Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
106 : IPHTV : Untuk mereka berdua


__ADS_3

Sesampainya di pantai, Risyella langsung kabur dari Helikopter. Bahkan tindakannya itu dilakukan sebelum Vatler turun untuk membantu membukakan pintu untuk Risyella, karena Vatler pikir Risyella tidak tahu caranya membuka pintu itu. 


“Yay! Pantai!” Risyella berteriak sambil berlari diatas pasir putih. Tetapi disebabkan pantainya tidak bersih, dengan kata lain banyak terumbu karang mati yang terdampar di pinggir pantai, maka Risyella pun tetap memakai alas kaki. 


Sedangkan Vatler hanya memejamkan matanya pelan, karena dia akhirnya harus menghadapi wanita yang tidak bisa menjaga citranya sendiri, ‘Atau karena disini tidak ada orang lain lagi selain aku, dia jadi bisa bertingkah kekanakan seperti itu?’


Karena sudah ditinggal pergi oleh calon istrinya, Vatler pun menyusul untuk turun dari Helikopter. 


BYURRR….


Air laut yang menggulung itu langsung pecah setelah menghantam batu karang besar yang ada di depan sana. 


‘Disini ternyata lebih menyenangkan.’ Ekspresi wajahnya pun benar-benar menyiratkan perasaan Risyella yang senang, karena akhirnya dirinya bisa berduaan di tempat yang begitu indah itu, dan apalagi dengan perjalanan yang cukup menyenangkan, maka hal itu akan menjadi kenanangan yang tidak akan pernah Risyella lupakan.


‘Ngomong-ngomong, disini ada banyak terumbu karang yang sudah mati.’ Tatap Risyella pada pasir pantai yang dihiasi oleh terumbu karang mati yang sudah berwarna putih. ‘Akan aku bawa sebagai kenang-kenangan ah.’ Pikir Risyella. 


Disaat Vatler sedang memandangi pohon kelapa yang menjulang cukup tinggi, Risyella sebenarnya sudah kembali masuk kedalam Helikopter untuk mencari sesuatu yang bida dia jadikan sebagai tempat penyimpanan. 


Dia akan mengambil harta karun yang ada di sepanjang pantai, untuk dijadikan sebagai kenang-kenangannya. 


Sedangkan Vatler dia terus menatap ke atas, atau lebih tepatnya buah yang akan menjadi targetnya, apalagi kalau bukan buah kelapa. 


KLEK…


Vatler langsung mengangkat crossbow menuju titik bidik yang ditandai dengan sinar laser. Setelah sekiranya tepat dengan targetnya, ujung jari telunjuk kanannya pun menarik pemicunya. 


SYUHT…. —----->


Dalam sekali tembak, anak panah itu langsung menancap di pangkal kelapa, sampai akhirnya. 


BRUK…


Satu buah kelapa berhasil Vatler petik. 


TAP.


Mendengar suara langkah kaki yang berhenti tepat di belakangnya, Vatler pun menjeling ke belakang. Terlihat Risyella lah orang yang sedang berdiri di belakangnya persis. 


Ekspresi wajahnya menyiratkan ekspresi yang sedang kagum.


“Itu..cukup keren,” puji Risyella tanpa mengalihkan pandangannya dari senjata yang masih di pegang oleh Vatler.

__ADS_1


‘Dia menyukai ini? Atau menyukai karena aku memakai senjata ini untuk memetik kelapa?’ Karena pujian yang di dapatkannya itu, Vatler tanpa sadar jadi berpikir demikian. 


“Vatler, apakah aku boleh mencobanya?” Risyella menenung senjata Crossbow berwarna hitam itu. 


“Ini berbahaya,” Vatler berkata untuk memperingatkan. 


“Kalau berbahaya, kenapa dipakai olehmu?”


“Kenapa tanya hal yang sudah jelas. Aku lebih menguasai ini ketimbangmu.”


“Nah karena itu, aku ingin mencobanya. Kan kamu yang bisa mengajariku sekaligus mengawasiku.” Kata Risyella. ‘Itu kan Crossbow. Biasanya aku hanya bisa lihat di Tv, saat aku menonton film saja. Tapi sekarang, yang pegang itu justru adalah Vatler?! Kenapa dia bisa sekeren itu. Dia selalu keren dari segala sisi, dan pintar dari segala aspek. Aku kan jadi iri, dan juga ingin mencobanya.’


‘Sejak kapan dia bisa bicara seperti itu? Aku kira dia akan terus memperlihatkan wajah malu juga takut.’ Benak hati Vatler.


Tidak seperti bayangan Vatler, dimana seorang wanita lebih menyukai hal yang mewah, imut, dan manis. Semua itu adalah kebalikan untuk Risyella. 


Faktanya salama ini, Vatler jadi lebih mengenal kebiasaan serta kesukaan dari wanita yang akan menjadi istrinya kelak. 


Risyella suka dengan hal yang sedikit kasar. Misalnya saja saat pertemuan pertama, dirinya justru melihat wanita itu sedang naik meja yang di tumpuk oleh dua kursi, dimana hasilnya Risyella bisa menggapai plafon rumahnya sendiri untuk sekedar mengganti lampu. 


