
Hai Guys. Author mau memberikan bocoran ni. Rencananya novel ini akan tamat bulan ini. Tapi untuk tamat di bab berapa Author belum tahu. Kita lihat saja dulu alurnya. Btw. Gak papa ya kalau mulai besok Author up 2 bab aja. Kalau memang mungkin author up 3 bab. Tapi kalau mungkin. Tetep semangat. Author harap cerita ini gak berbelit-belit namun juga gak terlalu sat set. Oke gitu aja Guys. Selamat membaca ya.
🔥🔥🔥
"Astaghfirullah ....!"
Byan memekik sembari terduduk memegangi selimut di dadanya. Dia mengambil ponsel, menghidupkan ponsel itu dan menatapnya beberapa saat. Jam 20:15.
"Ada apa By, kenapa kau sangat serius seperti itu?"
Tangan besar Brian melingkari pinggang Byan dan paha gadis itu. Matanya terpejam menikmati kantuk yang sangat luar biasa. Sepertinya dia baru tidur beberapa menit yang lalu. Kenapa istrinya sudah ribut lagi.
"Kita harus pulang sekarang Om."
Brian mengerutkan kening. Dengan sudah payah dia membuka matanya ikut duduk seperti apa yang Byan lakukan. Kembali tangan itu menarik pinggang ramping sang istri dengan kepala yang sengaja dia sandarkan di bahu putih nan mulus itu.
"Ada apa, kenapa tiba-tiba?" tanya Brian dengan suara serak nya.
"Cole!"
"Cole," tanya Brian heran.
"Iya. Cole Om. Cole!"
...----------------...
"Ibu! ... ... !"
Bima berteriak dengan suara yang lantang. Dia turun dari lantai atas dengan langkah tergesa. Pria itu terus bergerak mencari Anjani yang entah ada di mana.
"Ibu!"
Teriakan yang kesekian kalinya sukses membuat Macan Asia keluar dari kandang. Hembusan napas kasar terdengar. Anjani tentu saja merasa kesal mendengar keributan di tengah malam seperti ini.
"Ada apa Bima? Kenapa kau ribut tengah malam begini? Ibu capek, mau tidur."
Bima tidak menggubris pertanyaan Anjani. Dia langsung menarik tangan Anjani membawanya masuk ke ruang keluarga.
"Kenapa ada wanita gila di kamar Bima? Siapa wanita itu Bu? Kenapa membiarkan orang gila masuk?"
Anjani menautkan alis mendengar Bima marah-marah tidak jelas seperti itu. "Wanita gila apa Bima, mana ada wanita gila di rumah ini," ucap Anjani semakin enggan meladeni Bima.
****
Beberapa pasang mata menatap tajam seorang wanita yang kini sedang duduk di depan mereka dengan penampilan yang berantakan. Rambut kusut, kaos kebesaran dengan hotpants tertutupi kaos oblong yang dia kenakan juga riasan mata yang beleber ke mana-mana.
__ADS_1
"Mbok Jum!" Anjani berteriak. Seketika itu juga Mbok Jum datang dengan kepala yang tertunduk.
"Iya Bu!"
"Siapa wanita ini, kenapa dia bisa masuk ke rumah ini, dan malah tidur di kamar Bima?"
Mbok Jum melirik wanita itu sekilas lalu kembali membuka suaranya. "Nona ini teman Non Byan Bu. Tadi sore pas Ibu lagi pergi sama Bapak, Nona ini membawa surat dan menunjukkan surat itu sama simbok."
"Surat? Surat apa?" tanya Anjani bingung.
Wanita itu mengambil sebuah kertas dari dalam saku hotpants yang dia kenakan lalu menyodorkannya kepada Anjani.
"Apa ini?" tanya Anjani sinis.
Perlahan jemarinya mulai membuka lipatan kertas itu hingga kertasnya terbuka dengan sempurna.
Aldi, Bima dan Nugroho mendekatkan kepala mereka juga ingin melihat isi yang ada di dalam kertasnya.
Beberapa menit kemudian, Anjani, Bima dan Aldi saling tatap. Namun tidak dengan Nugroho, dia malah mengangguk sembari kembali duduk di tempat semula.
"Jadi kau teman Byan?" tanya Nugroho dengan bahasa Inggris.
"Yes Mr. I'm Cole." Wanita itu bersuara dengan senyum termanis yang dia miliki.
Bersamaan dengan itu. Terdengar suara mobil Brian berhenti di depan halaman rumah mereka. Anjani langsung berdiri menuju pintu keluar. Begitupun dengan yang lain. Kecuali Cole. Wanita itu masih duduk memperhatikan interior rumah keluarga Nugroho.
