Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
157 : IPHTV : Rasa pedih


__ADS_3

JDERR.....


Suara petir itu terus mengisi keriuhan dari hujan yang sedang turun dengan cukup deras.


Langit hitam membawa air penuh dengan kenangan paling menyakitkan untuk Vatler, hingga Vatler yang sudah jatuh terduduk di teras rumahnya, langsung berteriak.


"ARRGGHHHH.....!" Teriakan yang cukup kencang itu berhasil menjadi suara dari hatinya yang amat teramat sangat sakit itu.


Dia tidak menyangka, akan mengalami kali kedua rasanya di tinggalkan oleh seseorang lagi setelah waktu itu adalah Risyella.


Dan yang kali ini meninggalkannya adalah Risya, anaknya sendiri.


'Risyella, Risya, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.' Batinnya. Menyesali semua hal yang dilakukannya, baik itu waktu yang dia sia-siakan maupun karena dia tidak mampu menyadari kalau Risya menghadapi sakitnya seorang diri.


_________


"Hiks...hiks....kenapa Risya meninggalkan kita? Padahal dia anak yang imut, baik, walaupun tidak seceria teman-temannya yang lain, tapi Risya itu sangat membantu dan bertanggung jawab. Kenapa Risya tidak bilang jika dia sakit?" Ungkap Marlina.


"Nyonya~" Panggil Rosie, dia adalah pelayan pribadi Marlina yang cukup setia. Dari awal hingga akhir dari perjalanan yang di lalui oleh Tuan Vatler bersama dengan Nyonya Risyella, hingga sang Nona muda yang sagat mereka semua cintai, Rosie tetap tidak tertinggal dengan semua drama dari kisah perjalanan hidup mereka semua yang ternyata berakhir dengan menyedihkan seperti ini.


Rosie sendiri tidak menyangka juga, kalau kisah cinta dari Tuan Vatler bersama dengan Nyonya Risyella berakhir dengan kematian, tapi yang lebih membuatnya sangat sedih lagi adalah kalau Nona muda mereka juga turut menyusul sang Nyonya.


"Nyonya, anda harus makan dan Istirahat. Jangan sampai kesehatan anda memburuk lagi." Kata Rosie, memberikan peringatan pada Nyonya besar nya yang saat ini sudah berumur renta.

__ADS_1


"Tapi Rosie, Risya..kenapa Risya justru menyusul Risyella? Kenapa anak itu benar-benar tidak bisa menjaga mereka berdua? Aku jadi merasa sangat bersalah Rosie. Aku sebagai ibu, jadi merasa sangat bersalah, karena hubungan Vatler dan Risyella berakhir seperti itu, dan sekarang Risya juga menyusulnya."


"Nyonya, anda harus tenang. Ini sudah takdir dari yang di atas, jadi jangan terus menyalahkan diri anda, Nyonya." Ungkap Rosie lagi. Dia pun jadi merasa prihatin dengan keadaan keluarga Ellistone yang cukup berantakan ini.


Dari luar memang, nama Ellistone sangat di anggap terhormat, tapi di balik itu rupanya ada kisah cinta yang sangat menyayat hati.


"Kalau anda bersedih terus, Nona Risya pasti jadi tidak tenang. Saya mohon, mari kita istirahat di kamar." Bujuk Rosie lagi.


Dengan tangisan yang masih sesenggukan, Marlina pun di tuntun oleh Rosie menuju kamar, untuk menenangkan diri sekaligus untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, karena hampir seharian ini Marlina tidak henti-hentinya untuk menangisi kepergian Nona Risya.


_____________


Di saat Marlina bersama dengan Rosie, maka tidak dengan Arshel yang kini sedang duduk di meja belajarnya sambil menatap satu-satunya foto milik mereka berdua.


"Risya. Kenapa kamu meninggalkan kami dengan cara seperti ini? Bukankah ini cukup keterlaluan? Lihat nenek, dia jadi tidak mau makan, dan seharian ini menangisimu. Kamu selalunya membuat onar. Kenapa, kenapa kamu pergi dengan cara seperti ini sih?


Itu adalah awal dari pertengkaran Arshel dengan Risyella waktu mereka berdua kecil.


Tapi saat ini, semua pertengkaran baik itu kecil dan besar, semuanya tidak akan pernah ada lagi, sebab sekarang Arshel sepenuhnya dalam kondisi sendirian.


Dia tidak ada lagi yang namanya teman untuk berbicara, bertengkar, sekaligus menjadi murid untuk dia ajari.


Karena merasakan hal yang dengan apa yang mereka semua alami, Arshel membalikkan pigura itu agar tidak dilihat terus.

__ADS_1


Karena sekali melihatnya, satu sayatan di hatinya selalu datang melanda dan membuat sensasi sakit yang sebenarnya cukup menyebalkan, karena dia benar-benar merasakan kehilangan juga, sosok dari perempuan yang selalu Arshel ajak untuk bertengkar.


'Pantas saja, dia selalu mengeluh ingin istirahat. Tapi karena aku terlalu memaksanya, makannya sakitnya jadi makin parah.


Berarti secara tidak langsung-' Arshel tiba-tiba menunduk, lalu memegangi kepalanya dengan menggunakan kedua tangannya.


'Berarti secara tidak langsung, aku juga menyakitinya. Risya, kenapa kamu tidak bilang saja sejujurnya. Kenapa kamu malah jadi ikut bekerja keras karena aku menuntutmu agar punya nilai sempurna juga? Kenapa tidak bilang Risya..kenapa?' Racau Arshel di dalam pikirannya.


Dia sungguh di buat kacau, karena dia sungguhan mempermainkan adiknya sendiri untuk terus belajar, agar di saat ujuan akhir nanti bisa dapat nilai yang lebih tinggi.


Tapi karena tuntutan itu, Arshel jadi membuat Risya belajar lebih lama tanpa mendapatkan istirahat yang cukup, apalagi setara dengan kondisi tubuh Risya yang sedang dalam keadaan drop, tapi tetap di paksakan.


'Kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini? Risya, aku benar-benar bukan kakak yang baik. Aku menyakitimu lebih dari pada yang aku rasakan, karena sekedar tamparan dari ayah.


Ibu-' Kata terakhir itu pun membuat Arshel akhirnya mengeluarkan air matanya untuk pertama kalinnya.


Dia yang biasanya bersikap seperti orang dewasa, kini dia akhirnya memperlihatkan sisi dari kekanakannya, karena dia menagis.


"Ibu, maafkan aku. Aku jadi tidak bisa menjaga Risya dengan baik. Maafkan aku ibu, maaf..maaf." Lirih Arshel, dia sungguh menyesal dengan apa yang dia perbuat pada adiknya sendiri.


Dan dikarenakan Risya sudah tidak ada lagi, dia pun jadi tidak bisa mengeluarkan keluhannya lagi, selain pada dirinya sendiri.


'Karena aku juga, aku jadi di tinggalkan Risya. Risya...kamu sungguh jahat. Ternyata kamu memang benar memilih untuk menyusul Ibu, ketimbang menemaniku.' Dan Arshel yang akirnya di landa sebuah kesedihan itu, membawa Arsel untuk membaringkan kepalanya di atas tumpukan tangannya.

__ADS_1


Meskipun dirinya adalah lelaki, tapi nyatanya tidak membuat dirinya punya ketegaran yang tinggi seperti Risya itu.


Arshel jadinya menangis, dia menangis dalam diamnya. Menahan rasa sakit atas kepergian Risya, adik kandungnya sendiri.


__ADS_2