Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Pernikahan


__ADS_3

Satu Minggu kemudian, di sebuah gedung mewah di kota Jakarta, sebuah pernikahan di gelar dengan megahnya. Ya, hari ini adalah hari pernikahan Anandita dan Haris, sepasang sejoli itu menikah setelah melewati asam dan garam sebuah hubungan yang awalnya di tentang hingga mendapatkan persetujuan dari orang tua Anandita meskipun harus melewati banyak drama.


Ballroom di hotel itu terlihat sangat indah, dekorasi yang begitu memukau hingga membuat susana di sana terlihat seperti sebuah istana di negri dongeng. Meskipun Anandita ini agak tomboi, dia tetap memilih tema yang soft, manis nan hangat.


"Sah!"


Semua orang terlihat sangat bahagia ketika kedua mempelai sudah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah di mata Agama maupun Negara. Haris menitikkan air mata ketika melihat wajah Anandita di depannya, begitupun dengan Anandita, dia mengecup punggung tangan Haris setelah Haris mengecup keningnya lama.


"Terima kasih sayang!" bisik Haris yang di anggukki oleh Anandita.


"Akhirnya mereka sah juga ya Om. Tinggal Kak Bima, Navisa sama Aldi yang belum sold."


Byan bergumam di samping suaminya, menatap sepasang pengantin itu dari jarak yang cukup jauh karena Brian tidak bisa dekat-dekat dengan orang lain lantaran dia yang tidak bisa mencium bau parfum yang menyengat.


"Om!" geram Byan saat melihat sang suami malah sibuk memakan cake cokelat di depannya. Pria ini benar-benar keterlaluan, akad nikah aja baru selesai, tapi dia sudah menghabiskan beberapa cake dengan jenis varian rasa yang berbeda.


"Baby jangan ambil cake nya!" Brian merajuk lantaran Byan mengambil cake cokelat yang sedang Brian makan.


"Stop. Om sudah habis 5 biji, jangan di teruskan, dokter udah bilang, Om itu boleh makan apapun tapi jangan berlebihan. Om harus tetap sehat, katanya mau jaga Byan dan mau punya Baby lagi sama Byan. Kok ingkar sih!"


Kini giliran Byan yang merajuk, wanita hamil itu pura-pura memasang wajah sedih karena tidak ingin suaminya terus melahap camilan yang ada di atas meja. Tidak apa-apa jika Brian ngemil semacam buah atau apapun yang tidak memiliki dampak buruk untuk kesehatannya, namun jika sebaliknya, Byan terpaksa harus memaksa Brian untuk berhenti.


"Baby!" Brian menggeser kursinya, memeluk Byan lalu mengusap rambutnya lembut. "Jangan marah, aku janji gak akan kalap lagi. Jangan sedih lagi ya, maafkan aku By."


Byan tersenyum dalam pelukan suaminya. Jujur saja, Byan merasa bangga pada dirinya sendiri karena bisa menjadi pawang Banteng manja miliknya. Meskipun dia sekarang lebih sering minta di manja, namun Brian masih lebih dominan memanjakan Byan sebagai istrinya.

__ADS_1


Plakkkkkkk!


Byan memukul punggung tangan Brian yang mengendap-endap ingin mengambil cake cokelat nya lagi.


"Om ikh, Byan marah beneran nih." Byan melepas paksa pelukan Brian, meninggalkan suaminya tergesa dan berjalan menuju kursi pengantin. Dengan tidak sopannya, Byan malah duduk di antara Haris dan Anandita, padahal saat itu mereka sedang melakukan sesi foto bersama beberapa fotografer.


Haris juga Anandita hanya bisa melongo, apalagi saat Brian menyusul Byan dan memohon agar istrinya tidak merajuk lagi dan mau duduk bersamanya. Sang fotografer bingung, dia harus melanjutkan sesi fotonya atau tidak, jika di lanjut, Brian dan Byan ini menghalangi pemandangan, jika tidak, Anandita dan Haris sudah harus berganti pakaian lagi.


"By, bisa gak sih Lo gak ngerusuh sehari aja!" Anandita berbisik di dekat telinga Byan. Wanita itu malah mendengus menatap Anandita tajam. Baru ingin menyela, tiba-tiba tubuhnya sudah melayang karena Brian menggendongnya dan membawa Byan turun dari atas pelaminan.


