Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Anak Haram


__ADS_3

Hai Guys. Selamat pagi. Maaf ya komen kalian tak sempat Author balas kemarin, karena memang Author lagi ada kesibukan di dunia nyata. Semangat menjalani hari ya. Jangan lupa bahagia. Stay Healthy dengan menghalu.


.


.


.


.


Brian mengerejapkan matanya perlahan, melirik ranjang di sebelahnya dan langsung terduduk saat orang yang tadi dia peluk ternyata sudah tidak ada. Kakinya refleks turun dari atas ranjang, jantungnya berdegup sangat kencang karena merasa takut juga khawatir.


"Baby! By!"


Brian memanggil istri kesayangannya masih dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan. Namun saat dia melihat Byan sedang duduk di atas roda sembari menatap ke arah luar dinding kaca di kamar inapnya, Brian menghembuskan napas lega.


"By!"


Pria itu berjalan menghampiri Byan, sedikit memutar kursi rodanya dan mulai berjongkok menatap wanita cantik yang masih memiliki tatapan kosong.


"Sayang!"


Brian mengusap wajah sang istri lembut, lembut dan penuh kehati-hatian. Wajah itu seperti sebuah gelembung yang akan pecah jika di sentuh. Bibirnya tersenyum saat Byan menunduk dan menatap matanya.


"Sejak kapan kau di sini By? Kenapa tidak membangunkan ku hemm?"


"Om tidur sangat nyenyak, Byan tidak tega."


Brian menggelengkan kepalanya, detik berikutnya, kepala itu dia jatuhkan di atas pangkuan Byan. "Jangan seperti itu. Maafkan aku By, seharusnya aku bisa menjaga mu."


Byan tidak berekspresi, namun tangannya yang bebas dari selang infus terangkat dan mengusap kepala Brian pelan. Usapan itu terasa sangat menenangkan untuk Brian hingga dia memejamkan mata mencoba untuk menikmati kehangatan yang membuncah di dalam hatinya.

__ADS_1


"By, bolehkah aku bertanya?" ucap Brian masih dalam posisi yang sama, "sejak kapan kau tahu kalau Anthony adalah ayah kandung mu? Kenapa kau tidak memberi tahukan semuanya padaku?"


Byan menghentikan gerakan tangannya hingga Brian mengangkat kepala dan kembali menatap wajah pucat istrinya. Ekspresi Byan masih sama. Datar seolah-olah dia tidak memiliki perasaan apapun.


"Sejak kita menikah, saat ayah Adrian tidak menjadi wali nikah ku dan juga tidak ada nasab ku dalam kalimat akad pernikahan kita."


Brian tertegun, dia menggenggam tangan Byan erat. "Jadi saat Aldi mengatakan kalau kau mirip seseorang ...."


"Iya," jawab Byan menganggukkan kepalanya.


"Lalu kenapa kau tidak menceritakan semuanya padaku, kenapa kau memendam ini untuk dirimu sendiri?"


"Ditinggalkan. Byan tidak ingin semua orang tahu kalau Byan ini anak haram. Byan gak mau semua orang menjauhi Byan karena itu. Byan tidak perduli siapa orang tua kandung Byan. Bagi Byan, mereka sudah mati saat mereka membuang Byan." Byan berbicara dengan nada dinginnya. "Tidak bisakah Om lupakan dari mana asal usul Byan? Om gak akan ninggalin Byan karena Byan anak haram kan? Byan janji, Byan gak akan melakukan hal bejat seperti apa yang orang tua kandung Byan lakukan. Tolong jangan tinggalkan Byan Om. Byan tahu Byan anak haram. Tapi apa salah Byan? Byan gak minta untuk terlahir dari orang tua seperti mereka, kenapa harus Byan yang menanggung semuan ... mmmm!"


