
Di sebuah taman yang ada di belakang rumah keluarga Nugroho, semua orang sedang sibuk dengan kegiatan mereka. Orang-orang yang sudah lama tidak berkumpul membuat acara makan-makan sekedar melepas rindu mereka. Ada sebuah meja panjang di dekat kolam renang, satu alat BBQ dan juga meja berukuran sedang yang penuh dengan hidangan penutup.
"Pelan-pelan Baby!
Brian berada di depan Byan dengan jarak sekitar 2-3 langkah, sedangkan dua bocah kecil mereka menjadi pemandu sorak sembari membawa pom-pom yang sering dipakai oleh para cheerleader.
Byan memang sudah menunjukkan perkembangan yang jauh lebih baik. Karena tekad dan usaha yang dia miliki, dia tidak memerlukan waktu lama untuk bisa berdiri dan berjalan meskipun masih tertatih-tatih.
"Go Mommy go Mommy go. Go Mommy go Mommy go. Go Mommy go Mommy go. Go Mommy go Mommy go."
Kedua bocah itu terus bersorak heboh, bahkan sekarang anggotanya bertanah, Mecca dan Leon pun ikut bersorak di belakang Ammar dan Ameera.
Brian tersenyum, apalagi saat melihat sang istri sudah bisa berjalan lebih jauh dari sebelumnya.
"Sebentar lagi sampai Baby!"
Brian menyemangati Byan, wanita itu mengangguk. Semangat yang berkobar di dalam dirinya membuat dia semakin bertekad untuk mencapai garis finish yang sudah Brian tentukan.
"Ayo Mommy, dua langkah lagi, Mommy pasti bisa, nanti di kasih hadiah cup, cup muah sama Daddy!"
Semua orang yang ada di sana tertawa mendengar ucapan Ammar dan Ameera. Bocah itu masih kecil, namun Brian selalu mengajarkan mereka kalau hadiah itu tak selalu tentang barang mewah dan mahal meskipun mereka memiliki harta yang berlimpah, terkadang pelukan dan juga kecupan bisa menjadi hadiah terbaik untuk orang yang kita sayangi. Namun Brian juga selalu mengajarkan jika yang berhak mereka sentuh atau menyentuh hanya orang yang memiliki hubungan darah dengan mereka.
"Om Byan sampai!"
Byan memekik tat kala dia hampir menyentuh tangan suaminya, namun karena terlalu bersemangat, Byan malah oleng dan pada akhirnya.
"Byan!"
Brukkkkk!
Semua orang bernapas lega karena Brian berhasil menangkap sang istri meskipun Brian harus terlentang di atas rerumputan sementara Byan tengkurap seperti seekor cicak di tubuh suaminya.
Brian tertawa, begitupun dengan Byan, dia sedikit merangkak mengecup bibir suaminya.
"Terima kasih!" ucap Byan dengan senyum terbaik.
__ADS_1
Brian membalas kecupan Byan dan kembali memeluk sang istri erat.
"Mommy, Daddy, jangan belmeslaan di sini. Gak boleh, kata pak ustat beldosa Daddy."
Brian dan Byan kembali terkekeh. Mereka melambaikan tangan meminta semua bocah itu untuk mendekat dan berbaring dengan mereka, syukurlah, hari ini langit sangat bersahabat. Apalagi ini masih sangat pagi, jadi masih sangat pas jika menghabiskan waktu luang di luar ruangan seperti sekarang.
" Leon! Jangan dekat-dekat dengan Mecca, Mecca itu cuma punya aku. Kamu cali yang lain saja!" Tiba-tiba Bim-bim (Nama panggilan untuk anak Bima dan Adelle) menghampiri bocil-bocil itu dan langsung mendorong Leon menjauh dari Mecca (Anak Anandita)
"Yakkkkk! Jangan memperebutkan Mecca seperti itu, memangnya kalian pikir Tante akan kasih Mecca sama kalian? Eumhhh, Eumhh." Anandita menggoyangkan jari telunjuknya. "Tante akan memberikan Mecca kalau kalian sudah bekerja kelak."
Leon langsung berdiri menghampiri Anandita yang sedang berdecak pinggang. "Baiklah Tante, Leon akan jadi doktel hebat dan menikah dengan Mecca!"
