
Brian menarik kedua ujung bibirnya. Melihat Byan dari jauh seperti ini membuat hatinya semakin sesak. Brian ingin merengkuh tubuh rapuh yang sekarang penuh dengan selang, selang infus juga selang yang tergantung dari kantong darah.
"Kapan saya bisa menemui istri saya Dok?" lirih Brian tanpa mengalihkan pandangannya dari Byan. Kedua tangannya menempel pada dinding kaca di ruangan itu.
"Saya belum bisa memastikan. Saya harap ini tidak lama. Hipotermia yang di derita istri Anda termasuk Hipotermia sedang, namun sepertinya dia sangat terpukul atas keputusan yang kita ambil. Kita berharap yang terbaik saja. Semoga Tuhan memberikan mukjizat terbaiknya untuk kita semua."
Buliran air bening itu kembali muncul. Brian tidak sanggup jika harus menerima dua kenyataan pahit sekaligus. Hatinya sakit seperti di sayat pisau tajam berulangkali. Hidupnya hancur dalam sekejap. Wanita yang dia cintai, juga bayi yang dia tunggu-tunggu nyatanya sedang ada di kondisi yang buruk.
Memang benar kata orang, hidup di dalam limpahan harta akan terasa hampa dan tidak berarti jika orang yang kita cintai ada dalam kondisi seperti ini. Brian merasa, bukan hanya Byan yang sedang berjuang untuk hidup, namun dia juga sama. Brian mencoba untuk menata hatinya juga mencoba untuk berpikir positif, istrinya akan sembuh sebentar lagi. Dia akan membuka mata dan akan kembali tersenyum kepadanya, bibir mungil itu akan kembali memanggil namanya. Brian merindukan Byan yang merengek kepadanya, Brian merindukan Byan yang akan selalu menempel padanya.
"Tolong jaga istri saya Dok. Saya janji, saya akan membayar berapapun biaya rumah sakit ini asalkan istri saya bisa segera membuka matanya."
Brian berjalan gontai melangkah keluar dari ruangan itu, dia berjalan menelusuri lorong panjang yang nyatanya terasa sangat sunyi untuk Brian, pria itu menunduk sembari mengepalkan kedua tangannya, namun langkahnya terhenti ketika dia melihat sepasang sepatu berhenti tepat di hadapannya. Pria itu menatap lelaki tua di depannya dengan tatapan membunuh. Matanya merah dan kepalan tangannya semakin kuat.
"Untuk apa kau ke sini bajinga*?"
"Aku ingin melihat putriku Brian, di mana dia, apakah dia baik-baik saja?"
Bukannya menjawab, Brian malah tersenyum sinis, kekehan yang awalnya terdengar sangat pelan kini malah menjadi sebuah tawa yang mana itu membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Apa kau bilang, putrimu? Kau bilang putrimu? Kau mengatakan dia putrimu? Apa aku tidak salah dengar? Jangan menyebut dia putrimu dengan mulut kotor itu, aku tidak akan pernah sudi mendengar kalimat seperti itu darimu."
"Tapi dia memang anakku Brian. Aku menyayangi nya. Aku ingin Byan kembali padaku."
Setttt!
Bughhhhh!
__ADS_1
Brian menerjang tubuh Anthony dan menduduki perut pria tua itu sembari mencengkram kuat kerah baju yang Anthony kenakan giginya gemeretak karena menahan amarah yang luar biasa.
"Aku bilang dia bukan anak mu. Berhenti! Berhenti untuk berusaha mendekatinya, jangan berikan apapun, dia tidak membutuhkan apapun darimu. Uang, mobil, rumah, apa yang tidak bisa aku berikan? Aku mampu memberikan segalanya, tidak menerima uang darimu pun aku bisa membahagiakan dia."
"Brian!"
Nugroho berteriak ketika melihat Brian hendak memukul Anthony kembali. Nugroho menarik lengan Brian supaya Brian bisa melepaskan Anthony.
"Kau mau apa Brian? Ini rumah sakit, berhenti membuat keributan. Jika ada yang harus dibicarakan maka kita akan membicarakannya dengan cara baik-baik."
...----------------...
