
"Apa sekarang kita akan menemui Mommy Daddy?" tanya Ameera. Ameera adalah Kakak dari Ammar karena saat lahir, Ameera nyatanya lebih kuat dari Ammar, bobotnya pun lebih besar dari bobot Ammar. Jika Ammar harus berada di inkubator selama 1 bulan, Ameera hanya memerlukan waktu kurang dari dua Minggu. Dan ketika mereka sedang dalam masa pertumbuhan pun, Ameera lebih cepat tumbuh dan berkembang di bandingkan Ammar.
Brian mengangguk, sontak saja kedua bocah kecil itu bersorak gembira. Mereka memang selalu mengunjungi Byan setiap hari, namun terkadang jika Brian sedang sibuk, mereka akan melewatkan waktu itu. Sedangkan Brian, dia akan tetap mengunjungi istrinya meskipun di tengah malam sekalipun.
"Tapi kalian janji sama Daddy, kalian gak boleh nakal, jangan menganggu Mommy."
"Siap Tuan Bos!"
Ameera dan Ammar memberikan hormat kepada Brian yang mana itu membuat Dito tersenyum. Ammar dan Ameera ini adalah anak-anak yang kuat, mereka tumbuh dalam asuhan Brian dan itu membuat mereka terkadang bisa mengerti apa yang seharusnya anak seusia mereka belum mengerti. Brian selalu tegas terhadap anaknya. Dia tidak pernah memanjakan Ammar dan Ameera berlebihan.
...----------------...
"Assalamualaikum sayang! Hari ini aku datang lebih cepat, aku membawa putri dan pangeran kita untuk mengunjungi mu. Apa kau baik-baik saja selama aku tinggal?"
Brian menatap dan mengusap kepala wanita yang sudah 4 tahun ini berbaring di atas ranjang rumah sakit di bantu alat-alat penunjang untuk membantunya agar tetap bertahan. Sebenarnya ada beberapa sahabat Brian yang meminta Brian untuk merelakan Byan, namun dia tidak bisa, Brian yakin kalau istrinya masih bisa di selamatkan. Brian dan semua keluarganya juga keluarga Byan dan sahabat terdekat mereka selalu mendoakan yang terbaik untuk sang istri.
"Daddy, apa Mommy masih tidur, kapan Mommy akan bangun? Seharusnya Daddy cium Mommy bial Mommy bisa cepat bangun sepelti putli tidul di celita dongeng yang Ammal baca."
Brian tersenyum, dia memangku Ammar dan mendudukkannya di samping sebelah kiri Byan, sementara Ameera di dudukkan di samping kanan Byan.
"Sekarang peluk dan cium Mommy kalian. Semoga setelah ini Mommy bisa merasakan kehadiran kalian. Jangan nakal, Daddy mau bertemu dokter dulu."
Kedua kakak beradik itu mengangguk, ketika Brian sudah pergi dari ruangan itu, Ammar dan Ameera mulai fokus menatap sang ibu, membelai wajahnya lembut da beberapa kali mengecupnya.
"Mommy, Ammar sama Ameera sangat merindukan Mommy, kapan Mommy bangun, kita juga ingin seperti anak-anak yang lain Mommy. Kita ingin bermain dan jalan-jalan dengan Mommy."
"Iya Mommy, Ammal dan Ameela ingin pergi sekolah di antal Mommy bial temen-temen kita gak nakal lagi, meleka pasti tidak akan menggangu Ammal sama Ameela kalau meleka melihat kita punya Mommy sepelti meleka."
__ADS_1
Ameera dan Ammar kembali mengecup bagian-bagian wajah sang ibu yang terbebas dari alat bantu. Ammar juga menggenggam tangan Byan lembut, air mata bocah kecil itu menetes di atas punggung tangan Byan.
"Cepet sembuh Mommy, Ammar dan Ameera janji, kita gak akan nakal dan gak akan membuat Mommy marah."
****
"Bagaimana Dok? Apakah ada perkembangan tentang kondisi istri saya?" tanya Brian menatap dokter yang selama ini memantau kesehatan sang istri penuh harap.
"Selama beberapa bulan ini, kondisinya bagus dan stabil Tuan. Kita berdoa saja, semoga Tuhan memberikan keajaiban untuk kita semua. Tuan yang sabar ya, saya harap istri Tuan bisa cepat sadar, karena sebenarnya ada kasus sama seperti ini, pasien koma itu bangun setelah 10 tahun hidup di bantu alat-alat yang ada di rumah sakit ini."
