Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Menggoda


__ADS_3

Hayo Like dan Komentarnya jangan lupa. Aku nulis, kalian baca. Kalian seneng baca tulisan aku yang semraut, aku seneng baca komenan kalian. 🤣🤣🤣🤗🤗🤗🤗


.


.


.


Brian sedikit tersentak dan terkejut ketika Byan meneriakan namanya sembari berlari. Kenapa gadis ini ada di sini. Padahal Brian sudah menyuruh bodyguard untuk mengantarkan istrinya pulang.


"Aldi!" geram Brian menatap adik laki-lakinya horor.


Aldi mendengus. Dia menghentakkan kakinya kesal. "Jangan salahkan aku. Bocah itu yang ingin menemui Kakak!" tunjuk Aldi pada Byan.


Resepsionis dan satpam yang tadi mengejar Byan dan Aldi saling pandang.


"Nah, dia beneran ade nya Tuan Muda. Matilah kita!" Gumam satpam itu. Wajah resepsionis tadi mendadak pucat pasi. Jangan sampai dia di pecat gara-gara masalah ini. Dia bekerja belum satu bulan dan belum menerima gaji.


"Maafkan saya Pak, mereka anak-anak saya. Mari saya antar Bapak," ujar Nugroho pada beberapa kliennya.


Nugroho menatap Brian. Pria itupun mengangguk. Dia tahu jika ayahnya juga masih berusaha untuk menutupi pernikahan Byan dan dirinya karena Byan masih belum lulus sekolah.


Setelah kepergian Nugroho dan beberapa kliennya, Brian menangkup wajah Byan dan menatap gadis itu. "Kamu ini nakal By, aku sudah bilang jangan terlalu lelah dulu. Kalau kamu sakit lagi gimana?"


Byan tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Byan kangen Om, Byan gak bisa jauh-jauh dari Om. Om gak kangen ya sama Byan?"


Brian celingukan memperhatikan area sekitar. Dia menurunkan masker yang di kenakan Byan lalu menunduk dan mengecup bibir tipis nan menggoda milik istrinya sekilas. Byan terkekeh. Dia meniru apa yang di lakukan oleh suaminya.


Cup!

__ADS_1


Satu kecupan mendarat di bibir Brian. Semburat merah muncul di pipi keduanya. Aldi yang melihat itu malah memalingkan wajahnya tidak suka. "Dasar biawak, kenapa harus adu bibir di sini sih, kan bisa nunggu di rumah."


Aldi melengos pergi meninggalkan satpam dan resepsionis yang masih mematung di tempat mereka. Sebenarnya mereka ingin meminta maaf namun mereka tidak memiliki keberanian itu. Untunglah mereka menunduk. Jadi mereka tidak melihat kebucinan sepasang biawak yang membuat Aldi dongkol.


Beberapa saat kemudian, Brian sadar jika tadi istrinya berlari seperti orang yang di kejar warga sehabis maling ayam. Dia mengangkat kepala, tatapan nya lurus ke depan. Dua orang yang bekerja di perusahaannya sedang menunduk sembari memilin ujung baju mereka.


Brian menarik tangan Byan untuk mendekat ke arah orang-orang itu. Tatapannya sungguh jauh berbeda dengan tatapan yang akhir-akhir ini dia tunjukan untuk Byan. Mata elangnya mampu membuat siapa saja langsung menciut dan tidak berani untuk menghirup udara yang sama dengannya.


"Kenapa kalian masih di sini? Gak langsung pulang? Atau, mau saya panggilkam satpam lain supaya kalian bisa langsung di usir?"


Satpam dan resepsionis itu membungkuk dalam. "Maafkan kami Tuan, kami tidak tahu kalau nona ini adalah adik Anda. Jangan pecat kami Tuan, kami sangat membutuhkan pekerjaan ini."


Brian menggeram. Dia ingin kembali memarahi dua orang itu namun tangan mungil istrinya meremas tangan besarnya. Brian menoleh. Byan menggelengkan kepalanya membuat Brian mendesah menghembuskan napas kasar.


"Kalian pergilah! Jangan sampai hal ini terjadi lagi."


"Semangat!" ucap Byan tanpa suara sembari mengepalkan tangannya tersenyum ke arah resepsionis dan satpam yang baru saja kena semprot suaminya.


***


"Om, Om itu jangan terlalu galak sama mereka. Kasihan mereka. Om tahu, tadi itu memang Byan yang salah. Byan ngajak Aldi lari, jadi mungkin mereka salah paham. Byan seneng kok mereka kayak gitu. Byan jadi nostalgia ke masa-masa kecil Byan."


Brian mengusap lembut kepala sang istri. Saat ini mereka sedang berada di dalam lift. Seharusnya ini juga sudah jam pulang kantor. Hanya saja karena tadi ada sedikit urgent, Brian meminta sebagian karyawan untuk tidak pulang dulu.


"By, kenapa kamu sangat baik? Kamu tahu, kamu ini adalah istri bos besar sekarang. Bahkan dengan kekayaan yang aku miliki, kau bisa berbuat sesuka hati, orang-orang akan tunduk padamu."


Brukkkkk!


Brian membulatkan matanya ketika Byan mendorong tubuhnya dan memojokan Brian ke dinding lift. "Om dengerin Byan, meskipun Om kaya, Om gak boleh Mandang orang lain karena status. Nih Byan bilang, kita manusia, mereka juga sama manusia. Gak ada perbedaan di antara kita semua. Di mata Allah, derajat kita sama. Byan ingetin Om ya, Om jangan kayak gitu lagi sama orang. Pamali."

__ADS_1


Byan menatap mata suaminya tajam. Sikunya dia gunakan untuk menahan dada Brian supaya laki-laki itu tidak bisa bergerak. Gaya Byan ini sudah persis seperti anggota gengster ketika menggertak orang.


Brukkkkk!


Kali ini Byan yang di pojokan ke dinding lift. Brian menunduk, menatap mata Byan lekat, sudut bibirnya tertarik ke atas, jari tangannya mulai memainkan rambut istri cantiknya itu.


Brian mendekatkan wajah mereka membuat Byan refleks menutup mata. Brian semakin tersenyum lebar. Dan ketika Byan sudah memanyunkan bibirnya ....


Tuk!


Brian mengetukan jari telunjuknya di kening Byan. Gadis itu membuka mata dengan kening yang bertaut.


"Anak kecil gayanya selangit. Udah pinter menasihati orang gede sekarang?" Brian berbicara sedikit terkekeh.


"Akhhhh!"


Pria itu memekik saat jemari mungil istrinya secara tidak sopan mencubit kecil pinggangnya.


"Rasain. Wleeeeee!"


Baru saja Brian akan menarik pinggang gadis itu, pintu lift sudah terbuka.


"Kejar Byan kalau bisa Daddy~~~"


Bisikan mendayu Byan membuat Brian mematung seperti orang bodoh.


"Astaga gadis itu menggodaku!"


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2