Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Bimbang


__ADS_3

"Baby, apa yang membuat mu seperti ini hmm? Jika kau ingin melihat Anthony maka lihatlah, tapi jangan hukum dirimu seperti ini. Kau sejak tadi hanya melamun tanpa mau menimpali ucapan ku."


Byan yang mendapat protes dari suaminya langsung menoleh. Byan sejak tadi memang hanya diam. Dia bingung harus melakukan apa. Otaknya terus mengatakan kalau dia harus masa bodoh dan tidak perlu memikirkan Anthony, tapi hati kecilnya selalu mengatakan hal lain. Byan bingung harus bagaimana.


"Om!"


"Iya Sayang, ada apa?" Brian menatap wajah istrinya sambil menunduk, mereka memang telah kembali ke ruang rawat Byan. Wanita itu menolak untuk melanjutkan terapi setelah mendengar kabar bahwa Anthony mengalami kejang dan tiba-tiba collapse.


Wanita yang sedang berbaring itu juga menatap Brian, meminta Brian untuk lebih mendekat.


"Aku ingin melihatnya!" bisik Byan di telinga sang suami.


Brian tersenyum, daripada melihat Byan hanya diam tidak melakukan apapun, Brian lebih baik menyetujui kemauan kecil Byan. Lagipula sekarang Anthony sedang tidak baik-baik saja. Tidak mungkin Anthony bisa macam-macam dan mengambil Byan darinya. Memang, jika di pikiran lagi, selama 4 tahun ini Anthony selalu memantau perkembangan Byan, meskipun Brian tidak pernah mengijinkan Anthony untuk menyentuh istrinya, tapi Anthony hampir setiap hari datang ke rumah sakit hanya untuk melihat Byan meskipun itu hanya dari kaca yang ada di ruang ICU sang istri.


Agaknya Brian merasa bersalah sekarang, setelah 4 tahun mengurus anak-anak nya, dia tahu, meskipun anak-anaknya tidak 24 jam ada dalam jangkauan Brian, namun hati mereka seperti selalu terkoneksi. Entah itu karena ikatan batin atau ikatan gen Brian tidak tahu, yang pasti, sekarang dia sudah lebih mengerti perasaan Anthony. Sejahat dan setega apapun dia dulu, sekarang dia sudah berubah, dan mungkin rasa bersalahnya itulah yang membuat Anthony semakin lama semakin down.


"Aku akan menemui dokter Mahen dulu. Kita minta ijin darinya ya. Kau tunggu di sini, jangan kemanapun."


Byan menetap suaminya dengan mata memincing. "Kau sedang meledekku hah?"


"What? Meledek kenapa?"


"Aku belum bisa berjalan Om, mana bisa aku bergeser ke sana kemari." Byan mengerucutkan bibirnya, dia bahkan memalingkan wajah tak ingin melihat sang suami.


"Ya Allah sayang, maafkan aku, aku tidak sengaja. Aku tidak bermaksud seperti itu."


Brian menunduk dan memeluk sang istri. Dia mengecupi seluruh permukaan wajah Byan sampai wanita itu memekik kegelian.


"Om stop! Stop aku bilang."


Brian terkekeh sembari menarik wajah dan tubuhnya.


Cup.


Dia kembali mendaratkan kecupan di bibir Byan. Wanita itu langsung mengusapnya dengan punggung tangan. Brian yang melihat itu kembali mengecupnya, namun lagi-lagi Byan mengusapnya. Brian mencoba lagi dan Byan pun melakukan itu lagi.


"Yak!"


Brian memekik, "Jangan di hapus, apa aku sangat menjijikkan!" gerutu Brian tidak terima.


Cup!

__ADS_1


"Shhhh!"


Brian mendesis sembari menahan tangan Byan yang hendak mengusap bibirnya lagi. "Kalau kau hapus, aku benar-benar akan menghukum mu Baby!"


Byan menipiskan bibirnya, dia hendak mengusap dengan tangan yang lain namun Brian lebih cekatan. Kali ini Byan kalah, kedua tangannya di tahan di sisi kiri dan kanan kepalanya. Brian mengecupi dan menye sap bibir Byan brutal.


"Yakkkkk!"


Kali ini Byan yang memekik.


"Coba saja hapus, kalau kau hapus lagi, aku akan membuat perhitungan yang lebih kejam dari ini."


Byan memutar bola matanya malas, "Ya sudah, sana pergi, aku tidak akan menghapus nya."


