
Setelah kepergian Robert, kini Vatler pun sendirian di dalam mobil. Dia akan terus menunggu perempuan yang saat ini sudah menjadi Istrinya?
Sangat benar sekali.
Ketika semua orang akan bahagia bersama, apalagi untuk sepasang pengantin baru, karena akhirnya bisa mendapatkan status untuk saling bersama dan saling melengkapi satu sama lain sampai seumur hidup, maka itu sangat berbeda dengan dirinya, Vatler dan Risyella.
Vatler sebenarnya tidak begitu merasakan apapun bahkan ketika dirinya saat ini ternyata sudah resmi menjadi seorang suami.
Namun apa yang kira-kira perempuan yang notabene nya sudah menjadi Istrinya itu rasakan?
'Kelihatannya dia senang sekali. Pastinya, siapa yang tidak senang bisa mendapatkan status tinggi dalam waktu singkat.' Pikir Vatler terhadap Risyella.
Dan saat ini Vatler pun dibuat untuk menoleh ke arah seberang sana. Sama hal nya dengan Robert, dimana Robert melihat Risyella dan keluarganya itu sedang bercengkrama riang sampai tertawa lepas, maka Vatler juga sama-sama masih bisa melihatnya dengan jelas.
Apa?
Tawa dari Istrinya yang begitu lebar. Bahkan sampai tertawa terbahak-bahak.
'Apa yang membuat dia bisa tertawa lepas seperti itu?' Benak hati Vatler. Dia sebenarnya penasaran, karena belum sekalipun bisa melihat tawa lepas milik Risyella itu, karena selama ini yang Risyella ekspresikan kepadanya adalah senang, juga ekspresi sipu malu, dan satu lagi, ketika wajah itu mengekspresi rasa kecewa alias sedih.
Tiga ekspresi itu selalu berkaitan kepada diri Risyella ketika ada di dekatnya.
Namun kenyataannya, ternyata Risyella mampu memberikan satu ekspresi lain ketika bersama dengan keluarganya?
"................." Vatler pun kembali menghadap ke atas, lalu mengangkat tangan kirinya ke atas, dimana saat ini di jari manisnya sudah tersemat cincin pernikahan miliknya. 'Hah~ Ternyata aku sudah menikah ya.' Vatler tersenyum miris, karena pada akhirnya dirinya tidak menikah berdasarkan cinta dari hati, melainkan menikah yang di dasari pikiran.
___________
"Tanpa sadar, ternyata sudah hampir tiga puluh menit." Ucap Ibunya Risyella, saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima sore, dan itu artinya setengah jam datang sudah.
Marlina pun sama-sama melihat jam tangannya, dan benar saja, waktu yang diberikan kepada Risyella untuk berbicara bersama dengan keluarganya artinya sudah berakhir.
TIN...TIN.....
Dan suara klakson yang dilakukan oleh Vatler pun menjadi pertanda, bahwa sekarang adalah waktunya untuk sebuah perpisahan.
"Risyella, Vatler sudah menunggumu." Beritahu Marlina,
Risyella pun berdiri, dan sempat menoleh ke arah belakang, yaitu kearah jendela. 'Dia ternyata benar-benar perhitungan. Kenapa tidak memberikanku waktu yang lebih lama lagi?' pikir Risyella.
Sebenarnya sungguh di sayangkan, kalau waktu yang dia miliki untuk keluarganya hanyalah setengah jam saja.
__ADS_1
Padahal setelah ini...kapan lagi dirinya bisa berkumpul bersama seperti ini?
Risyella sendiri tidak tahu kapan itu bisa terjadi lagi, mengingat Vatler adalah orang yang memiliki kesan untuk selalu sibuk dalam segala hal.
"Kelihatannya kita harus berpisah sekarang." Lirih Risyella dengan senyuman lemah. Dia kemudian memperhatikan keluarganya itu satu persatu.
"Syella, jaga dirimu baik-baik ya." Ucap sepupu pertama Risyella. Setelah itu satu persatu dari mereka pun berdiri untuk memberikan salam perpisahan secara pribadi.
"Risyella, aku mengucapkan selamat ya, akhirnya kamu bisa memiliki pasangan hidup." Ucap sepupu kedua Risyella.
"Iya. Terima kasih." Sahut Risyella.
Lalu datang lagi, seorang perempuan, dimana dia adalah kakaknya Risyella yang sudah lebih dulu menikah dan kebetulan memang sudah punya dua anak, dimana kedua anaknya saat ini sudah tertidur lebih dulu karena kelelahan, makannya Risyella pun jadi tidak bisa mengucapkan salam perpisahan secara langsung, karena takut mengganggu tidur mereka berdua.
"Risyella, selamat ya. Akhirnya kamu bisa menyusul juga seperti teman-temanmu." Kata kakak perempuan Risyella.
Risyella pun langsung memeluk tubuh sang kakak dengan cukup erat, sebagai salam terakhir mereka berdua karena akhirnya dirinya berpisah dengan sang kakak dalam posisi dirinya sudah menikah.
Itu jauh melampaui batas ekspetasi Risyella, karena di saat dirinya baru saja bisa bertemu dengan kakaknya karena sudah hampir setahun tidak pernah ketemu, di saat sudah bertemu, dirinya harus kembali di pisahkan oleh posisi mereka berdua yang sudah berbeda tempat.
