Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Posisi Haris


__ADS_3

Navisa menenteng termos bubur di tangannya. Pagi ini, dia ingin memberikan Anandita kejutan. Kemarin dia belum sempat bilang kalau dia akan kembali. Semoga saja Anandita merasa senang dengan kehadirannya.


"***,-" Navisa tidak melanjutkan kalimatnya. Gadis itu kembali menutup ruangan Anandita dengan jantung berdegup. Apa yang baru saja dia lihat, Anandita dan Haris. Akh, Navisa menggelengkan kepalanya melihat apa yang terjadi.


"Navisa!" Byan berlari dengan senyum di wajahnya. Dia sudah tidak menangis karena Brian sudah menjelaskan semuanya. Byan sangat bahagia, meskipun dia masih sangat kecil, namun Brian sudah cukup berumur. Ya, 28 tahun seharusnya adalah umur yang pas untuk memiliki buah hati. Namun laki-laki itu memilih untuk tidak merencanakan kehamilan untuk Byan karena dia takut Byan kenapa-kenapa. Sejujurnya, di belakang Byan. Brian sempat bertemu dengan dokter ahli kandungan. Dokter menyarankan agar Byan tidak hamil dulu karena usianya masih muda dan rahimnya masih sangat rentan.


Saat itu, dokter kandungan menyarankan agar Byan meminum pil KB, namun saat dokter mengatakan efek samping yang mungkin akan Byan terima, Brian tidak setuju. Dan pada akhirnya dia lebih memilih untuk suntik hormon. Semacam suntik kb untuk perempuan, namun bedanya ini lebih mahal dan dilakukan 8 minggu sekali.


Brian baru akan berhenti melakukan KB setelah istrinya benar-benar siap di umur, juga di mentalnya. Yang Brian pelajari akhir-akhir ini, menjadi seorang ibu tidaklah mudah, apalagi ketika hamil ngidam dan sebagainya. Brian saja yang hanya akan mendampingi belum siap. Apalagi Byan.


"Kenapa gak masuk?" tanya Byan sembari berjalan menuju pintu. Navisa langsung menarik tangan Byan membuat wanita itu menoleh dengan wajah bingung. "Kenapa?" tanya Byan.


"Anu, eum, Dita sama Kak Haris lagi anu, euhhhh itu ....


"Ikh kelamaan. Bikin penasaran aja." Tanpa ba-bi-bu, Byan langsung membuka pintu kamar inap Dita tanpa permisi. Dia mematung untuk sesaat. Brian refleks menutup mata istrinya dengan telapak tangan besar miliknya. Namun gadis itu malah menurunkan tangan Byan. Navisa menggelengkan kepala melihat tingkah suami istri di hadapannya. Bukankah mereka sudah melakukan hal lebih, kenapa Brian harus menutup mata hanya karena melihat Anandita dan Haris berpelukan.


Sebenarnya bukan pelukan mereka yang membuat Brian waspada. Hanya saja posisi mereka ini benar-benar membuat orang traveling ketika melihatnya.


"Dita. Kak Haris lagi ngapain? Mau ternak kecebong juga?"


Pertanyaan Byan membuat dua orang itu menoleh. Haris, terbengong, dia buru-buru menutup bagian dadanya yang terbuka. Sementara Anandita, gadis itu malah tersenyum dengan cengiran kudanya. Berada dalam jarak dekat seperti ini dengan Haris membuat hatinya berdebar, dan dia sangat bahagia untuk itu. Bau khas tubuh Haris membuat otaknya traveling ke mana-mana.


"By, kamu jangan salah paham. Rambut Anandita tersangkut di kancing kemeja ku. Aku sedang berusaha untuk melepaskannya." Haris berusaha menjelaskan.


"Oh, Byan pikir Dita lagi nyusu. Mangkanya Byan kaget. Emang cowok bisa nyusuin ya Om?" Byan mendongak ke belakang melihat wajah suaminya.


Brian mengerilingkan matanya. "Nanti aku beritahu," bisik Brian di telinga Byan.

__ADS_1


"Kenapa harus nanti, sekarang aja. Byan penasaran."


Brian menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia tidak bisa melakukan praktek di sini. Meskipun Brian akan menjadi bahan percobaan dengan senang hati, namun saat ini bukan waktu yang tepat.


Sepasang tangan besarnya meraih bahu Byan, memutar tubuh gadis itu agar Byan bisa menatap ke arahnya dengan leluasa. "Dengar, aku akan memberitahumu nanti malam. Ya, jangan protes. Jangan merengek. Sekarang aku harus pergi bekerja supaya kau tidak kekurangan apapun. Jangan keluyuran. Kalau sudah selesai di sini, nanti Dito akan menjemput mu."


