
Brian mengepalkan kedua tangannya ketika mata dia melihat tangan laki-laki lain menyentuh dagu istrinya. Brian yang tersulut emosi langsung berlari dan menarik kerah baju laki-laki itu.
"Bajingan kau!"
Bughhhhh!
"Akh!"
Anandita dan Navisa memekik ketakutan melihat penyerangan yang terjadi. Bian membulatkan matanya. Ketika itu, Brian ingin kembali menghajar laki-laki yang berani menyentuh istrinya namun Bian berdiri dan langsung menelusup di antara keduanya.
"Om stop! Jangan hajar Kakak. Kalau Om mau hajar orang, hajar Bian aja."
Brian menunduk. Dia menggeram menahan amarah yang membuncah di dalam hatinya. Mata Brian yang ada di balik kaca mata hitam memerah dan hampir keluar dari tempatnya.
"Kau membela laki-laki ini hah? Kau menyukainya?" tanya Brian dengan nada suara yang meninggi. Bian tersenyum sinis. "Om itu gak ada hak buat nanya-nanya kayak gitu. Mau Bian suka sama siapapun itu hak Bian. Kenapa Om ikut campur."
Brian semakin marah. Bisa-bisanya Bian mengatakan hal itu padahal Bian sangat tahu jika dia sudah menikah. Bian sudah berstatus sebagai seorang istri sekarang.
"Kau!" Brian mencekal kedua lengan Bian kuat. Dia menatap mata gadis itu lekat. Bian sama sekali tidak takut. Dia malah tersenyum menyeringai seolah dia sedang meremehkan suaminya.
"Sudah! Kalian itu jangan bertengkar di sini. Ini tempat umum. Kalian ingin membuat kehebohan seperti apa?" Haris melepaskan tangan Brian yang mencekal lengan adiknya.
__ADS_1
"Kamu Brian kan, aku Haris, kakak kandung Bian."
Brian, Aldi, dan Bima melongo. Mereka bertiga di buat terkejut dengan fakta yang baru saja mereka dengar. Keluarga Brian dan keluarga Bian memang belum pernah membuat pertemuan. Jadi mereka tidak tahu. Selama ini Haris belum bisa menengok Bian karena perusahaan tempat dia bekerja tiba-tiba saja mendapatkan masalah yang cukup pelik.
"Kau Kakak Bian?" gumam Brian sedikit tidak percaya.
Bian mendengus. Dia menatap Haris lalu menyentuh wajah Haris dengan jemari lentiknya. "Apakah ini sakit Kak?" tanya Bian sembari mendongak.
Haris menggeleng dengan senyum di bibirnya. Sebenarnya bohong jika Haris mengatakan ini tidak sakit. Pukulan yang Brian layangkan padanya tidak main-main. Mungkin saja gusinya sudah bergoyang sekarang.
"Sebaiknya kita bicarakan ini baik-baik. Kita pindah tempat saja. Tidak enak di lihat banyak orang."
****
Semua orang sudah berada di sebuah cafe terbesar di kota itu. Bian menatap suaminya ogah-ogahan. Haris tersenyum lalu menyenggol bahu Bian. "Jangan kayak gitu sama suami. Pamali Bi!" Haris berbisik di telinga Bian.
"Tapi Om Brian nyebelin Kak. Masa dateng-dateng dia langsung mukul Kakak. Terus kenapa mereka tahu kalau Bian ada di mall tadi?"
Brian menunduk sembari mengaduk minuman yang ada di gelas. Sedangkan Aldi dan Bima, mereka berdua gelagapan merasa jika hidup mereka terancam oleh gadis kecil yang kini sedang menatap mereka penuh selidik.
"Kalian ngikutin Bian kan? Hayo ngaku!"
__ADS_1
Bima mengangguk, namun Aldi menggeleng. Bian tersenyum mengejek. "Kalian bilang kalian gak perduli Bian pergi sama siapa. Kok malah ngikutin Bian sih, mana pake baju kayak gitu juga. Mau cosplay?"
Kedua adik iparnya menggeleng. Bian semakin mengerucut kan bibirnya kesal. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Sudah jangan marah terus, nanti cantiknya hilang," Haris mengusap kepala Bian lembut. Perlakuan Haris ini sangat berbanding terbalik dengan perlakuan Brian. Haris adalah orang yang sangat baik, selain ramah, dia adalah orang yang sangat penyayang.
Anandita dan Navisa tidak terlalu mendengarkan apa yang orang-orang itu bahas. Mereka hanya fokus menatap wajah 4 pria tampan yang kini ada di antara mereka.
"Minta maaf sama Kak Haris Om!"
Brian mendongak. Dia menatap Bian lekat, lalu beralih menatap Haris. Bibirnya berkedut. Brian ini bukan tipe orang yang mudah mengucap maaf pada orang lain. Namun kali ini sepertinya dia memang salah.
"Maafkan Brian Kak, Brian tidak bermaksud seperti itu."
Haris mengangguk. Dia tahu kalau Brian tidak bermaksud seperti bitu. Sebenarnya Haris justru merasa sangat senang karena Brian bersikap seperti ini. Berarti dia benar-benar perduli kepada Bian dan tidak ingin Bian di sentuh laki-laki lain.
Ketika semua mata sedang fokus menatap Haris dan Brian, Bian justru malah memekik terkejut melihat darah yang keluar dari hidung Anandita.
"Dita hidung kamu!"
To Be Continued.
__ADS_1