Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
10 ; IPHTV Kepergian


__ADS_3

“..................” Arshel pun menatap wajah Risya. “Jangan menyodorkan wajah jelekmu kepadaku.”


“..................” merasa tidak puas hati dengan ucapan yang Arshel katakan, Risya menarik kepalanya sambil membuat wajah merungut. ‘Makannya jangan terlalu tampan seperti itu, aku yang adiknya saja merasa iri dengan wajahnya yang enak dipandang itu.’ pikir Risya. 


Setelah setengah jam mengalami kemacetan, mereka berdua akhirnya sampai di rumah. 


Namun tepat saat mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah, suara langkah cepat dari satu orang pria yang mereka berdua kenal, segera menarik perhatian Arshel juga Risya.


DRAP…...DRAP…..DRAP……….


“.....................” 


Arshel dan Risya menatap kepergian pria yang tadi berpapasan dengan mereka berdua.


“Ayah terlihat buru-buru.” ucap Risya, tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria yang dia panggil sebagai Ayah, yaitu Vatler.


“........................” Arshel yang memang penasaran kenapa ayahnya pergi lagi, padahal baru juga bertemu, dan bahkan belum saling berbicara, tapi mereka kembali ditakdirkan untuk berpisah lagi. 


Lagi-lagi karena sebuah pekerjaan. 


Arshel yang punya pemikiran yang lebih dewasa, hanya bisa diam dan membiarkan apa yang ingin ayahnya lakukan.


‘Selama masih bisa menafkahi kami berdua, aku tidak peduli.’ pikir Arshel, lalu berjalan pergi menuju kamarnya. 


Ketidakpedulian milik Arhsel, tentu menjadi tolakbalik dari keinginan Risya. Dia menginginkan ayahnya bisa duduk dan berbicara ringan dengannya. Tetapi semua itu masih belum bisa diwujudkan.


BRMMM…….BRMMM……..


“......................!” Risya yang mendengar deru dari suara knalpot motor milik ayahnya, membuat Risya berlari keluar rumah.


BRRMM……

__ADS_1


“.................” Risya pun akhirnya melihat kepergian ayahnya yang pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun, selain jejak dari aroma parfum yang ditinggalkannya. ‘Ayah.’ panggil Risya di dalam hati.


‘Risya.’ lewat kaca spion, Vatler yang melihat satu-satunya anak perempuannya berlari dan melihat kearahnya, membuat Vatler benar-benar merasakan nostalgia yang cukup kuat. 


Itu adalah ingatan tentang seseorang yang selalu berlari melihat kepergiannya dengan cara yang sama dengan yang Risya lakukan saat ini. Dan semua kenangan yang Vatler miliki  itu benar-benar melekat pada diri Risya sepenuhnya. Seakan kalau Risya adalah salinan dari orang itu sendiri. 


‘Kenapa aku jadi mengingatnya lagi?’ pikir Vatler, dia terus menarik gas motor lebih dalam, dan setelah berada di jalan aspal, dia pergi melesat dengan kecepatan tinggi.


“.....................” Risya terus saja melihat kearah gerbang utama yang sudah kembali tertutup. ‘Aku pikir ayah akan berhenti.’ Risya merasakan kesedihan saat melihat ayahnya memang benar-benar pergi begitu saja. 


Apa yang dirasakannya sangatlah menyakitkan. 


Tapi rasa sakit itu adalah hal yang tidak bisa dibagikan secara nyata kepada orang lain, bahkan kakaknya. 


Rasa sakit itu hanya bisa Risya rasakan sendiri, itulah yang selalu Risya dapatkan ketika memandang kembali semua masa lalu yang selama ini Risya alami. 


“Nona, ayo kita masuk.” pujuk bibi Jeni kepada Risya yang terlihat termenung dalam kesedihannya lagi. 


Setelah masuk, Risya berjalan menuju kamarnya yang sama-sama berada di lantai dua. 


Di dalam langkahnya yang sebenarnya cukup malas untuk bergerak, ada satu waktu dirinya dbuat berhenti saat dia melihat ke salah satu pintu kamar yang tidak pernah dibuka sama sekali.


‘Selama ini, pintu ini selalu saja tertutup. Sebenarnya apa alasan kamar ini dukunci terus?’ Risya sejujurnya cukup penasaran dengan satu kamar yang dari kecil sampai saat di umurnya 13 tahun ini, dia belum sekalipun melihat apa isi dari kamar yang terlihat cukup misterius itu. 


“Kau lagi-lagi pensaran.” ucapan Arsehel berhasil memecah lamunan Risya.


“Memangnya salah jika aku menaruh pensaran dengan kamar ini?” sahut Risya saat suara Arshel terdengar lagi, setelah keluar dari kamar dan sudah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai.


“Tidak. Tapi rasa penasaranmu itu akan memicumu untuk melakukan sesuatu untuk mencari tahu apa isi kamar ini. Benar, kan?” kata Arshel. 


Sayangnya Risya tidak mampu menyangkalnya, karena apa yang dikatakan oleh Arshel ada benarnya. 

__ADS_1


Di dalam pikirannya saat ini, dia ingin sekali membobol pintu kamar itu. Tapi mau bagaimanapun, di rumah ada kamera CCTV. Karena itulah, Risya tidak mampu mengabulkna dari isi pikirannya tadi.


“...................” Risya yang merasa bosan dengan semua kalimat yang keluar dari mulut Arshel, segera berjalan lagi menuju kamarnya yang tidak seberapa jauh dengan kamar misterius itu.


KLEK.


Risya sedikit berlari kearah tempat tidurnya, dan segera mereahkan tubuhnya ke atas kasur.


BRUK!


“Ahh~ Melelahkan.” RIsya menggerutu tidak suka, tubuhnya merasa lelah karena harus sekolah hampir seharian penuh seperti itu. Tapi jika tidak seperti itu, maka dia tidak akan bisa seperti mereka.


Memiliki masa remaja yang menyenangkan.


Hanya itulah tujuannya sekarang. Belajar memang penting, tapi untuk Risya yang sekarang, dia hanya ingin menikmati masa-masa di sekolahnya.


Tapi…..


Apakah keinginannya bisa sekolah dan menikmati masa remaja dengan menyenangkan bisa segera terwujud?


Sorotan matanya pun berubah menjadi sayu. Dia benar-benar sangat menginginkan satu hal, dan satu hal itu ingin sekali diwujudkan. 


Matanya kemudian terpejam, dan bibir yang semula diam, tiba-tiba tersenyum lemah. 


Sebuah imajinasi yang muncul di dalam kepalanya, membuat senyumannya kian melebar, sampai bibir itu mengucapkan sepatah dua patah kata. “Sebentar lagi.”


Namun, meskipun senyuman itu seperti menyiratkan kebahagiaan, tetapi tidak dengan matanya yang semakin menyipit. 


TES…


Air mata yang sedari terbendung itu akhirnya pecah. 

__ADS_1


Isak tangis yang tertahan di dalam tenggorokannya membuat kamar itu akhirnya dipenuhi dengan suasana yang lebih suram.


__ADS_2