
“Turun, kita sudah sampai.” Kata Vatler, berhasil memecah keheningan diantara mereka berdua.
“Ah..iya…iya…” Jawab Risyella dengan gugup. DIa buru-buru melepas alat komunikasi yang terasang di telinga, dan bergegas turun dari helikoper lebih dulu.
Sesampainya di depan pintu rumah persis, kedua pintu itu seperti biasa, terbuka dengan sendirinya. Dan apa yang mereka menyambut mereka berdua adalah….
“Selamat datang, Tuann dan Nona.” Ucap para pelayan dengan serentak, menyambut kedatangan dari tokoh utama kisah dari mereka berdua.
Risyella yang sedikit terkejut dengankehadiran merkea smeua yang sudha berdiri dan berbaris untuk menyambut kedatangannya, tanapa sadar jadi sedikit meundur ke belakang.
‘Kenapa dirumah tiba-tiba ada mereka semua? Dan kenapa juga merek menyambutku juga?’ Pikir Risyella sedikit risih dengan keberadaan dari pelayan yang sedang berbaris di sampinng pintu itu.
“Kenapa mundur?” Vatler memegang bahu Risyella dan mengajaknya untuk kembali berdiir di sampingnya. “A-apa mereka semua karenamu yang memanggil mereka?” Tanya Risyella kepada Vatler yang terlihat tidak terusik dengan keberadaan rumahnya yang semakin banyak orang.
“TIdak, bkan aku yang mengutus mereka kesini.” Jawab Vatler.
“Lalu siapa?”
“Kenapa kamu seperti takut kepada mereka?” Tanya Vatler heran.
RIsyella kembali mundur sambil memegang ujung baju milik Vatler.
‘Apa dia tkut jika ada yang memakinya karena ida bukan berasal dari keluarga terpandang?’ Tetapi melihat ekspresi khawatir Risyella yang jelas terpampang di wajahnya, Vatler pun memberikan kode kepada mereka berenam dengan melambaikan tangan agar mereka semua pergi dari sana.
“........” Awalnya mereka semua slaing pandang satu sama lain, tetapi mereka tetap menuruti apa yang di instruksikan oleh Tuan muda mereka untuk pergi dari sana.
Tentu saja semua demi kenyamanan dari Nona muda yang terlihat engan dengan keberadaan mereka semua yang tiba-tiba muncul dan memberikan sambutan untuk sepasang kekasih yang sebentar lagi akan berubah status jadi suami istri.
“Mereka sudah pergi.” Kata Vatler.
Risyela yang seperti anak kecil yang sedang bersembunyi karena takut kepada orang dewaasa, Risyella pun keluar dari balik punggung Vatler.
__ADS_1
“.........’ Risyella mencoba mengamati sekitarnya, dan etelah benar-benar tidak ada para pelayan di sekitarnya, Risyella baru berani berjalan keluar dari tempat persembunyiannya. ‘Mereka benar-benar menurut. JIka bukan dia yang memanggil mereka berarti Ibunya?’ Seperti yang di pikirkan oleh Risyella, saat itu pula seseorang datang dari belakang dengan langkah cukup senyap.
Sekiranya sudah di belakang Risyella persis, sebuah suara keras langsung datang.
“DORRR…!”
“Akhhhh!” Risyella sontak langsung menjerit hebat dan saking kagetnya, Risyella langsung berlrai kabur masuk kedalam kamarnya, meninggalkan dua orang yang saat ini masih berada di ambang pintu.
“Muahaha….” Marlina segera mengeluarkan tawa keras yang cukup terbahak-bahak, melihat calon menantunya lari terbirit-birit karena berhasil di kejutkan. “Hahaha…dia lucu sekali. Dia takut atau kenapa? Samppai bisa sebegitunya.” Kata Marlina masih dalam twa yang dia coba untuk di tahan.
“.........” Vatlerr hanya memperhatikan Ibunya yang terlihat senang setelah mempermainkan Risyella dengan cara di kejutkan seperti itu. “Tertawa di atas penderitaan ya?”
“Hah~ Memangnya Risyella menderita?” Tanya Marlinna balik.
“Salah satunya para pelayan yang Ibu bawa. Kenapa mereka bisa ada disini?” Jawab sekaligus bertanya.
Sekalipun Vatler sudah sangat lama tidak pergi ke rumah utama, tapi Vatler masih sangat ingat dengan wajah para pelayan yang bekerja di bawah perintah ibunya itu.
