
Sesampainya di rumah. Bian langsung melompat keluar dari mobil. Setelah mengucapkan salam, dia langsung berjalan mendekat ke arah Anjani dan memeluknya.
"Ibu, Ibu lagi apa?" Tanya Bian sembari memperhatikan Anjani yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Anjani tersenyum, dia menaruh ponselnya di atas meja, lalu membalas pelukan membantu kesayangannya. "Ibu lagi chatingan sama Ayah, kamu sudah pulang, di jemput Brian?" Bian mengangguk.
"Bu, Aldi di mana? Kak Bima sudah pulang belum?"
"Mereka ada di kamar Bima, kamu masuk aja ke sana. Paling juga mereka lagi main game."
"Baiklah Bu, Bian mau mandi sama shalat ashar dulu."
Bian berlalu pergi setelah mengecup pipi Anjani sekilas. Dia menyambar tas yang tadi dia lempar ke arah sofa. Anjani tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Bian ini sangat manis, entah karena dia yang memperlakukan Bian seperti anaknya sendiri, alhasil Bian juga tidak canggung terhadapnya.
****
Bian sudah berganti pakaian. Dia juga sudah mandi dan sudah shalat ashar. Setelah sedikit merapikan penampilannya, gadis cantik itu berjalan keluar dari walk in closed dengan riang. Dia membawa ponsel baru yang di berikan Brian untuknya. Bian tidak menoleh kanan kiri, dia benar-benar tidak memperdulikan Brian yang kala itu sedang menatapnya penuh keheranan. Biasanya di jam-jam seperti ini Bian akan diam di kamar dan belajar, namun sore ini gadis itu terlihat lebih bersemangat dan malah pergi ke luar.
Brian kembali fokus pada laptop di atas meja, namun karena penasaran, bukannya benar-benar fokus, bayang-bayang Bian malah seliweran di depan matanya. Brian mendesah. Dia memundurkan kursi yang dia duduki lalu berjalan keluar dari kamar.
Ketika sudah berada di luar, sayup-sayup Brian mendengar orang-orang sedang ribut entah meributkan apa, dan herannya lagi, suara itu berasal dari kamar Bima, kamar yang selama ini selalu damai malah hampir tidak pernah terjamah.
__ADS_1
"Ikh, Bian udah bilang solat dulu! Nanti kalau sudah sholat baru main ML lagi. Kalian itu laki-laki, laki-laki harus jadi imam yang baik. Sana pergi solat dulu!"
Bughhhhh! Bughhhhh! Bughhhhh! Bughhhhh! Bughhhhh!
Aldi dan Bima terus berusaha menghindar ketika Bian memukul mereka berdua dengan bantal.
"Kan masih bisa nanti malem shalatnya Bian!" Bima yang tidak terima berteriak ke arah gadis itu.
"What?"
Bughhhhh! Bughhhhh!
"Itu kan shalat magrib, sekarang masih ashar. Ayolah pergi. Nanti Bian gak mau lho bantu Kak Bima ikut kompetisi. Bian juga gak mau satu kelompok sama kamu Aldi."
Bughhhhh! Bughhhhh!
Bian hendak memukul Bima dan Aldi kembali, namun ketika dia melayangkan bantal, bantal itu sangat sulit untuk di jatuhkan. Bian menoleh ke samping untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Om Brian!" Bian berseru.
"Ngapain maksa orang shalat sampe kayak gitu, shalat seharusnya atas kemauan sendiri bukan karena paksaan dari orang lain kan?"
__ADS_1
Bian tersenyum meremehkan. "Memang, memang benar kayak gitu, tapi kalau gak di paksa, mana ada mereka mau shalat!" Bian menunjuk ke arah lantai, namun ketika dia menoleh, kedua orang tadi sudah hilang dari pandangan.
"Kak Bima!!!! Aldi!!!!" Bian berteriak kesal. Dia ingin keluar dari kamar itu namun Brian mencekal pergelangan tangannya. Laki-laki itu menarik tangan Bian cukup keras membuat Bian terkejut dan pada akhirnya tubuh bagian depannya menempel pada tubuh bagian depan Brian.
"Kenapa kau sangat perduli kepada mereka namun tidak pada suamimu?" Brian berbisik di telinga Bian.
Bian terkekeh. "Suami? Maksud Om, Om Brian," tunjuk Bian dengan jari telunjuknya di atas dada sang suami.
"Om sadar gak sih, kalau selama ini Om itu lebih terlihat seperti musuh untuk Bian?"
Bian menatap mata Brian lekat, dan laki-laki itupun hanya bisa diam sembari menatap manik mata Bian tajam.
"Ekehemmmm!"
Bian dan Brian menoleh ke arah pintu. Mata mereka kembali membola tat kala mereka melihat Aldi dan Bima sedang mengintip dengan menyumbulkan kepala mereka ke dalam kamar.
"Kak Bima! Aldi!!!!!!!"
Bian kembali berteriak.
To Be Continued.
__ADS_1
Like dan komen jangan lupa.🤗