
Esok paginya.
BRRMM.....BRRMM........
Suara kenalpot mobil itu sukses menarik perhatian Risyella untuk menoleh kebelakang.
"Tunggu! Kamu mau pergi kemana?" Tanya Risyella di depan pintu mobil.
Padahal beberapa saat tadi, Vatler mengatakan sudah sampai di tempat tujuan, karena itu Risyella langsung turun. Tapi apa? Setelah dirinya turun, Vatler justru akan pergi dengan mobilnya lagi.
"Mereka akan mengurus untuk perawatan kulitmu. Nanti aku kembali datang menjemputmu." Jawab Vatler sebelum akhirnya dia pergi meninggkan Risyella bersama dengan kedua orang pegawai di belakangnya itu.
BRRMMMM..........
Bibir RIsyella langsung mengerucut. Karena dia tidak athu akan di tenggal pergi begitu saja oleh Vatler setelah sampai di tempat itu.
'Dia selalu saja begitu. Ini kan tempat asing, sekarang aku malah di tinggal sendirian. Kalau seperti ini, aku pasti benar-benar terlihat seperti orang kehilangan arah. Batin Risyella, tidak puas hati dengan tindakan Vatler yang seenaknya pergi tanpa memberitahu jadwal lain milik Vatler.
"Nona, mari lewat sini." Ucap salah satu dari dua orang wanita itu.
".............." Tanpa sepatah kata lagi, Risyella berjalan megikuti mereka berdua dari belakang.
Risyella, sekalipun belum pernah pergi ke tepat spa, apalagi tempat yang kali ini dia kunjungi adalah tempat berkelas, hal itu tidak membuat Risyella merasa kagum, sebab semua yang ada di sekitarnya saat ini hanyalah fasilitas yang diperlihatkan orang lain kepada para pegunjung.
Dengan kata lain, itu adalah kemewahan yang dipamerkan untuk orang lain. Sedangkan Risyella hanya bisa kagum dengan apa yang Vatler miliki.
Tapi pria yang ingin terus Risyella kagumi itu selalu saja pergi.
'Apa dia sangat sibuk sekali sampai meninggakanku di tempat seperti ini?' Batin Risyella. Biarpun kedua kakinya terus dia gunakan untuk berjalan, tapi tidak dengan pikirannya yang terus saja memikirkan Vatler itu.
Setelah merasakan cinta pada pandangan pertama, Risyella benar-benar tidak bisa melupakan semua yang Vatler lakukan. Baik itu saat sendirian, maupun saat berbicara dengannya. Semuanya adalah momen dari memori yang tidak bisa Risyella lupakan begitu saja.
"Nona, sekarang lepas pakaian anda dan sebagai gantinya gunakan ini." Pegawai tersebut memberikan Risyella sebuah handuk.
Risyella dengan terpaksa menerimanya dan saat berada di ruang hanti, Risyella langsung merenung. Untuk pertama kalinya dia akan memakai hanudk saja di depan orang lain?
Ketika Risyella mulai melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya, maka terlihat sudah tubuhnya yang sudah terlanjang. Tapi yang menjadi pusat perhatian Risyella saat ini adalah ketika dia melihat bekas jahitan miliknya yang ada di punggungnya persis.
Itulah yang membuat Risyella ragu untuk mengumbar tubuhnya dengan posisi hanya menggunakan handuk seperti itu saja, sekalipun mereka semua adalah wanita.
Tapi lebih dari pada itu, satu hal yang sangat mengganggu pikira Risyella saat ini adalah ketika dia kembali memikirkan Vatler.
'Hmm....walaupun sudah lima belas tahun, ternyata bekas luka jahitannya tidak pernah hilang. Bagaimana ini? Kalau ternyata aku punya bekas luka seperti ini? Apakah Vatler akan menolakku di malam pertama?' Tiba-tiba memikirkan malam pertama dengan Vatler? Risyella langsung tersipu lagi.
Malam pertama yang di dambakan oleh semua wanita ketika sudah resmi menjadi Istri dari orang yang dicntainya, dan Risyella termasuk dalam kategori yang menantikan itu juga.
__ADS_1
Tapi mengingat dia punya bekas luka di belakang punggungnya, hatinya kembali menciut, apalagi ditambah karakter Vatler yang bertampang dingin itu seperti pria yang tidak mudah tergoda oleh wanita manapun di dunia ini, termasuk Risyella yang hanyalah salah satu wanita dari deretan wanita yang menjadi alat perjodohan dari Ibunya Vatler itu.
