
Jangan lupa like dan komentarnya Guys. Tanpa bantuan dari kalian aku ini hanya seonggok debu yang mudah untuk tertiup angin. *Ngomong apa sih aku ini* Maaf kan ke gajean diriku. Cus langsung baca aja.
🔥🔥🔥
Sekarang sudah hampir siang. Matahari bersinar begitu terik, namun bersyukur nya udara di sana sangat sejuk, jadi tidak terlalu berat jika di pakai untuk beraktivitas siang. Brian kala itu hanya duduk memperhatikan Byan dan teman-temannya yang sedang memilih sayur untuk mereka masak.
Mata elang itu menatap tajam satu orang yang berusaha untuk dekat dengan Byan. Laki-laki dengan rambut berponi ala-ala oppa Korea dengan kulit sawo matang namun bersih terus mencari perhatian dari gadis yang sedang dia pantau. Brian ingin bergerak untuk menemui Byan, namun saat dia akan melangkah, lengannya di tahan oleh seseorang.
"Bi, bisa tolong bantu aku gak? Aku mau istirahat siang sebentar, tapi sepertinya ada masalah dengan hidrolik pada ranjangnya. Dia sama sekali tidak mau turun."
Brian memperhatikan area sekitarnya. Apa tidak ada orang lain yang bisa dia mintai tolong. Perasaan ada Rendi, Alex dan Reno. Kenapa harus dia. Brian berpikir untuk sejenak. Dan pada akhirnya dia mau membantu Mira.
Tepat saat Brian dan Mira berjalan menuju camp car Mira, Byan menatap mereka dengan mata yang berapi-api.
Brukkkkk!
Gadis itu membanting selada yang ada di tangannya. Hatinya memanas bagai di lelehkan aliran lahar. Ingin rasanya dia melempari kedua orang itu dengan batu dari neraka, namun Byan tidak memiliki keberanian itu. Byan takut semua orang akan tahu jika dia memiliki hubungan dengan Brian.
"Lo cemburu ya Beip?" Anandita berbicara sambil menaik turunkan alisnya. Byan mendengus. Dia pergi dari sana. Entah apa yang harus dia lakukan untuk membuat hatinya dingin. Byan hanya ingin pergi untuk sesaat.
Langkahnya sedikit tertatih karena dia tidak tahu kemana dia harus pergi dan apa yang dia injak. Meskipun rerumputan itu tidak terlalu tinggi, namun Byan takut menginjak sesuatu. Padahal dia memakai sepatu boot. Namun tetap saja dia harus berhati-hati.
Semakin lama berjalan, dia semakin jauh dari semua orang. Gadis itu merentangkan tangannya ketika dia sampai di ujung tebing yang dibawahnya terdapat aliran sungai yang airnya terlihat sangat jernih.
"Masyaallah, lagi-lagi engkau berikan aku rezeki yang luar biasa seperti ini."
Meskipun hatinya sudah gosong terbakar api cemburu, namun Byan tidak pernah berhenti bersyukur untuk hal lain. Bisa menikmati hidup, dengan segala kemudahan yang Allah berikan saja Byan sudah sangat bahagia. Namu dia tetaplah manusia yang memiliki rasa cemburu dan emosi yang tidak stabil.
Byan menarik napas dalam lalu menghembuskan napasnya perlahan.
"Byan!"
Setttt!
__ADS_1
Brukkkkk!
***
Semetara di tempat lain, Brian sudah masuk ke mobil Mira, dia mencoba menurunkan ranjang di mobil itu. Namun ketika dia turunkan, ternyata hidrolik nya tidak macet dan itu berjalan lancar. Brian menatap Mira. Dia menyerahkan remote ranjang kepada wanita itu sambil berlalu pergi.
"Lain kali periksa dulu yang benar. Jangan mengganggu orang seperti ini."
Mira tersenyum kecut. "Ternyata kau benar-benar tidak menganggap aku ada Brian!" Mira menatap punggung Brian sendu.
Mata Brian beredar kesana kemari. Dia mencari sosok istrinya namun tidak ada. Brian hanya pergi sebentar, namun gadis itu sudah menghilang seperti dedemit. Oh astaga, gadis itu kemana.
Brian mendekati Anandita dan Navisa. Dia berdiri di depan kedua sahabat istrinya membuat kedua orang itu mendongak. Mereka langsung hormat dengan posisi siap.
"Turunkan tangan kalian. Memangnya aku ini perwira! Byan ke mana?"
Navisa dan Anandita saling tatap. Jantung mereka langsung terjun bebas keluar dari tempatnya. Mereka berdua celingukan. Gadis itu tidak ada.
"Mungkin sama Aldi Om, coba tanyain ke Aldi!"
Brian melangkahkan jauh dari Navisa dan Anandita. Dia mendekati Aldi dan beberapa sahabatnya yang sedang memancing di bawah pohon.
"Anjir Na, kita harus cari anak kelinci kita, gawat kalau dia ilang, bisa-bisa kita yang di jadiin sate sama Om Brian!"
"Tadi Byan marah gara-gara melihat Om Brian sama wanita cantik itu kan, dia pasti sakit hati Dit, kira-kira Byan ke mana dalam kondisi hati seperti itu?"
Navisa dan Anandita saling tatap. Mata mereka membulat ketika pikiran kotor terlintas di kepala mereka.
"Anjir Na, jangan bilang Byan!"
"Bunuh diri!"
"Bunuh diri!"
__ADS_1
Mereka berucap bersamaan dan langsung kocar-kacir mencari jejak sahabat mereka.
****
"Al, kamu liat Byan gak?"
Aldi langsung menoleh. Bukannya Brian selalu mengawasi gadis itu? Kenapa dia malah bertanya kepadanya.
"Byan lagi berenang mungkin di kali Kak!"
"Jangan ngaco kamu Aldi. Nanti ku lempar kau ke kolam ikan itu!"
"Lagian Kakak kenapa nanya aku. Aku dari tadi di sini sama mereka!" Aldi menunjuk. Ketiga sahabat Brian.
"Memangnya Byan ke mana Bro? Jangan sampe dia di umpetin dedemit!"
Brian menarik kerah baju Reno. "Jangan sembarang kalau bicara Ren. Aku sedang serius. Kau mau aku jadikan santapan dedemit itu hah?"
Brukkkkk!
Brian melempar Reno di atas tanah yang berdebu. Reno berdiri dan hendak membalas Brian, namun Alex dan Aldi menahannya. Sedangkan Rendi, dia beranjak pergi meninggalkan semua orang.
"Mau ke mana kau Rendi?"
Alex berteriak melihat Rendi berjalan dengan tergesa.
"Aku mau cari gadis itu!"
Brian tersenyum kecut. Dia ikut pergi untuk mencari istrinya. Kenapa semua orang menjadi tidak berguna. Dia sendiri bahkan lebih tidak berguna lagi. Bagaimana bisa dia kehilangan jejak istrinya. Padahal dia ikut camp ini untuk menjaga gadis itu bukan untuk liburan.
"Bodoh kamu Brian!"
Brian menggeram pada dirinya sendiri.
__ADS_1
" Halo Dito, bantu aku cari Byan. Aku takut gadis itu tersesat. Jangan banyak bertanya dan cari saja."
To Be Continued.