
Beberapa hari kemudian.
Saat itu Freddy akhirnya sduah memiliki uang sebanyak 30 Milyar. Dan denganuang sebanyak itu, Freddy bisa memberli sumsum tulang untuk Risya.
Dan sekarang Freddy bersam dengan Jensen, Angie, Selena, mereka berempat berkumpul besama untuk membahas sesuatu.
"Fredd, kau kan mantan pasukanku, kenapa kau tidak culik saja orang itu dan mengambil sumsum tulangnya? Kan semuanya bisa beres tanpa perlu mengelluarkan uang 30 Milyar?" Tanya Selena, tidak mengerti kenapa Freddy mau-mau saja membuat kesepakatan yang cukup memberatkan, karena akhirnya semua orang jadi terlibat dalam permasalahnya itu.
"Freddy itu seorang dokter, dia mana mungkin menggunakan cara kotor seperti itu. Benar, kan?" Cetus Angie.
Setelah malam itu, Angie pun melakukan segala hal untuk membantu Freddy mendapatkan sejumlah uang. Walaupun sampai sekarang Angie tidak menaruh perasaan kepada Freddy, tetapi Angie tetap menaruk kesan mendalam pada malam mereka berdua tidur bersama. Akibatnya, demi mencoba membuang perasaan tak terbalaskan dari Vatler, mulai saat ini perlaahn Angie mencoba mengejar Freddy, karena Angie berpikir dengan seiring berjalannya waktu, Angie dapat move on dari Vatler dan bisa menaruh perasannya pada Freddy.
"Hmm.... Kau benar. Sebenarnya aku memang mampu untuk menculik orang itu, mebiusnya dan secara diam-diam aku ambil sumsum tulagnya dengan cukup mudah. Tetapi sebagai dokter, aku harus menaruh menahan keinginan itu." Papar Freddy.
"Jadi rencana untuk operasinya kapan?" Sela Jansen.
"Nanti sore." jawab Freddy.
Jansen, Selena, dan Angie mencoba melirik karah jam dinding. Sekarang masih jam 9, yang arinya orang yang akan memberikan sumsum tulangnya untuk Risya akan sampai 3 jam kemudian. Setelah istirahat dan melakukan tes kesehatan, dan jik atubuhnya benar-benar dalam kondisi sehat, maka sore harinya barulah Freddy akan menjalankan operasi untuk Risya.
**************
Di hari yang sama.
Setelah hampir satu minggu menjaani perang dengan semua materi darai mata pelajaran yang ada, mereka akhirnya bisa menjalani kebebasan di samping mereka terus dihantui oleh nilai mereka yang akan di umumkan sebelum siang nanti.
Oleh karena itu, demi menghindari yang namanya rasa gugup bercampur tegang, maka pihak Osis mengadakan pertandingan basket.
Dan geudng olahraga yang hampir 1 bulan penuh tidak pernah dipakai, kini menjadi tempat paling ramai yang pernah ada. Sorak sorai memenuhi segala penuju dari gedung tersebut.
"Untung saja ide dari ketua Osos sangat bagus. Kita bisa melihat pertandingan basket ini lagi setelah hampir dua bulan lamanya." Ujar salah satu penonon. Merasa senang ketika melihat apa yang biasanya kaum perempuan tunggu-tunggu bisa dikabulkan oleh ketua Osis.
"Kau benar. Dengan seperti ini kita bisa melihat mereka berdua saling melawan!"
__ADS_1
"Kyaa...! Evan! Evan!" Suasana seakin bertambah meriah saat bintang utama dari acara tersebut akhirnya datang juga.
"Akhh.....! Lihat. Ketua Osis kita kenapa bisa keren begitu?!" Racau salah satu penonton dari kalangan perempuan.
Tapi bukan hanya sampai disitu saja, karean bintang utama lainnya juga tidak kalah mmebuat mereka histeris, yaitu Arshel!
"Akhh..! Arshel!"
"Kyaa...! Aku tidak menyangka, ternyata Arshel juga bisa bermain basket!"
"Arshel memang terbaik!" Teriakan kembali menggema dan semakin memeriahkan suasana di dalam sana.
Dan ditengah-tengah suara para penonton yang terus mengiis acara tersebut, Arshel dan Evan pun berdiri saling berhadapan.
"Kau pintar sekali memperalatkan untuk tujuan seperti ini." Ujar Arshel dengan sneuman mencibir, karena tidak puas hati kalalu dirinya dijadikan bintang tamu yang digunakan sebagai model utama untuk menarik perhatian para penonton.
"Jika aku tidak pintar ,maka aku tidak akan menajdi ketua Osis. Lagi pula, bukannya seorang Tuan muda juga seorang manusia dan memerlukan olahraga demi kesehatan juga?" Jawab Evan, sama-sama tersneyum mencibir pada Arshel.
"Ha!" Arshel langsung tertawa mengejek. "Kau ada benarnya juga. Tapi jika bukan karenaku yang sengaja kalah, kau juga tidak akan menjadi ketua Osis kan?"