Anandita membulatkan matanya. Bocah 4 tahun ini kenapa bisa tahu menikah segala. Apa yang sebenarnya di ajarkan oleh Tania dan Dito.
"Tidak, Bimbim akan jadi plesiden bial Bimbim bisa lebut Mecca dali Leon."
"Yak, Kak Bima, kau ajari apa anak mu ini hah, kenapa mereka malah ingin menikahi anak ku."
Bima dan yang lainnya hanya tertawa. Namanya juga anak kecil, mereka hanya asal bicara, tidak mungkin mereka tahu apa arti menikah yang sesungguhnya bukan.
"Kau pikir kaya bisa menjamin kebahagiaan. No, buktinya saja, aku hidup tidak bergelimang harta tapi Alhamdulillah aku bahagia. Iya gak yang?"
Haris mengangguk mengiyakan ucapan sang istri.
"Betul Kak Adelle, yang paling penting itu kasih sayang dan bagaimana cara pasangan memperlakukan kita. Masalah harta itu bonus."
"Sudah, sudah. Ini aku dan Navisa sudah selesai membakar daging, jamur, dan juga sosisnya. Kalian makan dan setelah itu pikirkan kado apa yang akan kalian berikan padaku dan Navisa."
Adelle menipiskan bibirnya. "Memang kalian akan menikah kapan?"
"Bulan depan!" jawab Aldi tegas. Sedangkan Navisa, dia hanya tersenyum, semburat merah keluar dari kedua pipinya. Sambil menaruh daging dan makan lain di atas piring kedua mertuanya, Navisa menahan senyum hingga rasanya dia tidak kuat ingin meledak.
"Wah, si pendiem sama si pecicilan mau nikah, gimana malam pertamanya ya. Pasti asyik banget itu."
Navisa melotot menatap Anandita. Dia mengisyaratkan sahabatnya untuk tidak membahas masalah seperti itu, namun bukan Anandita namanya jika dia bisa berhenti.
__ADS_1
"Ekh, Nia, Lo kasih kado yang waktu itu aja!" ucap Anandita menatap Tania sembari mengangkat kedua alisnya.
"Jamu kuat!" ucap mereka bersamaan.
Uhukkkk!
Aldi sampai tersedak air liurnya sendiri. Jamu kuat itu, jamu yang waktu itu sempat dia minum di pernikahan kakaknya kan.
Aldi menahan diri untuk tidak tertawa, sedangkan Navisa, dia sudah sangat ingin menenggelamkan dirinya ke dasar sumur yang paling dalam. Sahabat tidak berakhlak nya itu benar-benar membuat dia kehilangan muka di depan semua orang.
"Aku akan memberikan tiket honeymoon untuk kalian, kalian tinggal pilih saja mau honeymoon ke mana!" ucap Brian sembari mendudukkan Byan di sebuah kursi yang ada di meja tersebut.
"Asik, aku mau ke Eropa Kak," ucap Aldi semangat 45.
Byan tertawa. "Jangan lupa oleh-nya. Kita tunggu baby junior di sini."
"Siap, sudah bisa bertempur kalau sudah halal."
"Kalian itu ngomong apa sih, udah akh, ada anak-anak di sini!" Anjani melerai obrolan anak-anaknya yang bisa saja di salah artikan oleh anak-anak yang ada di meja tersebut.
Byan tersenyum menatap semua orang satu per satu. Melihat wajah orang-orang yang sangat dia sayangi bahagia rasanya dia juga bisa merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh semua orang. Energi positif yang orang-orang itu keluarkan membuat Byan semakin bersyukur karena dia masih diberikan kesempatan untuk melihat dan berada di samping orang-orang ini lebih lama.
"Mommy, Ammal punya sesuatu untuk Mommy."
Byan menoleh, dia tersenyum lalu menunduk. Tangan mungil itu mengeluarkan sebuah bunga dan menyelipkannya di telinga Byan.
"Bagaimana?" tanya Byan mengangkat kedua alisnya.
"Cantik, Mommy sangat cantik. Yang paling cantik di antala semua pelempuan yang ada di sini."
"Terima kasih Sayang!"
To Be Continued.
__ADS_1