
'Sangat tenang,' Risyella yang masih mengapung di atas air perlahan membuka matanya, dan melihat banyaknya pohon rindang di sepanjang aliran air dari kolam renang yang sedemikian panjang itu.
Dia jadi merasa santai, sebelum ada yang mengganggunya secara tiba-tiba.
"Ini pakai,"
BHUAK..
Suara Vatler di akhiri dengan pelampung yang dilempar oleh Vatler, tepat ke wajah Risyella, sehingga Risyella yang sedang dalam posisi mengapung itu, kehilangan posisi dan keseimbangannya, sehingga dia pun langsung masuk kedalam air.
Blupupp.....
'Dasar! Kenapa mengganggu waktu santaiku?' Risyella lagi-lagi jadi kesulitan untuk naik ke permukaan karena kakinya belum bisa sempurna untuk dia gerakkan. Yang ada dia seperti lebih tenggelam? 'Gawat!'
Risyella semakin mengerahkan tenaganya untuk naik ke permukaan, tapi saat kakinya tak senagaja menyentuh dasar kolam, dia akhirnya terpeleset.
"...........!"
'Merepotkan.' Batin Vatler. Dia yang hendak memakai pelampung, dia urungkan niat itu dan memutuskan untuk menyelam demi menyelamatkan Risyella yang dari tadi belum muncul-mucul juga ke permukaan.
Dan sekarang terlihat Risyella malah seperti berlutut di dalam dasar kolam.
'Dia wanita aneh. Tidak bisa berenang, malah duduk disana.' Dengan keahliannya itu, Vatler segera menyelam lebih dalam lagi. Setelah sampai dibelakang Risyella, dia segera mengulurkan tangan kanannya dan melingkarkan tangannya itu di pinggang Risyella.
"..............!" Risyella yang terpegun itu, menatap wajah Vatler yang ternyata mau dimanapun dan di situasi apapun, tetap saja tidak menghilangkan kesan Vatler yang cukup kerean.
PHUAH..
"...........Uhukk...uhukk..." Risyella akhirnya dapat keluar dari jurang keputusasaan sebab bantuan dari Vatler tadi menyelamatkan hidupnya. 'Tapi...tangannya di pingganku? Lagi-lagi seperti ini.' Risyella benar-benar merutuki dirinya sendiri sebab harus merepotkan pria ini lagi.
Kalau Risyella menjadi dia, Risyella tentu saja sudah pasti cukup lelah, gara-gara punya calon Istri yang ceroboh dan merepotkan.
Risyella sebenarnya tidak mau itu terjadi. Tapi apa boleh buat?
Salahkan sendiri Vatler dan Ibunya itu, karena dengan berani, 'Karena Vatler mau memilihku jadi istrinya begitu saja, tanpa terlihat seperti membuat pertimbangan lebih dulu sebelum memutuskannya.'
"Dih....lihat mereka berdua, sangat romantis sekali."
"Ahh....aku juga jadi ingin seperti itu dengan pacarku."
"Kalian berdua ya, membuat kami yang jomblo iri."
CTASS.... -^v--^v-------
Posisi Risyella yang saat ini masih di peluk dari belakang oleh Vatler, lantas membuat para pengunjung yang duduk di atas ban, dan bersantai, tapi akhirnya melihat kemesaraan antara Risyella dengan Vatler, membuat sebuah suasana di antara mereka berdua jadi semakin aneh.
"Palingan mereka sedang bulan madu disini. Pamer juga mereka." Antara rasa iri di bumbui cibiran kembali di tunjukkan untuk mereka berdua.
"Sini.." Bisik Risyella kepada Vatler untuk mengambilkannya pelampung untuknya.
Vatler tanpa sepatah kata, dengan senang hati melepaskan pelukan itu dan memberikan Risyella sebuah pelampung. Setelah mereka berdua sudah memakai pelampung, Risyella pun naik ke atas ban, dan tentunya di bantu oleh Vatler lagi dan lagi.
Jika tidak ada dia, Risyella seperti tidak ada nilai gunanya sama sekali.
BRUKK.....
Akhirnya dua orang itu bisa naik ke atas ban yang mengapung. Dengan posisi kepala Risyella dan kepala Vatler ada di posisi yang sama namun seperti saling memunggungi. Seperti Risyella menghadap ke arah kanan, dan Vatler mengahdap ke kiri.
