
Jalanan yang cukup sepi itu sukses dijadikan tempat adu kecepatan untuk Vatler seorang.
Dengan mengendarai motornya sampai tembus 140 kilometer per jam, maka Vatler pun mampu mempersingkat waktu tempuh yang biasaya jarak dari rumahnya sampai jalan raya adalah dua puluh menit saat mengendarai mobil ketika dengan Risyella waktu itu, maka dengan menggunakan motor, Vatler berhasil memotongnya mnejadi tiga belas menit saja.
DRRTT..
Sadara kalau ada panggilan masuk, vatler langsung mengangkat panggilan tersebut dengan sekedar menekan tombol earphone nirkabelnya.
-"Vatler, kamu sekarang ada di mana sekarang?"- Tanya seorang wanita di ujung telepon.
Vatler tentu saja mengernyitkan matanya, karena dia baru saja mendapatkan panggilan dari seorang wanita? Angie bukan, lalu siapa?
Itulah yang sedang di pertanyakan oleh Vatler.
"Setidaknya katakan namamu." Tuntut Vatler. Dia kembali mengambil jalan ke arah kanan, na pergi melaju dengan kecepatan tinggi, menyalip satu per satu mobil yang Vatler lihat jalannya lebih lambat dan cukup mengganggu jalannya.
-"Oh iya, ini kan pertama kalinya aku menghubungimu lewat telepon ya. Aku, Serena. Tahu kan?"- Kata wanita yang mengaku sebagai Serena ini kepada Vatler.
Vatler kembali menatap seriuh jalan lurus di depan sana sambil mengingat wanita bernama Serena itu adalah, "Oh, jadi kamu yang terus diam-diam memperhatikanku dari kejauhan jika aku sedang ada di markas?"
-"D-dari mana kamu tahu aku terus memperhatikanmu? Aku kan sembunyi dengan baik darimu."- Gugup Serena karena dirinya ketahuan kalau saat di markas, Serena sebenarnya terus memperhatikan Vatler dari kejauhan, dengan cara biasa ataupun dengan mengandalkan CCTV yang di pasang di seluruh area markas, demi mendapatkan apa yang sedang dilakukan oleh Vatler, maka Serena pun melakukan apa yang dia bisa untuk terus mengintainya.
"Mau aku bisa tahu dari mana itu, kamu tidak perlu tahu. Yang ingin aku tanyakan saat ini adalahm kenapa orang yang biasanya kabur saat bertemu denganku, tiba-tiba menghubungiku seperti ini?" Kata Vatler saat itu juga.
-Itu-, ayahku bilang, kalau aku akan di antar olehmu."- Senyuman tawar milik Serena sebenarnya sudah muncul, karena apa yang dikatakan oleh Vatler soal kabur saat setiap kali bertemu adalah kenyataan.
Serena begitu menyukai Vatler, karena dia sedikit malu, maka dia pun melakukan hal seperti seorang penguntit, tapi semua itu ternyata sudha ketahuan oleh Vatler sendiri, dan mau tidak mau Serena jadi harus jujur kepada si pria idamannya itu.
"Mengantarmu? Kemana? Kenapa aku tidka mendapatkan pembertahuan dari ayahmu?" Tanya vatler bingung.
-"Hmm..Ayahku sudah menghubungimu semalam, tapi nomormu saja yang tidak aktif."- Beritahu Serena kepada Vatler.
Tentu saja mendengar jawaban dari Serena, Vatler jadi terdiam. Dia baru menyadari kalau alasan semalam nomornya tidak aktif itu gara-gara kemarin sore Vatler kehilangan handphone nya, yang ternyata hanphone nya tidak sengaja masuk kedalam mesin cuci dan berakhir adanya kematian dari salah satu barang berharganya.
"Aku mengerti, jadi sekarang kamu dimana dan mau aku antar kemana?" Tanya Vatler. Dia tidak bisa menolak perintah yang di ucapkan oleh anak dari atasannya itu. Jadi mau tidak mau harus pergi menjemput Serena juga.
"Aku adda di belakang Mall xxx. Jemput aku kesana dan untuk tujuannya akan aku beritahu saat kita bertemu." jawab Serena.
"Aku akan kesana sekarang." Lalu Vatler segera memutus panggilan dari Serena secara sepihak.
TIN...! TIN...!
Para pengendara mobil menekan klakson saat tiba-tiba ada yang menyalip mereka dengan keceptan tinggi.
Tapi bagi Vatler, apa pedulinya itu?
Karena tujuan Vatler saat ini adalah bisa cepat sampai ketujuannya. Dengan begitu Vatler pun semakin menambahkan kecepatannya ketika tahu di depan sana semua mobil tiba-tiba menyingkir dan memberinya jalan.
