Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
111 : IPHTV : Diri sendiri


__ADS_3

BRAK...!


Pintu kamar di tutup dengan cukup kasar oleh Risyella.


"Hah...hah..hah...mengagetkan saja." Lirih Risyella dengan nafas memburu, sebab selain memacu jantungnya, dai juga lelah karena dirinya baru saja berlari terbirit-birit.


AKan tetapi saat dirinya harus mengatur nafas Dia kembali di perlihatkan hal paling menakjubkan.


'Kenapa di kamarku ada gaun pengganti? Eh ini sudah jadi? Kenapa bisa cepat sekali?' Risyella kemudian mengernyit, dan dia mendapati sesuatu lagi sebab brokat serta manik-manik yang menghiasi gaun pengantin itu benar-benar cukup rumit, sampai Risyella sendiri tidak tahu seberapa banyak manik-manik yang tertanam di gaun pengantin mewah itu.


Demi menghilangkan rasa penasaran itu, Risyella berjalan lebih dekat lagi dan benar saja, gaun itu memang benar-benar untuk dirinya, karena ada tulisan Risyella di dalam kerah baju pengantin itu.


"Tapi, bukankah ini terlalu mewah? Padahal acaranya aku buat untuk sederhana saja, tapi" Gumam lirih Risyella. 'Foto dulu lah, buat kenang-kenangan juga.' Tidak mau membiarkan kesempatan itu lari begitu saja, Risyella mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan gaun indah yang terpasang di boneka manekin itu.


_______


"Kenapa sampai detik ini Vatler tidak bis adi hubungi? DIa katanya janji akan datang kerumahku." Rutuk Angie setelah beberapa kali mencoba menghubungi Vatler, tidak ada satu pun yang tersambung, dan bahkan Chat yang dia kitim, hanya mendapatkan centang satu yang artinya Vatler sedang tidak online. "Padahal aku sudah bekerja keras untuknya, kemana sih perginya dia? Apa jangan-jangan dia sedang bersama dengan wanita yang aku lihat di bandara itu?" Terka Angie.


Sebenarnya hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tidak..bukan hanya ulang tahun miliknya saja, tapi juga kakaknya.


Dan satu-satunya orang yang Angie undang untuk datang ke rumah, saat ini, sama sekali tidak bisa di hubungi.


Dekorasi sudah terhias di ruang tamu, berbagai menu makanan yang ANgie masak sendiri, perlahan mulai dingin, dan kue ulang tahun yang ada di kulkas, terus saja menunggu kedatangan tamu itu.


Tapi apakah Vatler akan benar-benar datang sesuai dengan janjinya?


".........." Angie menatap jari kelingkingnya, padahal tadi siang dia baru saja membuat janji dengan Vatler agar pria itu bernjanji untuk datang kerumahnya. "Tapi sekarang apa? Ini sudah hampir pukul setengah dua belas malam, dan Vatler....dia sama sekali tidak bisa aku hubungi. Setidaknya balas lah, sms aku, tapi ini tidak. Menyebalkan." Racau Angie.

__ADS_1


Dia yang sudah bosan menunggu, mulai memainkan makanan yang dia masak sendiri itu.


TING...


Sampai akhirnya ada satu notifikasi pesan yang masuk.


Mendengar hal itu, tentu saja Angie sudah berekspresi penuh dengan sebuah harapan, kalau itu adalah pesan yang di kirim oleh Vatler.


Tapi?


"............" Raut wajahnya kembali memburuk, pesan singkat yang di kirim Vatler adalah pesan penolakan, karena sedang sibuk? "DIa memangnya sibuk apa sih? Sampai cuti sampai satu minggu lagi. Lihat saja..bulan ini saja dia sampai dapat cuti sampai dua minggu lamanya. Ini sangat aneh, pasti ada yang sesuatu yang Vatler sembunyikan dariku." Gerutu Angie, masih tidak puas hati dengan situasi miliknya, perayaan ulang tahunnya yang benar-benar sudah hancur.


Dengan terpaksa Angie pun mengeluarkan kue ulang tahun dari dalam kulkas, setelah itu dia letakkan di atas meja tamu, dan setelah itu lah Angie meletakkan satu bingkai foto seorang laki-laki yang memiliki wajah yang sama dengan Angie, dan laki-laki dalam foto itu adalah sang kakak Angie yang sudah meninggal lebih dari empat tahun yang lalu.