__ADS_1
Dan keheningan diantara mereka berdua pun terjadi, sebab mereka saling di sibukkan dengan pikiran mereka masing-masing.
'Kira-kira apa yang akan terjadi besok ya?' Risyella jadi penasaran dengan hari esok. Karena selama sudah pindah tempat ke rumahnya Vatler, dia seperti merasa mendapatkan berbagai masalah yang tidak terduga.
Seperti hal nya saat ini. Terpisah dengan mereka berdua, tercebur, hampir tenggelam, dan sekarang jadi bahan perbincangan orang-orang yang sedang melihat kearahnya.
'Dia wanita yang ceroboh, atau aku yang ceroboh terus membiarkan dia ini dan itu, makannya banyak masalah yang menimpanya? Jika aku telat sedikit saja, rasanya dia bisa menghilang kapanpun tanpa aku ketahui. Itu serasa bisa terjadi.' Pikir Vatler.
Belum juga sebulan, tapi Vatler seperti sudah bersama dengan Risyella dalam waktu yang lama.
Dan dalam kurun waktu bersama dengan wanita yang ada di belakangnya itu, dia selalu saja mendapatkan masalah, dimana masalah itu harus dirinya lah yang menanganinya.
Seperti tadi saja. Jika saja tadi tidak mengejutkannya, Risyella tidak akan mungkin terjatuh kedalam kolam?
Tapi Risyella suka terkejut dengan kehadirannya.
Dan jika saja tadi tidak melemparkannya pelampung tepat ke wajahnya Risyella, Risyella tidak mungkin bisa tenggelam
Risyella memang mampu untuk tidak tenggela, begitu saja, dia mampu untuk berenang. Tapi semua itu juga pada akhirnya tergantu pada kondisi kedalaman dari kolam. Dan Vatler melakukan kesalahan, harusnya dia memberikan pelampungnya baik-baik.
"Hahhh~" Risyella dan Vatler sama-sama menghela nafas.
'Kenapa dia menghela nafas? Apakan karena aku tadi?' Pikir Risyella, sedikit penasaran dengan pria yang ada di belakangnya, jika ada di dekatnya, pasti suka menghela nafas.
'Dia...kenapa menghela nafas juga? Apakah dia menyesal datang kesini? Gara-gara aku dia jadi tersesat, dan tadi juga hampir tenggelam.' Pikir Vatler pula.
Lain otak lain pikiran, itulah yang ada pada dalam diri mereka tentang lawan pasangannya itu.
"Tinggal 3 hari lagi," Ucap Vatler, memberitahu Risyella tentang tiga hari kedepan adalah awal mula dari hubungan mererka berdua yang akan lebih serius dari ini.
"Iya," Jawab Risyella lirih. Dia tahu apa yang ada di tiga hari kemudian.
"Tapi aku kan belum di ukur, tubuhnya."
"Kurus seperti itu, banyak wanita yag bisa dijadikan contoh." Jawab Vatler dengan gamblang.
Perempatan siku di dahi Risyella segera muncul, gara-gara dia baru saja mendapatkan sebuah sindirian.
Tapi tidak seperti yang terjadi malam sebelumnya, dimana Vatler seperti memberikan peringatan keras terhadapnya, sindiran tadi tidak membuat Risyella merasa sakit hati.
Itu seperti lelucon, tapi karena pembawaan dari Vatler selalu serius, jadi terkesan seperti hinaan.
Yah...terdengar sama saja. Tapi Risyella seperti tidak mempermasalahkannya.
"Tapi tempatnya tetap disana?"
"Bukannya kamu maunya disana?"
"Iya sih." Jawab Risyella dengan snagat singkat. Tapi setelah itu, dia tiba-tiba terpikirkan dengan keluarganya. "Keluargaku bagaimana?"
"Tingga berangkat saja,"
"Hahhh~" Risyella benar-benar penasaran, sebab Vatler begitu dengan mudahnya menjawabnya. 'Mungkin karena dia kaya, tajir melintir, biaya jadi sudah tidak masalah lagi.' Faktanya memang sudah seperti itu.
"Ibuku pasti akan menyuruh kita bulan madu,"
"Kenapa bahas itu?!" Risyella sedikit menaikkan nadanya karena malu, tiba-tiba membahas bulan madu. Padahal hubungan diantara mereka berdua hanya sebatas orang yang baru berkenalan, jadi mana mungkin dirinya dengan pria itu berbulan madu dengan melakukan hal ini dan itu.