Risyella kembali menyentuh bagian punggungnya yang memiliki bekas luka itu. Sampai suara ketukan pintu itu langsung membuyarkan pikiran Risyella.
TOK....TOK....TOK.....
"Nona? Apa anda perlu antuan?" Tanyanya, dengan nada khawatir yang terkesan ramah.
"Tidak, aku akan segera keluar," Risyella yang awalnya tidak memakai apapun demi melihat bekas lukanya sendiri tadi, buru-buru membungkus tubuhnya dengan handuk, lalu ketika dia keluar, dia pun langsung disambut oleh deretan pegawai yang akan melayaninya sampai proses perawatan tubuh untuk Risyella selesai.
'Enam orang, apa ini teidak terlalu berlebihan?' Batin Risyella saat dirinya melihat mereka semua sudha siap dengan tugasnya masing-masing.' ni pasti akan jadi hari yang melelahkan.' Dengan senyuman canggungnya, dia berjalan di depan mereka semua.
Sampai Risyella dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari belakangnya persis. "Baik! Pekerjaan kalian hari ini adalah agar membuat calon pengantin Tuan Vatler ini jadi punya penampilan yang lebih menarik, cantik, bersih dan rapi."
Itulah yang dikatakannya. Saat mendengarnya pun, Risyella secara tidak langsung jadi terasa sedang di sindir secara telak di depan anak buahnya sendiri.
'Apakah dia baru menyindirku?' Jeling Risyella kepada seorang pria yang terlihat memiliki penampilan seperti perempuan, karena wajahnya yang sekalipun sudah cukup tampan itu, justru sedikit dilapisi make up.
"Baik!" Jawab mereka semua.
Setelah itu laki-laki yang terlihat seperti banci itu pun melirik kearah Risyella, berakhir dengan sebuah tatapan dengan penuh selidik sambil berkata :Sebaiknya anda jangan tersinggung dengan ucapan saya tadi, karena faktanya dimata saya, anda memang terlihat dekil."
JLEB...
Lalu laki-laki itu berjalan mendekati Risyella untuk menyentuh rambut panjang itu. "Lihat ini, rambutmu kasar, kaku, bercabang, wajah juga kusam, dan pori-porinya sedikit besar, ada lingkar mata pula. Apa anda begadang?"
Saat Risyella hendak menjawab, dia langsung di sela.
"Oh, itu tidak perlu dijawab karena jawabannya memang pasti seratus persen benar. Lalu ini, kenapa tubuh anda sekurus ini? Ini, ini?" Semua ucapannya langsung tertuju pada beberapa bagian tubuh yang ditunjuk dengan ujung jarinya.
Dari tulang selangka, bahu, pergelangan tangan yang cukup kurus, sampai yang terakhir yang dia tunjuk adalah buah dada milik Risyella.
"Nona, sebenarnya anda makan apa? Sepasang aset ada itu benar-benar kecil. Bagaimana Tuan Vatler bisa memilih anda sebagai calon Istrinya? Kalau seperti itu kira-kira bagaimana anda menarik perhatian Tuan Vatler jika aset anda saja sudah seperti bakpau pasaran." Ucapnya lagi, sampai seluruh pegawainya sendiri ada yang menahan tawa, ada juga yang diam, tapi beberapa orang memilih menutup mata dan hanya mendengarkan Bos nya itu meracau memberikan penilaian akan penampilan Klien nya sendiri dengan cukup blak-blakan.
"................" Walaupun Risyella mendapatkan banyak hinaan dari mulut laki-laki di depannnya itu, sayangnya Risyella tidak begitu memperdulikannya, karena disini yang terpenting adalah, "Bukankah pada akhirnya yang penting aku akan jadi Istrinya Vatler?"
JLEB....
"Uhuk..." Laki-laki ini pun langsung tersedak dengan ludahnya sendiri, sebab ucapan Risyella yang singkat tapi padat itu benar adanya.
Sekalipun penampilannya tidak menarik sama sekali, kenyataan terbesarnya adalah RIsyella yang di sindir dekil itu akan menajdi Istrinya Vatler si wajah tembok beton itu.
