
Setelah Risyella kembali memakai jas putih milik Vatler, tatapan mata Risyella pun menjadi sendu, karena dia bisa menikmati aroma milik Vatler yang tertinggal itu.
Risyella tersenyum dalam diam, sebab dia akhirnya mampu merasakan aroma tubuh milik pria yang saat ini sudah menjadi suaminya itu.
Aroma tubuh Vatler, yang menurut Risyella sendiri cukuplah menenangkan. Sampai-sampai, sebuah imajinasi yang dimiliki Risyella saat ini adalah dirinya itu justru seperti sedang di dalam pelukannya Vatler.
Risyella pun segera menarik segala pikirannya itu untuk mengucapkan salam perpisahan dengan kata, “Hati-hati di jalan ya.”
Mendapatkan salam perpisahan dari seorang wanita yang notabene nya saat ini adalah istrinya, Vatler tiba-tiba saja tersenyum simpul.
Tersenyum?
Pria seperti Vatler?
Tapi Risyella benar-benar tidak salah lihat, kalau pria setampan namun punya ekspresi seperti itu bisa tersenyum lembut kepadanya.
‘Apa ini? Kenapa dia punya senyum se seksi seperti itu?’ Senyuman yang Vatler berikan kepada Risyella pun berhasil membuat hatinya jadi meleleh.
Siapa yang sebenarnya bodoh?
Hanya karena senyuman yang diberikan oleh suami yang akan pergi meninggalkannya, hatinya merasa meleleh?
Persetan Risyella mau di anggap bodoh, bucin, atau apapun itu, dia tidak memperdulikannya, karena yang dia perdulikan adalah bisa menjadikan Vatler suaminya, dan tidak akan ada yang bisa memilikinya.
“Aku akan kembali.” Kata Vatler, dan dia pun akhirnya kembali menjalan mobilnya, sampai dia…
Meninggalkan Risyella sendirian di sana.
‘Tega ya.’ Tatkala keberadaan mobil milik pria itu sudah tidak dapat Risyella lihat lagi, senyuman milik Risyella pun semakin sirna. “Aneh, kenapa aku tidak dibawa sekalian? Aku kan bisa di tinggal di hotel atau cafe jika aku memang tidak diperbolehkan ikut dengannya. Kenapa aku justru di tinggal disini?” Ucap Risyella pada dirinya sendiri.
__ADS_1
WUSHH~
Angin yang cukup besar itu pun menerpa tubuhnya, sekaligus aroma asin yang terbawa itupun akhirnya sukses menarik perhatian Risyella untuk memutar tubuhnya ke belakang.
“..........” dalam diamnya itu, Risyella menatap datar pemandangan dari ujung cakrawala. “Apa yang dikatakan mendesak itu, kelihatannya dia pergi untuk menemui seseorang.” Terka Risyella.
Hanya saja, untuk Risyella sendiri jika mengingat Vatler saat ini sudah pergi meninggalkannya sendirian di tempat itu, kebahagian yang dimilikinya itu perlahan pudar juga.
Di samping dirinya saat ini sudah menikah, sebenarnya Risyella itu benar-benar punya banyak persepsi negatif setelah Vatler menikahinya, diantaranya adalah : “Apakah dia menemui seorang wanita? Kan bisa jadi tuh, karena takut aku bertemu dengannya, aku akan marah-marah karena aku iri Vatler ternyata punya wanita lain dan masih memiliki hubungan, makannya dia pun tidak mengajakku pergi. Lalu mengingat dia katanya adalah seorang yang suka bekerja, bukankah, berarti setelah ini, dia akan sering membuatku sendirian, seperti sekarang ini?” Berbagai pikiran yang Risyella ucapkan dengan mulutnya sendiri, membuat Risyella terkekeh sendiri.
Karena mendapatkan kebodohan dimana dirinya sanagt lemah terhadap wajah tampan yan dimiliki oleh Vatler, maka Risyella pun mau tidak mau harus menghadapi kenyataan pahit yang harus Risyella tanggung sendiir.
Kenapa?
Salah satunya adalah Vatler sudah memberitahunya sekaligus memberinya sebuah peringatan kalau Vatler tidak bisa memberi hatinya kepadanya, dan Risyella sendri sudah mengatakan jawabannya kalau dirinya tidak mempermasalahkan hal itu, maka dengan kat lain, Risyella baru saja membuat lubang kuburan untuk dirinya sendiri.
"Hahaha.....aku kan memang bodoh, demi bisa menikah dengannya dan memilii suami sepertinya, aku jadi tidak mempermasalahkan apapun keputusan yang dia buat untukku.Ya..dia memang tidak akan pernah memberikannya hatinya itu kepadaku, dan aku....dengan mudahnya menerimanya begitu saja. Apakah cinta memang benar-benar membuatku sebodoh ini sampai mau menerima hal itu?" Racau Risyella, dia pada akhirnya membicarakan dirinya sendiri yang terlihat bodoh itu.
