Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Tidak Mendapatkan Izin


__ADS_3

.


.


.


Pagi ini keadaan di meja makan masih sangat hening. Entah apa yang terjadi, namun tidak ada yeng berani membuka suara. Anjani dan Nugroho menatap menantunya sendu. Sedangkan Aldi, dia menyantap sarapannya ogah-ogahan.


Flashback on


Di dalam kamar, Byan sedang berdiri di depan kamar mandi dengan harap-harap cemas. Dia mondar mandir seperti setrikaan panas. Sesekali dia melirik ke arah pintu kamar mandi, setelah itu dia mendesah.


"Astaghfirullah By, kamu tinggal bilang aja kalau kamu mau ikut camp car di Bogor. Kenapa sulit banget!"


Tepat setelah Byan bergumam, Brian keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang sangat segar. Dia menatap istrinya lalu tersenyum. Beberapa langkah dia berjalan, kini gadis itu sudah ada di dalam dekapannya. Brian memeluk Byan dari belakang sembari menyandarkan dagunya di bahu sang istri.


"Kenapa kau sangat wangi sayang?" suara bas itu memenuhi gendang telinga Byan. Byan menggeliat. Dia menarik tangan Brian lalu memutar dirinya supaya dia bisa menatap pria itu.


"Om!"


"Heum!"


Brian bergumam sembari memainkan rambut Byan. Senyum di bibirnya tak lekang. Melihat istrinya dari jarak dekat seperti ini adalah hobi baru untuk Brian.


"Byan mau minta ijin."


"Apa? Katakan saja! Kenapa kau sangat gugup?"


"Byan mau ikut camp car sama yang lain Om. Boleh tidak?"


Brian langsung menghentikan pergerakan tangannya. Wajah yang tadinya berseri kini di tekuknya masam.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh pergi!"


Setelah mengatakan kalimat itu, Brian pergi ke walk in closed tanpa mau mempertimbangkan ucapannya. Dia sangat yakin dan tidak akan mengubah keputusannya.


Byan memanyunkan bibirnya. Namun dia berlari mengikuti suaminya ke walk in closed.


Grep!


Sebuah pelukan mendarat di punggung Brian. Sepasang tangan mungil melingkar indah di perut sixpack nya.


"Om, Byan janji, Byan gak akan nakal. Kan Aldi juga ada di sana. Dia akan menjaga Byan."


Brian masih diam. Dia terus memperhatikan tangan yang melingkar itu.


"Dengar aku By, aku tidak akan pernah mengijinkan mu pergi meskipun ada Aldi. Orang-orang itu tidak becus menjagamu. Kalau kau kenapa-napa bagaimana?"


Byan mendesah kesal. Dia melepas pelukannya lalu pergi keluar dari walk in closed. Dia berjalan turun ke bawah untuk mengadu kepada semua orang. Anjani mengerti dengan kesedihan yang Byan rasakan. Namun mereka tidak bisa berbuat banyak. Jika Brian sudah berkata tidak, berarti ya memang tidak. Laki-laki itu sangat keras kepala dan selalu tetap pada keputusan yang sudah dia buat.


"Byan udah kenyang. Byan berangkat sama Aldi aja ya!"


Brian menoleh ke arah istrinya. Dia ingin menyela, namun istrinya sudah beranjak dari tempat duduk dan melengos pergi begitu saja. Brian mengikuti Byan dari belakang. Dia melihat Byan masuk ke dalam mobil Aldi meskipun Aldi belum ada di sana.


Klak!


Pintu mobil terbuka. Brian menunduk hendak menarik tangan Byan, namun gadis itu langsung menepisnya.


"Jangan ganggu Byan Om. Byan sedang tidak mood. Lebih baik kita tidak bicara dulu untuk beberapa saat ini."


Brian menautkan keningnya. Baru kali ini Byan berbicara seperti orang dewasa. Merajuknya Byan sangat berbeda dari biasanya.


Brian mengangguk. Dia mencondongkan tubuhnya lalu memiringkan kepala untuk mengecup bibir Byan. Byan bergeming. Dia mengabaikan apa yang Brian lakukan karena dia terlalu kesal.

__ADS_1


"Ya sudah, hati-hati!"


Lagi-lagi Byan tidak menjawab. Dia pura-pura sibuk dengan ponselnya dan tidak mau menatap Brian ataupun berbicara padanya.


****


Hari ini adalah ujian praktek olahraga dan beberapa pelajaran yang lainnya. Bukannya semangat, Byan malah terlihat sangat loyo. Dia tidak memiliki semangat atau wajah yang ceria. Hatinya mendung tertutup awan hitam yang suaminya tebar.


"Lo kenapa By? Ada sesuatu yang bikin Lo gak nyaman," tanya Anandita dan langsung di jawab gelengan oleh Byan.


"Ayolah By, cerita sama kita. Siapa tahu kita bisa bantu!" ucap Navisa meyakinkan.


"Om Brian tidak mengijinkan ku pergi ke acara camp car itu Dit, Na, Hikssss. Padahal aku sangat ingin pergi. Sejak dulu aku selalu melewatkan acara-acara seperti ini karena Ayah selalu melarang ku pergi. Hikssss, kenapa sekarang aku juga tidak bisa pergi. Aku sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku. Kenapa mereka selalu memperlakukan ku seolah-olah aku ini anak kecil yang bisa hilang kalau luput dari pandangan. Aku udah gede ... huaaaaa."


Tangis Byan pecah saat itu juga. Anandita dan Navisa merasa sangat iba. Navisa memeluk Byan sembari mengusap punggungnya lembut. Dia juga mengucapkan kalimat-kalimat penyemangat agar gadis itu bisa berhenti menangis.


Drtzzzzz! Drtzzzzz!


Navisa melepaskan pelukannya. Dia melihat ponsel Byan bergetar. Ada panggilan masuk dari Brian. Navisa mengambil ponsel itu lalu memberikannya kepada Byan.


"Angkat dulu By, kali aja penting."


Byan menggeleng dengan mantap. "Tidak mau Na, matikan saja!"


"Jangan, biar aku aja yang angkat!"


Anandita merebut ponsel Byan dari tangan Navisa lalu menerima panggilan itu dan menempelkan ponselnya ke telinga.


Baru ingin menympah serapahi Brian yang ada di sebrang telepon. Dia sudah lebih dulu mendengar suara bas itu berbicara.


"What? Are you sure?" ucap Dita dengan wajah tidak percaya."

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2