Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Rencana Bian


__ADS_3

Bian tersenyum. Dia meraih tangan Nugroho lalu menggenggam tangan yang sudah mulai agak keriput itu lembut. "Ayah, sebenarnya Bian sudah tahu kalau Om Brian udah punya pacar. Bian sebenarnya merasa agak terganggu akan itu, tapi ya mau bagaimana, Om Brian mengatakan kalau dia sudah bersama Tante itu sebelum menikah dengan Bian. Bian gak papa Ayah, Bian kan sudah menikah dengan Om Brian, sedangkan Tante itu hanya simpanan suami Bian. Om Brian sudah mengatakan kalau dia tidak akan meninggalkan Bian kalau bukan bian yang ninggalin Om Brian. Bian dulu memang terpaksa menikah dengan Om Brian, namun sekarang, Bian sudah nyaman menjadi anggota keluarga ini. Anak Ayah juga sangat tampan. Bian menyukainya. Bian hanya butuh waktu untuk membuat suami Bian mencintai Bian."


Nugroho menatap Bian dengan mata yang berkaca-kaca. Selama ini dia selalu berpikir kalau Bian adalah anak yang polos dan masih kekanak-kanakan. Nugroho tidak tahu kalau ternyata Bian memiliki sisi dewasa. Apakah yang selama ini mereka lihat dari Bian hanya topeng? Kenapa Bian selalu menunjukkan sikap yang berbeda di setiap waktu.


"Terima kasih Sayang, Ayah tidak salah menikahkan Brian dengan mu. Selain cantik, hatimu juga sangat baik. Ayah titip Brian sama kamu ya, Brian memang agak sedikit nakal, tapi Ayah percaya. Suatu saat Brian akan berubah."


"Maafkan Ayah Nak, Ayah sudah melakukan kesalahan besar. Tapi, apapun yang terjadi, Ayah tidak akan pernah mengungkapkan kebenaran ini pada siapapun. Anggaplah Ayah bejad. Tapi Ayah berharap, Ayah tidak akan membuat kesalahan lagi Nak. Ayah janji."


Bian mengangguk menanggapi ayah mertuanya. Dia beranjak dari duduknya lalu berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Nugroho tersenyum. Dia berjalan mendekat lalu memeluk Bian penuh kasih sayang. "Ayah janji, ayah akan membiayai semua pengobatan Ibumu. Ayah akan melakukan segala cara agar ibumu sembuh Nak." Usapan lembut di kepala Bian terasa sangat nyaman untuk gadis itu. Dia memejamkan mata sembari membayangkan kalau yang sedang dia peluk ini adalah ayahnya. Bian bersyukur karena dia memiliki mertua juga keluarga yang sangat menyayanginya.


Malam hari. Bian terlihat sedang berpikir, dia tidak mungkin terus tidur di walk in closet. Apa yang harus dia lakukan supaya hubungan dia dengan suaminya ada kemajuan, Bian tidak ingin simpanan suaminya terus bertingkah dan menguasai sang suami. Gadis itu terus berpikir sembari mondar mandir.


Matanya membola dengan binar yang terang . Bian tersenyum, dia membuka pintu walk in closed sedikit, mengintip untuk melihat apakah suaminya ada di kamar atau tidak, ketika Bian melihat Brian sedang memainkan laptop di atas ranjang. Dia kembali menutup pintu lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


Gadis itu mengacungkan jemarinya satu persatu seperti orang yang sedang berhitung. Dan pada acungan jari ketiga, lengkingan suaranya langsung membuat Brian menolah ke arah walk in closed.


"Akhhhhhh!"


Brakkkkk!


Bian berlari lalu melompat merangkul leher suaminya dan mengaitkan kedua kakinya di belakang punggung sang suami. "Om, tolong, ada kecoa!"


Bian menunjuk dengan salah satu tangannya, namun wajahnya masih dia benamkan di curuk leher suaminya. "Om Bian takut, tolong usir kecoa itu!"


"Om jangan, kita keluar saja dari sini. Bian takut. Hikssss! Bian takut Om."


Bian bersuara seolah-olah dia sedang menangis namun sebenarnya dia tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Kamu itu suka ngada-ngada Bian, mana ada kecoa di sini. Kamar ini sangat bersih," ucap Brian namun tetap membawa Bian keluar dari walk in closed lalu berjalan mendekati ranjang. Brian ingin menurunkan Bian namun tangan Bian malah memeluk lehernya semakin erat.


"Lepas Boncel, kita udah di luar. Ini sudah malam kamu besok harus sekolah kan?"


Bian melonggarkan pelukannya. Dia berdiri di atas ranjang dengan mata yang masih menatap Brian lekat.


"Apa lagi?" tanya Brian sedikit jengkel.


"Temenin Bian bobo, Bian takut Om."


Brian memutar bola matanya malas. Dia naik ke atas ranjang lalu duduk dan setelah itu berbaring. Bian tersenyum lalu ikut berbaring. Tangan mungilnya menarik tangan Brian dan diapun tidur di lengan suaminya. Brian melongo. Namun dia juga tidak mau mengambil pusing. Brian membiarkan gadis itu tidur memeluknya dan menumpu kan kepalanya di antara lengan juga dadanya yang bidang.


Sementara Brian sibuk mendumel dalam hati, Bian malah tersenyum gembira. Jika saja ada Anandita dan Navisa, mungkin mereka akan langsung berjoged merayakan keberhasilan tipuan yang Bian buat untuk suaminya.

__ADS_1


"Selamat tidur Om tampan," ucap Bian dalam hati, matanya mulai terpejam namun bibirnya masih terus tersenyum.


To Be Continued.


__ADS_2