
"Wahh...kelihatannya kami mengganggu nih." Marlina tiba-tiba saja datang menyela kebersamaan Vatler dengan Risyella yang terlihat sedang berbicara empat mata dengan cukup dekat, sampai jarak diantara mereka berdua terlihat hampir habis.
Melihat Ibunya Vatler tiba-tiba saja datang, Risyella sedikit terkejut.
"Ibu?!" Risyella buru-buru mendorong Vatler agar menjauh.
Tidak hanya ada Marlina saja yang datang, melainkan keluarga dari Risyella pun datang untuk menemuinya?
Tentu saja. Karena saat ini, dirinya bersama dengan Vatler, akan langsung pergi melakukan bulan madu sesuai dengan yang direncanakan oleh Ibunya vatler.
"Apakah kalian berdua tidak bisa tinggal semalam saja menemani kami?" Tanya sang sepupu Risyella.
Mendengar kesan serta ekspresi mereka semua terlihat sedikit enggan untuk berpisah dengan Risyella secepat itu, membuat Risyella melirik ke arah Vatler. Sebab disini yang menentukan jadwal itu bukanlah Risyella, melainkan Vatler sendiri.
"Aku memahami perasaan kalian semua yang masih ingin bisa bersama-sama dengan Risyella. Tapi sayangnya, jika kami berdua tidak berangkat sekarang, itu akan mempengaruhi jadwal pekerjaanku juga." Jelas Vatler.
Sampai mereka semua tidak ada yang berani berkata apapun lagi, karena saat ini Risyella sudah sepenuhnya dimiliki oleh Vatler, jadi mereka pun tidak bisa apa-apa.
Bahkan Risyella sendiri jadi tidak bisa membuat kalimat , karena tahu sendiri...dimata Risyella Vatler itu seperti orang yang super sibuk.
"Vatler...mereka kan kel-"
"............." Tatapan milik Vatler yang langsung mengunci sosok Ibunya itu, berhasil membuat Marlina terdiam juga.
"Ada apa ini? Kenapa rasanya udaranya disini tiba-tiba saja dingin?" Robert datang untuk mencairkan suasana tegang yang ada di antara mereka semua.
Semua orang langsung mengalihkan perhatian mereka pada Robert yang bertingkah seperti orang yang sedang kedinginan dengan mendekap tubuhnya sendiri.
"Tidak ada apa-apa." Balas Vatler detik itu juga.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa apanya? Lihat mereka semua, mereka sangat ingin bisa bersama dengan istrimu itu. Apa kamu tidak mau memberi mereka waktu untuk duduk berbicara bersama-sama melepas rindu, setidaknya..." Robert melirik ke arah kedua orang tuanya Risyella, kedua sepupu laki-laki Risyella, serta kakaknya Risyella. "Tiga puluh menit saja. Lagi pula, nantinya Istrimu akan terus bersamamu kan? Tidak ada ruginya juga." Imbuhnya.
Vatler kembali melirik Risyella sang Istri muda nya itu.
"............." Risyella sama-sama melirik ke arah Vatler. 'Apakah dia menyetujuinya?'
"Hah~" Vatler menutup matanya sambil menghela nafas panjang dan kasar.
Sampai-sampai suara helaan nafas Vatler yang terdengar kasar itu, sama saja seperti satu keputusan dari seorang hakim yang tidak boleh di ganggu gugat.
"Aku akan menyiapkan semua keperluanmu. Jadi silahkan bersama dengan keluargamu lebih dulu." Kata Vatler, lalu pergi meninggalkan mereka semua, untuk memberikan Risyella waktu bersama dengan keluarganya.
Tapi di saat terakhir sebelum Vatler pergi, satu usapan lembut mendarat di atas kepalanya.
PUK...
'V-vatler? Dia baru saja mengusap kepalaku?! Ini seperti mimpi saja, kenapa dia tiba-tiba jadi perhatian seperti itu? Padahal tadi pagi saja dia terlihat seperti marah denganku.' benak hati Risyella.
'Ada apa dengan Vatler ini? Dia kan bukan tipe orang yang akan memberinya perhatian seperti itu kepada perempuan? Tapi dia tadi mengusap kepalanya Risyella? Apakah dia benar-benar menikahinya karena mencintainya? Atau itu hanya pura-pura?' Bahkan Robert sendiri menyadari akan keanehan yang dilakukan oleh Vatler barusan. "Karena suami mu sudah memberimu Izin, aku
tinggal dulu ya." Kata Robert.
