneriaki Navisa, bisa-bisanya dia mengundur jadwal pernikahan yang tinggal di hitungan hari, semua persiapan sudah 90% mereka hanya tinggal menunggu hari h nya, dan dengan teganya Navisa mengatakan untuk membatalkan pernikahan itu, apakah setidak berarti itu Rendy untuknya.


"Sudahlah, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, aku pikir kau benar-benar cinta dan benar-benar menyayangiku, aku pikir aku adalah prioritas utama untukmu, namun ternyata aku salah, aku ini hanya seorang pengganti, pengganti teman-temanmu yang sangat kau sayangi itu. Ketika tidak ada mereka, kau datang padaku, tapi ketika mereka ada, kau melupakan ku."


Navisa menggelengkan kepalanya, saat ini air mata semakin mengalir deras bukan itu maksud Navisa, Navisa tidak pernah menganggap Rendy sebagai pengganti, namun Navisa hanya berharap jika Rendy bisa mengerti dirinya, jika pun mereka melakukan pernikahan Navisa tidak akan bahagia, dia ingin melihat Byan menghadiri pernikahannya, dia ingin melihat orang-orang yang dia sayangi bahagia ketika dia menikah.


"Kak, bukan seperti itu maksudku, kenapa Kakak tidak mengerti?" Navisa terisak, tangannya meraih tangan Rendy. Rendy malah mendengus dia menghempaskan tangan Navisa yang menggenggam tangannya.


"Sudahlah, aku muak mendengar ocehanmu Navisa, jika kau ingin membatalkan pernikahan ini, maka batalkan saja, toh aku tidak pernah ada artinya kan dalam hidupmu. Pergilah, pergi dan temui sahabatmu itu, jika dia lebih penting daripada aku jangan pernah hiraukan aku lagi."


Mendengar kalimat itu dari Rendy rasanya benar-benar sangat menyakitkan. Dia pikir Rendy akan mengerti dirinya karena Rendy adalah orang yang paling tahu tentang dirinya dan yang paling paham tentang hatinya, namun nyatanya dia salah Rendy tetaplah pria egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Aku membencimu Kak!"


To Be Continued.


Eng ing eng.


Ada yang craying gak sih? Kok Author mewek pas nulis bab ini. 😭😭

__ADS_1


__ADS_2