Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
32 : IPHTV


__ADS_3

“Kau bilang apa? Sumsum tulang? Siapa yang membutuhkan donor itu?” Saking terkejutnya, Angie langsung membuang handuknya ke atas kasur dan berjalan menuju Freddy yang masih berdiri, namun kini ekspresinya seperti seperti orang yang terlihat seperti sudah putus asa. “Freddy!”


“..............” Freddy benar-benar merasa enggan untuk mengatakannya kepada Angie. 


Tapi disini, karena Angie adalah satu-satunya orang terakhir yang bisa Freddy mintai tolong, maka Freddy pun harus mengatakan rahasianya itu kepada Angie, agar Angie mau meminjamkannya uang.


Freddy melihat ekspresi Angie yang benar-benar menginginkan sebuah jawaban darinya. 


“Orang yang harus menerima donor itu bulan ini juga adalah-” Freddy sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, lalu berbisik di telinga Angie persis. “Risya.”


“................!” Angie langsung diam membisu.


Dia sama sekali tidak menyangka bahwa yang membutuhkan uang sebanyak itu adalah karena mau digunakan untuk membeli sumsum milik orang lain?


“Fredy, Arshel dan Vatler kan ada? Kenapa kau harus membeli sumsum itu kepada orang lain?” Tanya Angie. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa ketika ada dua orang yang memiliki kemungkinan cocok sangat tinggi untuk mendonorkan sumsum itu kepada RIsya, kenapa justru harus membelinya ke orang lain?


“Ini bukan keputusanku. Risya yang memutuskan untuk tidak memberitahukan penyakitnya kepada mereka,” Jelas Freddy.


“Sejak kapan?” Tanya Angie lagi. Dia sangat ingin mengetahui semua rahasia yang sudah Freddy pendam bersama dengan anak itu. Anaknya Vatler, tapi malah diasuh dengan tulus oleh Freddy. ‘Sebenarnya siapa yang jadi ayahnya? Kenapa Vatler yang merupakan Ayah asli Risya, Risya sendiri justru lebih dekat dengan orang lain. Kenapa keluarga orang itu benar-benar rumit seperti ini? Sampai Risya sebagai anaknya, malah enggan memberitahukan penyakitnya.’


“Dua bulan yang lalu.” Jawab Freddy singkat. 


“Apa sekarang dia sudah mengalami banyak gejalanya?” 


“Kau tahu sendiri, jika tidak segera dioperasi, itu akan membawanya ke situasi yang lebih buruk.”


“Tapi aku hanya punya uang 10 Milyar. Apa tidak bisa, dia memberitahukan saja kepada mereka berdua?” Harap Angie, agar situasinya tidak begitu rumit, maka lebih bagus memberitahunya kepada Vatler dan Arshel. 


“Risya tidak mau mendapatkan simpati dan perhatian mereka lagi. Dia sangat keras kepala ingin memendamnya sendiri.” Imbuh Freddy. 


DEG!


Angie yang awalnya terlihat seperti orang yang terkejut itu, tiba-tiba langsung tertawa. 


“Hahaha….yayaya, aku tahu. Sekarang aku tahu kenapa Risya bisa punya pikiran seperti itu, aku sudah tahu. Itu karena mereka berdua sudah membangun benteng itu dari awal, jadi alasan Risya tidak mau mengatakannya sudah pasti karena dia sudah merasa enggan lagi, berusaha mencari perhatian mereka berdua.” Racau Angie. 


Dia sekarang sudah sepenuhnya sadar bahwa, semua yang sedang terjadi ini akan memiliki akhir yang sama. 


Itu akan berakhir sama, jika membiarkannya saja. 


Tapi Freddy, dan Angie yang merupakan dua orang yang mengetahui lebih dalam seluk beluk sisi dari Vatler itu seperti apa, dia pun akan membantunya juga. 


Dia bersama Freddy akan mencoba merubah sedikit kisah cerita yang akan menemui akhir itu jika tidak segera ditangani. 


“Aku akan memberikanmu 10 Milyar itu. Tapi kau harus menunggu yang 3 Milyar itu.” Ungkap Angie. 


“Terima kasih,” sahut Freddy. “Kalau begitu aku per-” Tiba-tiba Freddy yang awalnya akan pergi, langsung dicegat oleh Angie. 


“Tunggu,” Pinta Angie, dengan tangan sudah memegang Freddy, agar Freddy jangan pergi lebih dulu. “Aku memberikanmu 10 Milyar itu, tidaklah cuma-cuma,” 


Freddy menatap wajah Angie yang terlihat memiliki sebuah harapan kepada Freddy. “Apa yang kau inginkan, agar kau bisa memberikanku 10 Milyar itu?” tanya Freddy.