"Terima kasih sudah membantu." Sahut Risyella.
"Ya, jangan lupa, jika pulang bulan madu, aku bawakan oleh-oleh ya."Pinta Robert.
Risyella pun hanya mengulas senyuman lembut. Karena akhirnya sekarang, setidaknya ada satu orang yang bisa membantunya untuk mengubah pikiran Vatler yang terlihat keras kepala itu, dan orang itu adalah Robert.
Meskipun saat Robert jadi Mc tadi, dia terus membawakan kesan untuk bercanda, sehingga suasana saat di acara resepsi jadi cukup hangat, tetapi sebenarnya Robert adalah orang yang juga sama-sama punya sifat serius.
__ADS_1
Itu terbukti seperti saat ini, dimana saat Robert berbalik untuk pergi, ekspresi wajahnya kembali terlihat biasa saja.
'Dia cukup unik.' Pikir Risyella, sebagai kesan pertama saat melihat Robert.
"Ok! Karena Vatler sudah mengizinkanmu untuk bersama kami selama setengah jam, bagaimana jika kita isi untuk makan malam bersama?" Tanya Marlina, selaku orang yang terus saja untuk merubah suasana canggung tadi menjadi lebih cair. "Kalian juga, ya."
"Terima kasih, karena sudah mau direpotkan oleh kami." Kata Ibunya Risyella.
Di saat Risyella akan makan bersama dengan keluarga dekatnya, untuk yang terakhir kalinya, maka berbeda dengan Vatler yang saat ini sedang ada di mobil bersama dengan Robert.
"Vatler, kamu betulan akan bulan madu?" Tanya Robert kepada Vatler yang saat ini sedang menyenderkan tubuh lelahnya di kursinya, yang sudah dia atur agar posisinya jadi sedikit lebih ke belakang.
"Memangnya apa urusannya denganmu?"
"Ini seperti bukan dirimu saja." Cetus Robert.
"Soalnya aku sudah lelah dengan semua kencan buta yang Ibuku atur. Dan saat Ibuku pergi membawaku ke desa, ternyata aku di jodohkan langsung dengan perempuan itu, aku jadi lebih baik menerimanya dari pada tidak sama sekali." Jawab Vatler dengan jelas.
"Jadi maksudmu, kamu melakukan itu untuk sekedar memanfaatkannya saja?" Tanyanya.
Vatler melirik ke arah Robert yang terlihat penasaran itu. "Memangnya kenapa? Bukankah manusia itu pada dasarnya saling memanfaatkan satu sama lain. Jadi pada dasarnya apa yang aku lakukan juga tidak salah, dan lagi pula Risyella sendiri juga sudah tahu kalau aku memanfaatkannya, dan dia tidak mempermasalahkan itu." Jelasnya lagi.
"Kalau memang sudah tahu seperti itu, aku tidak akan tanya apa-apa lagi." Balas Robert.
Jujur sebenarnya Robert sedikit kasihan dengan Risyella, karena mau dimanfaatkan oleh orang seperti Vatler. Tapi bagaimana lagi? Karena dua orang sudah saling sepakat satu sama lain, dan sekarang kedua orang ini sudah menikah, maka Robert pun tidak akan ikut campur tangan.
'Tapi-' Robert memandang ke arah jendela mobil. Dimana di luar sana, tepatnya di dalam rumah milik Vatler, Robert masih mampu melihat Risyella saat ini sedang makan bersama dengan keluarganya dengan tawa yang bagi Robert sendiri cukup manis.
Tetapi yang akan menjadi pertanyaannya itu, apakah tawa bahagia seperti itu bisa bertahan? Ketika saat ini, Risyella sudah menjalin hubungan dengan pria bernama Vatler.
__ADS_1
Pria yang sebenarnya adalah seorang yang lebih menyukai bekerja ketimbang menyukai seorang manusia.
'Apakah dia bisa bertahan?' Batin Robert. Tiba-tiba saja di dalam hatinya tertanam sebuah kesedihan, melihat perempuan sebaik Risyella justru dipasangkan dengan laki-laki seperti Vatler.