
"Enak?" tanya Brian menatap istrinya.
Byan mengangguk meskipun dia agak sedikit kesal. Ya, bagaimana tidak kesal, setelah Brian dan Aldi juga Bima bersusah payah menangkap ikan, tiba-tiba saja Dokter ahli gizi Byan menelpon dan mengatakan jika Byan tidak boleh makan sesuatu yang di bakar, kalaupun mau, di usahakan untuk tidak memakan bagian kulit terluar dari makanan yang di bakar tersebut. Alasannya karena, bara atau makanan yang gosong, tidak baik untuk kesehatan ibu hamil, yang lebih parahnya lagi, ahli gizi itu bilang, makanan yang di bakar tidak terjamin matang sempurna atau tidak. Jadi ikan mas tadi hanya bisa Byan goreng.
"Jangan sedih, nanti setelah baby twin's lahir, kita makan ikan bakar yang banyak ya!" Brian tersenyum sembari mengusap kepala istrinya lembut.
"Ekhemmmm!" Aldi berdehem melihat kemesraan yang di lakukan oleh pasangan tidak tahu diri itu.
"Apa?" seloroh Byan menatap Aldi tajam.
"Ikh, ibu kecebong marah!"
Semua orang menahan tawa saat Aldi menyebut Byan ibu kecebong. Memang sih, jika di lihat dalam kondisi Byan saat ini, dia sangat lucu, badannya kecil namun perutnya sangat besar.
"Dasar kodok burik. Gak peka, gak punya perasaan."
"Ekh, kenapa jadi merepet kayak kenalpot racing? Emang gue ada salah sala Lo BuBong?"
"BuBong apa lagi Aldi?" tanya Bima penasaran.
"Ya itu, singkat darai Ibu Kecebong!"
Gelak tawa terdengar di ruangan itu. Byan semakin merengut membuat semua orang mau tidak mau menahan tawanya. Jangan sampai Byan marah, bisa gawat, semua orang-orang yang ada di rumah itu akan terancam tidak bahagia untuk beberapa hari ke depan.
"Ikh amit-amit. Nungelo dasar. Amit-amit jabang bayi, ulah saturut-turutna."
"Apa itu By?" tanya Brian.
"Mantra!" jawab Byan ketus.
"Yang bener kalau di tanya BuBong."
Aldi tersenyum mengejek ke arah Byan. Wanita hamil itu mendengus.
"Aldi yang bodoh gak ketulungan. Jangan sok pinter dan sok asik, kamu tahu, ada cewek yang suka sama kamu sejak 7 tahun yang lalu, apa kamu sadar?"
Aldi melongo namun menggelengkan kepalanya.
"Nah itu artinya kamu beneran bego."
"Emang siapa yang suka sama Aldi By?" tanya Bima menatap Byan lekat. Begitupun dengan semua orang. Mereka sangat penasaran, wanita mana yang tergila-gila pada pria nakal dan pecicilan seperti Aldi.
"Agnes!"
__ADS_1
"Uhukkkk!"
Nugroho menyodorkannya segelas air pada Aldi. Brian melirik Aldi sekilas, lalu kembali fokus pada Byan. Kegiatan memisahkan duri ikan dari dagingnya menjadi hal yang menyenangkan untuk Brian.
"Yang kemarin ke sini itu kan?" tanya Anjani. Byan mengangguk.
"Oh, kalau dia sih cantik Al, asal kepribadiannya baik, dan asal usulnya jelas, kamu boleh menikah dengan dia."
Meja makan mendadak hening, semua orang kecuali Nugroho melirik Byan untuk melihat ekspresinya seperti apa.
"Apa?" tanya Nugroho saat Anjani menyikut lengannya.
Anjani melotot sembari menunjuk Byan dengan ujung matanya. Beberapa detik kemudian, Nugroho baru sadar. Dia langsung melotot dan membekap mulutnya.
"Sayang Ayah ...."
"Gak papa kok Ayah. Byan gak papa!" jawab gadis itu tersenyum. Dia masih mengunyah dan memakan daging ikan yang di suapkan oleh Brian.
Anjani memejamkan matanya. Bagaimana bisa Nugroho keceplosan seperti itu. Byan pasti tersinggung. Apalagi saat ini mood ibu hamil memang sangat mudah berubah-ubah.
"Maaf!" ucap Nugroho tanpa suara. Anjani hanya bisa menghembuskan napas berat.
"Byan udah kenyang. Byan naik ke atas dulu ya!"
"Gak papa, Brian akan coba kasih pengertian."