Brian menghembuskan napas kasar, dia bisa menunggu lebih lama dari itu, namun bagaimana dengan anak-anak mereka, apakah mereka akan baik-baik saja.
"Byan!"
Brian memekik tat kala melihat monitor yang menampilkan CCTV di ruang rawat istrinya. Dia langsung berlari membuat dokter itu terkejut, namun saat melihat monitor, dia juga ikut berlari seperti orang yang di kejar setan.
"Brakkkkk!"
Brian menurunkan Ameera dan Ammar dari atas hospital bad. Bersamaan dengan itu, beberapa dokter dan perawat masuk.
"Sebaiknya kalian keluar dulu," ucap dokter yang melihat kondisi Byan, wanita itu tiba-tiba mengalami kejang yang membuat semua orang panik bukan main.
Brian menuntun Ameera dan Ammar keluar dari ruangan istrinya. Dalam hati dia sungguh berharap kalau Byan akan baik-baik saja.
"Sebenarnya apa yang terjadi Ammar, Ameera!"
Kedua bocah itu menunduk dalam. "Maafkan kami Daddy, kami tidak sengaja. Tadi Ammar merasakan pergerakan di tangan Mommy, tangan Mommy menggenggam erat tangan Ammar. Tapi setelah itu Mommy jadi seperti ini. Seharusnya kita tidak menyentuh Mommy. Bagaimana ini Daddy? Apa Mommy benar-benar akan pergi karena kenakalan Ameera dan Ammar? Hikssss, maafkan Ameera Daddy."
__ADS_1
"Huaaaaaa. Daddy, Mommy gak akan ninggalin kita kan, jangan-jangan Mommy malah kalena kita tadi bilang kalau kita suka belantem di sekolah. Hikssss, tolong bantu Mommy, Daddy. Maafkan Ammal."
Brian menunduk, dia memeluk dua bocah kecil yang sedang meraung-raung di koridor rumah sakit itu. Brian tidak tahu harus melakukan apa. Mungkin dulu dia akan bersikap seperti Ammar dan Ameera ketika hal seperti ini terjadi, namun jika sekarang dia melakukan itu, siapa yang akan menenangkan kedua anaknya.
"Mommy akan baik-baik saja Sayang, Mommy akan baik-baik saja. Kalian tidak salah, kalian tidak nakal, kalian ini anak-anak yang baik dan penurut, Daddy bangga kepada kalian berdua."
Selang beberapa menit, seorang dokter keluar dari ruangan itu. Brian menoleh. Jantungnya mencelos melihat ekspresi dokter yang lain dari biasanya.
"Maaf Tuan, Anda sudah boleh melihat istri Anda."
Brian mengangguk, dia dan juga kedua anaknya masuk ke dalam ruangan sang istri, jantungnya seperti meloncat dari tempat asalnya. Bagaimana tidak, Brian melihat semua alat yang membantu istrinya selama 4 tahun ini sudah di lepas, dan para dokter juga perawat sedang berdiri di dekat ranjang sang istri sambil menunduk.
"Babby!"
Brian melepaskan tangan Ameera dan Ammar, dia langsung meraung dan menangis di atas pelukan istrinya. "Jangan tinggalkan aku Baby, jangan tinggalkan aku. Kau bilang kau akan hidup lebih lama dengan ku, kenapa kau malah meninggalkan kami hmm, bagaimana dengan anak-anak kita, kau bilang kau akan mengurus dan menyayangi mereka."
Brian terus terisak sampai tubuhnya bergetar hebat. Namun, beberapa menit kemudian, dia bergeming. Tangisannya berhenti.
"Baby!" gumam Brian dengan suara yang parau.
"Kau sangat berat Sayang!" ucap wanita yang ada dibawahnya.
Brian sontak menjauhkan dirinya, dia menatap wajah pucat Byan tanpa berkedip. Wanita itu membuka matanya, dan kini dia sedang menatap Brian. Apakah dia sedang bermimpi.
Prokkkk! Prokkkk! Prokkkk!
Tiba-tiba saja para dokter dan perawat yang tadi berwajah sendu tersenyum sambil bertepuk tangan heboh.
__ADS_1
"Selamat Tuan. Putri tidur Anda sudah bangun!" ucap seorang dokter sembari menepuk pundak Brian.
To Be Continued.