
"Ibu dia!" ucap Bima menatap wanita itu tanpa berkedip.
"Assalamualaikum Bu!" ucap Adelle.
"Wa'alaikumsalam," jawab Anjani merangkul bahu Adelle serta saling menempelkan pipi mereka. "Dia masih jomblo, ibu sangat yakin akan hal itu," bisik Anjani di telinga Adelle.
Adelle terkekeh. Setelah bersalaman dengan Anjani, dia melirik Bima sekilas, pria itu berwajah murung, tidak seperti biasanya. Namun, Adelle tidak perduli, mungkin suasana hati Bima sedang buruk, jadi dia tidak ingin memusingkan masalah seperti itu.
"Bima, ini Adelle, anak teman Ibu yang waktu itu mau ibu kenalkan sama kamu!"
Bima terkejut, refleks matanya menetap Adelle dengan tatapan penuh tanda tanya. "Maksud Ibu, Bu Adelle ini yang Ibu ...."
"Iya, sudahlah, toh kamu juga gak mau kan. Ibu jodohkan saja Adelle sama Aldi."
Bima membulatkan matanya. Mana bisa seperti itu. Gak mungkin Bima membiarkan Aldi melangkahi nya. Apalagi ini dengan Adelle.
"Ibu!" Bima memekik.
"Kau dengar itu Nak, percayalah kepada Ibu, dia pasti menyukaimu juga," cicit Anjani. "Tapi apa kalian memang sudah pernah bertemu?" tanya Anjani bingung.
"Ceritanya panjang Bu!"
"Ya sudah, yang penting Ibu tahu kalau dia memang tertarik padamu."
Adelle hanya tersenyum menanggapi perkataan Anjani, jika itu benar, haruskah Adelle senang atau justru sebaliknya?
Adelle terus melangkah masuk ke dalam rumah bersama Anjani, katanya berbinar tat kala dia melihat Wanita hamil yang sedang duduk di sebuah sofa dan di kelilingi banyak orang.
"Hei bocah!" Adelle sedikit berlari mendekati Byan. Byan tersenyum, dia hendak bangun namun Adelle melarangnya. "Sudah duduk saja. Aku hanya ingin menyapa mu."
"Wah! Ternyata kalian sudah saling kenal ya?" Anjani berujar.
Byan mengangguk. "Tentu saja, Kak Adelle ini adalah senter untuk Byan, selain cantik, dia juga sangat pandai."
Semua orang yang ada di dekat Byan memperhatikan Adelle dari atas sampai bawah, wanita itu memang cantik, terlihat sangat elegan dan berkelas.
"Bagiku hanya kau yang paling cantik Baby!"
Brian berbisik di telinga Byan sampai membuat pipi chubby nya bersemu merah.
"Acaranya akan segera di mulai," ucap Kirani saat di mendekati semua orang yang berkumpul.
Acara itupun berlangsung dengan hikmat. Byan memang sengaja tidak ingin terlalu mengumbar apapun yang dia miliki, baginya, acara sederhana seperti ini saja sudah lebih dari cukup, membuat anak-anak yatim itu merasa bahagia dengan sedikit pemberian darinya membuat Byan sangat bahagia. Jika di perkenankan, sebenarnya Byan memiliki cita-cita untuk membangun sebuah yayasan panti asuhan yang layak untuk menampung anak-anak yang terlantar di jalanan. Memberikan mereka tempat tinggal dan makanan yang layak. Sebuah cita-cita besar yang siapapun tidak mengetahuinya. Dia masih memendam keinginannya sendiri.
"Ada apa?" Byan menumpu kan kedua lututnya di atas lantai saat dia melihat seorang anak kecil berusia sekitar 5-6 tahunan sedang menangis tersedu-sedu. Anak itu diam tak menjawab.
Brian meringis melihat apa yang istrinya lakukan, kenapa dia harus melakukan itu, padahal Brian sudah menjaganya mati-matian, lecet saja tidak boleh, nanti lutut Byan pasti akan sakit jika dia berlutut terlalu lama.
__ADS_1
"By, berdiri saja!" Brian menyentuh bahu Byan agar istrinya bisa langsung berdiri.
"Tunggu sebentar Om!"
"Ade, Kakak tanya kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" tanya Byan lagi. Anak kecil itu masih tidak menjawab. Byan mendongak ketika melihat pemilik panti yang membawa anak-anak itu datang.
"Sebenarnya, amplop yang tadi Nyonya berikan padanya hilang, mungkin ada yang jahil, biasa anak-anak ini memang suka bercanda."
Byan menghela napas saat mendengar penjelasan pemilik panti. Namun detik berikutnya dia tersenyum. "Ade, kalau amplopnya hilang bilang sama Kakak sayang, Kakak masih punya banyak!"
Byan menyodorkan tangannya kepada sang suami. Brian bingung, dia tidak memegang amplop-amplop itu.
"Ini saja!" Brian menyerahkan dompetnya pada Byan.
