
Pagi itu.
Tidak seperti Vatler yang saat ini sudah bersiap dengan koper berwarna hitam nya, yang artinya sudah bersiap untuk melakukan perjalanan panjang yang akan menguras tenaga dan perasaan sekaligus karena akan pergi liburan dengan dalih sebuah bulan madu, maka Risyella hanya membawa tas tenteng berwarna hitam yang tidak seberapa besar.
'Hmm...' Risyella pun benar-benar melihat Vatler turun sambil membawa koper berwarna hitam itu dengan cukup bergaya, karena hanya dengan memandanginya saja, Risyella dapat melihat kalau pria yang kini sedang turun itu akan pergi dinas. 'Keren.'
"Apa hanya itu saja barang bawaanmu?" Tanya Vatler setelah sampai di lantai satu.
"Iya." Jawabnya dengan singkat.
'Kenapa barang bawaannya terlihat sedikit sekali? Bukannya biasanya wanita akan bawa barang banyak? Tapi in-' Vatler lagi-lagi dibuat mengerutkan keningnya, dia sadar apa yang salah di sini.
Karena selama beberapa hari ini Vatler hanya sibuk dengan urusannya sendiri, dan malam tadi membuat keputusan tiba-tiba untuk pergi liburan karena perintah dari Marlina, Vatler jadi melupakan satu hal kalau dia belum memberlikan set lengkap untuk semua kebutuhan milik Risyella.
Seperti saat ini, dengan hanya menggunnakan tas tenteng yanng tidak seberapa besar, kesan dari wanita yang sudah menjadi Istrinya itu pun benar-benar jadi terlihat seperti kampungan.
Bagaimana jika Ibunya tahu?
Apalagi kicauan yang akan di berikan sang ibu kepadanya?
Ujung-ujungnya, disini Vatler lah yang akan di salahkan karena memperlihatkan ketidakpeduliannya kepada wanita di depannya ini.
"Tinggalkan itu." Kata Vatler singkat.
"He? Tapi kenapa? Kan ini semua barang keperluanku." Jawab Vatler seraya melihat ke tas yang sedang di bawanya.
Vatler yang sedikit malas untuk menjelaskannya panjang lebar, meletakkan kopernya di lantai, setelah itu dia berjalan dengan langkah lebar dan cepat menuju Risyella yang masih berdiri di depan pintu kamar.
'K-kenapa dia berjalan ke arahku? Apakah aku akan dimarahi karena aku membuat alasan padahal sduah menyuruhku untuk meninggalkan tas ku di rumah saja?' Risyella yang saat ini terbesit rasa takut dengan tatapan mata Vatler yang cukup tajam itu membuat Risyella refleks berjalan mundur sambil memejamkan matanya.
'Kenapa dia malah mundur.' Tidak membiarkan Risyella mudur terus, Vatler pun meraih tangan kanan Risyella dan..
"EH?" Risyella membuka matanya dan meliihat tas yang tadi Risyella pegang sudha di rebut oleh Vatler.
"Kita beli di tengah jalan. Jadi tidak perlu bawa apapun lagi." Ujar Vatler singkat, menarik segala kemungkinan yang sempat Risyella pikirkan sesaat tadi.
'OOhh~ Aku pikir kena-' Risyella pun langsung melihat penampilannya yang terlihat kampungan itu, karena hanya memakai sepatu, celana jeans, kaos dengan jaket saja.
Akhirnya Risyella tahu permasalahannya, yaitu dirinya yang tidak terlihat kekinian, menampilkan kesan dari orang kaya..
'Tapi mau bagaimana lagi? Aku kan hanya punya pakaian yang seperti ini saja.' Benak hati Risyella, merenung diri karena penampilannya itu tidak sebanding dengan suaminya yang terlihat seperti seorang model.
Bahkan jika di sandingkan bersama di tempat umum, Risyella pun berpikiran kalau dirinya adalah seorang pelayannya saja.
"Bawa yang paling di butuhkan, aku akan menunggumu di mobil." Imbuh Vatler, kembali menarik segala pikirann milik Risyella saat itu juga.
"Jadi aku ngga perlu bawa apa-apa nih?" Tanya Risyella mencoba mengkonfirmasi ucapannya Vatler barusan.
"Hmm...bawa tubuhmu saja sudah cukup." Kata Vatler lagi.
Seketika Risyella jadi salah tingkah sendiri saat mendengar kalimat yang terdengar ambigu itu.
"O-ok, aku akan bawa yang paling aku butuhkan saja." Risyella pun merebut kembali tas miliknya, lalu dia bawa ke dalam kamar lagi.
BRAK.
'Sialan, kenapa mulutku jadi mengatakan hal aneh seperti itu?' Vatler langsung menutup mulutnya itu dengan menggunakan telapak tangan kanannya, dan matanya melirik ke arah pintu kamar yang di gunakan oleh Risyella itu.
Sama hal nya dengan Vatler yang terkejut sendiri karena mulutnya mengatakan hal lain yang tidak pernah dia katakan kepada wanita lain, maka sama hal nya dengan Risyella.
