Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Bergelantungan


__ADS_3

Brian menarik tangan Byan yang melingkar di perutnya lantas membawa gadis itu kembali ke dalam kamar. Sebelum itu, Brian sudah mematikan air juga menyambar paper bag yang ada di atas meja pantry.


Blam!


Pintu kamar tertutup. Byan hanya menurut ketika Brian membawanya masuk ke dalam kamar lalu mendudukkan gadis itu di atas ranjang. "Pakailah pakaian mu dulu! Aku akan mandi sebentar."


Brian berlalu pergi tanpa melirik ke arah Byan. Lagi-lagi alasannya adalah karena dia tidak ingin kejadian yang hampir membuatnya menyesal terulang kembali.


Guyuran air shower mulai terdengar. Byan beranjak dari duduknya lalu mengambil paper bag yang tadi Brian lempar. Perlahan tangan mungilnya mengeluarkan beberapa barang yang di beli oleh Dito. Keningnya berkerut tat kala Byan mengeluarkan kacamata kuda yang sangat lucu. Byan ingin tertawa, BH itu memang sangat lucu, namun kenapa ukurannya sangat kecil. Byan menunduk untuk melihat ukuran miliknya. Dia menggeleng. Ini tidak mungkin muat bukan? Byan tahu dia sangat langsing, namun ** nya juga tidak sekecil itu. Dipikir Dito mungkin Byan ini anak SMP kali.


"Apa yang harus aku pakai kalau begini?" Byan kembali mengeluarkan pakaian yang lain. Dia melihat sebuah kaos berwarna baby pink juga celana pendek dari bahan kain yang sepertinya akan sangat nyaman jika di pakai untuk tidur. Ada beberapa dres juga, namun tidak mungkin dia mengenakan itu bukan.


Setelah 20 menit berlalu. Brian sudah keluar dari dalam kamar mandi. Seperti biasa, dia keluar hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya, tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk yang lain.


"Kemana bocah itu?" gumam Brian karena dia tidak melihat siapapun di dalam kamar.


Brian berjalan ke arah walk in closed kecil yang ada di kamarnya. Brian menyentuh handel pintu dan masuk ke ruangan itu. Dia mulai melangkah mendekati lemari. Namun ketika dia membuka lemari, dia langsung di buat terkejut lantaran gadis yang dia cari ternyata ada di dalam lemari itu dan langsung melompat ke dalam gendongannya.


Untuk sesaat Brian tertegun. Lagi-lagi dia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Bahkan kali ini rasanya lebih nyata dari yang sebelumnya.


"Apa yang ku lakukan Boncel? Ngapain kamu di sini? Mau ngintip?"

__ADS_1


Brian berbicara dengan suara yang agak meninggi. Dia merasakan Byan yang menggeleng di samping lehernya. Kedua kaki gadis itu mengait dengan sempurna di belakang pinggang Brian.


"Byan sudah bilang kalau Byan takut suara petir Om. Di kamar, Byan masih bisa mendengar suaranya. Tapi di sini Byan tidak mendengar apapun. Byan tidak bermaksud untuk mengintip. Byan takut bintitan Om."


Brian berusaha untuk menurunkan Byan namun lagi-lagi gadis itu menempel seperti sebuah lem. Bisa-bisa Brian khilaf kalau terus seperti ini.


"Lepasin gak boncel! Kalau enggak, aku akan mencium mu seperti waktu itu!"


Hening, tidak ada jawaban dari Byan. Detik berikutnya Brian merasa gadis itu sudah melonggarkan kedua tangannya. Kedua tangan Brian masih menahan bokong Byan agar gadis itu tidak jatuh. Dia menatap mata gadis yang kini sedang menatapnya lekat. Mata gadis itu sangat bersinar. Mata bulatnya mengerejap dengan lucu.


"Om!"


"Hem!" Brian menyahut dengan mata yang masih tidak beralih dari mata Byan.


Brian diam tidak menanggapi. Gadis kecil yang kini ada dalam gendongannya sedang melakukan apa? Bukankah saat itu Byan menangis ketika dia menciumnya?