Wanita itu menatap suaminya dengan kening berkerut. Byan menggelengkan kepala sembari mengangkat kedua bahunya.
"Ya sudah tidak apa-apa!" Byan membuka dompet suaminya perlahan. Dia takut dompet itu tidak ada isinya sama seperti dulu, namun saat dia membuka nya, matanya berbinar dompet itu ternyata penuh dengan uang cash.
"Nah!" Byan mengambil sejumlah uang dari dompet lalu memberikannya pada anak kecil tadi. "Ambilah!" Byan menarik tangan anak itu dan meletakan uangnya di sana.
Sontak saja anak kecil tadi langsung terdiam. Kertas-kertas merah itu langsung membuat air matanya kering seketika. "Jangan bilang sama yang lain ya, Kakak yakin, punyamu ini lebih banyak dari punya mereka!"
Anak kecil itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya antusias. "Terima kasih," ucapnya langsung menghambur memeluk leher Byan.
Brian tersentak, hampir saja dia menarik anak itu jika Byan tidak menghentikan nya.
"Aku baik-baik saja," ucap Byan tanpa suara.
Malam harinya, Byan menatap suaminya gemas. Kini pria itu sedang berbaring di atas ranjang dengan bibir yang mengerucut.
"Apa Daddy masih marah?" tanya Byan duduk di tepian ranjang.
Brian bergeming, dia masih enggan untuk berbalik. Brian masih sangat kesal karena ulah Byan tadi siang.
"Sayang, lihatlah, Daddy kalian sedang marah pada Mommy, haruskah Mommy pergi ke rumah nenek sama Kakek? Sepertinya Daddy sudah tidak menyayangi Mommy lagi." Byan berucap dengan suara lirih sembari mengelus perut buncitnya.
"Yak!!"
Brian memekik dan langsung duduk menatap istrinya lekat. "Kau tidak boleh bicara seperti itu. Jangan menjelekkan aku di depan Baby twin's!"
"Memang siapa yang menjelekkan Om? Memang benar kan yang Byan bilang, Om udah gak sayang sama Byan?"
"Yak!!!"
Pria itu kembali memekik. Aku tidak seperti itu. Aku masih menyayangimu By. Aku sangat menyayangimu. Aku masih tetap mencintaimu!"
Brian mendekap tubuh sang istri. Dia tadi hanya kesal saja karena Byan tidak hati-hati. Brian tidak bermaksud seperti itu.
__ADS_1
"Jangan marah," gumam Brian di samping telinga Byan.
"Aku tidak marah, Om yang marah!"
"Itu kau tidak menyebut namamu. Artinya kau masih marah."
Byan mendorong tubuh Brian untuk menjauh. "Aku ini sudah dewasa, sudah akan menjadi seorang ibu, rasanya agak aneh jika aku menyebut diriku dengan mana yang aku miliki."
Brian kembali memeluk istrinya. "Kau memang akan menjadi seorang ibu, tapi bagiku, kau tetaplah gadis kecil, kau akan tetap jadi Baby Girl milik ku sampai kapan pun."
Byan sedikit tertawa mendengar gombalan dari Brian. Pria ini benar-benar sudah tidak tertolong.
"By!"
"Eummm!"
"Apa lutut mu baik-baik saja?" tanya Brian. Dia melepaskan pelukannya. Memangku Byan dan mendudukkan wanita hamil itu di atas ranjang juga mencarikan posisi yang nyaman.
"Yak!!"
Byan memekik saat Brian menyingkap baju tidurnya sampai ke atas paha.
"Aku hanya ingin melihatnya saja. Apa ini sakit?" tanya Brian mulai menyentuh kedua lutut sang istri.
Byan menggelengkan kepalanya. "Tidak Om, kaki ku hanya sedikit pegal!"
Brian mengangguk, dia mulai memijat kaki Byan perlahan. Meskipun pijatan nya sangat lembut, namun Byan merasa sangat nyaman. Wajahnya tersenyum, melihat Brian yang sedang serius memijat kakinya.
"Ssshhhhh!"
Tiba-tiba Byan mendesis sambil memegangi perutnya. Brian yang melihat itupun langsung beranjak. Dia sangat panik, karena takut terjadi sesuatu kepada istri dan bayi-bayinya.
"Ada apa Baby? Kau baik-baik saja kan?"
Brian menyentuh punggung juga menyentuh perut Byan.
Byan kembali mendesis. "Aku ingin ... aku ingin!"
"Kau ingin apa?" tanya Brian semakin panik.
"Aku ingin ...."
Dutttt!
Brian melongo. Apa yang baru saja dia dengar.
"Kau buang angin?" tanya Brian menatap istrinya dengan wajah bingung. Wanita hamil itu malah tertawa terbahak-bahak. Ternyata mengerjai suaminya sangat menyenangkan. Jangan salahkan Byan jika dia membuat sang suami panik, Brian memang sangat posesif, jadi sesekali mengerjai nya tidak apa-apa kan.
__ADS_1
To Be Continued.
Ini belum tamat oke. Jangan resah.