Di balik pintu kamar yang sudah Risyella tutup itu, Risyella memejamkan matanya sambil mencoba mengatur nafasnya, karena jantungnya yang saat ini tengah berdebar cukup cepat, seolah dirinya baru saja melaksanakan lari marathon.
__ADS_1
'Kenapa Vatler menagatakan hal seperti itu kepadaku sih? Pikiranku kan jadi pergi kemana-mana.' Racau Risyella seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
Dia benar-benar sangat malu.
Tentu saja malu, karena kalimat itu adalah satu kalimat godaan pertama yang Risyella dapatkan dari seoran pria seumur hidupnya.
"Hahhh~ Tahan..ayo coba tahan. Masa hanya seperti itu saja aku sudah tergoda?" Tapi sayangnya rasa bahagia yang di dapatkan karena mendapatkan godaan dari Vatler yang tampan itu, tidak bisa membuat ekspresi Risyella di atur.
Risyella terus saja tersenyum-senyum sendiri seraya mengeluarkan semua isi tas miliknya dan memasukkan barang-barang yang paling dia butuhkan, seperti yang di instruksikan oleh suaminya itu.
Hanya barang yang paling di butuhkan, dan hanya membawa tubuhnya saja.
"Hahahaa.....aku jadi tidak bisa menahan tawaku." Gerutu Risyella dengan hati yang sedang terbawa arus suasana yang cukup menggemmbirakan.
Setelah selesai dengan urusannya, tantu saja dia langsung bergegas keluar dari rumah untuk masuk ke dalam mobil sedan berwarna putih itu.
"Biasanya dia memakai yang hitam, kenapa tiba-tiba putih?" Lirih Risyella, merasa aneh, karena selama ini yang Risyella pikirkan mengenai Vatler tentu saja pria itu adalah tipe orang yang menyukai warna gelap, tapi kali ini...
"Jika kamu berpikir kenapa aku pakai mobl ini, karena suasana hatiku saja."
'Maksudnya apa coba? Memangnya jika hitam maka dia jadi punya hati layaknya iblis, dan putih malaikat?' Tatap Risyella dari ambang pintu. 'Tapi sebentar, kenapa orang ini selalu punya tebakan yang tepat? Jangan-jangan dia punya ilmu untuk membaca pikiran orang lain?'
"Jangan berpikir berlebihan, ekspresi wajahmu selalu membuatku bisa menebak apa yang kamu pikirkan. Cepat masuk, jangan karena aku bisa menebaknya dengan benar, kita gagal berangkat." Jelas Vatler saat itu juga.
"Iya..iya." Risyella pun buru-buru masuk ke dalam mobil.
Dan kedua orang yang masih dalam nuansa pengantin baru itu pun pergi untuk menikmati liburan yang di dasari alasan karena harus mengadakan bulan madu yang di perintahkan oleh Marlina kepada mereka berdua.
____________
Di bandara.
"Wow...apakah dia seorang Aktor?" Satu pertanyaan yang berisi rasa penasaran itu berhasil menyita perhatian beberapa orang yang mendengarnya.
"Kamu benar, ayo kita coba tanya dan minta foto bareng." Ajak wanita ini kepada temannya itu.
"Iya, ayo."
Dalam beberapa waktu itu, perlahan uluhan wanita mulai berjalan mendekat untuk menghampiri Vatler.
"A-apa? Kenapa mereka semua berjalan kerah kita? Lihat tatapan mata mereka," Risyella yang panik itu, buru-buru berlari untuk menyusul Vatler yang sudah berjalan sedikit jauh darinya. "Dia seperti predator yang menemukan mangsanya!"
"Hei ayo..ayo, jangan sampai kehilangan pria tampan itu."
Dan perlahan namun pasti segerombolan wanita mulai membuat pasukan untuk mengejar mangsanya.
DRAP...DRAP....DRAP.....
Risyella yang takut dengan pasukan itu, secepatnya langsung berlari ke arah Vatler, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah depan untuk meraih tangan kiri Vatler, dan ..
"Ayo kita ikutin dia-"
GREP...
"EH? DiA JUSTRU MEMELUKNYA!" Terkejut meilhat wanita yang tidak lain adalah Risyella itu langsung memeluk lengan kiri Vatler, maka semua wanita yang ada di belakang mereka berdua langsung bereaksi ingin sama-sama menyentuh Vatler, maka dari itu mereka semua pun berlari mengejarnya.
"Ayo kejar."
"Ayo!"
"Vatler di belakang kita! Mereka mengejar kita!" Tekan Risyella sambil mengguncang-guncang lengan Vatler untuk menyadarkan Vatler kalau saat ini ada bahaya yang menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
Vatler yang merasakan tangannya di peluk sambil di guncang-guncang oleh istrinya dengan ekspresi wajah istrinya yang begitu panik ketakutan, lantas membuat Vatler langsung menoleh ke belakang, seraya melepaskan kacamata hitamnya.
"Kyaa..dia melihat ke arah kita!" Bertambah semangtlah mereka semua karena akhirnya bisa menemukan wajah tampan dengan penampilan luar biasa yang bisa di perlihatkan kepada mereka semua.
