Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
112 : IPHTV : Karena Risyella


__ADS_3

"Tapi Ibu ingin bicara lagi denganmu."


"Bicara soal apa? Cepat katakan, aku sudah lelah, dan di tambah karena besok, jadi aku ingin segera istirahat." Ungkap Vatler. Dia betulan lelah, baik dari fisik maupun pikiran, semua itu sudah lelah dalam satu paket karena rencana milik Ibunnya itu yang selalu saja mendadak.


"Jaga Risyella."


"Apa? Hanya menjaganya, aku tentu saja bisa." jawab Vatler dengan lugas.


"Bukan dari fisik saja, tapi hati." Peringat Marlina lagi kepada anaknya itu.


Tiba-tiba saja Vatler tersenyum tipis saat mendengar Ibunya mengatakan hati. "Hati, ibu bilang? Memangnya Ibu pernah memikirkan hati milikku ini? Sesuka hati Ibu menjodohkanku dengan banyak wanita yang tidak aku kenal. Dan sekarang ibu benar-benar memikirkan hati milik Risyella itu, lalu bagaimana dengan hati ku ini?"


"Vatler, Ibu, melakukan ini demi kamu, kenapa kamu mengeluh seperti ini, aku pikir waktu itu kamu benar-benar sudah menerima Risyella sebagai Istrimu." Ucap Marlina lagi.


"Hah~ Jadi intinya, Ibu kesini karena mau berdebat denganku kan?" Terka Vatler.


"............" Marlina benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, karena Vatler ternyata begitu terlihat enggan? Lalu apa yang dirinya lihat saat tadi sore? Dimana Vatler terlihat bersiap cukup romantis dengan Risyella.


"Nona, anda mau menemui Tuan?" Suara dari Rosie itu berhasil mengalihkan perhatian dua orang yang kembali berdebat lagi itu.


"Iya." Suara milik Risyella pun langsung membuat mereka berdua langsung mengalihkan topik pembicaraan mereka berdua agar tidak sampai Risyella mendengar.


"Ini, besok pakai ini." Kata Marlina sambil memberikan jas putih kepada Vatler, agar di pakai nanti.


"..............." Vatler hanya menerima setelan jas yang diberikan oleh sang Ibu itu.


Setelah itu, Marlina pergi dari sana, untuk memberikan ruang kepada dua anak yang sebentar lagi akan menikah itu, yang kemungkinan akan saling bicara empat mata.


"I-ibu?" Risyella menyapa Marlina dengan senyuman tipis,


"Vatler belum tidur, kalian bicaralah sesuka hati kalian, tapi jangan lupa untuk Istirahat ya." Kata Marlina kepada Risyella.

__ADS_1


"Iya." Jawab Risyella singkat.


Rosie yang sedang berdiri di tengah tangga, hanya menunduk hormat karena berhasil menahan suasana yang akan semakin runyam itu, sebab Risyella hampir saja mendengar pedebatan yang dilakukan oleh Marlina dengan Vatler.


'Rosie! Kamu bekerja dengan bagus!' Batin Marlina melihat ketangkasan dan kesigapan Rosie dalam mengendalikan situasinya, sampai Risyella yang hampir saja memergoki dirinya sedang berdebat lagi dengan Vatler, bisa di hindari.


"Mari nyonya, anda harus istrirahat juga." Kata Rosie, menemani Marlina pergi dari sana.


'Aneh, apa yang sebenarnya mereka berdua bicarakan tadi? Aku tadi sempat mendengar namaku di ucapkan Oleh Vatler, tapi sayangnya aku kelihatannya tidak boleh ikut campur dengan pembicaraan mereka barusan.' Batin Risyella terhadap suasana aneh yang barusan terjadi.


RIsyella sejujurnya saja sebenarnya sadar kalau Vatler dan Ibunya itu sedang berbicara empat mata, sampai Risyella sendiri sedikit mendengar namanya tiba-tiba ada dalam percakapan mereka berdua.


Tetapi disebabkan Rosie tiba-tiba saja muncul, maka Risyella pun sadar bahwa dirinya sedang di cegat agar tidak langsung menemui dua orang yang ada di atas sana.


'Sudahlah, aku tidak mau mengambil pusing apa yang barusan mereka berdua bicarakan, karena yang penting aku harus menemui Vatler lebih dulu, karena aku benar-benar tidak bisa gugup, gara-gara ternyata respsi pernikahannya adalah besok?! Gila ya?! Masa besok?!' pikir Risyella.