"Ekhem..." Berdehem demi mengganti suasana pembicaraan mereka berdua, laki-laki ini kembali berkata : "Anda memang benar. Tapi mau bagaimanapun anda harus tetap memperhatikan penampilan anda itu agar tidak dipandang rendah oleh orang lain."
Itulah yang dikatakannya, sekaligus itu pula yang Risyella dengar.
__ADS_1
'Tapi bukannya yang baru saja memandnag rendah diriku itu adalah dia?' Tatap Risyella pada pria itu dengan tatapan datar. Belum dimulai tapi Risyella terasa sudah sangat lelah. Baginya, berbicara dengan orang adalah hal yang paling mellahkan ketimbang berolahraga ataupun berbicara dengan hewan.
PROK!
Satu tepukan yang dilakukan oleh laki-laki itu berhasil mengganti suasana lagi.
"Sudah cukup, saya tahu secara terang-teranga menilai dan mengkritik pedas penampilan anda dengan sedikit kasar,"
'Bukan sedikit, tapi banyak.' Detik hati Risyella.
"Tapi jika tidak seperti itu, anda pasti akan membiarkan penampilan murahan anda terus-terus menerus. Kalau seperti itu terus, and benar-benar kurang co-"
"Ya...aku tahu, aku memang terlihat tidak cocok dengan Vatler yang punya segudang pesona itu."
DEG!
Risyella dengan cepat menyela ucapannya, sampai semua orang yang ada di sana langsung diam menunduk, dan laki-laki di depannya itu pun turut diam dengan hasil ucapan yang baru saja Risyella umbar itu.
Yang artinya, Risyella memang sadar akan posisinya sendiri sekaligus menerima semua hinaan itu.
'Lagi pula ini bukan kemauanku juga, jadi kenapa aku yang harus kena komentar orang lain terus?' Geram Risyella. Dia sejujurnya sduah ingin sekali berteriak memarahinya balik, tapi semua itu tidak ada gunanyam dan justru akan membuang energinya. Jadi Risyella pun hanya mengiyakan apapun yang akan dikatakan oleh laki-laki itu lagi.
Laki-llaki tersebut yang tersadar saat melihat Risyella diam-diam sedang menggertakkan giginya, memaksa mulutnya untuk lebih baik diam dan tidak melanjutkan ucapannya. Karena dia tahu, jika mulutnya terus berbicara, maka yang ada mulutnya itu akan menambah lebih banyak lagi rentetan sindiran yang justru akan membuat wanita itu menangis.
Ah~
Baru saja diniatkan untuk tidak berbicara lagi, dia sudah melihat kepala Risyella menunduk sambil menahan tangis.
'Aku terlalu berlebihan,' Melihat Risyella menahan tangis seperti itu, entah kenapa hatinya jadi terasa ikut sakit juga.
'Ah~ Kenapa aku tidak bisa menahan air mataku? Kenapa aku menangis sih?' Kesal karena air mata yang tidak Risyella kehendaki untuk keluar dari matanya justru terus mengalir deras, Risyella pun berlari dari sana dan masuk kembali ke dalam kamar ganti.
BRAK...!
"Bos, anda cukup keterlaluan."
"Bagaimana ini? Jangan sampai karena perkataan anda, kami juga kena imbasnya."
"Betul. Lagipula kenapa mulut Bos itu tidak di jahit saja sih?"
Renteten keluhan dari anak buahnya itu langsung membuat laki-laki ini menjerit dalam diam. 'Ah! Apa yang aku lakukan? Mulutku yang suka mengkritik banyak model wanita yang sombong itu, secara tidak sadar membuat mulutku ini juga memberikan kritikan pedas pada calon Istrinya Tuan Vatler! Ahh! Kalau aku dibunuh bagaimana?' Racaunya di dalam hatinya.
'Kevin, apa yang barusan kau kritik dari Risyella ha? Ternyata nyalimu besar juga ya, sampai calon Istriku menangis seperti ini?' Kata Vatler dengan tatapan dingin yang mampu membuat bulu kuduk Kevin meremang saking takutnya dengan ekspresi, serta tatapan yang Vatler berikan seperti tatapan hendak membunuhnya.
'Hiiiiii......aku takut!' Kevin pun merinding jika apa yang di pikirkannya itu benar-benar akan terjadi kepadanya.
__ADS_1