Selain itu, Risyella mampu naik pohon untuk mengembalikan anak burung yang jatuh. Banyak hal lainnya yang sudah Vatler lihat, dan sekarang?


“O-oh…begitu ya.” Risyella tersenyum canggung. “Ya sudah tidak apa-apa.” Ucap Risyella. 


Disebabkan tidak mendapatkan hal yang ingin Risyella lakukan, Risyella pun memutuskan untuk pergi dari sana dan melanjutkan aktivitasnya sendiri. 


‘Hmm..benar juga. Tapi karena dia mengatakan lain waktu, bararti aku masih bisa memiliki kesempatan untuk mencoba senjata itu.’ Kata hati Risyella. 


Tetapi entah kenapa, dikarenakan mendapatkan penolakan dengan wajah Vatler yang datar itu, hatinya jadi sakit. 


‘Aneh, padahal dia tidak melakukan apapun kepadaku, tapi kenapa sakit ya?’ Risyella mencoba untuk menahannya, lalu menghibur diri dengan memungut termbu karang, juga cangkang dari keong laut. Dengan begitu perasaan sakit hatinya itu bisa di hilangkan seiring waktu. 


Vatler yang tidak begitu peduli dengan reaksi Risyella saat mendapatkan penolakannya, dia memutuskan untuk kembali memetik kelapa, dan akan memberikannya kepada Risyella. 


‘Apakah wanita selalu menggunakan perasaan ketimbang logika?’ Pikir Vatler, dia pun kembali membidik buah kelapa itu. Selepas bidikannya sudah tepat, Vatler pun kembali menarik pemicunya, dan ..


SYHTT —------->


____________


TAP…TAP….TAP……

__ADS_1


Suara dari langkah kaki milik seseorang yang mereka semua kenal berhasil menyita perhatian untuk mereka semua agar memberhentikan pekerjaan mereka.


“Selamat datanng Nyonya,” Sapa mereka semua terhadap Marlina. 


Perempuan yang baru saja di sapa itu perlahan merotasikan pandangannya untuk mencari tahu seberapa persen kah proses dari persiapan untuk acara paling sakral yang akan diadakan esok hari. 


“Bagaimana keadaanya?” Tanya Marlina, seraya berjalan menuju sofa untuk istirahat.


“Semuanya sudah berjalan lancar Nyonya, bahkan gaunnya sendiri sudah hampir selesai.” jawab Rosie, selaku orang yang di tugaskan langsung oleh Marlina untuk mengurus segala keperluan sekaligus persiapa untuk acara resepsi yang akan diadakan besok pagi persis. 


Yah…


Jika bukan karena dirinya melihat Vatler berduaan dengan seorang wanita lain yang seksi dan cantik, Marlina tidak mungkin akan mempercepat proses untuk pernikahannya Vatler dengan Risyella. 


Itulah yang dia lakukan demi kebaikan bersama, agar Vatler tidak jelalatan dengan wanita lain, karena untuk ke depannya, Vatler sendiri akan di temani oleh satu wanita saja yang akan mendampingi kehidupan anak laki-lakinya untuk selamanya. 


Hanya itu yang Marlina harapkan dari dua orang yang sengaja Marlina satukan. 


“Baiklah. Tapi Rosie, kira-kira sekarang mereka berdua ada di mana?”


Rosie pun kembali di buat untuk membuka laptop miliknya. Setelahnya, dia memberikannya kepada Marlina.


“Tuan dan Nona ada disini,” Dalam satu ketikan jari pada tombol keyboard komputer, Rosie berhasil menampilkan sebuah gambar yang berhasil di tangkap lewat satelit ke dalam layar laptop tersebut, dan hasilnya layar itu menampilkan satu helikopter dan juga dua orang yang sedang duduk bersama sambil minum air kelapa.


"Ada apa ini? Kenapa pemandangannya tiba-tiba jadi manis seperti itu?" Tanya Marlina tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat saat ini sebab, kedua anak muda itu sedang duduk bersama dan terlihat romantis.


Mendengar majikannya terlihat senang, mereka pun berjalan mendekat untuk melihat apa yang sedang di lihat oleh Marlina itu.


"Wahh..itu Tuan? Minum air kelapa di pantai, betapa romantisnya Tuan ya?"


"Iya. Ini baru pertama kalinya bisa melihat Tuan bisa bersikap romantis seperti itu."


Sisanya memberikan anggukan setuju, kalau majikan mereka yang lain itu, benar-benar mampu meluluhkan hati para perempuan yang melihatnya, dan buktinya adalah yang saat ini berdiri di belakang Marlina untuk melihat gambar yang ada di laptop, semuanya adalah pelayan perempuan.


"Kalian-" Rosie memberikan tatapan maut kepada mereka semua agar menjaga sopan santun sebagai pelayan, sekaligus agar mereka semua untuk menyingkir dari Nyonya majikan mereka.


"............!" Merasakan tatapan membunuh dari Rosie, mereka semua dengan menurut langsung berjala mundur secara serentak.


Marlina hanya terkekeh karena melihat para pelayan yang dia pekerjakan langsung patuh jika di bawah kendali Rosie.


Tapi melihat ke arah kenyataan yang ada di balik gambar itu, sebenarnya mereka sedang...

__ADS_1


__ADS_2