
Sepasang langkah kaki itu pun berhasil memecah keheningan dari koridor rumah sakit yang sedang dalam kondisi sepi-sepinya.
Tentu saja sepi, karena sekarang sudah jam tengah malam, dan semua orang pun sedang istirahat.
Tapi tidak dengan mereka yang sedang tidur atau bersantai, Freddy tidak termasuk dalam kategori orang yang harus istirahat. Karena Freddy, dengan terpaksa harus begadang, sebab dia harus merawat pasien pribadinya sendiri, yaitu Risya.
Walaupun lelah, dan ditambah harus menyembunyikan kondisi mililk Risya dari orang lain, Freddy tetap berusaha untuk terus bertahan.
Karena apa?
Karena Freddy akan menghormati segala keputusannya.
Sekalipun sangat bertentangan dengan apa yang Freddy inginkan, tetapi dia akan menuruti kemauannya Risya.
KLEK.
Hanya saja, Freddy tetap merasa tidak enak hati, sekaligus merasakan kesedihan terbesar ketika melihat Risya yang kian hari kondisinya semakin memburuk.
Seperti saat ini. Freddy langsung dibuat panik ketika melihat Risya sudah terbangun dari tidurnya, tapi apa yang sedang Risya alami saat ini adalah Risya terus mual.
"Huek.......huek......"
Freddy pun berlari menghampiri Risya. Memberikannya tisu, air dan obat.
"Huek...."
'Sudah seperti ini, aku harus cepat-cepat cari mengumpulkan uang. Tinggal 500 juta lagi, tapi aku harus mencarinya keman-' Belum sempat berpikir sepenuhnya, Freddy tiba-tiba teringat dengan Selena. Teman lama, sekaligus satu-satunya orang yang ada kemungkinan untuk membantu soal keuangannya.
"Paman," Panggil Risya. Suaranya yang sangat lirih itu berhasil menyita semua pikiran Freddy agar terus sadar dari lamunannya tadi.
"Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Freddy.
"Apa.paman bisa menemaniku sampai tertidur? Aku ngantuk, tapi aku tidak mau tidur sendirian." Ungkap Risya.
Selama ini dirinya selau tidur sendirian. Bahkan sejak kecil dia terus tidur sendirian. Seperti apa yang namanyatiur tapi di tmani oleh seseorang? Risya sama sekali belum pernah mendapatkannya. Tidak..dia baru mendapatkanya atu kali, yaitu kemarin malam. Jadi karena itulah, dia menginginkan untuk yang kedua kalinya, sampai tiga kali juga?
__ADS_1
Risya hanya mengharapkan sampai hatinya merasa puas, sampai semua yang sedang dirasakannya itu setidaknya sedikit menghilang, karena teralihkan dengan kenyamanan yang dia dapatkan saat tidur tapi di temani oleh seseorang.
"Kau hanya meminta itu?"
Dan Risya mengangguk pelan sebagai jawabannya. Sampai Freddy sendiri jadi merasa iba, sebab Risya hanya menginginkan hal paling sepele. Risya tidak pernah sekalipun menginginkan hal yang berbau harus beli dengan uang, melainkan menginginkan perhatian dan kasih sayang bisa dia dapat, walaupun hanya sekecil kelereng, Risya tetap akan merasakan kebahagiaan itu.
Oleh karena itu, Freddy benar-benar tidak dibuat begitu repot untuk mengurus Risya, karena setiap kali Risya meminta sesuatu, itu adalah hal yang bisa Freddy berikan tanpa perlu pergi dan mengeluarkan uang sepeserpun.
"Sini bersihkan dulu mulutmu." Freddy mengambil tisu dari kotak tisu dan membantu Risya membersihkan mulutnya yang sudah kotor karena baru saja memuntahkan beberapa makanan yang Risya makan tadi malam sebelum tidur itu.
Dengan wajah tersipu malu, Risya membiarkan paman Freddy membersihkan mulutnya.
"Paman?" Tentu saja Risya sedikit terpegun ketika meihat paman Freddy itu tiba-tiba melakukan hal yang tidak pernah dilakukan, sampai mau menyeka mulutRIsya yang sebenarnya kotor dan Risya sendiri bisa membersihkannya sendiri juga.
Tapi melihat paman Freddy benar-benar memperlakukannya dengan penuh perhatin, hal itu pun sukses membuat risya terlarut dalam seusana yang aneh yang sedang paman Freddy buat itu.