“Acara apa?” Selidik Vatler.
Marlina tersenyum lebar dan menjawab, “ IIbu sudha memajukan hari upacara pernikahan kalian jadi besok.”
“Apa?! Tapi kenapa?! Tanggalnya sudah ditentukan jadi hari kamis minggu besok, kenapa jadi besok?” Tanya vatler dengan ekspresi wajah menuntut.
“Marlina mengernyitkan matanya, “Kan salahmu sendiri.”
“Salahku?”
“Ya..salahmu. Justru berduaan dengan wnaita lain, sedangkan Risyella terus saja menunggumu. padahal Ibu berharap kalian berdua bisa bersenang-senang, tapi apa yang kamu lakukan? Bersendagurau dengan wanita lain!” Jelas Marlina penuh dengan penekanan.
‘Darimana Ibu tahu? Apakah Ibuku melihat langsung atau Ibu lihat dari cctv?’ Vatler mencoba menebak, karena hanya dya hal itu saja yang terlintas di dalam pikirannya.
__ADS_1
“Siapa wanita yang kamu termui itu?” Tanya Marlina lagi, membuat sebuah pertanyaan untuk menginterogasi anaknya yang kurang ajar itu. Sebab membuar Risyella jadi menunggu seperti orang yang kehilangan arah, sedangkan Vatler malah bersenng-senang dengan seorang wanita cantik dan eksi.
“Dia hanya rekan kerja.” Jawab Vatler singkat.
Mendengar jawaban Vatler yang kurang memuaskan itu, tentu saja Marlina jadi menuduh. Rekan kerja apa? Jelas-jelas dia berpakaian seperti itu, pasti untuk menggodamu. Kamu diam-diam sudah janjian dengannya ya?” Pada akhirnya Vatler jadi di fitnah oleh Ibunya sendiri.
“Aku sudah bilang, dia hanya rekan kerjaku saja. JIka Ibu tidak percayaya sudah, aku tidak begitu berharap Ibu bisa mempercayai ucapanku juga.” karena terprovojasi dengan ucapan Ibu nya, Vatler memilih untuk pergi dari sana dari pada berdebat dengan Ibunya terus.
“Vatler.” Panggil Marlina dengan lantang.
Tapi seperti yang diperkirakan oleh marlina sendiri, Vatler tidak menggubris panggilannya dan lebih memilih pergi begitu saja.
Di sisi dapur, deretan pelayan yang tadi dimintai Vatler untuk pergi, sekarang sudah berkumpul untuk melihat tontonan yang mereka dapatkan.
“Ada apa ini? Kenapa nyonya terlihat marah? Padahal beberapa waktu lalu, Nyonya girang sendiri saat melihat Tuan Vatler berduaan dengan calon Istrinya.” Ucap salah satu pelayan yang tidak senagja jadi menonton drama pertenngkaran antara ibu dan anak.
“Ya~ Katanya Tuan sempat berduaan dengan wanita lain, padahal Nona Risyella menunggunya, makannya Nyonya memarahinya dan jadi menyalahkan Tuan.”
“Kalau aku, itu wajar sih. Coba bagaimana rasanya jika kalian sebenarnya sudah punya pacar, tapi akhirnya orang yang akan naik ke pelaminan bersama, justru orang lain yang bahkan tidak kalian kenal. Membuat kalian terpaksa menerima perjodohan itu, karena tidak ada pilihan lain. Coba rasakan, kira-kira seperti apa?”
“EKh… pasti kesal lah. Padahal sudah punya pacar, orang yang kita cintai, tapi akhirnya jadi cinta paksa. Siapa yang suka dengan hal itu?”
“Apakah Nyonya mengirim kalian kesini untuk bergosip?” Suara Rosie yang begitu rendah dan disertai aura yang cukup dingin yang begitu enusuk itu langsung datang menghantui mereka semua karea mereka semua berani melakukan hal diluar pekerjaannya.
“M-maafkan kai kakk!”” Buru-bur mereka semua berhamburan pergi dari sana.
“Haishh…bagaimana Nona tidak takut pada mereka jika mereka saja suka bicara di belakang seperti ini.
Rosie punn memperhatikan Ibu dan anak yang beberapa saat lalu sempat adu cekcok.
“Semoga saja besok bisa berjalan lancar tanpa ada kendala.’ Batin Rosie, kemudian pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1