"Ayo..jangan sampai keduluan."
"Iya, kita harus mendapatkan foto dan tan-" Belum juga mengatakan semua yang ingin di katakannya, karena sebentar lagi bisa bertatap muka secara langsung, membuat salah satu diantara mereka mengurungkan niatnya, karena...
"Apa kalian mau membuat keributan denganku?" Tanya Vatler dengan kata-kata yang terdengar cukup mengancam. Apalagi mengingat saat ini Vatler memberikan tatapan yang begitu tajam.
"T-tidak."
Mereka semua perlahan memperlambat langkan kaki mereka semua, karena mendapatkan peringatan?
"Lalu apa tujuan kalian sampai membuat pasukan yang membuatnya takut?" Tekan Vatler seraya memgang atas kepala Risyella yang saat ini bersembunyi di belakang Vatler dengan pelukan di lengan masih belum terlepas juga.
"Siapa wanita jel-"
"..........." Vatler langsung memberikan tatapan paling dingin dan cukup mengintimidasi mereka semua sebelum mulut itu mengatakan kalimat menghina untuk Risyella, seraya berkata, "Bubar atau aku akan memanggil petugas keamanan," Ancam Vatler dengan handphone sudah ada di tangannya, dan tinggal menekan tombol panggilan.
"Jangan-jangan dia kekasihnya."
"Hei ayo, kita jangan sampai mendapatkan masalah, karena kelihatannya dia tidak main-main deng-"
"Antonio, apa kamu bisa mengurus bandaramu sendiri? Aku harus di repotkan dengan pengunjung yang tidak punya aturan ini." Kata Vatler, yang mana hal itu sontak membuat mereka semua langsung terkejut.
"A-antonio, beliaukan pemilik dari bandara ini?"
"Tidak, kita jangan membuat diri kita masuk kedalam masalah orang berpengaruh seperti mereka."
"Pergi-pergi, aku tidak mau terlibat masalah."
Dan para wanita yang hendak melakukan kegiatan swa foto karena mengira Vatler adalah aktor, membuat mereka semua mengurungkan niat itu karena ancaman yang terlihat cukup serius itu.
"Vatler, mereka semua ternyata mengincarmu." Gerutu Risyella, masih memperhatikan mereka semua yang perlahan pergi menjauh dari mereka berdua.
"Aku sudah terbiasa dengan seperti ini, jadi setidaknya kamu harus terbiasa. Ini salah satu konsekuensi jika menikah denganku." Kata vatler Vatler memberitahu Risyella bahwa ada banyak segala ancaman yang akan Risyella hadapi, apalagi seperti yang tadi.
Untuk Vatler itu merupakan hak yang sudah Vatler biasa alami, tapi Risyella?
"Kamu harus waspada, dan membiasakan hal seperti jni jika memang ke depannya akan terjadi lagi.
"Iya, baiklah. Tapi siapa orang yang kamu panggil tadi? Antonio itu." Tanya Risyella, karena Vatler tadi benar-benar menelepon seseorang.
Vatler kembali menyeret kopernya, lalu di susul dengan Risyella yang masih memeluk lengannya, entah karena masih takut atau karena tidak sadar kalau Risyella ini masih memeluk tangannya, Vatler pun tetap menjawabnya seraya memasang kembali kaca mata hitamnya.
"Dia yang punya bandara ini. Aku sengaja meneleponnya untuk memberikan dia peringatan juga, kalau disini keamanannya kurang ketat, sampai aku hampir di kerumuni oleh mereka." Jawab Vatler saat itu juga, lalu setelahnya Vatler kembali berkata, "Lalu, apakah kamu ingin terus memeluk tanganku?"
"EH? Maaf..aku, aku lupa." Risyella langsung melepaskan pelukan tanganya itu dari Vatler, dan berusaha membuat jarak dengan pria ini.
Akan tetapi, Vatler yang merasa kalau Risyella kembali membuat jarak dengannya, sedangkan ratusan CCTV benar-benar ada di sleuruh area sudut di bandara, maka hal itu pun jadi membuat Vatler masuk dalam ancaman, sebab saat ini Vatler tahu, kalau ada satu orang yang sudah pasti sedang memantaunya.
"Jangan minta maaf, lakukan saja lagi kalau kamu mau." Tawar Vatler, sengaja memberikan tawan yang cukup menggiurkan untuk Risyella yang ternyata,
GREPP...
Haus dengan sosok pria. Karena itu, Risyella dengan senang hati kembali memeluk tangan kirinya.
'Ibu pasti sedang melihat kami berdua dari CCTV itu. Aku harus baik-baik membuat Ibu terkecoh. Hah~ Ini agar melelahkan, tapi apa boleh buat. Dia...hanya dengan memeluk tanganku, kenapa wajahnya sebagaia itu?' Lirik Vatler terhadap reaksi Risyella yang terlihat bahagia.
Apa ini?
__ADS_1
Padahal beberapa waktu lalu terlihat takut, tapi sekarang bahagia?
'Apa-apaan dengan wanita ini? Dia selalu saja punya sisi yang aneh dan tidak terduga.' Batin Vatler.