"Kakak, lihatlah Vatler. Dida sudah tidak memperdulikann aku lagi. Masa aku merayakan ulang tahunku sendiri?" Ucap Angie sambil memandangi foto sang kakak. "Coba saja Kakak ada disini, aku pasti tidak akan kesepian sampai seperti ini juga. Kue, makanan yang aku buat sendiri, untuk menjamu teman kakak itu, hasilnya aku makan sendiri? Begitu?"


Angie pun terpaksa menunggu sampai jam dua belas malam tepat, dan saat itu tiba, Angie menyalakan lilin yang memiliki bentuk angka dua puluh tiga, sebagai umur yang Angie dapatkan hari itu.


Setelah memanjatkan doa sebagai permohonan yang ingin dia capai pada tahun ini, Angie kemudian meniup lilinn itu.


"Phuuh...." Angie tersenyum masam sambil memandangi foto kakaknya terus. Terbesit rasa rindu yang sangat besar, tapi apa daya, jika kakakknya lebih di sayang oleh tuhan, dan membuat Angie hidup dalam kesendirian di apertement miliknya itu.


Dengan begitu, Angie pun benar-benar merayakan ulang tahunnya sendirian dan memakan semua makanan yang dia masak itu.


"Semoga tahun ini aku bisa mendapatkan Vatler." Senyuman penuh harap itu benar-benar tersungging di bibir manisnya.


Tetapi karena dirinya saat ini benar-benar sedang lelah, karena misi yang dia jalani seharian itu, Angie menyimpan makanan yang tidak habis itu ke dalam lemari bufet. Mengambil foto sang kakak, dan memeluknya dalam pelukan kasih rindu yang belum bisa dia singkirkan, sekalipun kematian dari kakaknya sudah lumayan lama.

__ADS_1


"Kakak. Doakan aku, agar aku bisa mendapatkan hati Vatler." Angie mengusap kaca dari bingkai itu, dan setelahnya, Angie pun duduk di atas kasur hingga akhirnya dia menanamkan rasa rindunya dalam tidur malam yang terasa sunyi itu.


___________


Di jam yang sama.


Vatler sudah mondar mandir layaknya setrika, karena dia tidak mendapatkan balasan dari Angie setelah memberitahunya kalau malam ini dirinya tidak bisa hadir dalam acara ulang tahun kecil-kecilan yang diadakan oleh Angie.


"Padahal aku sudah janji, tapi-" Vatler pun melihat jari kelingkingnya sendiri. Janji yang sudah di buat bersama dengan Angie itu akhirnya kandas juga, karena Vatler tidak dapat menepati janji yang dimilikinya itu sebab kondisinya saat ini, Vatler sebenarnya sedang terdesak.


"Kenapa Ibu suka seenaknya saja memajukan hari pernikahanku? Aku jadi terpaksa tidak pergi ke rumah Angie, untuk menghadiri ulang tahunnya." Gerutu Vatler. Dia benar-benar merasa bersalah karena harus mengingkari janji.


"Vatler.." Tiba-tiba suara milik sang Ibu membuyarkan kerisauan yang sedang dimiliki Vatler.


".........." Vatler mendelik tajam ke arah pintu kamar miliknya itu. Dia awalnya ingin mengabaikan panggilan milik Ibunnya itu.


"Vatler, buka pintunya." Perintah Marlina lagi kepada Vatler yang dari tadi belum juga keluar. 'Apakah dia masih marah?' Batin Marlina. Disini dia jadi merasa serba bersalah, tapi jika tidak seperti itu, siapa yang akan memperingatkan Vatler bahwa calon Istrinya itu, yaitu Risyella selalu menunggunya dengan tulus.


Marlina mana sudi membuat calon menantunya yang sudah dia pilih dengan susah payah itu jadi terlihat seperti terasingkan dan tidak ada yang membelanya.


"Vatler..." panggilnya lagi. Dia tidak akan pergi sebelum Vatler membuka pintu kamarnya, karena itu, dia akan menghujani anaknya dengan panggilannya terus dan terus. "Vatler...buka, Ibu mau bicara."


KLEK...


Akhirnya pintu itu terbuka, dan menampilkan ekspresi Vatler yang masih saja seperti sebuah tembok.


"Bukankah ibu sudah bicara banyak?" Itulah kata-kata yang keluar untuk pertama kalinya untuk sang Ibu yang membuat dirinya jengkel, tapi dia tidak bisa melampiaskan pada Ibunya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2