
Risya, ketika membuka kotak tersebut, satu hal yang membuatnya tiba-tiba menenteskan air matanya adalah karena yang Risya dapat itu adalah sebuah kalung nama, kalung yang terbuat dari emas itu benar-benar dibuat dalam ukiran dengan nama 'Risya'.
'Kenapa aku bisa mendapatkan ini?' Lalu sudut matanya pun mennagkap secarik kertas. Risya mengambil surat yang tertinggal di dalam tas kecil itu.
Isi suratnya.----
Untuk Risya.
Saya No Name, memberikan anda anda ini karena suatu permintaan yang saya terima 14 tahun yang lalu, untuk membuatkan kallung nama 'Risya' oleh Ibu anda, Nyonya Risyella. Lalu satu hadiah lagi yaitu jepitan dasi untuk saudara anda.
Anda bukalah busa dari kotak perhiasan itu.
Isi surat berakhir.
Sesuai dengan perintah yang tertulis di surat itu, Risya pun membuka bantalan busa dari kotak perhiasan itu. Setelah di buka, terlihat adanya kertas yang terlipat rapi di dalam sana.
Risya pun kembali membaca surat yang berbeda, yang ternyata kertas itu sduah mulai usang, sampai tinta yang tergores di atas kertas putih itu sedikit pudar, tetapi Risya masih mampu untuk membacanya.
Isi suratnya ________
Hallo, semoga surat dan baran ini benar-benar sudah ada di tangan anak mama. Uhm..aku risyella, di hari ini aku benar-benar akan menjadi seorang mama.
Di hadi ini, mama memesan 2 barang ini karena belum tahu apakan anak yang ada di dalam perut mama ini laki-laki atau perempuan. Mungkin terihat egois, karena mama membuat hadiah dari 14 tahun yang lalu.
Tapi mama melakukan ini karena mama tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, dan karena mama adalah seorang yang pelupa, jadi mama melakukan ini.
Maaf......surat ini terasa hambar ya? Tidak berkesan sama sekali?
Meskipun ekspresimu buruk saat membaca surat ini, mama akan tetap merasa senang. Rasa senang mama ada, karena akhirnya hadiah mama telah sampai di tangan anak mama.
Hahaha.....kenapa mama memesan nama Risya? Karean jika anak mama perempuan, mama ingin anaj mama ini bernama Risya. Tapi jika laki-laki, karena mama belum mencari nama untuk nam aanak laku-laki, makannya mama hanya bisa memberinya penjepit dasi. Pasti akan terlihat keren jika anak mama laki-laki, memakai jas dan memakai penjepit dasi itu.
Ah...! Tapi jika anak mama perempuan, pasti anak mama cantik. Yah`...akan mama beritahu padamu, jika kamu perempuan.
Standar kecantikan setiap wanita di mat alaki-laki itu selalu berbeda. Mereka punya seleranya sendiri, jadi jangan sampai berkecil hati saat ada yang mengataimu tidak cantik atau jelek, karena bagi mama itu kamu akan menjadi yang tercantik.
__ADS_1
Sampai disini saja, semoga anak mama selalu diberikan kesehatan, panjang umur, dan jadilah anak yang baik.
Sampaikan salam mama pada papa kalian, jika mama tidak sempat bertemu untuk mengatakan terima kasih mama pada papa kalian, karena papa kalian sudah memberikan hal yang terindah untuk mama.
Salam hangat,
Risyella.
Setelah membaca surat itu, Risya pun langsung meracau.
"M-mama?! Mama! Mama!" Racau Risya dalam tangisannya yang sudah pecah.
RIsya tidak menyangka akan mendapatkan hadiah yang begitu berharga dari sang Ibu yang sudah tidak ada di dunia ini lagi.
Senang bercampur dengan perasaan sedih. Senang bisa mendapatkan hadiah dan surat yang sudah disiapkan oleh sang Ibu puluhan tahun yang lalu, tapi perasaan sedihnya itu muncul sebab sang Ibu seperti sudah bisa memprediksi kalau dia tidak akan hidup bertahan lama setelah menyiapkan hadiah itu.
Perasaan yang cukup menyayat hati Risya, sebab sehari sebelum ulang tahunnya, hadiah dai Ibunya lebih dulu ada di tangannya.
"Huwaaa...... Aku ingin sekali bertemu dengan Ibu!" Ucap Risya di tengah-tengah tangisannya. Keinginannya untu bisa merasakan kasih sayang yang sangat di dambakan, membuat Risya merasa pilu dengan keadaannya saat ini.