“Kau harus tidur denganku.” Kata Angie, yang sontak membuat Freddy sedikit tertegun. 


“Apa hanya itu yang kau inginkan, agar aku mendapatkan uangmu?”


Angie memberikan anggukan sebagai jawaban, “Kau tidak perlu mengembalikannya, asal kau haru tidur denganku malam ini.” Tuntut Angie. 


“Tapi aku bisa mengembalikan uangmu nanti,” Tawar Freddy.


“Mau meminjamkanmu, atau memberikanmu, kau harus tidur denganku malam ini. Inilah syaratku agar kau mendapatkan uangku.” Tekan Angie, menuntut Freddy agar keinginan untuk mendapatkan uangnya adalah hal yang harus dibayar dengan harga yang setimpal, dan karena Angie sudah jelas tidak akan mendapatkan Vatler, maka Angie menginginkan Freddy ini.


Mendengar hal itu, Freddy jadi terasa seperti tidak memiliki pilihan lain, selain memuaskan Angie yang terlihat menginginkannya.


“Jangan salahkan aku jika aku melakukannya dengan kasar.” Cibir Freddy. Tanpa menunggu apa-apa lagi, Freddy pun perlahan berjalan mendekati Angie yang setiap langkah majunya, maka Angie akan berjalan mundur. 


Yang pertama Freddy lakukan adalah melepaskan mantel coat nya, dan sengaja menjatuhkannya dengan sembarangan. 


Bagai dua orang yang sudah memendam lama keinginan dari jati diri manusia yang menginginkan suatu kebahagiaan yang bisa dicapai oleh dua orang lawan jenis, Freddy pun langsung menggapai kepala Angie lalu langsung menciumnya. 


“Aumhph…” Angie segera merasakan sensasi lembut itu dan hal yang sama pun dirasakan oleh Freddy.


Ya..


Sekalipun yang Freddy cium adalah Angie, sayangnya dimata Freddy, dia membayangkan sebuah imajinasi bahwa wanita yang sedang dia cium itu adalah wanita lain. Wanita yang ternyata lebih dulu dimiliki oleh Vatler, yaitu Risyella. 


Sama halnya dengan Angie yang saat ini sedang menautkan bibirnya pada pria di depannya itu, imajinasi yang Angie dapatkan, justru adalah dia sedang dicium oleh Vatler. 


“Kau cantik,” Kata Freddy memuji Angie. Tapi sayangnya, lanjutan dari kalimat itu diperuntukan untuk, “Risyella,” Tambahnya. 

__ADS_1


Angie pun menatap Freddy dengan senyuman manisnya. Apa yang dia tunggu-tunggu selama ini akhirnya akan dia dapatkan. Meskipun, harus digantikan dengan orang lain. “Kau sendiri juga tampan, Vatler.” Sahut Angie, memuji balik Freddy. 


Benar, mereka berdua sama-sama memiliki kisah cinta bertepuk sebelah tangan. 


Oleh sebab itu, Freddy dan Angie pun mengungkapkan perasaannya masing-masing kepada lawan mainnya, yang mereka anggap adalah seseorang yang mereka cintai.


Sungguh sebuah kesalahan.


Tapi kesalahan seperti itu pun, tetap mampu menguntungkan mereka berdua. 


Diantaranya adalah melampiaskan keinginan mereka yang sama-sama terpendam lama. 


“Kau yakin mau melakukannya?” Freddy bertanya untuk mengkonfirmasinya lagi.


“Ya, aku ingin melakukannya.” Jawab Angie.


Karena sudah mendapatkan kesepakatan dari kedua belah pihak, Freddy pun kembali melakukan aksinya. 


Dia satu persatu mulai menanggalkan pakaiannya, sampai dia berakhir dengan bertelanjang dada. 


Sedangkan Angie, dia segera merangkul leher Freddy dan kembali membuat mereka saling menautkan bibir mereka. 


‘Risyella.’ Panggil Freddy dalam hatinya. Kini tangan kanannya yang kekar itu langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Angie, lalu menariknya agar lebih mendekatkan tubuhnya. 


Angie mengernyit saat pertama kalinya, dia merasakan tangan Freddy untuk pertama kalinya menyentuh tubuhnya dan sekarang tubuh mereka pun saling menempel satu sama lain.


‘Vatler, aku benar-benar sangat menginginkanmu.” Benak hati Angie saat merasakan ciuman itu ternyata semakin panas. 


Sampai tali dari Lingerie yang berada di kedua bahunya Angie, sudah sepenuhnya turun dan memperlihatkan dada miliknya secara gamblang ke arah tubuh Freddy.


