Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Belum Waktunya


__ADS_3

"Bajingan!"


Bughhhhh! Bughhhhh! Bughhhhh!


"Kau sudah bosan hidup hah? Untuk apa menganggu wanita ku!"


Bughhhhh! Bughhhhh! Bughhhhh!


"Om Brian!"


Byan menarik lengan suaminya. "Jangan lakukan ini, sudah cukup. Aku baik-baik saja. Byan baik-baik saja!" Byan berusaha membujuk suaminya. Namun Brian masih tidak mau berhenti.


Bughhhhh!


Nendra terkapar di tanah. Wajahnya habis babak belur. Banyak orang di perusahaan melihat dari balik dinding kaca perusahaan. Dengan gerakan cepat Dito mengibaskan tangannya menyuruh semua orang pergi dari sana. Bisa bertambah runyam masalah ini jika Brian kembali marah karena hal lain.


"By, kau baik-baik saja?" Brian menatap Byan, mengusap wajah istrinya lembut. Byan tersenyum sembari mengangguk.


"Tangan Om terluka," ucap Byan.


"Aku baik-baik saja."


"Dito, kau urus dia. Jangan sampai dia muncul lagi di hadapan ku. Jika itu terjadi, aku pastikan kalau dia tidak akan hidup di dunia ini lagi."


"Baik Tuan!"


Brian menggenggam tangan Byan, membawa gadis itu pergi dari sana.


"Tante Sisil," ucap Byan.


"Sudah, biarkan saja dia. Aku yakin, Sisil pasti mengenal laki-laki bajingan itu."


Byan kembali mengangguk. Sudahlah, tidak perlu banyak bicara. Suasana hati Brian sedang tidak baik. Jangan sampai dia malah membuat mood Brian semakin meluncur ke dasar samudra.


"Di mana kotak p3k nya Om!" Byan melepaskan tangan Brian ketika mereka sudah sampai di ruangan Brian.


Brukkkkk!

__ADS_1


Byan terkejut saat tubuhnya tiba-tiba di tarik dan di dekap erat oleh sang suami. Brian menunduk dengan wajah sendu juga putus asa. "Kapan kita akan mengumumkan hubungan kita By, aku tersiksa jika harus seperti ini terus, aku suamimu, tapi aku tidak bisa langsung memeluk mu ketika aku ingin. Banyak yang harus aku pertimbangkan. Kenapa harus seperti ini?"


Byan menepuk punggung suaminya perlahan. Pasti karena kejadian di bawah barusan, Brian ingin memeluknya, namun dia tidak bisa karena banyak orang di sana. Laki-laki ini sangat lucu.


"Om, Byan cari kotak p3k nya dulu ya. Tangan Om luka itu."


****


Brian menatap lekat wajah Byan. Gadis itu sedang serius mengobati luka di punggung tangan Brian. Wajah cantiknya mampu membuat Brian berdebar-debar. Kenapa baru sekarang dia menyadari ini. Padahal dulu, gadis ini selalu menjadi pengecualian untuknya.


"Nah, sudah!" Byan meniup punggung tangan Brian lalu menempelkan plester dan mengecup punggung tangan itu lembut.


Brian menarik tangan Byan, mengangkat pinggang gadis itu dan mendudukkannya di pangkuan. Byan hanya tersenyum. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Brian. Menatap wajah itu penuh cinta dan ke kaguman. "Terima kasih," ucap Byan pelan. Sangat pelan sampai Brian hanya mendengarnya seperti sebuah bisikan.


"Tidak, aku yang berterima kasih. Kau baik-baik saja itu sudah cukup untuk ku."


Semburat merah muncul di pipi Byan. Jantungnya berdebar seiring dengan mendekatnya wajah Brian, tangan besarnya mengusap wajah Byan lembut, usapan itu turun ke bibir. Jempol tangannya tidak berhenti bergerak, menyentuh bahkan sesekali dia mendorongnya agak dalam. Byan mengerti maksud suaminya. Perlahan, dia menghis ap jempol tangan sang suami, membuat Brian hampir meledak, matanya terpejam. Segera dia menarik tangannya, beralih menekan kepala Byan agar dia bisa menciumi istrinya dalam. Sangat dalam, sampai Byan hampir kehabisan stok oksigen. Sejak kapan dia mulai mengerti hal-hal seperti ini. Setiap kode yang suaminya berikan, akan dia tangkap dengan cepat. Meskipun Byan masih belum semahir suaminya, paling tidak dia sudah bisa mengimbangi keganasan sang suami.