Mau tidak mau Byan mengangguk. Meskipun dia masih sangat penasaran. Namun sepertinya dia masih bisa menunggu sampai nanti malam.


"Om hati-hati ya. Jangan terlalu capek. Nanti Byan mampir ke kantor Om. Om jangan nakal heum!"


Byan menarik dasi suaminya, dia berjinjit lalu mengecup bibir Brian sekilas. "Vitamin sudah Byan berikan. Jangan lupa uang belanjanya."


Brian terkekeh. Gadis kecil ini sudah bisa memerasnya sekarang. "Aku akan memenuhi dompet mu nanti. Ingat jangan ke mana-mana."


Navisa menangis di pojokan melihat situasi nya yang sangat menyedihkan. Byan dan Anandita sudah memiliki pasangan. Kini hanya tinggal dia saja yang jomblo.


Setelah Brian pergi. Byan mendekat ke arah ranjang Anandita. Dia membuka laci lemari. Tangan mungilnya mengambil sebuah gunting lalu menggunting rambut Anandita tanpa basa-basi.


"Da apa sih? Berisik banget. Capek tahu lain kalian pelukan kayak gini terus."


Haris berjalan mundur. Dia kembali mengenakan pakaiannya juga kembali menyuapkan sarapan ke dalam mulutnya.


"Kak Haris, kau tidak memberikan keong racun ini makan?" tanya Byan. Haris. menggeleng dengan cepat.


"Tadi aku sudah menayangkan ini kepada Dita, dia bilang kalau Dita ini tidak memerlukan apapun. Jadi aku hanya membeli sarapan untuk diriku sendiri."


Byan memejamkan mata sembari menepuk keningnya prustasi. "Kakak. Kakak jahat ikh, Na, sini! Itu kamu bawa bubur kan, kita kasih makan ini keong racun. Kasian banget anak orang di buatin kelaparan. Byan aduin nanti sama Ibu sama Ayah juga biar Kak Haris di omelin."

__ADS_1


"Kok nyalahin Kakak sih. Kan emang Kakak udah nawarin tadi. Dia nya yang gak mau. Ya Kakak pikir dia lagi diet lah."


Anandita membulatkan matanya. Diet? Dia bilang Dita harus Diet? Apa dia segendut itu?.


"Kak Haris!" Byan berteriak sangat kencang . Keluar atau Byan telepon Ibu sekarang. Keluar gak?"


Byan menarik lengan Haris, melempar kakak tersayang nya keluar dari kamar inap Dita.


"Hei. Sarapan ku belum habis By, jangan membuang makanan, sayang."


Cklek!


Bukk!


Byan langsung menyimpan nasi kuning di dalam box di atas tangan Haris. Laki-laki itu melongo. Kenapa pula adiknya ini tiba-tiba marah. Aneh banget.


"Dita, maafkan Kak Haris ya, dia emang gitu . Tapi kau tidak usah khawatir. Kau tidak gemuk kok. Mulut Kak Haris itu perlu di jahit supaya dia tidak mengeluarkan kata-kata menyakitkan untuk wanita seperti tadi."


Anandita menggeleng. Bukannya sedih karena secara langsung Haris mengatakan nya gendut, namun Anandita malah tersenyum seperti orang bodoh. Dia menatap Navisa dan Anandita lekat. Detik berikutnya gadis itu memekik kegirangan.


"Kau tahu dia kenapa Na?" Byan menyentuh dahi Anandita menggunakan jari telunjuknya.


Navisa menggelenjang kepala. "Apa kau masih waras Dit?" Navisa ikut menempelkan punggung tangannya di dahi Anandita.


"Kalian tahu, ternyata Kak Haris itu sangat perhatian lho. Meskipun wajahnya jutek, namun aku tetap menyukainya. Sepertinya dia juga menyukaiku. Dia mengatakan kalau aku cantik meskipun sedang sakit. Dia juga memperhatikan tubuhku yang semain hari semakin berisi. Mungkin, itu ide dari Kak Haris agar aku segera menurunkan berat badan. Jadi kalau kita sudah jadian, kita bisa langsung berjalan sambil berpegangan tangan."


Navisa dan Byan di buat terheran-heran dengan kelakuan Anandita yang absrud ini. Biasanya wanita akan sensitif jika sudah di sindir masalah bobot tubuh. Namun Anandita malah senang. Sungguh cinta itu bisa merubah watak seseorang.

__ADS_1


To Be Continued.


Jangan lupa like dan komentar nya Bestie.. Semangat.💪💪🤗


__ADS_2