
Bima tersenyum setelah menyelesaikan persentasinya di depan banyak orang. Ya, banyak orang karena saat ini dia sedang melakukan persentasi di depan beberapa investor termasuk Adelle.
Suara tepuk tangan memenuhi ruang rapat kala itu. Bima sangat senang, kerja kerasnya bersama tim juga rekan-rekan kerjanya yang lain ternyata membuahkan hasil, tinggal menghitung hari sampai game yang dia kembangkan akan rilis dan mulai di pasarkan.
"Saya sangat puas dengan persentasi yang Pak Bima lakukan."
"Terima kasih," ucap Bima menjabat tangan seseorang yang menyodorkan tangannya di depan Bima. Orang itu menganggukkan kepalanya.
Ketika semua orang sudah pergi, kini di ruangan itu hanya ada Bima dan Adelle. Sejak tadi Adelle menatap Bima tanpa mau mengalihkan perhatiannya sama sekali. Bima yang sadar karena mendapat tatapan seperti itu menjadi sangat kikuk. Dia gelagapan dan bingung harus melakukan apa.
"Kenapa Ibu menatap saya seperti itu, apa ada sesuatu di wajah saya?" tanya Bima memberanikan diri untuk berbicara.
Adelle menggelengkan kepalanya. Dia semakin tersenyum melihat Bima yang bersikap malu-malu seperti sekarang.
"Kau sangat lucu," ucap Adelle membuat Bima semakin gugup.
"Bolehkah saya pergi sekarang?" tanya Bima. Adelle tentu saja mengangguk, namun sesaat setelah Bima mengangkat bokongnya hendak beranjak, Adelle kembali bergumam.
"Jika kau pergi, maka pernikahan kita batal."
Bima melongo mendengar penuturan dari Adelle, apa-apa itu, pernikahan apa? Batal? Siapa yang mau menikah.
"Maaf, maksud Ibu bagaimana, saya tidak mengerti?" tanya Bima dengan wajah bodohnya.
Adelle beranjak sembari tersenyum. Menyandarkan bokongnya pada meja yang ada di depan Bima.
"Apa kau tidak ingin menikah dengan ku?" ucap Adelle menarik dasi Bima, dia menunduk membuat wajah mereka berada di radius yang sangat dekat.
Pria itu mematung. Jakunnya naik turun meneguk saliva susah payah tat kala matanya bertemu dengan mata wanita dewasa yang sangat cantik ini, semakin lama, tatapan nya kian turun ke bibir merah nan menggoda yang meminta Bima untuk menyapu bersih bibir itu.
"Kau bisa melahapnya jika mau!" bisik Adelle tepat di depan bibir Bima. Lelaki itu sontak saja menjauhkan wajah dari Adelle, mencari jarak agar dia bisa sedikit lebih waras.
"Maaf!" ucap Bima dengan wajah gugupnya.
Adelle tertawa, wanita itu kembali mendekati Bima dan berbisik di samping telinganya. "Jika nanti malam kau tidak datang melamar ku, besok lusa, aku yang akan melamar mu."
Bima terbelalak, sontak saja dia langsung menoleh.
Cup!
__ADS_1
Lagi dan lagi Bima di buat sport jantung. Pria itu bergeming di tempatnya. Bibirnya masih menempel pada pipi Adelle. Apakah wanita itu terkejut? Tentu saja tidak, Adelle malah semakin senang karena dia bisa menggoda berondong pujaan hatinya.
"Aku tunggu pertanggungjawaban mu Tuan Bima!"
Adelle melangkah pergi dengan wajah berbinar, sementara Bima, pria itu masih bergeming, berusaha mengumpulkan nyawanya agar dia bisa kembali menguasai otak dan pikirannya.
"Melamar?" gumam Bima dengan wajah yang memerah padam. Pacaran saja dia belum pernah, sekalinya bertemu dengan perempuan, dia malah langsung meminta Bima untuk melamarnya. Lalu apa yang harus Bima lakukan.
"Dia hanya bercanda kan!" ucap Bima lagi menatap pintu ruang rapat horor. "Aku harus segera pulang dan bertemu dengan Byan."
...----------------...
