
Beberapa jam yang lalu. Di depan pintu sebuah ruangan khusus untuk klien tertentu, Agnes menunggu Brian dan Dito keluar dari pintu itu. Sesekali dia melirik arloji di pergelangan tangannya. Kepalanya menoleh melihat lurus ke arah jendela besar di ruangan itu. Hujan turun dengan begitu deras. Hatinya semakin tidak tenang dan tidak karu-karuan.
"Iya Pak. Saya juga sangat berterima kasih karena bapak mau bekerja sama dengan perusahaan kami."
Orang yang Agnes tunggu-tunggu akhirnya keluar juga. Agnes memainkan jemari juga mengigit bibir bawahnya merasa sangat gemas karena orang-orang itu masih terus mengobrol. Hingga, ketika para klien itu pergi, barulah Agnes bisa berbicara kepada Brian.
"Tuan. Byan, Byan pergi!"
Brian menautkan alisnya. Dito yang mengerti maksud Brian langsung menyalakan ponsel bosnya dan Brian pun menerima ponsel itu.
"Dia tidak menghubungi ku."
Agnes menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya saya tadi melihat Byan pergi menggunakan mobil sedan hitam yang sepertinya masih sangat baru Tuan."
Brian berusaha untuk mencerna ucapan Agnes. Mobil sedan hitam, baru? Mobil siapa?
"Aku akan ke ruang CCTV. Kau pergilah ke ruangan ku. Lihat, apakah dia meninggalkan sesuatu di sana!" titah Brian pada Dito, "dan kau, ikut bersamaku. Aku membutuhkan penjelasan lebih detail darimu."
Agnes mengangguk dia sedikit berlari mengikuti langkah lebar Brian yang tergesa. Sesampainya di ruang CCTV, Brian langsung meminta operator keamanan untuk memutar CCTV.
"Jam berapa kau melihat Byan pergi?"
"Aku rasa sekitar 40 menit yang lalu Tuan."
Operator itu kembali mencari keberadaan Byan setelah dia mendapat perintah dari Brian. Sebenarnya dia agak bingung karena Brian terlihat sangat gelisah juga sangat khawatir.
"Stop!"
"Apa mobil itu?" tanya Brian menunjuk sebuah sedan hitam di depan lobby perusahaan.
"Iya Tuan."
"Perbesar plat nomornya. Cari tahu, kendaraan itu terdaftar atas nama siapa!"
"Baik Tuan."
Selang beberapa menit. Setelah orang yang dia percaya melacak asal muasal mobil itu, Brian menyunggingkan sebuah senyuman. Senyum sinis dengan mata iblisnya.
"Tuan in ...
Bughhhhh!
"Bajinga* kau Dito. Aku sudah pernah mengatakan kalau kau hanya boleh mematikan ponselku dan ponselmu harus tetap menyala. Namun apa yang kau lakukan? Kau juga ikut mematikan ponselmu hah?"
Dito mencoba untuk berdiri setelah dia tersungkur karena mendapatkan bogeman mentah dari Brian. Dito tidak mematikan ponselnya. Dia lupa untuk mengisi daya tadi malam. Alhasil ponselnya lowbat. Namun jikapun Dito menjelaskan semua ini pada Brian sekarang, itu tidak akan berguna.
"Kita pergi ke rumah bajinga* itu sekarang Dit!"
__ADS_1
****
Brian kembali masuk ke IGD saat dokter memintanya untuk mengisi sebuah dokumen, bukan mengisi, lebih tepatnya menandatangani. Dokter membutuhkan tanda tangan nya untuk melanjutkan tindakan.
"Ini apa Dok?" tanya Brian menautkan alis.
Dokter itu menghela napas panjang. "Aku minta maaf. Namun untuk berjaga-jaga, kau tanda tangani ijin wali ini. Kau bilang kau suaminya kan, saya sudah mencoba berbagai cara untuk menaikan suhu tubuh istri anda. Namun karena istri anda sedang mengandung. Saya masih belum berani memberikannya larutan salin."
Deg!
"Mengandung?" tanya Brian dengan wajah terkejutnya. Istrinya sedang mengandung? Sungguh?
"Iya, apakah Anda tidak tahu?"
Brian menggelengkan kepalanya.
"Ini adalah surat ijin jika kau memang tidak keberatan dengan tindakan yang akan aku lakukan. Ada zat yang harus aku masukan ke dalam tubuh istrimu yang bisa saja sangat berbahaya untuk janin yang di kandung oleh istrimu." Dokter itu kembali menyodorkan sebuah dokumen dan pulpen kepada Brian. "Ada kemungkinan kalau istri Anda akan abortus setelah ini. Itu adalah hal terburuk yang mungkin akan terjadi. Sekarang putuskan lah!"