Karena tidak sabar menunggu jawaban dari Brian, Byan langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Brian. Detik berikutnya, bibir mereka sudah menempel dengan sempurna. Pada awalnya Brian sedikit tersentak. Matanya membulat, gelenyar aneh itu kembali dia rasakan. Gadis itu hanya sebatas menempelkan bibirnya. Mungkin dia belum bisa membedakan antara ciuman dengan kecupan. Ketika Byan ingin menarik wajahnya, Brian malah berjalan maju membuat tubuh dan kepala Byan mentok ke pintu lemari.


"Om, Byan ingin turun!" Byan menyeru dengan suara yang lembut.


"Kau ingin kabur setelah menggodaku bocah kecil? Jangan harap kau bisa melakukan itu."

__ADS_1


Byan terbelalak saat tiba-tiba bibir suaminya menempel pada bibirnya dan mulai menyesap bibir bawahnya dengan kuat. Brian mulai menciumi Byan dengan bringas. Lidahnya terus menari meliuk-liuk seperti seekor ular. Perlahan Byan mulai menikmati ciuman itu. Meskipun sedikit terbata, dia mulai mempelajari apa yang Brian lakukan padanya. Brian tersenyum dalam ciuman yang dia lakukan. Perlahan tangan kekarnya mulai menelusup masuk ke dalam kaos yang Bian kenakan. Telapak tangan dingin itu membuat Byan panas dingin. Jantungnya berdegup tak karuan. Sepertinya jantungnya akan meledak saat itu juga.


"Tuan!"


Tok! Tok! Tok!


"Tuan!"


Brian menggeram. Tangannya baru sampai mengusap perut Byan namun seseorang sudah menganggu kegiatannya. Laki-laki itu mendengus kasar lalu menurunkan Byan dengan sangat hati-hati.


"Aku akan keluar dulu! Dan ya, cari jaket di dalam lemari, jangan biarkan mereka bergelantungan seperti itu. Kau pikir aku pria baik-baik hah?"


Byan melotot. Dia menunduk ke bawah melihat ke arah yang seperti apa yang Brian lihat. Kedua tangannya refleks menutup aset berharga miliknya. Byan baru sadar kalau dia hampir melakukan kesalahan yang sama. Namun kali ini siapa yang harus dia salahkan, Byan menyerahkan diri dengan suka rela pada serigala yang sudah menjadi suaminya itu. Byan tidak menggunakan BH karena BH itu tidak muat padanya.


Byan sebenarnya tidak bermaksud nakal. Dia hanya ingin memastikan apakah yang dia baca itu benar atau tidak. Tadi siang dia sempat mencari tahu tanda-tanda kalau orang jatuh cinta. Pada awalnya Byan kaget, karena semua tanda-tanda itu ada pada dirinya ketika dia sedang berada di dekat Brian. Jantungnya selalu berdegup tidak normal, bahkan Byan sempat berpikir kalau dia memiliki kelainan jantung seperti apa yang ibunya derita. Lalu, Byan selalu memikirkan Brian kapan pun dan di mana pun. Ketika dia sedang sedih atau bahagia, yang dia ingat pertama kali adalah Brian, bahkan tadi, ketika dia hampir di lecehkan, wajah Brian tiba-tiba muncul membuat dia sangat ingin berteriak memanggil laki-laki itu.


Tubuh Byan ambruk di atas lantai ketika Brian sudah keluar dari walk in closed. Byan memegangi jantungnya yang masih berdegup Kencang. Dia juga mulai meraba bibirnya, bibir Brian serasa masih menempel di bibirnya. Byan merasa ini gila. Kenapa dia harus jatuh cinta pada suami yang tidak pernah mencintainya. Apa yang harus dia lakukan?


10 menit kemudian, Byan dan Brian sudah ada di meja makan. Mereka mulai canggung kembali. Byan tidak bersuara. Dia hanya fokus makan sembari melirik Brian sesekali. Hatinya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Bahkan ketika melihat Brian yang sedang minum dengan jakun yang naik turun, hal itu mampu membuat Byan menjerit dalam hati. Rasanya Byan sangat ingin memegang jakun itu dengan tangan mungilnya.


"Ya Allah, bolehkah Byan mencintai orang ini?"

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2