Dan malam itupun, kamar tersebut akhirnya diisi dengan nuansa gairah yang tidak bisa mereka lampiaskan langsung pada orang yang mereka berdua sukai. 


Hubungan aneh yang hanya terjalin diantara mereka berdua akhirnya bangkit. 


                   *********


Tap...Tap...Tap…..


Langkah kaki dari pemilik sepatu boots itu pun terus berjalan menyusuri lantai marmer. 


KLEK.


Dan pintu utama dari rumahnya akhirnya terbuka setelah bibi Jeni memberikan sambutan hangat seperti biasanya, karena melihat majikannya sudah pulang.


Mata biru pemilik dari pria berambut hitam ini pun langsung mengedar pandangannya ke segala penjuru rumahnya. 


“Mereka berdua ada dimana?” Tanya pria ini, yaitu Vatler. 


“Tuan dan Nona muda berada di kamar Nona, Tuan,” Jawab bibi Jeni atas pertanyaan majikannya itu. 


“Apa mereka lagi akur?” Vatler memberikan jaket miliknya itu kepada bibi Jeni agar segera dicuci. 


Bibi Jeni langsung menerimanya, sambil menjawab : “Benar Tuan. Selama lebih dari setengah bulan ini, pertengkaran  Tuan dan Nona muda lebih sedikit daripada biasanya. Ditambah, sekarang Tuan muda sedang menemani Nona muda belajar.’ Lanjut bibi Jeni. 


Karena selama ini bibi Jeni adalah orang yang bertanggung jawab atas Arshel dan Risya selama lebih dari hampir 13 tahun itu, Vatler pun percaya dengan kata-katanya, termasuk semua laporan yang dia dapat selama kepergiannya. 


“Siapkan makan malam untuk kami semua,” Perintah Vatler.


Bibi Jeni sedikit membungkuk dan menjawab : “Iya Tuan.” 


Setelah mendapatkan jawaban itu, Vatler pun berjalan menuju lantai dua. 


Sekalipun, sudah diberitahu kalau Arshel dan Risya sedang belajar bersama, tetapi hati Vatler masih memiliki rasa penasaran itu.


Dan setiap langkah yang diambil, ternyata hal itu membawanya untuk melewati satu kamar yang selalu dalam kondisi terkunci terus. 


“.............” Semua kenangan dari masa lalunya ada di dalam sana. Karena itulah Vatler memilih untuk terus menguncinya. 


Tidak mau memikirkan hal yang membuatnya terjerat dalam masa lalunya lagi, Vatler kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar milik Risya. 


‘Aku belum pernah mereka berdua belajar bersama. Kira-kira seperti apakah ekspresi mereka saat serius belajar?’ Itu adalah salah satu dari rasa penasarannya dari sekian banyak pertanyaan yang masih mengganggunya. 


Namun, ketika Vatler hendak memutar knop pintu itu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dari dalam dan langsung mengeluarkan satu orang, yaitu Arshel.


‘Ayah?’ Detik hati Ashel saat melihat Ayahnya sedang berdiri di samping pintu dan sedang menatap ke arahnya.


Tapi disaat yang sama pula,


“Kembalikan!” Teriak Risya saat Arshel sudah keluar lebih dulu dengan membawa handphone nya. 

__ADS_1


Risya yang tidak ingin membiarkan Arshel kabur lebih jauh dari itu, segera membuatnya memilih untuk berlari.


“Arshel! Itu handphone ku! Kembalikan itu!” Teriak Risya lagi dengan kedua kaki sudah berlari keluar. 


Walaupun, teriakan ketiga milik Risya langsung tertahan saat dimana Risya yang baru saja keluar dari kamarnya langsung melihat sang Ayah sedang berdiri di depan kamarnya persis. 


DHUAK!


“AKhh…!” Risya yang tidak sengaja terbincang akibat kakinya sendiri, segera dibuat panik karena dia akan segera terjatuh.


GREP…


“Jangan berlari,” Ujar Vatler dalam sebuah peringatan, selepas tangannya dengan cekatan sudah berhasil menangkap tubuh Risya sebelum terjatuh ke lantai.


‘A-ayah?! Kenapa dia tiba-tiba pulang dan mendadak berdiri di depan kamarku?!’ Racau Risya saat dia akhirnya merasakan perutnya saat ini sedang tertahan oleh tangan Ayahnya yang terlihat cukup kekar itu. 


Risya seketika wajahnya merona sendiri. 


“Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Vatler khawatir. 


“Aku tidak apa-apa, terima kasih Ayah.” jawab Risya.