____________
"Ayah ini, kenapa ayah pakai suruh Vatler segala untuk mengantarku sih? Ini pakaian apaan pula. Kalau mau menyamar ya harusnya jadi pelayan, kenapa jadi tamu? Memangnya Vatler mau menjadi tamu undangan bersamaku?" Gerutu Serena, saat ini dia sedang memakai gaun berwarna hitam yang kebetulan tidak ada cocoknya sama sekali dengan niat awalnya.
BRRMM......
Suara deru dari knalpot motor itu langsung menarik perhatian Serena kala itu juga.
Seorang pria menggunakan motor berwarna ungu gelap menjadi sorotan utama untuk mata Serena agar tidak menatap mobil yang berlalu lalang.
__ADS_1
Dan benar saja, setelah itu vatler berhenti di depannya persis, dengan pakaian seperti preman?
'Ini pria gila ya? Mau berpakaian seperti preman yang baisa ada di dalam gang sempit, tapi penampilannya ini justru seperti model saja.' Serena yang merupakan masih gadis belia, hanya bisa membatin dengan sebuah pujian yang tidak akan terdengar olhe telinnga Vatler.
"Aku harus mengantarmu kemana?"
"A-aku pikir kamu menggunnakan mobil." Serena menunjuk pada motor yang digunakan oleh Vatler.
"Kamu sendiri tidak tanya, memangnya harus menggunakan mobil?" Tanya Vatler, masih menggunakan helm, tapi kaca helm sudah dia buka, sampai dia memperhatikan penampilan Serena yang terlihat rapi ketimbang akan jalan-jalan biasa.
"M-masa..masa aku harus naik motor? Pakaianku saja seperti ini!" Serena pun kembali gelagapan dengan situasinya saat ini, sebab dirinya sedang memakai gaun mini, dan dia harus pergi naik motor dengan posisi yang memalukan?
Itu memang mennjadi sebuah kesempatan besar untuk Serena, akan tetapi Serena masih punya sudut kewarasan untuk dirinya sendiri dalam berpenampilan yang cocok dengan kendaraan yang harusnya dia naiki itu.
"Itu mudah, kamu hanya perlu pakai celana, gampang kan?" Tatap Vatler pada mini dress yang memperlihatkan sepasang kaki Serena yang putih itu. Bagi Vatler itu untuk pertama kalinya, melihat Serena berpenampilan layaknya wanita pada umumnya, padahal setiap bertemu yang biasanya vatler lihat adalah Serena memakai celana panjang.
Mendengar saran dari Vatler adalah untuk memakai celana, maka dengan menurutnya, Serena mmakai celana, di samping dia masih memakai gaun.
Sepuluh menit kemudian.
Serena akhirnya merubah penampilannya dengan perpaduan yang awalnya aneh jadi tidak aneh lagi, sebab Serena menutup dress miliknya dengan mantel coat berwarna coklat.
"Sudah tidak ada protes lagi, kan?" Tatap Vatler atas penampilan baru milik Serena.
"Iya," Rungut Serena, sebab niat awal untuk bisa berpenampilan elegan sudah pupus.
"Naik," perintah Vatler sammbil melempar helm kepada Serena agar segera naik motor.
"Iya." Sahutnya singkat.
Dengan serta merta Serena pun naik ke atas motos, lalu tiba-tiba dia menatap punggung milik pria di depannya itu.
"Tidak mau lah.""
"Terus kenapa tidak perpegangan kepadaku?"
"Maksudmu memelukmu dari belakang?"
"Maksudmu mau memelukku dari depan?" Tanya balik Vatler. Sekalipun dengan ekspresi datar, tapi ucapannya tentu saja berhasil membuat Serena langsung tersipu malu. "Kalau begitu pegangan." perintah Vatler lagi.
Dengan diam, Serena akhirnya memeluk punggung Vatler yang cukup lebar itu.
GREPP...
'A-aku memeluk vatler dari belakang?! Jadi seperti ini ya, rasanya naik motor dengan pria?' Benak hati Serena ketika dia bisa merasakan untuk pertama kalinya bisa emeluk punggung dari seoran pria.
"Jadi apakah kamu bisa mengatakan tujuan kita sekarang kemana?" Vatler sungguh menuntut sebuah jawaban kepada Serena yang masih belum mengatakan tujuannya.
"Kita ke hotel xxx. Aku harus menghadiri acara pernikahan dari temanku."
Seperti berusaha untuk menghindari salah paham pada Vatler, serena jadi mengatakna tempat dan alasan utamanya.
