Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Macan Asia


__ADS_3

Suara debam debum musik di ruang karoke tak lantas membuat Byan senang. Gadis itu malah semakin bergerak gelisah. Ini sudah sore, dia sudah meminta Aldi dan Bima untuk pulang sejak tadi namun mereka berdua malah menyeret Byan untuk bermain di tempat karaoke keluarga.


"Kamu baik-baik aja kan By?" Aldi menempelkan punggung tangannya di kening Byan. Byan tentu saja menggeleng. Apanya yang baik. Dia sudah sangat kesakitan dari tadi, tapi Aldi malah sibuk bernyanyi. Dan Bima, laki-laki itu malah sibuk bermain game di tengah-tengah keriuhan seperti sekarang.


"Kak Bima! Byan sakit!" Ucapan Aldi itu sukses membuat Bima mematikan ponselnya dan beralih menatap wajah Byan yang sudah pucat pasi.


"Kau Kenapa?" tanya Bima menyentuh wajah Byan.


Byan menarik leher Bima lalu berbisik di dekat telinga pria itu.


"What? Datang bulan?" Pekik Bima membuat semua teman-teman mereka menoleh ke arah Byan.


"Astaga, aku sudah berbisik agar mereka tidak mendengar ku Kak," gumam Byan geram kepada adik iparnya itu.


"Ya sudah, kita pulang saja! Kau masih kuat berjalan tidak?" tanya Aldi dengan wajah khawatir.


"Biar aku gendong saja!" Bima berjongkok di depan Byan. Aldi mengangguk, dia membantu Byan untuk naik ke punggung Bima, setelah itu, dia mengambil ponsel juga barang-barang milik gadis itu dan memasukkannya ke dalam tas Byan.


"Mau ke mana kalian?" tanya teman-teman Bima dan Aldi.


"Kita pulang dulu. Dia sakit. Kau bayar semua tagihan nya, nanti aku yang ganti," ucap Aldi sembari menenteng tas Byan dan langsung melesat pergi menyusul Bima.


"Dia siapa sih? Bima sama Aldi jadi gak seru sejak ada dia, kalian tahu, dulu, mereka itu sering banget nongkrong, sekarang malah susah banget di ajak keluar."


"Tapi gadis itu cantik Bro, apa mungkin dia ... "


"Jangan bicara macam-macam. Kalau kalian tahu siapa dia, kalian akan menyesal telah mengatakan hal-hal tidak penting seperti itu." Mike berbicara sembari menyilangkan kakinya.


Banyak di antara orang-orang itu duduk di sisi Mike karena penasaran. "Lo tahu dia siapa?" tanya salah satu pria.


"Bilang sama kita dong Bro, kita penasaran nih!"


Mike tersenyum sinis. "Kalian akan tahu jika sudah waktunya. Sekarang kalian lanjutkan saja karokenya. Sayang, nanti kan Aldi sama Bima yang bayar. Kita harus puas-puasin main hari ini."


Semua orang mengangguk. Ada yang kembali fokus makan camilan, juga ada yang kembali bernyanyi.


...----------------...


"Byan!"


Brian berlari menghampiri 3 orang yang baru keluar dari gedung karoke terbesar di kota itu.


"Kenapa jam segini masih belum pulang? Aku hampir meledakan gedung ini karena membiarkan kalian bermain sampai lupa waktu."


Brian mengambil alih Byan ke dalam gendongan. Dia menatap Bima dan Aldi tajam sebelum benar-benar pergi membawa Byan masuk ke dalam mobilnya.


"Kakak ini!"


Aldi memasukkan tas Byan ke dalam mobil kakaknya.


"Bulan depan tidak usah meminta jatah jajan dariku," ucap Brian masih kesal kepada Aldi.

__ADS_1


Aldi mundur beberapa langkah. Dia menatap mobil Brian dengan tatapan sendunya.


"Apa kita sudah tidak lebih berharga untuk Kak Brian Kak?" tanya Aldi menatap Bima lesu.


"Tidak, kita memang salah, seharusnya kita membawa Byan pulang sejak tadi. Kakak pantas marah." Bima menepuk pundak Aldi, lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Kita ke mana sekarang Kak?"


"Pulang lah, emang kamu mau kita di amuk Banteng itu, belum lagi Macan Asia, dia pasti akan memarahi kita habis-habisnya nanti."


Aldi bergidik ngeri. "Apa kita masuk lewat jendela aja Kak, Ibu kalau udah marah pasti merepet ke mana-mana. Ceramahnya gak akan selesai dalam hitungan jam."