"Om apaan ikh, Byan masih marah sama Om. Jangan sentuh-sentuh Byan!"


Brian menghembuskan napas kasar. Dia bingung harus melakukan apa. Namun ketika dia mengingat sesuatu Brian mulai berbisik.


"Beneran?" tanya Byan dengan mata yang berbinar. Brian mengangguk, membalas pelukan istrinya dengan senyum merekah.


"Aku sudah bilang aku tidak mau di ganggu Kak Rendy, kita ini sudah putus. Kita gak bisa lanjutin hubungan kita. Jika Kakak tidak percaya dengan cinta yang aku berikan, kenapa Kakak harus terus berjuang untuk kembali. Sudahlah, aku capek Kak!"


Navisa hendak pergi dan meninggalkan Rendy namun pria itu menahan tangannya. Ketika Navisa berbalik, dia di buat terkejut. Rendy menggenggam jemarinya sembari berlutut, di depan banyak orang seperti ini, apa yang sedang coba dia lakukan.


Navisa melihat sekeliling, dia mulai bergerak gelisah karena tidak nyaman mendapat tatapan dari semua tamu undangan.


"Huhuy! Gaskeun Kak Rendy!"


Tiba-tiba pengantin wanita berteriak yang mana itu malah semakin membuat fokus semua orang tertuju pada Rendy dan Navisa. Seolah sudah di persiapkan sejak lama, tiba-tiba lampu di ballroom itu mulai meredup, hanya ada satu lampu besar yang menerangi Navisa dan Rendy.

__ADS_1


"Kak! Apa yang kau lakukan? Cepat berdiri!" Navisa berbicara dengan bibir yang terkatup, dia sebenarnya ingin berteriak namun dia sadar jika saat ini dia sedang menjadi pusat perhatian.


Bukannya mendengar permintaan dari Navisa. Rendy malah tersenyum, dia menggenggam jemari Navisa erat.


"Navisa, mungkin selama ini, aku belum bisa jadi pria yang kau inginkan, namun satu hal yang bisa aku janjikan, suatu saat kau akan mengerti, jika aku adalah pria yang kau butuhkan. Aku mencintaimu Navisa, sangat, kau tidak perlu memiliki cinta sebanyak yang aku miliki, cukup kau menyayangiku dan berikan sedikit cinta untuk ku, maka, aku yakin kita akan bisa hidup bahagia. Life without you will be like going to sleep and never having sweet dreams. Thank you for making every miracle possible for me. Nothing will ever stop me from loving you. I love the way you are. Navisa! Will you marry me?"


Navisa membekap mulutnya tidak percaya saat kotak beludru berwarna hitam terbuka di depan matanya, cincin berlian yang sangat cantik berkilau di antara kilau matanya yang berkaca-kaca.


"I do! I do! I do! I do!"


Semua orang bersorak heboh menyemangati Navisa untuk menerima lamaran dari Rendy. Wanita itu mengangguk dengan iringan buliran air bening dari sudut matanya.


"Yes!"


Rendy bersorak dalam hati. Pria itu mengambil cincin dari kotaknya lalu menyematkan cincin itu di jari manis Navisa. Mengecup punggung tangan Navisa sekilas lalu memeluknya erat.


"Thank you sweetie. I'm so happy. Terima kasih karena tidak menolak ku."


Navisa mengangguk. Tepuk tangan dari semua tamu undangan kian meramaikan suasana. Pernikahan sekaligus acara lamaran yang di rencanakan semua pihak berjalan dengan sangat baik.


"Om! Bukankah nanti malam Anandita dan Kak Haris akan mulai ternak kecebong?" Byan berucap tanpa menolehkan kepalanya dari Navisa dan Rendy.


"Kamu tenang saja Baby, aku sudah menyiapkan satu set kamar hotel dengan layanan VVIP khusus dari ku."


Brian tersenyum, mengecup pipi istrinya sekilas, lalu memeluk Byan dari belakang. Mereka itu tidak pernah malu memamerkan kemesraan mereka seolah itu adalah hal yang sangat biasa.

__ADS_1


To Be Continued.


Hai Guys. Author Beneran belum bisa Crazy up. Tunggu malam pertama Si Jin sama Si Tuyul ya. Tapi jangan berharap lebih. Wkwkwkw. See you Guys.


__ADS_2