Di dalam ruang rawat Brian. Semua orang sudah berkumpul. Termasuk Haris dan Anandita. Sementara Dito, Tania, Navisa dan Rendy menunggu di luar ruangan.
Brian menggeram hendak memukul Anthony kembali namun segera Nugroho menahan lengannya.
Anthony mengangguk. Semua orang yang ada di sana tercengang mendengar ini. Kecuali Haris dan Brian.
"Ayah kita itu rada lemot ya Kak. Masa masalah kayak gini dia baru ngeuh."
Bima menyenggol lengan Aldi saat Aldi malah membisikkan kata-kata yang tidak penting. Mereka di sini karena kepo, dan Aldi malah berbicara seenaknya.
"Kenapa gak bilang dari awal sama Ayah Bri, kalau Ayah tahu, Ayah yang akan menghajar laki-laki ini."
"Ayah. Itu tidak penting sekarang. Byan sedang dalam kondisi tidak baik. Menantu Ibu sedang berjuang antara hidup dan mati. Selesaikan maslah ini sebelum menantu Ibu bangun. Ibu gak mau dia sedih lagi."
Nugroho mengangguk mengiyakan apa yang Anjani ucapkan. "Ya sudah, kalau begitu Brian benar, kita tidak membutuhkan uang mu Tuan Anthony yang terhormat. Kita bisa menjaga Byan. Dia bahagia bersama kami. Jangan usik hidupnya, kau juga bisa lihat, atas apa yang telah kau lakukan, menantuku malah terbaring di rumah sakit. Dia tidak ingin menemui mu. Aku harap kau mengerti. Kalau kau menginginkan seorang anak, kau rawat saja anak bayi yang juga di telantarkan oleh orang tuanya. Anggap itu sebagai penebusan dosa. Kau bisa pergi dari sini sekarang. Itupun kalau kau memang masih ingin Byan hidup bahagia."
__ADS_1
Nugroho berbicara dengan nada ketusnya yang mana itu membuat Anthony merasa dongkol. Dia sendiri pun bingung harus apa. Jika dia terus memaksa, dia takut Byan akan sangat membencinya.
"Aku akan pergi. Tapi, bolehkah aku meminta satu hal?"
Brian mendongak menatap Anthony tidak suka. Namun Adrian menyuruh Brian untuk tetap tenang dan membiarkan Anthony mengatakan apa yang dia inginkan.
...----------------...
Sepasang tangan besar nan keriput itu menempel pada dinding kaca penyekat ruangan Byan juga ruang untuk memantau pasien. Anthony tersenyum sembari mengusap kaca itu seolah dia sedang mengusap wajah Byan. Hatinya hancur setelah melihat keadaan putri semata wayangnya. Anthony tahu dia sudah melakukan kesalahan.
"Sayang, jika kau bahagia bersama orang-orang yang kau cintai, Ayah akan pergi Nak. Ayah tidak akan menggangu mu. Mulai sekarang, hiduplah bahagia. Maafkan Ayah karena Ayah kau jadi begini. Ayah menyayangi mu Sayang."
Anthony mengusap kasar buliran bening yang mengalir di sudut matanya. Dia meninggalkan ruangan itu meskipun hatinya sangat enggan. Anthony tahu dia sudah melakukan dosa besar. Dan mulai sekarang, dia akan membiarkan Byan bahagia tanpa bayang-bayang dirinya.
...----------------...
Jemari lentik nan rapuh bergerak sedikit demi sedikit. Perlahan, detak jantung juga napas Byan mulai bekerja seperti semula, matanya terbuka perlahan, namun ketika dia melihat cahaya lampu, matanya refleks kembali tertutup.
"Dok! Dokter! Dokter pasien sudah sadar Dok!"
Seorang suster berbicara dengan gembiranya kepada sang dokter. Dokter itupun bergegas mengecek keadaan Byan juga melihat denyut nadi wanita itu. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tat kala dia menyadari jika Byan sudah berhasil melewati masa kritisnya.
"Om ... Om Bria ...n!"
Suster itu mendekatkan telinganya di depan wajah Byan.
"Om Brian Sus ... Om Brian."
__ADS_1
To Be Continued.