"Gila kamu, kamar kita ada di lantai 2. Mau naek pake apa bolot!"


"Ya kali aja ada pertolongan dari Allah, supaya kita gak ke gap macan Asia."


...----------------...


"Kantong penghambatnya mana Dit?"


Dito menunjuk sebuah paper bag di samping Brian. "Ada di sana Tuan."


Brian mendudukkan Byan di samping kanan nya lalu menempelkan kantong penghangat di perut bagian bawah Byan.


"Apa sudah lebih nyaman?" tanya Brian menatap Byan khawatir.


Byan mengangguk sembari tersenyum.


Dito kembali mengingatkan. Brian mengambil sebuah Tumbler dari paper bag yang tadi Dito bawa.


"Minum ini By, ini teh madu hangat. Semoga ini bisa membantu meringankan nyeri nya."


Sepanjang perjalanan, Brian terus bergerak memperlakukan Byan seperti seorang balita. Dia tidak berhenti mengusap pinggang Byan dan membisikkan kata-kata cinta untuk gadis itu. Brian tahu, dia harus membuat Byan happy agar dia bisa mengalihkan rada sakit yang sedang Byan rasakan.


Sesampainya di rumah. Mereka langsung di sambut oleh Anjani di depan pintu. Brian memangku Bryan sedangkan Dito, membawa tas Nona kecilnya.


"Byan datang bulan ya?" tanya Anjani yang sudah sangat hapal tanggal bulanan menantunya.


"Iya Bu, hari pertama apa memang selalu menyiksa seperti ini?" tanya Brian masih terus berjalan masuk ke dalam rumah.


"Tidak semua perempuan sakit seperti ini Bri, tapi kebanyakan seperti itu. Apalagi kalau dia stres, banyak pikiran atau tertekan. Tapi kalau sakitnya berlebihan, juga darah yang keluar sangat banyak, itu yang harus di waspadai. Sakit yang Byan rasakan ini masih normal kok. Kamu kan bisa bantu Byan meredakan nyerinya."


Brian mengangguk. Dia mulai naik ke atas tangga, Anjani tadinya ingin ikut untuk menaruh tas Byan, namun Brian melarangnya.


"Aldi sama Bima tadi bawa Byan ke tempat karoke, Brian gak bisa langsung jemput Byan karena Brian ada rapat dadakan. Sebenarnya mereka gak salah, tapi mungkin kalau Byan gak sakit, sampai malam pun mereka gak akan ingat pulang."


"Ibu tahu apa yang harus ibu lakukan," ucap Anjani. Dia mengalungkan tas Byan di leher Brian kemudian berjalan ke arah dapur.


...----------------...


Aldi dan Bima sampai di depan rumah dengan perasaan tak tentu. Mereka mengintip ke arah rumah melihat situasi.

__ADS_1


"Aman Kak!" ucap Aldi kepada Bima.


Bima mengangguk. Mereka berdua turun namun masih dengan perasaan tidak tenang. Bulu kuduk mereka berdiri ketika mereka hendak membuka pintu.


"Assalamualaikum," ucap Bima dan Aldi.


"Wa'alaikumssalam," jawab Anjani muncul dengan sapu di tangan kanannya.


"Baru pulang? Asyik main bawa-bawa istri orang sampai lupa waktu?"


Bima dan Aldi refleks mundur beberapa langkah.


"Inalilahi wainailaihi roji'un." Refleks Aldi dan Bima bersamaan.


"Dalam hitungan ke tiga kita lari," ucap Bima menyenggol lengan Aldi.


"Satu!"


.


.


.


.


"Tiga!"


Bima langsung lari ke dalam rumah sedangkan Aldi malah melongo bingung harus apa. Seharusnya tadi baru hitungan dua kan, apa Bima bodoh. Pikir Aldi masih belum sadar jika Anjani sudah ada di depan matanya.


"Mau kabur hah?" Anjani tersenyum sembari mengangkat sapu di tangannya.


"Hehe, enggak Ibu, Aldi kan bertanggung jawab. Aldi gak akan kabur."


Namun detik berikutnya, dia sudah melesat pergi berlari kocar-kacir.


"Aldi!!!"


"Bima!!!"


Anjani berteriak namun tidak di hiraukan oleh kedua anaknya.


To Be Continued.


.


.


.


.

__ADS_1


Hari ini Done ya Guys. Aku kok jadi berasa punya utang kalau gak up 3 bab. 🤭🤭🤭 Selamat malam. Jangan lupa bobo, jangan begadang terus.


__ADS_2