Bima benar-benar pulang ke rumahnya. Dia masih terkejut sekaligus bingung memikirkan ucapan Adelle tadi siang. Tapi Bima masih bingung dia menyukai Adelle atau tidak. Bagaimana kalau dia hanya kagum, bagaimana jika itu hanya suka bukan cinta.
"Akh masa bodoh. Aku harus segera bertemu dengan bumil itu untuk menanyakan hal ini."
Bima keluar dari mobilnya, masuk ke dalam rumah dan langsung berniat untuk naik ke lantai atas, baru menginjak beberapa undakan tangga, telinganya mendengar keributan di kolam renang. Bima mengurungkan niatnya. Arahnya berubah, bibirnya langsung menyunggingkan senyum tatkala dia melihat Aldi dan Brian sedang mengubek-ubek kolam renang.
"Lagi pada ngapain?" tanya Bima menghampiri semua orang.
"Wah, Kak Bima sudah pulang, kebetulan Kak, Byan mau makan ikan bakar, tapi ikannya harus mereka yang nangkep. Kak Bima buruan turun. Bantuin Om Brian sama Aldi!"
"Aku gak mau akh!"
Byurrrrrrr!
Baru juga mengatakan tidak mau, Nugroho sudah mendorong nya dan menceburkannya ke dalam kolam renang.
"Yakkkkkk! Ayahhhhh!" Bima memekik tidak terima.
"Ayah lagi kurang enak badan. Jadi kamu yang gantikan."
Bima mendengus, itu pasti hanya akal-akalan Nugroho saja karena dia tidak mau menuruti kemauan menantu dan calon cucu-cucunya.
"Kak Bima itu di depan Kakak ada ikan!"
Bima langsung melotot, dia sibuk menangkap ikan itu namun lagi-lagi ikan masnya meloloskan diri karena licin.
"Yakkk! Kenapa tidak ngidam yang elit saja sih, bumil itu harusnya liburan ke Eropa, ke Jepang kek, atau ke Korea. Lo banyak duit By, kenapa harus ngidam yang aneh-aneh kayak gini."
__ADS_1
Aldi terus menggerutu namun dia tetep berusaha untuk menangkap ikan mas yang sengaja mereka beli dan mereka ceburkan ke dalam kolam renang.
"Sudahlah Al, nanti aku kasih gadget baru."
"Really?"
"Heumm, tapi tangkap dulu ikannya. Jangan sampai istri dan anak-anak ku kelaparan. Sebentar lagi sudah waktunya mereka makan malam."
Aldi mengangguk. Jika reward nya seperti itu sih Aldi mau. Dengan senang hati dia akan membantu Brian.
"Uhhhh dasar mata duitan." Anjani melempari Aldi dengan buah jeruk yang saat itu sedang dia makan.
"Aaaaa!" Nugroho membuka mulutnya meminta suapan dari Anjani.
"Ikh Byan dulu Ayah!"
Byan menyerobot antrian ikut membuka mulutnya di depan Anjani.
"Cih, dasar bayi besar, kenapa kalian sangat manja!" ucap Anjani terkekeh.
...----------------...
Sementara di tempat lain, Tania sedang merajuk tak karuan. Dito sudah berusaha untuk membujuknya, dia bahkan sampai mendatang kan kedua orang tua Tania agar istrinya itu tak lagi merajuk dan mau makan sesuatu supaya dia dan janin yang ada di dalam kandungannya bisa mendapatkan asupan makanan dan gizi yang cukup.
"Nak makan dulu sayang, jangan begini Nak."
Tania merengut. Dia juga sebenarnya sangat lapar. Namun dia tidak tahu dia ingin memakan apa.
"Kau ingin makan apa Sayang?" tanya Dito ikut bertanya kepada sang istri.
Tania tersenyum. "Aku ingin makan yang seperti ini. Nyam-nyam-nyam-nyam!" Tania membuat suara juga menggerakkan mulutnya seolah-olah dia sedang mengunyah sesuatu.
"Nyam-nyam-nyam-nyam itu apa?" tanya Dito menetap Ambu dan Abah penuh tanda tanya. Namun, Ambu dan Abah juga jelas saja tidak tahu.
"Ya Allah, ternyata ada kata-kata yang lebih mengerikan daripada kata terserah!"
To Be Continued.
Morning Guys. Selamat beraktifitas. Jangan lupa bahagia. 🤗
__ADS_1