"Kau seperti anak kecl saja ya?' Ledek Fredddy, berhasil membuat Risya brekspresi cemberut. "Tapi paman suka, karen apaman id bisa mengurusmu dengan tangan paman sendiri."
"Apa maksud paman, jika aku sudah bukan anak kecil artinya paman tidak mau mengurusku lagi?" Sahut Risya.
"Hanya saja, apa?"
"Janya saja, kau pasti lebih bisa mengurus dirimu sendiri ketimbang bantuan dari paman kan?"
'Aku juga tidak tahu paman. Apa yang bisa aku urus ketika aku sebentar lagi meninggalkan paman?' Risya menatap Feddy dengan cukup intens.
"Sudah, katamu ingin tidur. Akan paman temani sampai kau tertidur." Usap Freddy terhadap kepala Risya dengan gemas.
"Tapi paman, appa paman nanti bisa antarkan aku ke sekolah lagi?"
Mendengar kata Risya terus ingin pergi ke sekolah, berhasil membuat Freddy memberhentikan aksinya untuk mengelus kepala Risya. "Tapi Risya, kau lebih baik istirahat saja. Keadaanmu harus pulih dulu baru bisa masuk sekolah lagi." kata Freddy.
Risya langsung meringkuk, tubuhnya memang merasa sakit, tapi dia kaan bertambah sakit jika melihat dirinya seorang yang lemah di hadapan mereka.
Risya tidak ingin mendapatkan pandangan simpati sepert itu dari mereka.
__ADS_1
Melihat hal tersebut, Freddy membujuk Risya agar tidak memunggunginya. Freddy meepuk bahu Risya sambil sedikit memberikannya tekanan agar menghadap ke arahnya lagi.
"Risya," panggil Freddy.
Tapi Risya hanya memilih diam, seolah Risya sedang merungut alias marah kepada Freddy.
"Hah~" Freddy pun dibuat untuk menghele nafas pelan. Melihat ada satu orang yang sakit, tapi masih saja minta sekolah. Siapa yang tidak pusing jika Freddy terus memikirkan hal yang negatif, karena Risya bisa saja pingsan di dalam kelas.
Tapi dengan terpaksa, Freddy pun mengiyakan permintaan RIsya.
"Aku akan mengantarmu."
"...........!" Mendengar jawaban dari paman Freddy mengeiyakan permintaannya, Risya langsung membalikkan posisi tubuhnya lagi menghadap ke arah paman Freddy. "Paman-"
Tanpa di duga oleh Freddy sendiri, Risya mengulurkan tangan kirinya, dengan artian mengajak Freddy agar tidur bersama.
"Kasurnya kecil, Risya." Ffeddy berusha berada di akal sehatnya itu.
"Tidak, ini masih sisa banyak." Risya sedikit memundurkan posisi tubuhnya ke belakang agar bisa memberikan sisa tempat tidurnya kepada Freddy.
Tapi karena terlalu bersemangat untuk menyisakan tempat tidur itu, membuat Risya hampir terjungkal ke belakang.
"...........!"
"Awas!" Freddy yang panik, segera membungkukkan tubuhnya ke depan, dan menangkap tubuh mungil itu dengan sekali tangkap.
"Aah~...maafkan aku paman." Risya jadi ikutan terkejut karena teriakan Freddy tadi sedikit seperti bentakkan.
"Kau selalu ceroboh." Lagi-lagi Freddy dibuat menghela nafas panjang, karena tadi RIsya hampir saja terjatuh dari tempat tidur. "Sini, paman akan tidur di sampingmu."
Tepat setelah berkata seperti itu, Freddy pun melepaskan sepatunya dan naik ke atas tempat tidur untuk menemani Risya tidur.
Hingga jarak diantara mereka berdua pun langsung termakan dengan cukup banyak.
Sampai Risya saat ini jadi mendengar detak jantung milik paman Freddy. 'Ternyata detak jantung paman sengat bagus? Apanya yang bagus? Tapi ini sangat menyenangkan, karena detak jantun paman seperti melodi untuk pengantar tidur.' pIkir Risya.
__ADS_1
'Dia-. terlihat senang.' Freddy hanya bisa mengulas senyumam pahit, melihat Risya benar-benar sudah sangat bergantung kepadanya dari pada Ayahnya sendiri.