
"Byan!"
Seseorang berlari lalu menarik tangan Byan. Namun sayangnya dia malah tergelincir hingga membuat mereka jatuh menggelinding di tebing yang tidak terlalu curam namun lumayan dalam.
Brukkkkk!
Suara benturan yang cukup keras itu membuat Byan meringis.
Byan mengerejapkan matanya perlahan. Siapa orang yang berani-beraninya menarik dia hingga dia jatuh seperti trenggiling dan tersungkur seperti ini.
"Mike!"
Byan bergumam dan langsung berdiri menjauh dari Mike. Mike ikut berdiri. Dia menepuk-nepuk bajunya yang sedikit kotor.
"Kamu mau ngapain By, mau lompat ke sungai? Kenapa? Mau mati? Ini gak dalem lho. Kalau kamu lompat ke sana, paling kamu cuma babak belur. Dan pasti rasanya akan sangat menyakitkan."
Byan mengerutkan keningnya mendengar ocehan Mike.
"Ekh kadal buntung! Emang siapa yang mau lompat, aku itu lagi healing. Kamu malah dateng dan tiba-tiba narik aku kayak gitu. Sakit tahu. Liat! Tangan aku luka, sakit lho ini! Dan juga aku ingatkan, kita udah jatuh, dan ini semua gara-gara kamu!"
Byan berbicara dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh sial nasibnya. Dia pergi untuk menghindar dari kesakitan hati. Ekh malah di buat sakit beneran. Matanya mulai memanas, dia mulai menunduk dan terisak-isak. Mike yang melihat itu menjadi sangat panik. Dia berjalan mendekati Byan, tangannya terulur menyentuh lengan Byan, ternyata lengan di dekat sikunya terluka. Mike buru-buru mengambil sapu tangan dari saku celananya. Dia mengikat luka itu cukup kuat.
"Sakit?" tanya Mike lembut. Pria itu menatap wajah Byan lekat.
"Ya sakit lha. Kalau gak sakit ngapain aku nangis!" dengus Byan merasa kesal mendengar pertanyaan bodoh dari Mike.
"Maaf, tadi aku pikir kamu mau bunuh diri. Aku gak maksud untuk buat kita celaka By!"
"Sudahlah, aku ingin kembali ke camp."
"Akh!"
__ADS_1
Byan meringis ketika dia mencoba untuk berjalan. Matanya kembali berair. Oh Tuhan, ingin rasanya dia berteriak jika dia tidak ingin mengalami hal seperti ini. Namun apalah daya. Hal ini sudah terjadi.
"Kakimu sakit?"
"Heum!"
"Naik ke punggung ku!"
Byan menggeleng dengan cepat.
"Kamu sanggup jalan kaki? Sepertinya kita harus memutar, tebing ini lumayan curam. Kita gak mungkin bisa balik lewat jalan yang sama."
"Kau pegang saja lengan ku. Aku bisa berjalan sendiri kok."
Mike mengangguk. Dia memegang lengan Byan, namun mengalungkan lengan itu ke lehernya dan menahan pinggang Byan agar gadis itu tidak terlalu banyak menggunakan kekuatan kakinya yang mungkin saja terkilir.
Selama perjalanan, Mike terus saja mengoceh. Sedangkan Byan, dia lebih memilih untuk diam. Perasaannya campur aduk. Tiba-tiba saja dia sangat merindukan suaminya. Byan ingin menangis dan memeluk Brian erat. Dia ingin mengatakan jika dirinya tidak baik-baik saja. Dalam sekejap, dia menyesal telah pergi seorang diri seperti tadi.
"Aku sudah bilang naik ke punggung ku. Kenapa kau sangat keras kepala. Sudah, kau naik saja!"
Mike melepaskan tangan Byan dan berjongkok di depan gadis itu. Byan tidak punya pilihan lain. Kakinya semakin sakit jika terus di pakai berjalan seperti ini.
"Byan!"
Byan langsung mendongak begitu suara bas suaminya menembus gendang telinga. Matanya kembali memanas melihat Brian yang berlari ke arahnya. Byan bisa melihat kecemasan di wajah sang suami, ya Tuhan, sekali lagi Byan membuat kekacauan. Padahal Byan udah janji untuk tidak nakal.
"Om Brian. Hikssss!"
Byan tidak bisa lagi menahan air matanya ketika Brian menarik tangannya lalu memeluknya erat. Mereka berdua sama-sama menyalurkan kerinduan juga kekhawatiran masing-masing. Sementara di belakang Brian. Rendi, Alex dan Reno di buat ternganga. Karena hanya mereka yang tidak tahu jenis hubungan yang Brian dan Byan jalani.
"Kau baik-baik saja kan? Kenapa pergi tanpa memberi tahu siapapun?"
__ADS_1
Byan menggeleng kan kepalanya. Gadis itu tidak menjawab. Dia kembali terisak, Brian bingung dengan situasi ini. Mungkin, dia harus membawa Byan kembali terlebih dahulu. Baru setelah ini, dia akan menayangkan segalanya.
"Dito!"
"Baik Tuan."
Seakan sudah mengerti dengan isi kepala tuannya. Dito langsung menghampiri Mike dan membawa orang itu pergi bersamanya.
"Naik ke punggung ku By!"
Byan mengangguk. Dia tidak memiliki perasaan canggung seperti apa yang tadi dia rasakan ketika Mike menawari dia untuk naik ke punggungnya.
Dita dan Navisa menatap nanar keadaan Byan. Jujur saja, mereka ingin menyalahkan Brian, namun mereka juga sadar kalau mereka salah karena tidak bisa menjaga Byan dengan baik.
"Aku baik-baik saja," ucap Byan tanpa suara ketika dia melihat Navisa dan Anandita menatapnya dengan wajah sendu dan penuh rasa bersalah.
Aldi? Laki-laki itu telah lebih dulu mengikuti Dito dan Mike. Dia ingin mendengar apa yang akan Mike katakan pada Dito, jika Mike benar-benar menyakiti Byan, Aldi sendiri yang akan menghajar orang itu sampai dia puas.
"Om!"
"Heum!"
"Maafkan Byan!"
"Maaf untuk apa? Kau melakukan kesalahan apa sampai harus minta maaf?"
"Byan sudah janji kalau Byan gak akan nakal. Tapi Byan malah berbuat ulah lagi. Maaf karena Byan menyusahkan Om terus."
"Ini bukan salah mu By, ini salah ku. Aku yang tidak bisa menjagamu. Jangan menangis lagi. Kita kembali dulu, setelah itu, kau boleh menceritakan semuanya padaku."
To Be Continued.
__ADS_1