Brian menganggukkan kepala. Dia melepaskan kedua tangannya. Mulai berjalan, namun setiap beberapa detik, dia akan menoleh untuk melihat kejujuran sang istri. Bahkan sampai di depan pintu, Brian menggerakkan jari tengah dan jari telunjuknya ke mata dia sendiri lalu mengarahkan nya ke mata Byan.


Wanita itu menjulurkan lidahnya. Setelah Brian pergi, Byan menyatukan bibir nya dan menji latinya sesekali. "Manis," ucapnya sambil tersenyum.


Wajahnya semakin berbinar tat kala dia mengingat sesuatu, Byan menelusupkan tangannya ke bawah selimut yang dia pakai. Dia juga sedikit menaikan ranjang supaya dia bisa duduk dengan nyaman.


"Kena kau Om," cicitnya. "Kau pikir kau siapa bisa melarang ku menghubungi kedua malaikat ku hah. Jangan harap."


Byan menghidupkan layar ponsel milik suaminya, dia tertegun, jantung mencelos saat dia melihat wallpaper yang suaminya pakai. Di sana, ada foto dirinya yang sedang berbaring dengan alat bantu napas dan lain sebagainya, sementara di sisi yang lain, dia melihat Brian dan kedua anaknya sedang tersenyum ke arah camera.


Byan menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi dia hampir menangis. "Jangan seperti ini By, sekarang waktunya menelpon para kurcaci itu."


Byan berhasil membuka password ponsel itu, namun saat melihat kontak yang ada di ponselnya, Byan bingung harus melakukan apa. Dia tidak tahu siapa yang harus dia hubungi.


"Aldi!"


Byan langsung berbinar saat melihat nama kontak adik iparnya ada di sana. Setelah memencet tombol panggilan. Byan menjauhkan ponselnya sedikit.


Keningnya berkerut, tidak ada siapapun di sana, hanya ada latar tembok putih.


"Aldi!"


"Iya. Ada apa. Kenapa kau mengganggu ku di waktu krusial seperti ini?"


"Waktu krusial apa hah? Aku tahu kau sedang libur, suamiku bilang dia memberimu cuti beberapa hari untuk mengurus si kembar. Sekarang berikan ponselnya pada mereka. Aku ingin melihat mereka Al!"


"Nanti, sebentar, aku lagi tanggung ini."

__ADS_1


"Gak bisa, aku maunya sekarang."


"Yakkkkk!"


Aldi yang kesal kepada Byan langsung mengarahkan kamera depannya pada dirinya sendiri.


"kau sedang apa Aldi, kenapa aku seperti mendengar sesuatu?"


Aldi menghembuskan napas kasar. Satu tangannya menggenggam ponsel dengan tangan gemetaran, sedangkan satu tangannya lagi meremas perutnya yang sangat mulas.


"Aku lagi boker njir. Kamu itu kebiasaan ganggu."


Wajah Aldi memerah saat dia mulai merasakan kontraksi lagi. 🤣


"Ikh jorok kamu. Tapi aku gak ada waktu, sebentar lagi Om Brian akan kembali. Sekarang cepat kasih ponsel itu pada Ammar dan Ameera."


Mata Aldi membulat sempurna. "Dasar pengganggu, aku sudah bilang aku gak bisa. Lagi nanggung ini."


"kalau kau masih bersikeras, aku tidak akan pernah mau membantumu. Aku jamin, dia tidak akan pernah mau melirik orang jahat seperti mu."


"Yakkkkk! Eisshhhh, menyebalkan."


Mendengar ancaman dari Byan, Aldi terpaksa menyudahi proses menabungnya. Meskipun rasanya masih sangat mengganjal, namun Aldi tidak bisa menolak.


"Aku pergi sekarang."


"Ya, jangan lama-lama!"


"Monyet Lu By."...


Meskipun marah-marah, Aldi tetap menuruti Byan, dia keluar dari kamar mandi, berjalan menuju keluar dari kamarnya dengan langkah yang agak pelan dan sedikit mengangkang.


"Dasar ta* sialan. Kenapa Lo pake nyangkut segala sih."


Setelah sampai di kamar Ammar dan Ameera, Aldi menyerahkan ponselnya, pada dua bocah kecil itu, sementara dia langsung berlari ke arah toilet di kamar itu.


Ameera dan Ammar sedikit terheran melihat tingkah Aldi yang sangat aneh. Namun mereka yang sedang membaca buku cerita di atas ranjang langsung berbinar saat mendengar suara ibu mereka.


"Mommy!"


Kedua bocah itu memekik kegirangan.

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2