"Tidak. Aku tidak menginginkan rasa terima kasih soal apa yang sudah berlalu itu. Tetapi untuk hari ini. Secara tidak langsung kau sedang memanfaatkanku untuk menjadi bintang di acara seperti ini. Bukannya tidak adil jika hanya kau saja yang mendapatkan keuntungan dari ini?"
"Jadi Tuan muda yang kaya raya ini menginginkna imbalan dariku? Aku rasa tarif untuk Tuan muda bisa datang bermain basket, sangat mahal nih, aku bisa langsung mengatakannya ke kepala sekolah untuk membayarmu, jika kau mau."
Arshel tersenyum simppul, "Tidak juga. Aku hanya menginginkan satu hal kepadamu." Setelah mengucapkan sesuatu yang berhasil membuat Evan penasaran, Arshel kemudian berjalan dua langkah kedepan. Setelah berdiri persis disamping Evan, Arshel pun membisikkan sesuatu. "Aku hanya memintamu agar nilai adikku yang bodoh itu tidak di cantumkan di daftar pengumuman nanti. Aku ingin kaulah yang mengatakan itu pada beberapa guru."
"Apa hanya itu?" Tanya Evan, yang sebenarnya cukup penasaran, kenapa rshel meminta hal seperti itu, kenapa nilai milik Risya tidak boleh dimasukkan kedalam daftar peringkat?
Tetapi melihat Arshel memberikan sorotan mata yang dingin seperti itu, maka Evan segera tahu kalau Arshel tidak mau dipermalukan dengan nilai milik adiknya sendiri yang sudah anjlok itu.
"Itu permintaan yang cukup mudah. Kau bisa melakukannya untukku kan?"
Awalnya Evan terdiam, tetapi Evan akhirnya menyetujuinya, karean menurut Evan sendirii, hal itu juga agar Risya tidak akan berkecil hati karena peringkatnya tidak di pampang di papan pengumuman nanti. "Aku akan melakukannya.
__ADS_1
PRITTT..........
"Kelompok A dipimpin oleh Arshel akan melawan kelompok B yang dipimpin oleh Evan. Pertandingan hari ini, akan kita mulia. Kalian berdu abersiap." Ucao sang wasit. Lalu bola basket yang ada di tangannya pun, wasit lempar ke atas. "Mulai!"
PRITTT............
"Evan! Evan! Evan! Ayo..! Buat kelompk B menang!"
"Jangan sampai kalah! Ayo ketua Osos!" Teriakan semangat dari kubu Evan pun langsung menggema. Tapi tidak hanya dari kubu Evan saja yang terus meneriakkan dukungan kemenangan untuk Evan, tapi kelompok pendukung Arshel juga tidak kalah heboh.
"Arshel! Ayo rebut kemenangan dari ketua Osis!"
"Kalahkan kelompok B!"
"Semangat! Jangan sampai kalah! Arshel! Kami akan mendukungmu terus!"
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Tapi dari kebisingan yang menyelimuti gedung olahraga, disuatu tempat, dihalaman belakang sekolah, Risya kini sedang duduk sendirian di taman tepat di bawah pohon yang cukup rindang.
Sayup-sayup angin yang datang itu, membuat Risya benar-benar menikmati keheningan yang terjadi di sekitarnya. Karena sebagian besar orang berkumpul utuk menonon pertandingan basket, maka Risya pun mendapatkan imbas yang cukup menguntungkan.
Tepat di hari besok, hari spesial yang biasanya di tunggu-tunggu oleh banyak orang. Hari dimana umur seseorang bertambah 1 tahun unutk setiap satu tahun terlewati. Hari yang membuat seseorang bahagia karena bisa bertambah dewasa, maka hari itu adalah hari untuk Risya berkabung atas kematian sang Ibu.
Bena..... Tepat dihari ulang tahunnya nanti, Risya juga akan merayakan kematian san Ibu yang meninggal tepat setelah melahirkan dirinya juga Arshel.
Risya seharunya merayakan ilang tahunnya. Tidak! Risya sebenarnya tidak memiliki niat sedikitpun untuk merayakan ulang tahunnya, karena bagaimanapun, bagi Risya, ulang tahun sama saja merupakan hari dimana umurnya juga berkurang atu tahun.
Karena itu, Risya tidak pernah sekalipun merayakan ulang tahunnya sendiri, karean di satu sisi dia merasa merayakan ulang tahun juga akan membuang-buang uang.
Tapi entah kenapa......
Di hari ini ada seseorang yang memberinya sebuah hadiah.
__ADS_1
Risya menatap paper bag kecil yang Risya dapat dari Bu Emi, selaku wali kelasnya. Tapi hadiah yang Risya terima juga sebenarnya titipan dari orang lain. Jaid Risya pun tidak tahu siapa yang sudah mengirimkan hadiah kecil itu untuknya.
'Siapa ya? Yang memberikan ini kepadaku? Bu Emi saja juga tidak tahu siapa.' Batin Risya. Karena penasaran dengan apa yang ada di dalam tas kecil itu, RIsya pun membuknaya. Satu hal yang mengejutkan untuk Risya adalah barang yang Risya dapat itu rupanya kotak perhiasan. Ukurannya sedikit besar dari kotak cincin, tapi juga lebih kecil dari kotak perhiasan untuk gelang.