Bibir itu berhenti berbicara tat kala Brian membungkamnya dengan ciuman hangat nan lembut, jemarinya mengusap air mata yang mengalir di pipi sang istri dengan usapan yang sangat halus. Semakin Brian memperdalam ciumannya, air mata Byan malah mengalir semakin deras. Segala kegelisahan dalam hatinya sirna, pria ini benar-benar luar biasa. Setiap Byan membutuhkan jawaban, bukan kata-kata bullshit yang keluar dari mulutnya, namun tindakan, tindakan yang membuktikan bahwa dia sangat mencintai Byan dan sangat menyayanginya. Ciuman lembut yang intens namun sangat memabukkan itu membuat Byan sangat lega sampai air mata itu tidak bisa berhenti berproduksi.


"Jangan mengatakan hal seperti itu. Kau adalah istriku, istri dari seorang Brian Cahyo Nugroho. Apapun latar belakang mu, aku akan tetap mencintai dan menyayangi mu." ujar Brian setelah melepas tautannya. Dia menempelkan keningnya di kening sang istri. Kedua insan itu sama-sama mengatur napas dan saling bertukar energi.


Byan mengalungkan tangannya di leher sang suami. Mengecup bibir itu sekilas lalu melu mat dan meng hisap nya perlahan. Brian tersenyum di sela-sela ciuman yang Byan lakukan, segera setelah menemukan posisi yang nyaman, Brian mulai mengambil alih permainan. Semakin lama, ciuman itu semakin dalam dan semakin panas hingga mereka tidak sadar, jika sejak tadi, ada beberapa orang yang memperhatikan kegiatan mereka.


"Byan!"


Pekikan Anandita dan Tania membuat sepasang suami istri itu membuka mata dan menolehkan wajah mereka.


"Yakkkkk! Dasar gak ada akhlak. Kita itu khawatir sama Lo By, Lo malah asik cipokkan sama sugar Daddy Lo. Mana di tempat kayak gini."


Byan tidak memperdulikan ocehan Anandita, dia malah kembali menarik leher Brian mengecup bibir merah suaminya beberapa kali dan meng hisap nya seperti meng hisap sebuah permen jelly.


"Hei! Bener-bener kalian ini. Nyesel Gue udah khawatir sama Lo."


Anandita dan Tania benar-benar di buat dongkol dengan tingkah Byan. Bahkan di saat sakit seperti ini pun dia masih sempat-sempatnya membuat Anandita naik darah. Sementara Haris, pria itu menggelengkan kepalanya merasa heran dengan tingkah sang adik.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah senyum-senyum gitu Kak?"


Tania menatap suaminya tajam. Dito malah semakin tersenyum sembari menatap Byan dan Brian. "Aku hanya senang karena ternyata Nona Kecil sudah sembuh. Kalau begini, Banteng kita jadi punya pawang lagi kan?"


Tania menganggukkan kepalanya. Benar juga, jadi kalau Byan sembuh, Dito pasti tidak akan kena semprot Brian terus.


"Kalian nengok gak bawa apa-apa?"


Byan bertanya dengan wajah sedihnya. Brian mendorong kursi roda Byan membawanya mendekat ke arah semua orang.


"Hehehe, maaf By, kita tadi buru-buru. Pas Aldi ngabarin kalau kamu udah sadar kita langsung otw ke sini. Boro-boro inget beli buah dan yang lainnya, lihat, Kak Haris aja nyeker ke sini."


Byan menahan senyum melihat Haris berdiri tanpa alas kaki. Sebegitu senangnya kah mereka sampai mereka terbirit-birit seperti ini.


"Baiklah, aku terima alasan mu. Kalau kau? Kenapa kau gak bawa apa-apa?"


Byan menatap Tania dan Dito dengan mata memincing. Orang yang di tatap malah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Maafkan aku By, aku tadi lupa beli sesuatu, tapi kamu tenang aja, Kak Dito bakal beliin apa yang kamu mau kok, kamu lagi pengen apa? Sok bilang, Kak Dito bakal langsung pergi sekarang juga."


Byan berpikir untuk sejenak. Sebenarnya dia hanya bercanda. Namun mengerjai Dito sesekali sepertinya akan sangat menyenangkan.


"Eummm ... aku mau ...."


Brakkkkk!


Semua orang menoleh ke arah pintu. Byan juga yang lainnya menatap orang yang kini berdiri di ambang pintu dengan tatapan aneh dan juga heran.


"Om, apa Om sewa badut? Kenapa dia ada di sini?"


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2