
Agnes menatap Byan dengan tatapan horornya. Gadis bar-bar itu berjalan mendekati Byan di antara barisan penonton. Hari ini adalah hari olahraga yang selalu sekolah mereka laksanakan setiap satu bulan sekali. Seluruh kelas mengikuti lomba dan dari lomba yang mereka ikuti, mereka akan mendapatkan nilai.
"Hei simpanan Sugar Daddy, ngapain kamu di sini. Anak baru itu gak pernah diikutsertakan dalam lomba apapun. Kau mau ikut loma apa? Badan kurus kering kayak gitu sok-sokan mau ikut lomba."
Byan, Navisa dan Anandita mendengus malas, mereka tidak menggubris Agnes dan kembali menyoraki grup basket yang sedang bertanding. Byan tersenyum saat Aldi melihat ke arahnya. Semua siswa bersorak iri melihat senyuman Aldi yang sangat manis. Aldi memang sering tebar pesona, namun mereka belum pernah melihat Aldi tersenyum setulus ini.
"Ekh Lonteh! Lo ngacangin gue?" Agnes berteriak sembari menarik rambut Byan. Byan meringis kesakitan. Anandita yang melihat itu tidak terima. Dia menarik rambut Agnes membuat gadis itu juga ikut mendongak menahan rambutnya yang di tarik Anandita.
"Dita lepasin rambut dia, dia narik rambut aku makin kenceng ini!" Byan ikut berteriak. Navisa berusaha untuk melepaskan tangan Agnes dari rambut Byan, namun Agnes malah semakin mempererat genggaman nya pada rambut Byan, dan sialnya, teman-temannya Agnes yang lain ikut menarik rambut Navisa dan Anandita.
Semua siswa yang sedang menyaksikan pertandingan basket malah fokus dan menyoraki Byan juga Agnes dan teman-temannya. Ada yang mendukung kubu Byan, namun banyak di antara mereka yang mendukung Agnes cs.
"Ayo Agnes, ayok!"
Seketika itu juga perlombaan Jambak menjambak rambut di mulai. Namun ketika suasana semakin panas. Suara peluit menyadarkan mereka semua.
Priitttttt!
"Kalian, berdiri tegap!"
Agnes langsung melepaskan tangannya begitupun dengan yang lain. Mereka semua diam sembari menunduk. Byan memutar bola matanya melihat Agnes yang sedang menatapnya sengit.
__ADS_1
"Dasar boloho. Tolol Anjir!" Byan mengumpat kepada Agnes. Agnes ingin membalas namun lagi-lagi suara guru menginterupsi mereka dan mereka kembali diam.
"Sekarang berlari dan putari lapangan 20 putaran. Sebelum selesai, kalian tidak boleh pulang. Untuk Agnes, kamu ikut bapak, kamu harus bapak hukum di tempat lain."
Agnes tersenyum meremehkan kepada Byan dan teman-temannya. Agnes tahu, dia pasti tidak akan di hukum karena ayahnya sudah menitipkan dia kepada kepala sekolah. Agnes melenggang pergi dengan santainya. Sementara Byan, dia dan teman-temannya serta teman-teman Agnes berjalan menuju lapangan.
"Aduh Mbep, rambut mahal Lo rontok gak? Keluarga Nugroho bakal marah habis-habisan kalau mereka tahu rambut Lo di Jambak sama si babi gila itu."
Byan tersenyum. Sebenarnya ini tidak adil, namun karena masih ada Navisa dan Anandita yang menjalani hukuman dengannya, Byan merasa ini tidak terlalu sulit.
Aldi memperhatikan Byan dan teman-temannya yang sedang berlari mengitari lapangan basket. Aldi bermain basket di dalam jaring, jadi kegiatan yang Byan lakukan tidak mengganggunya. Aldi ingin berteriak dan mengatakan biar dia saja yang menggantikan Byan, namun itu tidak mungkin karena Byan pasti akan semakin terpojok.
"Semangat!" Aldi memberikan kode dengan mengangkat tangannya. Byan mengangguk sembari tersenyum dan terus melanjutkan hukuman yang diberikan guru untuknya.
"Agnes!"
Guru tadi menghentikan langkah Agnes. Dia berbalik. "Iya Pak, ada apa!"
"Kamu ambil dulu semua peralatan yang kamu butuhkan."
Agnes mengerutkan keningnya bingung. "Peralatan apa Pak?"
__ADS_1
"Kamu kan mau membersihkan seluruh toilet perempuan, masa kamu mau pakai tangan kosong."
Mata Agnes membulat sempurna. "What? Apa yang Bapak maksud, Bapak menyuruh saya untuk membersihkan seluruh toilet perempuan, iuuuwww, saya gak mau pak ikh, jijik."
Guru itu mengidikan bahunya acuh. "Kalau kamu tidak mau ikut UNBK ya sudah gak usah."
Agnes merengut, dia berlari mengejar guru yang tadi. "Pak, Saya akan bersihkan semuanya. Tapi tolong ijinkan saya untuk ikut UNBK ya!"
Guru itu tersenyum mengibaskan tangannya menyuruh Agnes untuk segera pergi melakukan hukuman yang dia berikan. Agnes pergi dengan wajah masam yang dia tekuk sangat dalam. Guru itu kembali tersenyum. Dia mengambil ponsel dari saku celana olahraga yang dia kenakan lalu menekan tombol panggilan.
"Semuanya beres Tuan."
"*Lalu anak itu bagaimana?"
"What? Kau gila, kau ingin membunuhnya hah? Kenapa harus mengitari lapangan 20 putaran*?"
"Maafkan saya Tuan, tapi saat itu banyak orang yang menyaksikan. Kalau saya tidak memberikan hukuman yang sesuai, saya akan di bilang pilih kasih."
"Hah, gila kamu ini. Ya sudah, biarkan dia pulang lebih cepat. Awas aja kalau sampai dia pingsan. Ku kejar kau sampai ke ujung dunia!"
Brian melempar ponselnya sembarangan. Untung saja Dito sigap menangkap ponsel itu. "Kau itu keterlaluan Dito, masa kamu nyari orang kayak guru itu sih. Bikin pusing kepala saja."
__ADS_1
Brian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu memejamkan mata sembari memijit pelipisnya.
To Be Continued.