Karena Vatler merasa hanya di tugaskan untuk mengantarkan Serena itu ke tempat tujuan, vatler jadi tidak bisa berkat aapa-apa lagi. Tapi apa jadinya jika hal paling melenceng dari tujuan Vatler itu justru mendatanginya waktu itu juga.
*
*
__ADS_1
*
Setelah sampai di tempat tujuan, Serena menyerahkan undangannya kepada slaah sta uorang yang mengurus untuk penyambutan tamu.
"Maaf Nona, di undangan yang tertera, anda hanya boleh bisa masuk jika anda membawa pendamping anda." ucap pria bersergaam ini.
"Ha? Memangnya iya?" Serena mencoba melihat undangannya lagi, dan disana tertera kalau Serena harus membawa pasangannya?! 'Apa?! Kenapa aku tidak menyadari ini?'
BRRMM...BRRRMM....
Panik, karena Vatler hendak pergi, Serena berlari menghampiri laki-laki itu, "Tunggu! Jangan pergi dulu!" Teriaknya, mencegah Vatler untuk tidak pergi dulu, karena Serena benar-benar memerlukan bantuan dari pria itu.
"Apa ada masalah?" Vatler membuka kaca helm.
"Tentu saja ada masalah, ternyata alasan Ayah membuatmu mengantarkanku ke sini itu agar kamu jadi pendampingku juga agar aku bisa masuk ke dalam." Ucap Serena.
Vatler mengernyittkan matanya.
Melihat reaksi Vatler yang terlihat idak pervaya itu. Serena buru-buru mnejelaskannya. "I-ini bukan rencanaku. Masa iya aku yang baru di kasih undangan ini satu jam lalu bisa tahu dan menghubungimu lebih dulu untuk mengantarku dan jadi pendampingku? Kamu tanya saja pada ayahku itu."
".........." Vatler, percayalah kepadaku. Aku sendiri baru sadar tadi, dan aku tidak membaca syarat khusus di belakang undangan ini."
"Penjelasanmu kacau, Serena." Pungkas Vatler.
"A-aku kan tidak pintar menjelaskan. Aku hanya mengatakan situasiku kepadamu." Gumam Serena. Nyalinya jadi tiba-tiba jadi ciut saat menghadapi Vatler yang terlihat seperti orang yang sedang marah kepadanya.
"Halo selamat datang Tuan dan Nyonya, bisa tunjukkan undangan anda?" Dua orang yang btugas menyambut tamu itu memeriksa uyndangan dan barang bawaa milik mereka.
'Itu. Mereka semua termasuk orang penting, sedangkaan Serena ni, kenapa Komandan tidak berangkat saja dengan Putrinya? Jadi ini alasanny aagar aku mengantar Serena juga, punya tujuan lain agar aku mewakilinya untuk menjadi pendamping Seren sebagai tamu undangan?'
Helaan nafas Vatler pun mengejutkna Sereena waktu itu juga.
"kalau tidak mau, kita pulang saja." Kata Serena."
"Tidak. Jika aku memabwamu pulang, aku juga yag akan disalahkan oleh Ayahmu." Ucap Vatler.
"N-nanti aku akan menjelaskannya kepada Ayahku."
"Akan aku sudah bilang, penjelasanmu itu kacau, siapa yang akan percaya dengan ceritamu jika kamu sendiri tidak bisa mengaur eskpresi wajahmu sendiri?" kata Vatler.
Serena tentu saja langsung diam mendengar katta sindiran dari Vatler yang ternyata cukup menusuk hatinya.
"Tunggu disini, aku akan segera kembali." Pinta Vatler, agar Serena tidak pergi kemanapun.
Hilang kata, hilang orang, Vatler pun meninggalkan Serena selama kurang lebih selama sepuluh menit, dimana azara resepssi pernikahan milik temannya, sekaligus teman ayahnya, juga akan segera di muliai.
HInggasampai dimana, Vatler kembaili, tanpa ada perubahan apapun dalam penampilannya itu.
Tapi berbeda dari sebelumnya yang pergi tanpa membawa aapun, saat ini Vatler membawa paperbag di stir motornya.
"Apa yang kamu bawa?"
"Pakaiankau. Jadi sekarang masik dan selesaikan kunjunganmu sebagai tamu secepat mungkin."
"Apakah berarti kita masuk dan menandatangani daftar hadir lalu pulang?"
"Itu bisa dicoba." jawabnya. 'Jika bukan karena dia anak dari komandan, sebenarnya aku malas untuk datang kesini.' Benak hati Vatler.
__ADS_1
Akan tetapi, dikarenakan tuntutan dimana seorang bawahan harus menuruti perintah dari atasan, maka peran Vatler disini pun harus dia jalankan.