Lalu demi membuang perasaan frustasi atas keputusan konyol yang Risyella buat sendiri, Risyella pun kembali terdiam.
"Dari pada memikirkan apa yang sudah terlanjur ini, lebih baik aku selfie dulu." Cetus Risyella. DIa pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang kecil miliknya itu, dan tidak lupa dengan sebuah tongsis yang sellau dia bawa kemanapun dan dimana pun itu. Kedua benda itu pun dia gunakan sebagai alat pendukung untuk mengabadikan dirinya sendiri yang saat ini sedang menggunakan gau pengantin serta untuk mengambil gambar dari pemandangan yang ada di sekitarnya itu.
CKREK..
Satu foto pertama saat dirinya merentangkan salah satu tangannya dan membelakangi laut yang ada di belakang sana.
CKREK...
Dalam berbagai pose, sudut, Risyella foto tanpa ada yang tertinggal sedikitpun. Bahkan jan aspal hitam nan lurus itu pun turut jadi objek percobaan untuk pengambilan gambar.
__ADS_1
"Kenapa cuma jalan aspal tebal dan hitam yang lurus dan terlihat mulus ini, menurutku jadi terlihat bagus ya? Apakah aku punya selera aneh, kalau aspal ini sungguh sangat sempurna?" Hembus RIsyella, dia tidak habis pikir kalau jalan aspal yang begitu sepi itu jadi pemandangan yang menurutnya cukup indah juga.
Sampai suara dari notifikasi datang.
TING....
Satu notfikasi itu berhasil mencuri perhatian RIsyella yang langsung tersenyum miris. "Dia menyuruhku jalan kaki ke Villa yang ada di ujung jalan ini? Vatler, kamu kan bisa menyuruh orang lain untuk menjemputku? Kenapa dia jadi seperti itu sih? Apa perasaanku saja ya? Aku merasa dia perlahan jadi berbeda dengan yang sebelumnya." Gerutu Risyella.
Setelah sepuluh menit dia mencoba untuk menunggu dan menunggu. Risyella justru diberitahu oleh Vatler kalai dia akan sedikit lebih lama, setelah itu Vatler menyuruh Risyella untuk pergi ke sebuah Villa yang ada di ujung jalan yang di lalui tadi.
Dan Risyella yang sudah memberikan balasan sebagai bentuk protes kepada Vatler agar ada yang menjemputnya, ternyata pesannya tidak kunjung di balas.
"........." Risyella terus ada di tempat yang sama, dan terus menunggu Vatler membalas pesannya, sampai Risyella mencoba menghubunginya, tetapi sayangnya semua usahanya itu gagal total, Risyella sama sekali tidak bisa menghubungi Vatler, entah berapa kalipun Risyella mencobanya.
Karena sudah begitu, Risyella pun menyerah untuk menghubungi pria itu, karena semua itu terasa tidak ada gunanya sama sekali.
"Vatler...kenapa dia tidak bisa aku hubungi? Apakah karena ponselnya mati?" Risyella sudah berekspresi cemberut, karena saat ini dirinya benar-benar sendirian di tengah jalan serta di tengah hutan yang kelewat sangat sepi itu seakan itu adalah kawasan yang cukup pribadi.
"Hah! Daripada aku diam di tempat saja tan tidak ada kemajuan dari usahaku untuk menghubungi suamiku itu, aku jalan kaki saja lah." Ucap Risyella pada dirinya sendiri.
Dan karena dirinya akan berjalan menggunaan sepasang kakinya yang sebenarnya sudah cukup lelah, maka untuk menjaga gaun indahnya tidak kotor atau rusak, Risyella mengangkat gaun bagian bawahnya itu sampai setinggi separuh kakinya, sedangkan sepatu high hiels yang dia pakai itu, Risyella lepas dan dia tenteng, agar kakinya tidak sakit karena dia dakan berjalan maraton.
Dikarenakan jalan yang akan dia lalui tidak bercabang, Risyella sudah pasti dengan mudah menemukan Villa milik Vatler yang satunya lagi.
Dan selagi itulah, untuk memecah keheningan yang ada, maka Risyella pun..
"Nananana...." Dengan langkah santai, Risyella bersenandung ria, berjalan sendirian di jalanan yang sepi itu. Alasannya apa? Karena dia saat ini tengah mendengarkan musik, dan dia pun jadi merasa tidak sendirian.
"Ok..karena ini hanya tinggal lurus saja, ayo kita lihat seperti apakah Villa milik Vatler yang satunya lagi itu."' Dengan tekad yang kuat, terlepas dari situasinya saat ini di tinggal sendirian gara-gara suaminya pergi karena urusan mendesaknya, Risyella sejujurnya masih ada sisa di lubuk hatinya untuk merasakan kebahagiaan, yaitu dengan cara mengingat pria bernama Vatler itu saat ini sudah menjadi semuainya.
__ADS_1
Itu yang bisa dia lakukan saat ini.