Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Tidak Senang


__ADS_3

Byan dan teman-temannya pergi dengan perasaan yang sangat bahagia dan penuh semangat. Tahun lalu tidak banyak yang ikut acara camp car karena satu dan lain hal. Namun tahun ini sepertinya banyak sekali yang ikut. Byan berada satu mobil dengan Navisa, Anandita, dan masih ada 5 siswi lainnya. Bus yang mereka naiki ini juga akan menjadi camp untuk mereka menginap selama mereka berlibur. Hari-hari yang begitu melelahkan saat ujian, kini sudah lewat. Waktunya bagi mereka semua pergi healing dan menikmati waktu bersantai.


Byan tertawa melihat kekonyolan Anandita selama di perjalanan. Sementara lima gadis lainnya lebih memilih untuk mengasingkan diri karena mereka tidak suka berdekatan dengan Byan. Mereka benar-benar tidak tahu jika sponsor dari camp car tahun ini adalah suami dari gadis yang kini sedang mereka tatap dengan jijik.


Sesampainya di pedesaan yang udaranya masih sangat asri dan segar, mereka semua langsung turun. Banyak di antara mereka yang terkagum-kagum dengan pemandangan yang sangat luar biasa indah ini. Area perkebunan teh yang hijau dan terhampar dengan luas membuat mata mereka jernih kembali. Bahkan ada pemancingan, juga ada lahan sayur mayur.


"Masyaallah, ini indah banget Dit, Na. Yang memilih tempat ini benar-benar genius. Kita bisa melakukan banyak hal di sini. Lihat, ada pemancingan, juga ada lahan sayur mayur. Kita bisa masak hasil panen kita sendiri kan?"


Byan berbicara dengan wajah yang antusias. Namun Dita malah memutar bola matanya malas.


"Memangnya Lo bisa masak apa, setau gue, selain mewek dan makan, Lo gak bisa ngapa-ngapain lagi."


Byan tertawa. Navisa juga ikut tertawa. Memang benar yang dikatakan oleh Anandita, selain nangis dan makan, tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan.


"Gak papa, katanya camp kali ini kita juga di berikan satu bus yang isinya koki sama orang-orang yang akan mengurusi makan kita selama di sini."

__ADS_1


Anandita dan Byan membulatkan mata mereka mendengar apa yang Navisa ucapkan. Siapa lah orang yang mau menghamburkan uang untuk hal seperti ini. Jika pun dia memiliki uang triliunan, apa gak sayang jika harus membuangnya untuk memberikan pasilitas mewah seperti sekarang.


"Aku acungi jempol untuk orang-orang yang mengatur acara ini!" Byan bergumam dengan yakin.


"Perhatian semuanya, saya sebagai ketua dari panitia yang mengatur kelangsungan acara liburan kita kali ini ingin menyampaikan sesuatu hal yang baru pada kalian."


Semua siswa dan siswi menunggu kelanjutan cerita dari orang yang mengaku sebagai panitia. Mereka terus berbisik berusaha menebak hal baru apa yang akan terjadi.


"Ekh, dia Pak Somad kan, guru termuda, yang ganteng tapi rada oon itu?" Dita berucap agak keras membuat para siswa lain menoleh ke arahnya.


"Jaga mulut kamu Dit, kamu itu kalo ngomong suka gak di saring." Navisa berusaha mengingatkan namun Dita tidak perduli.


Anandita dan Navisa menoleh ke arah Byan. Gadis ini sudah bisa mencela sekarang, sepertinya virus yang Dita sebarkan berkembang dengan baik di otak gadis itu. Dita tersenyum bahagia, namun Navisa, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Jadi begini," lanjut Pak Somad. "Kali ini kita akan kedatangan tamu yang sangat istimewa. Mereka adalah alumni sekolah kita. Meskipun bukan alumni baru, namun kalian pasti akan sangat kagum melihat pencapaian yang telah mereka dapatkan selama bertahun-tahun ini."

__ADS_1


Setelah Pak Somad mengutarakan hajatnya, tiga bus atau lebih tepatnya caravan mulai memasuki area di mana mereka akan bermalam. Tiga mobil besar itu terlihat sangat mewah dan memang lebih besar dari mobil-mobil yang di pakai oleh siswa lain.


Semua orang harap-harap cemas menantikan siapa saja yang akan turun dari mobil itu. Jantung mereka berdegup tak karuan. Ya, mereka sangat berharap jika para senior mereka ini adalah pria tampan atau wanita cantik.


Satu orang mulai keluar. Dan semua orang siswa bersorak gembira ketika melihat wanita cantik dengan sangat elegan turun dari dalam mobil. Byan menautkan keningnya, sepertinya dia pernah melihat wanita itu, namun di mana dan siapa.


"Kamu kenal dia By?" tanya Navisa melihat gelagat sahabatnya. Byan langsung menggeleng. "Sepertinya tidak."


Setelah wanita itu keluar, seseorang yang lain muncul. Dan kali ini para siswilah yang bersorak heboh. Sementara Byan, Navisa dan Anandita melongo. Bagaimana mungkin ini terjadi.


"Beib, Lo bawa pawang Lo ke sini hah?" Tanya Anandita di samping telinga Byan.


Byan tentu saja menggeleng. Dia menatap orang itu dari atas sampai bawah. Wajahnya menjadi sangat masam, dan dia juga memalingkan wajahnya ketika orang itu menatap ke arahnya lekat.


"Anjir, suami Lo benar-benar keren By, kenapa gak Lo kasih aja buat Gue."

__ADS_1


Byan langsung menoleh dan melotot ke arah Anandita. "Kamu mau aku lempar ke kolam lele Dit? Sepertinya akan menyenangkan melihat kamu kejang-kejang di sengat patil lele."


To Be Continued.


__ADS_2