"Ayah, Ayah sudah tahu ini kan sejak awal?" Anjani menodong suaminya dengan tatapan maut.
Nugroho berdehem. Tangannya terus bergerak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Selamat datang kembali Tuan Putri!" Brian mengulurkan tangan meminta Byan untuk segera turun.
"Byan!"
Aldi dan Bima berteriak. Mereka berdua berlari menghampiri gadis cantik yang sudah sangat lama mereka rindukan.
Bughhhhh!
Kedua orang itu menabrak tubuh Brian hingga laki-laki itu oleng dan hampir saja terjatuh.
"Kami merindukan mu By!" Aldi dan Bima memeluk gadis itu seolah mereka adalah saudara kandung yang sudah lama terpisah namun kini di pertemukan kembali.
"Heum, kangen sama Byan tapi gak pernah nengok Byan di Prancis. Bullshit kalian ini."
Byan mengerucutkan bibir nya merasa agak kesal dengan kakak beradik ini.
__ADS_1
"Lepasin Byan Bima, Aldi!"
Brian menggeram, berusaha untuk melepaskan tangan Aldi dan Bima, namun kedua orang itu malah mendorongnya hingga dia hampir terjatuh kembali.
"Dasar gak ada akhlak. Lepasin istriku Bima!"
Kedua orang itu tidak menggubris. Mereka merangkul Byan, membawa gadis itu semakin menjauh dari banteng gila yang selalu uring-uringan gak jelas saat Byan tidak ada.
"Assalamualaikum Ibu!"
Anjani membalas salam Byan. Memeluk gadis itu, dan mengecup keningnya beberapa kali. "Kenapa baru pulang Nak, Ibu sangat merindukan mu. Apa kau baik-baik saja? Kau makan dengan baik kan di sana? Sepertinya iya. Kau sudah semakin tinggi."
Byan terkekeh. "Hanya bertambah 5 cm Ibu."
Anjani mengangguk, dia membawa Byan masuk ke rumah, di ikuti ketiga bodyguard nya. Sementara Brian. Laki-laki itu terlihat sangat kesal. Dia meninju udara beberapa kali. Brian sudah menyangka ini akan terjadi. Oleh karena itu dia tidak ingin membawa Byan pulang. Tapi karena Cole. Brian terpaksa harus menuruti istrinya ketika dia meminta untuk kembali.
"Dasar keluarga aneh. Sebegitu sayang nya sama anak orang sampai anak sendiri di asingkan kayak gini. Nasib, nasib."
Rumah itu kembali ramai seperti dulu. Apalagi sekarang ada Cole yang menemani Byan. Cole adalah satu-satunya sahabat Byan dan Navisa di Paris. Gadis itu adalah orang yang selalu membawa Byan dan Navisa keliling Prancis. Dan sekarang, Cole ingin tahu negara asal Byan tinggal. Dia ingin menghabiskan beberapa Minggu di Indonesia untuk bermain.
"Jadi kamu sudah pulang sejak pagi By?" tanya Anjani.
Byan mengangguk. "Tadi Byan nemuin Om Brian dulu Ibu. Byan juga ketemu sama Ayah. Iya kan?"
Nugroho mengangguk mengiyakan, hingga dia langsung mendapat pukulan dari Anjani. "Kau jahat Nugroho," dengus Anjani kesal.
"Aku hanya di suruh sama Byan. Kenapa marah padaku?" sela Nugroho tidak terima.
"Brian yang salah. Brian sengaja gak langsung ngajak Byan pulang karena Brian tahu kalian pasti akan membuat Brian kesulitan berduaan dengan Byan."
Byan mengangguk. Dia tersenyum ke arah sang suami. Tangan Brian terulur mengusap kepala Byan lembut hingga membuat hati Anjani meleleh.
"Ibu sama Ayah udah ngasih hadiah untuk Byan. Kamu ngasih apa Bri, jangan bilang gak ngasih apa-apa."
Brian mengangkat bahunya acuh. Seiring dengan itu. Byan mengangkat tangannya memperlihatkan cincin berlian yang tersemat di jari manisnya.
"Woooooaaahhhhh ... cantik banget cincin nya By."
"Kami akan segera menggelar resepsi pernikahan Ibu." Ucap Brian membuat Anjani semakin ternganga.
"Really?"
To Be Continued.
Bab hari ini done ya. 🤭🤭🤭🤭🙏
__ADS_1