Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
20 : IPHTV


__ADS_3

Cip...cip…..cip……


Terlihat seekor anak burung terjatuh dari sarangnya sedang memanggil-manggil induknya untuk di selamatkan.


Tapi apakah anak burung itu bisa di selamatkan oleh induk burung yang bahkan hanya bisa terbang untuk mengangkat tubuhnya sendiri?


Risya yang merasa kasihan melihat anak burung yang belum lama menetas itu tergeletak di tanah, membuat hati Risya tergerak untuk menolongnya.


Dia tidak ingin anak burung itu mati lebih mengenaskan ketimbang diri Risya yang sudah hidup dari lahir tanpa seorang ibu. 


Risya merasa anak burung itu tidak pantas untuk mendapatkan pengalaman yang menyakitkan yang namanya kematian.


“............” Tanpa sepatah kata, Risya pergi ke gudang untuk mengambil anak tangga. Setelah mengambilnya, Risya dengan berani mengambil anak burung itu dengan sangat hati-hati, dan membawanya ke atas pohon untuk dipulangkan lagi ke sarangnya.


Tidak ada rasa takut sama sekali saat sepasang kakinya mulai menaiki tangga dengan ketinggian lebih dari dua meter dari atas tanah itu. Meski sudah naik tangga, sayangnya Risya harus naik lebih tinggi lagi, sebab sarang burung itu berada di dua meter lebih tinggi lagi. Dan Risya mampu memanjat dengan sangat lihai.


Cip...cip...cip….


“Kau kembali ke rumahmu.” bisik Risya, merasa bahagia dan secara ebrsamaan dia merasa sedih, sebab melihat keakraban keluarga kecil dari ke empat burung mungil itu di urus dengan baik oleh sang induk yang baru saja datang dan memberi ke empat anaknya makananan yang dia bawa.


Tidal lama kemudian Risya mulai turun. Dengan sangat hati-hati namun pasti, Risya dapat turun dari pohon. Dan sekarang dia harus kembali menuruni anak tangga yang dia gunakan sebagai pijakan singkatnya.


BRUKK….


“.................?” Risya langsung menilik ke bawah, kakinya tanpa sengaja malah menendang tangga itu sehingga sekarang tangga tersebut jatuh, sedangkan Risya sendiri hasilnya jadi masih menggantung di atas pohon. “Kenapa pakai jatuh segala?” rutuk Risya, tidak puas hati melihat tangganya jatuh.


*

__ADS_1


*


*


“Dia memang tidak kenal takut. Sudah menggantung di pohon setinggi itu, dia tidak bereriak minta tolong.” gumam Arshel saat melihat adiknya sendiri sedang bergelantungan di pohon belakang rumah. 


Arshel hanya memperhatikannya dari kamarnya yang terletak di lantai dua. 


“Padahal aku pikir, aku tidak pernah melihatnya naik pohon. Dari mana rasa beraninya muncul sampai tidak takut jatuh seperti itu?” imbuhnya lagi. Arshel terus bergeming di tempatnya. Tapi semakin 


KLEK.


Sampai suara dari pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka, Arshel hanya meliriknya sekilas. 


Vatler sosok yang jarang pulang itu tiba-tiba masuk kedalam kamarnya Arshel.


Vatler mencoba menghampiri Arshel yang masih saja berdiri di dekat jendela kamar, dan terus menatap ke arah luar jendela.


“Kira-kira apakah dia punya keberanian seperti itu karena dari ibu atau ayah?”


“............!” tertegun mendengar Arshel tiba-tiba mengungkit ibunya, Vatler dengan buru-buru pergi menuju jendela. Kedua matanya membulat sempurna melihat Risya bergelantung di pohon, sedangkan tangganya sudah jatuh ke tanah. “Kenapa kau diam saja?! Risya akan jatuh!” seru Vatler kepada Arshel yang terlihat diam saja saat melihat kedua tangan Risya hampir terlepas dari pegangan batang pohonnya. 


Vatler awalnya hendak berlari untuk menolong Risya, tapi suara dari Arshel langsung menghentikah langkahnya.


“Tapi lihat itu, Risya bisa mendarat sempurna dengan gaya yang keren.” tunjuk Arshel kepada Risya yang sudah mendarat di tanah dengan posisi berlutut layaknya orang yang akan melamar pasangannya.