Sudut matanya berkerut ketika hal yang mengejutkan itu tiba-tiba terdengar di telinganya. Yaitu saat mendengar Risya mengatakan ‘Ayah’ dengan lancar. 


Entah itu jarang atau memang baru  pertama kali Vatler dengar, tetapi itu tetap membuat hati Vatler sedikit merasa tergelitik. 


“Oh ya! Arshel!” Risya yang teringat kembali dengan tujuan dari alasannya yang tadi tiba-tiba berteriak dan berlari, segera melepaskan dirinya dari tangan Vatler, karena dia harus mengejar pencuri itu. “Arshel, kembalikan itu!” Tuntut RIsya dengan nada tinggi. 


DRRTT…..


DRRTT…..


Risya semakin panik saat handphone nya berdering. 


“Siapa lagi ini? DF?” Tanya Arshel penasaran. 


‘Jangan diangkat!’ Teriak Risya di dalam hatinya. Lalu dia pun tetap berusaha mengejar Ashel yang berani bermain tangkap menangkap.


Tapi semua harapan itu langsung sirna, ketika Arshel benar-benar menerima panggilan dari nomor dengan nama sebuah inisial saja. 


“Jangan!” Jerit Risya sejadi-jadinya agar orang yang meneleponnya itu untuk tidak bersuara sedikitpun.


“Risya, apa kau baru saja menjerit hanya agar orang ini tidak berbicara?” Tanya Arshel, dimana tebakannya sangatlah benar. 


Risya langsung tertegun, dirinya sadar baru saja menjerit dengan keras, hingga Vatler sendiri langsung mematung. 


“Jangan-jangan kau sed-”


“Aku sudah bilang jangan mengganggu privasiku! Apa kau tidak dengar?! Tapi kau selalu memaksaku jadi seperti ini! Arshel, apa yang sebenarnya kau mau dariku?!” Bentak Risya, sudah tidak peduli lagi dengan respon atau tanggapan yang akan diterimanya nanti, karena sekarang dirinya benar-benar sudah sangat marah, bahkan ketika berteriak seperti itu kepada Arshel, air matanya pun sudah tumpah. 


Semua ini, Risya sebenarnya sudah tidak tahan lagi. Apalagi dengan kelakuan kakaknya yang selalu sok berkuasa, dan terus mengaturnya dengan ketat. 


Dia ingin memperbaiki nilainya, setidaknya untuk yang terakhir kalinya. 


Tapi apa yang terjadi, jika semua perasaan itu sudah hancur bersama dengan Arshel yang berani mengambil handphone nya, dimana handphone itu lebih sering mendapatkan panggilan dari pamannya, yaitu Freddy. 


Semuanya pun sirna, Risya sudah tidak lagi memiliki keinginan apapun lagi kecuali mendapatkan handphone nya kembali.


Karena hanya itulah satu-satunya barang yang bisa menghapus rasa kesepiannya. 


“Arshel, kembalikan itu.” Pinta RIsya, matanya sudah berkaca-kaca karena sesaat tadi sudah sempat keluar. 


“Arshel, kembalikan itu kepada RIsya.” Vatler pun angkat bicara, karena sudah tidak tahan lagi melihat pertengkaran yang apalagi membuat Risya menangis. 


Arshel langsung menggenggam erat handphone Risya. “Ayah pun, apa Ayah sedang menyalahkanku?”


Vatler mengernyit. “Aku hanya menyuruhmu mengembalikan handphone nya. kenapa hanya karena handphone, kalian jadi ribut seperti ini? Arshel, kembalikan itu. Jangan membuat suasana dirumah jadi kacau karena kau.”


“Kan, Ayah sedang menyalahkanku?” Arshel terus menjawabnya saat itu juga. “Dengar kan Risya? Ayah lebih memperhatikanmu, maka nya aku saat itu aku ditampar.”


‘Apa yang anak ini katakan?!’ detik hati Vatler.


“Semua itu karena ayah lebih mementingkan mu ketimbang aku.”


“Diam Arshel!” Murka Vatler, dengan kemarahan yang sudah mencapai di ubun-ubun karena melihat Arshel berani membuat kebohongan di depannya persis.


 


“.................!” Arshel dan RIsya pun sama-sama terkejut. Tapi yang lebih mengejutkannya lagi adalah setelah Arshel mendapatkan kemarahan kedua dari Ayahnya, Arshel dengan sangat sengaja langsung melempar handphone Risya.

__ADS_1


“Jangan!” Raung Risya, bergegas berlari menuju lantai pertama. 


Tapi sayangnya, karena perbedaan dalam hal kecepatan, handphone milik Risya pun sudah mendarat lebih dulu di lantai.


__ADS_2