Sambil berjalan, dia pun sambil mencoba memikirkan nasibnya sendiri yang akan terjadi pada hari esok?!


Karena terbuai dengan pikirannya sendiri, lagi-lagi secara tidak sengaja dia menabrak seseorang.


BRUKK...


Risyella hanya terhuyung ke belakang saja tanpa menyebabkan keseimbangan tubuhnya tak terkontrol.


'Apa dia mendengar pembicaraanku tadi bersama dengan Ibu?' Vatler sedikit meragukan satu hal ini, karena Risyella tadi berdiri tidak jauh dari mereka tadi. "Ada apa?" Tanya Vatler sebagai kalimat pembuka pada calon istrinya yang kebingungan itu.


"Aku tidak bisa tidur." Jawab Risyella dengan singkat. Dia benar-benar tidak bisa tidur, sampai jam hampir menunjukkan pukul satu, Risyella terlihat masih segar?


Yang ada adalah wajah penuh rasa frustasi.


'Kalau dia tidak bisa tidur, dia mendatangiku untuk apa?' Vatler pun jadi bingung, harus diapakan calon istrinya yang tidak bisa tidur itu? Karena selama ini Vatler tidak pernah menidurkan seseorang, jadi dia tentu saja bingung. "Apakah mau obat tidur?"

__ADS_1


Vatler benar-benar menawarkann lagi obat tidur miliknya untuk Risyella itu.


"Tapi aku takut, kalau aku minum obat tidur, aku justru ketiduran terus. Memangnya tidak ada efek samping, menggunakan obat tidur terus?" Tanya Risyella sedikit mengkhawatirkan tawaran dari calon suaminya itu, yang sedikit-sedikit memberinya obat tidur.


"Ada,"


"..........!" Risyella sontak terkejut, kira-kira apa yang terjadi jika selalu minum obat tidur? "M-memangnya apa efek sampingnya?"


"Bisa kecanduan."


"A-apa?!" Risyella sedikit mundur ke belakang karena jawaban Vatler sedikit menakutkan. Yah...kata kecanduan itu sangatlah mengerikan, karena takutnya tidak bisa di hentikan, dan Risyella tidak mau itu terjadi pada tubuhnya. "Kalau begitu apakah adda cara lain agar aku bisa tidur tanpa menggunakan obat tidur?"


'Dia datang kepadaku di jam seperti ini karena ingin konsultasi soal tidur?' salah satu alis Vatler terangkat, dia sungguh terkejut melihat Risyella benar-benar mengharapkan jawaban yang memuaskan untuk masalah tidak bisa tidur itu.


"Aku juga butuh tidur, coba pejamkan saja matamu, nanti juga lama-kalamaan kamu tertidur juga." Itulah saran yang bisa vatler katakan kepada Risyella yang sangat membutuhkan konsultasi.


Dan selepas menjelaskan hal itu kepada Risyella, Vatler kembali masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Risyella sendirian di depan pintu kamarnya persis.


BRAK..


"..............!" Risyella sedikti tersentak kaget dengan tindakan Vatler itu, karena pintunya sedikit di tutup dengan kasar. 'Kelihatannya aku salah lagi. Dia pasti sangat lelah kan? Makannya jawabannya seperti itu dan tidak mengatakan apa-apa lagi.' Pikir Risyella. 'Ya sudah, tidak apa-apa. Dia juga sama denganku, tidak bisa tidur, padahal hampir seharian ini dia menemaniku juga. Aku jangan sampai membuatnya marah.'


Karena sudah begitu, Risyella pun kembali dengan hati yang hampa. Sebab Vatler punya respon yang sedikit ketus atas pertanyaan yang Risyella tanyakan tadi.


Sedih sih, namun apa daya?


Semua orang pasti lelah, karena di tambah besok adalah hari yang akan membuat mereka bertambah sibuk, bahkan Risyella dan Vatler sendiri.


'Jangan nangis, jangan nangis. Dia kan tidak melakukan apapun kepadaku.' Namun kata-kata yang dia ucapkan untuk menguatkan hatinya itu tidak bisa mempengaruhi pikirannya, serta matanya untuk tidak mengeluarkan air matanya.


Tapi mengingat apa yang barusan Risyella sempat dengar mengenai namanya yang ada dalam pembicaraan merkea berdua, hal itu pun menjadi beban pikiran untuk Risyella sendiri.

__ADS_1


__ADS_2