“..................” Vatler kembali terdiam, meihat Risya sudah mendarat dengan selamat, dan sekarang sedang membawa kembali tangga untuk di letakakn di gudang.

__ADS_1


“Kenapa ayah pulang? Apa ini karena pagi tadi?” tanya Arshel langsung ke poin intinya.


Vatler segera menoleh ke arah Arshel, lalu di ikuti tubuhnya, Vatler langsung menjawab pertanyaan itu dengan singkat, “Kau sebagai kakak, apa tidak mengajari adikmu sendiri?”


“Sebagai ayah, apa ayah pernah pulang dan menginap semalam untuk memperhatikan anaknya sendiri hidup seperti apa?” sela Arshel.


Vatler mengernyit, itu juga disadari oleh Vatler sendiri, bahwa dirinya sangat jarang pulang ke rumah, dan sekalinya pulang maka tidak ada yang namanya waktu untuk berkumpul bersama. 


“Tidak usah mengalihkan topik, jawab saja pertanyaannya. Apa yang kau lakukan, sampai membiarkan nilai Risya terus menurun, kenapa tidak membantunya belajar?” 


“Jika ayah punya kesibukan sendiri, kenapa aku tidak? Aku sedang sibuk ikut lomba, mana mungkin aku ada waktu mengajari Risya. Aku tidak mungkin membuang-buang waktuku, Risya sendiri tidak mempermasalahkannya, kenapa ayah malah menyalahkanku?” adu Arshel kepada Vatler, sang ayah. “Jangan mengira karena aku pintar sendiri, semuanya dilimpahkan kepadaku. Kenapa ayah tidak tanyakan saja langsung kepada Risya. Bukannya saat kelas satu dia peringkat 10 besar?” imbuh Arshel.


Arshel benar-benar sedang merasa kesal, tepat ketika ayahnya yang biasanya kerja-kerja dan kerja tidak ada hentinya, dengan alasan demi menafkahi mereka berdua sampai tidak pernah meninggalkan apa yang namanya kasih sayang, tiba-tiba saja demi Risya, tiba-tiba ayahnya masuk dan langsung menghujani segala tuduhan.


Arshel tentu saja tidak menerimanya, karena dirinya saja sudah lelah dengan semua urusan sekolah, apalagi sebentar lagi akan ada lomba cerdas cermat, dimana beban itu Arshel pikul untuk membawa nama baik sekolahnya, tapi secara tidak terdug sekarang dirinya malah langsung kena seprot oleh ayahnya sendiri yang jarang muncul itu.


Ditambah, semua itu karena Risya.


‘Risya lagi, dan Risya lagi. Kenapa aku merasa Ayah lebih menyayangi Risya yang bodoh itu ketimbang aku yang pintar? Ketika semua orang bahkan guru di sekolah memujiku, kenapa aku tidak pernah sekalipun mendapatkan pujian dari ayah? Tadi saja Ayah mengkhawatirkan Risya yang hampir jatuh dari pohon, padahal Risya sendiri bisa turun. Dan sekarang? Ayah lagi-lagi memperhatikan soal nilai Risya?!’ racau Arshel di dalam hati serta pikirannya. 


Dia merasa kesal, marah, dan jengkel dengan tindakan Vatler sang ayah yang lebih mengkhawatirkan segala hal yang menyangkut Risya, yaitu adiknya?


Satu hal yang tiba-tiba tercetus di dalam benaknya, Arshel yang dari tadi diam akhirnya kembali bersuara,“Dari cara ayah memperlakukan Risya yang lebih baik dari pada aku, apakah aku benar-benar anak kandung Ayah?”


PLAK!


“....................!” mata Arshel langsung melotot kepada ayahnya, setelah mendapatkan tamparan kuat dari ayahnya sendiri. Itu adalah tamparan pertamanya dari selama dirinya hidup, itu adalah kekerasan pertama yang ayahnya perbuat kepadanya, “Sampai menamparku?” tanya Arshel tanpa merubah ekspresi terkejutnya. 

__ADS_1


“Jika saja kau tidak mengatakan itu, tangan ini tidak akan menamparmu.” Di balik tampang Vatler yang merasa tidak bersalah setela


__ADS_2