__ADS_1
"Kalau tidak bahas ini, memangnya apa yang mau di bicarakan? Waktunya sudah dekat, kita harus membuat rencana." Kata Vatler, memberikan pencerahan akan maksud dari ucapannya tadi kepada Risyella ynag kebingungan itu.
"Iya sih...tapi rasanya itu...ini bukan tempat yang cocok untuk bahas bulan madu," Risyella tersenyum getir ketika meliha semua orang di sekitarnya pada melongo, karena mendengar apa yang sedang di bahas oleh Vatler serta dirinya.
'Aku ceroboh.' Pikir singkat Vatler. Dia akhirnya kembali diam karena mereka semua menatapnya.
'Walaupun banyak insiden yang terjadi, tapi ini menyenangkan. Untuk kali ini....bisa berduaan dengannya, aku bisa merasakan bahagia.' Dalam diamnya, Risyella entah kenapa, setelah banyaknya kejadian yang menimpanya dalam beberapa waktu ini, dia merasa ada satu hal yang tidak membuatnya di rugikan, salah satu diantaranya adalah dirinya bisa bersama dengan Vatler.
*
*
Tiga puluh menit kemudian.
Arus air dari kolam renang itu akhirnya terus membawanya ke hulu. Butuh lebih dari tiga puluh menit untuk sampai ke tempat pemberhentian.
Dan dalam waktu yang tidak bisa di bilang singkat itu membawa mereka dalam keterdiaman yang tidak ada akhirnya?
Itu berakhir saat perjalanan dari mereka berdua juga berakhir.
"Kita sudah sampai, ayo cari Ibu." Itulah yang dikatakan oleh Vatler kepada Risyella yang ada di belakangnya.
Tapi apa?
Ketika Vatler bangun dari atas ban itu, Vatler justru menemukan Risyella justru sudah tertidur.
"..............." Dengkuran halus itu terdengar di telinga Vatler.
"Tuan, ini-" pegawai dari tempat wisata itu jadi bingung untuk berbuat apa melihat salah satu pengunjungnya tertidur.
".............." Dengan terpaksa, Vatler menarik tangan Risyella.
"Hah?! Apa?!" Risyella yang langsung terbangun, karena tangannya tiba-tiba di tarik sampai membuat tubuhnya bangun dari tempat tidurnya itu, langsung berekspresi kebingungan.
"Kita sudah sampai." Jawab Vatler atas ekspresi Risyella yang bingung juga linglung.
Siapa yang tidak akan kebingungan jika tidur nyenyaknya langsung di ganggu oleh seseorang dan membawanya keluar dari tempat santainya.
"Oh...sudah sampai," Masih dalam kondisi bingung, Risyella terus berhalan mengikuti tarikan tangan yang dilakukan oleh Vatler terhadapnya.
Risyella mengucek-ngucek matanya yang berair, lalu menguap lagi untuk ke sekian kalinya.
Sungguh, dia benar-benar mengantuk. Tapi kakinya terpaksa harus dibuat jalan, karena Vatler sedang membawanya pergi entah tujuannya mau kemana.
Setelah berjalan delapan menit lamanya, dengan wajah lelah dan mengantuk, mereka berdua tiba-tiba disuruh berhenti.
"Duduk disini,"
"Hmm?" Tanpa basa-basi, Risyella duduk di kursi santai yang menghadap ke aah kolam renang besar. Setelah itu dia kembali di tinggal?!
Tidak, Vatler akan kembali.
Tapi mau seberapa dia pergi? Yang terpenting misinya saat ini adalah duduk diam di tempat?
'Hoahmm....aku tidur lagi saja lah.' Pikir Risyella. Dia pun membaringkan tubuhnya di atas kursi tersebut. Layaknya sedang di pantai, dia benar-benar merasa hangat.
Tapi ternyata, tanpa di sadari oleh Risyella, tepat di samping Risyella tiduran, ternyata ada seorang pria yang memang tengah tiduran di sana.
__ADS_1
Tapi saat dirinya mengambil posisi miring ke kiri, sepasang dari mata pria itu langsung membulat lebar, sebab wanita yang dilihatnya beberapa puluh menit lalu, saat ini sedang tertidur di sebelahnya?!
********