Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Bian Merajuk


__ADS_3

Semakin hari Brian mulai terbiasa dengan adanya Bian. Ya meskipun bocah itu selalu mengganggunya dan selalu membuatnya jengkel, paling tidak Brian sudah tidak kaget lagi dengan tingkah konyol sang istri. Seperti hari ini, bocah itu sedang duduk bersandar sembari memejamkan mata. Sedangkan mobil mewah Brian harus di derek karena Bian tadi sempat nabrak pembatas di sirkuit. Padahal Brian udah bilang rem, beberapa kali, namun bukannya menginjak rem, Bian malah menginjak gas.


"Boncel, kamu bisa santai begitu? Mobil kesayangan aku rusak gara-gara kamu."


Sekarang mereka masih ada di dalam mobil. Sebenarnya Brian bisa saja meminta orang yang ada di rumahnya mengirimkan mobil yang lain, namun Bian mengatakan kalau dia masih ingin stay di mobil supaya dia bisa merasakan adegan yang sempat dia lihat di drama-drama kesukaannya.


"Om, seharusnya Om itu nanya, Bian kamu gak papa kan? Kamu terluka gak? Ada yang sakit gak? Sebagai seorang suami harusnya Om itu lebih mengutamakan kebahagiaan seorang istri. Bukan malah sibuk mikirin mobil. Mobil itu bisa di beli, sedangkan Bian tidak, emang Om mau beli istri baik, cantik, dan masih muda seperti Bian di mana?"


Brian hanya menatap gadis itu sedikit jengah. Brian bicara satu baris, istrinya malah bicara sepuluh bait, sebuah kebiasaan Bian jika sedang berdebat dengan Brian.


"Tapi kamu gak papa kan? Kami baik-baik aja?" Brian berucap dengan santai.


Bian tersenyum sinis. "Siapa bilang Bian gak papa, Bian sakit Om. Di sini. Bian sakit di sini!" Tunjuk Bian pada dada sebelah kirinya. Matanya berkaca-kaca. Entah apa yang terjadi, namun sepertinya gadis itu menyimpan kesedihan yang mendalam.


Brian terheran melihat Bian yang tiba-tiba berkaca-kaca. Dia ingin kembali mengomeli gadis itu, namun dia mengurungkan niatnya. Dia lebih memilih untuk diam dan kembali fokus ke jalanan.


Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di bengkel yang memang di khususkan untuk merawat dan memperbaiki mobil-mobil mewah seperti mobil milik Brian ini.

__ADS_1


Bian turun masih dengan wajah yang dia tekuk. Tidak ada kehidupan bahagia dalam wajahnya. Awan mendung menyelimuti aura gadis itu. Brian ingin menyela namun suara Bian kembali terdengar.


"Bian mau pulang Om."


Brian mengangkat kedua bahunya acuh. Dia menelpon seseorang dan beberapa menit kemudian mobil mewah yang lain berhenti di dekat Brian dan Bian.


"Silahkan Tuan muda, Nyonya Kecil."


Bian semakin merengut, dia masuk ke dalam mobil dengan wajah yang benar-benar masam. Gadis itu mengeluarkan aura yang membuat Brian dan Dito menjadi tidak nyaman.


"Gak papa. Emang kenapa?" jawab Bian ketus.


"Anak ini sebenarnya kenapa? Tadi dia masih baik-baik saja. Kenapa sekarang menjadi seperti ini."


"Bian kalau ada yang mau kamu bicarakan bilang, jangan uring-uringan kayak gini."


Bian langsung menatap suaminya tajam. Kali ini dia duduk mendekat ke arah Brian tatapan nya masih sama seperti sebelumnya. Penuh kemarahan juga mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Om, harusnya Om itu ngerti perasaan Bian. Bian gak suka kalau Om lebih memperhatikan barang-barang kesayangan Om ketimbang Bian. Bian ini istri Om. Seharusnya Om mengerti." Tiba-tiba saja mata Bian mengeluarkan cairan bening yang mana itu malah membuat Brian gugup dan bingung.


"Hikssss, Bian juga kesel sama Om Dito, kenapa Om Dito manggil Bian Nyonya, Hikssss, Bian kan masih muda. Bian gak mau di panggil nyonya."


Bian menunduk sembari menangis sesenggukan. Dito yang ada di depan Brian memberi isyarat kepada bos nya untuk memeluk Bian. Dan dengan sangat hati-hati, Brian menarik bahu Bian lalu memeluk gadis itu sembari mengusap punggungnya lembut.


Bian malah menangis semakin menjadi. Dia sesenggukan sembari memukul dada Brian dengan tangan mungilnya. "Bian benci Om Brian dan Om Dito."


Brian menatap Dito penuh keheranan. Laki-laki itu berucap tanpa bersuara. "Apa yang terjadi?"


Dito tersenyum. Dia ikut berbicara tanpa suara, yang mana itu artinya Dito hanya menggerakkan bibirnya saja. "Mungkin Nyonya Kecil sedang datang bulan Tuan Muda."


Brian membulatkan mulutnya. Kenapa juga Dito harus lebih tahu kebiasaan istrinya daripada dia sendiri. Setelah mengerti apa yang terjadi. Brian semakin memposisikan dirinya agar nyaman untuk Bian bersandar. Tangan besarnya dia gunakan untuk mengelus kepala juga mengelus punggung Bian lembut.


Dito yang melihat itu hanya tersenyum. Setelah dua bulan mengikuti Brian dan Bian, dia menjadi sangat hapal dan sangat tahu karakter juga kebiasaan Bian. Mungkin ini agak aneh, tapi karena Dito bekerja untuk Brian, kalau dia tidak tahu apa-apa malah akan semakin aneh bukan.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2