"Maafkan Ayah Bri!" gumam Nugroho dengan wajah sendu. Brian hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia berbalik dan langsung berlari mengikuti istrinya.
"Ayah kenapa mulutnya ember kayak gitu?" umpat Aldi merasa kecewa terhadap ayahnya.
"Ayah gak sengaja."
"Terus sekarang gimana? Byan pasti sedih, padahal dia pasti sudah berusaha untuk melupakan maslah ini." Bima ikut menimpali.
...----------------...
"Sayang!"
Brian memanggil istrinya dengan suara yang lembut. Wanita itu bergeming, dia masih menatap lurus pemandangan di luar jendela kaca tinggi di kamar mereka.
"Maafkan Ayah, dia tidak bermaksud seperti itu!" Brian berucap sembari memeluk Byan dari belakang. Byan masih diam, semakin lama, Brian bisa merasakan tubuh istrinya bergetar, dia memutar tubuh Byan, kembali memeluknya dan mengusap punggungnya dengan usapan menenangkan.
"Maafkan Ayah Baby!"
__ADS_1
Byan menggeleng. "Ini bukan salah Ayah Om, Om juga tahu, kalau asal usul Byan memang tidak jelas, Byan ini anak haram, Byan gak punya nasab, dan ...."
"Shuutttt! Jangan berbicara seperti itu. Asal usul kau itu sangat jelas Honey! Kau di besarkan dalam keluarga yang baik, kau juga tumbuh menjadi gadis yang baik, kau bisa menjadi istri yang baik, istri yang bisa di banggakan, juga menantu yang sangat baik, kenapa kau masih meragukan dirimu sendiri? Kau adalah istriku, tidak perduli apa latar belakang mu, kau adalah dirimu sendiri tanpa ada embel-embel masa lalu."
Byan semakin menangis sesenggukan. Kenapa dia harus menerima kenyataan pahit ini. Kenapa dia harus tahu jika dia bukan anak kandung kedua orang tuanya. Kenapa?
"Om!"
"Iya Baby!"
Byan menjauhkan tubuhnya dari tubuh sang suami, menatap mata Brian lekat meskipun dia masih sesenggukan.
"Om tahu, menjadi ibu yang baik adalah cita-cita Byan. Byan tidak dendam pada orang tua kandung Byan, namun entah kenapa, setiap kali membahas maslah asal usul seperti ini, Byan terluka. Byan juga ingin seperti Om Brian, seperti Kak Bima dan Aldi yang memiliki nasab jelas. Byan boleh minta satu hal sama Om?"
Brian mengangguk mengiyakan. Mengusap air mata yang terus mengalir dari pipi sang istri sembari menatapnya penuh cinta.
"Apa yang harus aku lakukan Baby?"
Byan menarik napasnya perlahan. Menguatkan hatinya, dan membukakan tekad untuk meminta apa yang dia inginkan kepada suaminya. "Byan ingin membuat panti asuhan. Byan ingin menampung anak-anak yang kurang beruntung. Setidaknya, jika mereka tidak mendapatkan kehangatan dari orang tua mereka, mereka akan mendapatkan kehangatan dari anak-anak lain yang menghuni panti kita nantinya."
Mata Brian berkaca-kaca mendengar keinginan sang istri. Dia menarik tubuh Byan ke dalam dekapannya. Air matanya mengalir tanpa bisa dia tahan. Gadis kecil miliknya memiliki keinginan yang sangat mulia seperti ini, Brian bangga, Brian janji, Brian akan mewujudkan cita-cita besar yang istrinya miliki.
"Aku sangat mencintaimu Baby! Sangat!"
Tok! Tok! Tok!
"Byan!"
Nugroho masuk ke kamar anak dan menantunya tanpa di ikuti siapapun. Meskipun Brian sudah mengatakan tidak apa-apa, namun Nugroho tidak akan tenang jika dia tidak meminta maaf langsung.
"Ayah!" gumam Byan menyeka buliran air di sudut matanya.
"Maafkan Ayah sayang, Ayah tidak bermaksud menyinggung perasaan mu."
Byan tersenyum, melangkah mendekati Nugroho dan memeluknya.
"Ayah tidak salah. Tapi, jikapun ayah salah, Byan pasti akan memaafkan ayah."
"Terima kasih Nak! Kau memang menantu terbaik. Ayah sangat menyayangi mu."
"Ayah juga adalah mertua terbaik untuk Byan. Byan juga sayang Ayah. Terima kasih karena sudah menerima Byan di keluarga ini."
To Be Continued.
__ADS_1