Risya mencoba mengusap air matanya yang sudah membasahi wajahnya. Tetapi, mau seberapa banyak kalipun mencoba menghapus air matanya, air mata itu tetap saja keluar dari matanya.
Paman Freddy, orang yang selalu membantunyappun, walau pria itu memberikan banyak perhatian kepadanya, Risya tetap merasa kasih sayang dari seorang Ibu pasti lebih sangat terasa sampai kedalam hatinya yang paling dalam. Tetapi sayangnya Risya tidak pernah mendapatkannya, sebab sang ibu sudah lebih dulu meninggalkannya.
"Uhuk...uhuk...uhuk...." Risya tiba-tiba terbatuk.
Ketika dia membuka telapak tangannya yang tadi dia gunakan untuk menutup mullunya, noda darah itu ternyata keluar dan berhasil mewarnai telapak tangannya.
Matanya seketika mengernyit saat rasa sakit di sekujur tubuhnya kembali daatang. Namun, rasa sakit itu justru menjadikan wajahnya terhias oleh bibirnya yang tiba-tiba membuat senyuman lemah. Risya sudah mulai menduga kalau sebentar lagi adalah saatnya, "Uhuk...uhuk....uhuk...."
Secara perlahan penglihatannya semakin samar dan barang yang ada di genggamannya itu tiba-tiba terjatuh.
PIP--...PIP--...PIP--...
Sampai suara peringatan dari jam tangan yang selalu Risya pakai terus berbunyi, karena mendeteksi denyut nadi yang semakin lemah.
__ADS_1
"Ah~" Risya menyandarkan tubuhnya untuk bersandar ke batang pohon yang ada di belakangnya. Sambil mendongak ke atas untuk melihat langit yang kian mendung, Risya pun mulai memejamkan matanya.
Walaupun hatinya merasa sakit karena tidak mendapatkan apa yang di inginkannya selama ini dari sang Ayah, tapi hadiah kecil yang baru saja Risya terima, akhirnya menjadi obat penenangnya.
"Uhuk....uhuk.....uhuk....." Sekarang dia sduah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi setelag ini, karean Risya sudah merasa akan mendapatkan panggilan. Jalan untuk menemani orang yang sangat Risya rindukan. "Uhuk...uhuk...Ibu." Bisik Risya memanggil Ibu dengan nada lirih.
Dan suara detektor peringatan dari jam tangan punlangsung mengisi keheningan.
PIP------------------------
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Di saat yang sama.
Karena kebetulan orang yang menajdi pendonor sudah sampai di rumah sakit, saat ini Freddy sudah mulai mempersiapkan keperlluannya untuk operasinya Risya.
"Jansen, pilih dua orang perawat paling senior, lalu panggilkan Dr.Tony untuk membantuku." Perintah Freddy kepada Jansen. Jansen mengangguk iya sebagai jawabannya.
TING.....
Tetapi belum sempat pergi dari kantor, tiba-tiba Freddy mendapatkan notifikasi yang berhasil membuat ekspresi Freddy langsung menjadi pucat pasi.
"Ada apa Fredd?"
Freddy menoleh kearah Jansen sambil berteriak, "Risya!" Setelah membaca notifikasi pesan darurat yang Frreddy terima dari jam pengukur kesehatan yang selalu di pakai Risya, sontak Freddy jadi panik setengah mati. "Kau ikut akau!" Teriak Freddy lagi, lalu langsung berlari keluar dengan terbirit-birit.
BRAK!
Sampai pintu yang tidak bersalah itu, menjadi korban amukan Freddy.
Jansen segera menyusul Freddy dan bertanya lagi. "Apa yang terjadi dengan Risya?"
"Aku tidak tahu ini sudah terlambat atau belum, tapi aku sduah tidak menerima sinyal jantungnya masih berdetak."
"A-apa?" Jansen juga seketika dibuat panik. Tujuan utama akan diadakannya operasi trnasplantasi sumsum tulang akan diadan sore ini, tapi yang menjadi pasiennya sudah tidak bisa di selamatkan?
__ADS_1
"Kau terlepon Dany untuk memberikan kunci Helikopter. Biar aku sendiri yang mengendarainya." Peirntah Freddy lagi kepada Jansen, setelah itu Freddy pun menghubungi seseorang yang bisa Freddy andalkan itu.