Setelah puas memeluk kakaknya, Risyella langsung memeluk Ibunya. Ibu dan Ayah secara bersamaan.
"Ris, jaga kesehatanmu. Jangan lupa dengan kampung juga. Kami akan selalu menunggumu kapanpun kamu mau pulang." Kata sang Ayah, lalu melepas pelukannya.
"Ibu~" Air mata yang sedari terbendung pun akhirnya jatuh dan membasahi pipinya juga. "Tidak...ini memang salahku karena membuat Ibu selalu susah gara-gara aku yang sering keras kepala dengan kebiasaan burukku. Ibu cerewet juga karena ingin agar aku bisa berubah, tapi-"
"Sudah-sudah...Vatler sudah menunggumu, jangan membuatnya lebih lama menunggu lagi." pungkas Ibunya Risyella.
'Ah....' Mendengar itu, Risyella kembali di buat untuk menoleh ke belakang, ternyata Vatler masih saja menunggu di mobilnya. 'Kenapa dia tidak turun dan menyalami mereka semua?' Kesan Risyella terhadap Vatler kali ini pun jadi terasa jelek, karena Vatler seperti merasa enggan untuk bersalaman dengan keluarganya? 'Ah ya...ya. Mungkin beda level, jadi dia enggan untuk itu.' pikir Risyella terhadap Vatler yang ada di luar sana.
Setelah melepaskan pelukannya dengan Ibunya dengan ucapan seadanya, selanjutnya Marlina lah yang memeluk Risyella yang saat ini masih menggunakan gaun pengantin.
"Risyella, aku titip Vatler kepadamu, ya? Jika dia melakukan hal buruk, hubungi ibumu ini saja langsung. Ok?" Bisik Marlina tepat di samping telinga Risyella.
Risyella melirik ke samping, dan melihat wajah haru milik Marlina itu benar-benar menunjukkan kalau Ibunya Franz ini ternyata sedang bahagia?
'Kenapa ibu sebahagia ini? Dia benar-benar berharap aku bisa menjaga anaknya dan terus bersamanya ya?' Batin Risyella.
Dan apa yang dipikirkan oleh Risyella tidak salah.
Dimana harapan Marlina terhadap Risyella tidaklah begitu besar dan menutut. Yang diharapkan Marlina tehadap Risyella adalah agar Risyella menjadi pendamping hidup untuk Vatler, dimana Risyella hanya perlu merubah sudut pandang Vatler, bahwa yang harus Vatler cintai itu bukanlah pekerjaan, melainkan Istrinya sendiri, dan itu adalah tugas yang harus Risyella selesaikan.
__ADS_1
Tapi apakah Risyella mampu untuk memahami dari sifat dan karakteristik dari Vatler yang sekarang sudah menjadi suaminya itu?
Setelah melepas salam rindu sekaligus salam perpisahan, Risyella pun mengucapkan rasa syukurnya karena masih bisa di pertemukan dengan keluarganya.
"Dan kalau bisa, segera buan anak ya. Biar Ibumu ini bisa cepat menggendong cucu." Bisik Marlina lagi sebelum melepaskan pelukannya.
Karena ucapannya begitu lirih, maka hanya mereka berdua saja yang tahu apa yang baik Marlina bisikan maupun Risyella dengarkan.
Dan hal itu pu sukses menjadi akhir dari perbincangannya dengan mereka semua.
"Risyella, hati-hati ya di jalan."
"Iya."
"Jaga kesehatanmu."
"Jangan lupa oleh-olehnya ya."
"Ok." Jawab singkat Risyella terhadap semua ucapan perpisahannya.
Lalu mereka semua langsung melambaikan tangannya kearah Risyella yang berjalan kian menjauhi mereka semua.
'Aneh, aku jadi seperti anak kecil saja. Melambaikan tangan seperti ini.' Tapi demi apapun itu, Risyella merasa tidak begitu mempermasalahkan budaya untuk saling melambaikan tangan saat berpisah seperti itu, karena tidak ada ruginya juga untuk melakukan itu.
Setelah keluar dari rumah, alias Villa milik Vatler, Risyella sempat memperhatikan kembali keluarganya yang ada di dalam rumah itu.
Padahal baru saja keluar, tapi hatinya sudah merasakan rindu saja.
"Masuk."
Satu suara milik seseorang yang ada di dalam mobil pun berhasil menarik perhatian Risyella untuk menoleh ke belakang, dan berakhir dengan memutar tubuhnya ke belakang.
"Iya."
Risyella masuk kedalam mobil, dan setelah itu Risyella langsung di suguhi pertanyaan dari suaminya itu?
Benar, sekaran pria tampan yang saat ini sedang duduk di depan kemudi, adalah Vatler yang sudah resmi menjadi suaminya.
"Kenapa kamu masih memakai gaun itu?"
"Apakah...tidak boleh?" Toleh Risyella, melihat Vatler sudah bersiap untuk menjalankan mobilnya itu.
__ADS_1
"Tidak juga. Tapi bukannya ribet, terus di pakai?"
"Tapi aku suka...." Risyella menuduk seraya mengangkat salah satu sisi gaunnya. "Aku hanya ingin lebih lama lagi, memakai ini."