Brian mengambil dokumen itu meskipun dengan tangan yang bergetar. Namun, belum sempat dokter melepaskan dokumennya, Brian merasakan tangannya di sentuh oleh tangan istrinya yang saat ini benar-benar sangat dingin. Jantungnya bergemuruh, Brian melirik Byan, istrinya sedikit membuka mata sembari menggelengkan kepala.
"Jangan Om, jangan bunuh anak kita!" Suara lirih yang lebih seperti bisikan itu membuat jantung Brian mencelos. Dia semakin bingung harus melakukan apa.
"Saya butuh tanda tangan Anda sekarang Tuan. Jikapun kita tidak memberikan tindakan, kemungkinan untuk istri Anda abortus itu sangat besar karena jantung juga paru-paru nya melemah. Dan itu juga akan mengakibatkan oksigen yang mengalir untuk janin berkurang."
Genggaman tangan Byan semakin erat. Brian melepas tangan Byan paksa. Dia tidak memiliki pilihan lain. Mungkin saat ini mereka memang belum di takdirkan untuk memiliki anak.
Dokter itu mengambil surat ijin dari Brian dan memberikan nya pada seorang suster.
Buliran bening mengalir dari sudut mata Byan. Jantungnya sudah sangat sesak dan kini malah semakin sesak. Byan sangat kesal kepada Brian. Kenapa dia harus membunuh anak mereka.
Sementara dokter dan para suster sibuk memindahkan Byan ke ruangan khusus, Brian malah ambruk di atas lantai. Jantungnya bergemuruh. Sesak dan sakit di dadanya membuat dia kesulitan untuk bernapas sampai tangannya terus memukul dadanya berkali-kali.
Tetesan berlian berjatuhan dari sudut matanya. Brian menjauhkan tangan yang tadi Byan genggam. Membukanya perlahan, hingga ketika dia melihat sebuah cincin pernikahan milik Byan, hatinya semakin sakit seperti di hantam gada besi besar yang membuat dia langsung kehilangan pasokan oksigen.
"Akh ...." Brian meringis hingga dia jatuh di atas lantai dan mulai tidak sadarkan diri.
"Astaghfirullah! Dok! Tolong orang ini!"
...----------------...
Selang beberapa waktu. Akhirnya Brian membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut. Dan dia masih merasakan sakit yang amat luar biasa di dadanya.
"Kamu sudah bangun Nak?"
Suara seorang wanita sukses membuat Brian menoleh. Anjani tersenyum menghampiri Brian, memeluknya juga memberikan energi positif pada putra sulungnya.
"Byan Bu. Byan!"
__ADS_1
Anjani mengangguk. Tangannya mengusap kepala Brian lembut. Kedua matanya semakin panas saat Anjani merasakan tubuh Brian yang bergetar dalam dekapannya.
"Brian sudah membunuh anak kami Bu. Brian membunuh anak kami."
Semua orang menatap Brian dengan tatapan simpatik. Ya, mereka tahu semuanya karena dokter sudah menjelaskan apa yang terjadi. Di tambah lagi Dito. Pria itu sudah menjelaskan semua rentetan kejadian hari ini.
"Kamu harus sabar Sayang. Yang penting Byan sembuh. Masalah keturunan itu adalah rejeki dari Allah, Allah yang sudah mengatur segalanya. Kamu yang sabar ya!"
Brakkkkk!
Tak!
Tak!
Tak!
Plakkkkkkk!
Semua orang di buat terkejut dengan suara bantingan pintu juga suara tamparan yang teramat sangat keras.
"Kenapa kau tidak becus menjaga Byan Kak? Apa yang kau lakukan?"
Tania menatap suaminya tajam. Air mata mengalir membanjiri pipi putihnya.
"Dan kau Kak Brian! Suami macam apa kau ini? Apa yang kau lakukan pada sahabat ku hah, kenapa kau tega membiarkan Byan mengalami hal seperti in ...."
Dito memeluk Tania dari belakang dan langsung menyeret wanita itu keluar dari ruang rawat Brian. Tania semakin menjerit dan meronta. Brian tersenyum kecut. Dia menyibak selimut dan langsung turun dari atas rajang.
"Kau mau ke mana sayang?"
Anjani menghentikan langkah Brian.
"Aku ingin menemui Byan Bu."
"Tapi Byan masih ada di ruang intensif. Kau belum bisa melihatnya!"
"Aku tetap harus menemuinya Bu."
.
.
.
.
To Be Continued.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar nya Guys. Thank you. 🤗🤗🤗🤗