"Om, ini kantor, jangan aneh-aneh!"


"Kenapa? Ini kantor ku, aku yang membuat peraturan."


Belum sempat dia menjawab. Brian sudah menjatuhkan Byan di atas sofa, mengukung tubuh mungil itu dengan tubuh besarnya.


"Kau sangat cantik By! Sangat, aku hampir gila karena mu!"


🏇🏇🏇🏇


*Lanjut aja sendiri. Mau gedebak gedebugh juga terserah kalian. Aku gak tanggung jawab ya. * 🤣🤣


***


Brian berjongkok di sisi sofa. Byan tidur, mungkin dia terlalu lelah meladeni nafsu Brian. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Untuk pertama kalinya dia melakukan hubungan seperti ini di kantor, betapa gilanya dia karena tidak bisa menahan godaan. Sebenarnya Byan tidak pernah menggodanya, Brian sendiri yang tergoda.


"Maafkan aku By," ucap Byan penuh penyesalan. Kecupan di kening Byan menjadi tanda permintaan maafnya.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


"Masuk!" Sahut Brian.


"Ini selimut yang Tuan Muda minta!" Dito menyerahkan sebuah selimut. Brian mengambilnya dan menyelimuti tubuh Byan dengan sangat hati-hati.


Mata Dito memincing. Tumpukan tisu bekas di bawah sofa membuat otaknya mendadak korslet. "Astaga, jangan bilang mereka habis melakukan ... di sini, Tuan Brian, Anda benar-benar binatang buas. Bisa-bisanya Anda ... oh, kepalaku rasanya ingin pecah!" Dito menunduk, dia mulai bergerak tak nyaman. "Sabar Mikky, suatu saat. Aku akan mencarikan mu goa yang hangat. Sebelum itu terjadi, jangan pecahkan kepalamu!"


"Kamu gak keluar?" tanya Brian pada sekertarisnya.


"Akh, iya maaf Tuan."


"Brian!"


Kembali suara lain terdengar. Brian menoleh. Dia menaruh jari telunjuknya di atas bibir. Nugroho mengangguk mengerti saat melihat Byan tidur di sofa.


"Ada yang ingin ayah bicarakan."


"Eum, kita bicara di luar saja."


Brian melirik Byan sekilas, lalu berjalan mengikuti ayahnya.


"Begini Bri, apa gak sebaiknya kamu ajak Byan bulan madu. Mumpung perusahaan masih belum sibuk, sebaiknya kalian pergi. Biar Ayah yang mengurus semua pekerjaan di sini."


Brian berpikir untuk beberapa saat. "Tapi Ayah, Byan ingin pulang ke Bandung. Rencananya akhir Minggu ini Brian akan membawanya ke sana. Brian juga ingin mengajak Byan jalan-jalan. Kapan-kapan aja ya Ayah. Brian juga harus mengurus sekolah Byan dulu. Setelah semuanya selesai. Brian baru Brian akan memikirkan ini."


Nugroho mengangguk. "Baiklah kalau seperti itu. Kamu bilang mau ke Bandung kan, ada beberapa pekerjaan yang harus kamu selesaikan di sana. Ini mungkin lebih baik karena nanti Byan bisa tinggal agak lama dengan orang tuanya."


***


Sementara di tempat lain. Navisa kalang kabut lantaran ban motornya tiba-tiba saja meletus. Jika tahu akan seperti ini, Navisa mungkin tadi berangkat pakai taksi online saja.


"Heum, kamu itu kenapa harus merajuk kayak gini sih Mumu. Mana gak ada bengkel juga. Gimana dong?"


Navisa menendang Vespa kesayangan nya kesal. Dia jarang memakai motor saat keluar rumah, giliran motor di pakai, dia malah ketiban apes seperti ini.


Tin! Tin!


Suara klakson mobil menyadarkan lamunan Navisa. Gadis itu menoleh. Sebuah mobil berhenti tepat di belakangnya. Navisa sedikit bingung, dia mundur beberapa langkah saat pintu mobil itu terbuka. Sebuah sepatu merek terkenal menginjak trotoar kala itu.

__ADS_1


"Motornya mogok?" tanya orang itu pada Navisa.


To Be Continued.


__ADS_2