Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
108 : IPHTV : Demi Vatler dan Risyella


__ADS_3

Ketika dua dari sepasang calon suami dan istri itu sedang berduaan di tepi pantai sambil melihat cakrawala dengan duduk di pintu helikopter, maka di sisi lain, Marlina justru sedang memeluk dirinya sendiri sambil kegirangan. 


“Akh..Vatler, kenapa tiba-tiba dia bisa seromantis itu?” Kata Marlina dengan wajah senangnya. 


Tentu saja kenang, karena dia bisa dapat mengetahui apa yang sedang di lakukan oleh anak laki-lakinya itu bersama dengan calon Istri pilihannya. 


Karena melihat hal itu, rasa kesal yang terjadi tadi siang karena Vatler berduaan dengan wanita lain pun berangsur pudar. 


“Nyonya,” Panggil Rosie. 


“Aku pikir anak itu hanya bisa bersikap seperti tembok, tapi sekalinya melakukan hal yang tidak biasa seperti itu, ternyata dia bisa membuat suasana yang cukup romantis juga.” Ungkap Marlina lagi. 


Meskipun hanya bisa melihatnya dari balik layar saja, Marlina tetap merasakan apa yang dirasakan oleh Risyella saat ini. Oleh karenanya, situasi sederhana yang dibuat oleh Vatler dan Risyella pun membawa Marlina masuk kedalam Nostalgia miliknya bersama sang suami saat masih muda.


“Nyonya,” Panggil Rosie lagi. 


Dia sebenarnya tidak ingin mengacaukan kebahagiaan yang sedang di miliki oleh majikannya itu. Tapi dikarenakan ada tamu yang sedang menunggunya, mau tidak mau, Rosie jadi memanggil Nyonya majikannya itu. 


Tetapi seperti yang sebelumnya terjadi, Marlina pun tidak mendengar panggilannya Rosie, karena masih terbuai dengan pikirannya sendiri. 


‘Kenapa Nyonya jadi seperti ini. Nyonya benar-benar terlihat bahagia dengan hubungan Tuan muda bersama dengan calon Istri pilihan Nyonya. Padahal sangat jelas calon Istri Tuan muda berasal dari desa, dan sudah pasti tidak memiliki kemampuan bicara, gaya pakaian, serta pendidikan yang tidak tinggi. Kenapa nyonya mau memilih wanita yang seperti itu? Apakah ada yang sepesial dari calon istri Tuan muda?’ Pikir Rosie. Dia sebenarnya cukup penasaran atas pilihan yang diputuskan oleh Nyonya besar yang dilayani itu, justru lebih memilih untuk menjadikan wanita dari desa itu sebagai Nyonya selanjutnya. 

__ADS_1


“Kalau seperti ini, aku jadi semakin tidak sabar untuk menyatukan mereka berdua di atas pelaminan.” Kata Marlina. “Rosie, bisa percepat ap-” Namun ketika dirinya menoleh, dia langsung di jejerkan oleh beberapa orang yang sedang membawa gaun pengantin?


“Nyonya, sebaiknya buka mata anda lebar-lebar, para desainer yang mengerjakan gaun pengantin untuk Nona Risyella sudah sepenuhnya jadi. Dan mereka datang kesini untuk mengantarkan gaun tersebut, mengingat besok adalah hari H nya.” Jelas Rosie panjang lebar. 


Hal itu pun sukses menyadarkan Marlina dari kesenangannya tadi. “Hei, ini membuatku malu. kenapa tidak panggil aku dari tadi?” Bisik Marlina pada pelayan pribadinya itu, yaitu Rosie. 


Terapi dengan tenang, Rosie pun menjawab, “Nah dari tadi saya sudah memanggil anda. Tetapi apa yang sedang anda lakukan karena terbuai dengan kesenangan Nya sendiri, jadinya tidak mendengar panggilan saya, kan?” Jawab Rosie detik itu juga. “Anda kegirangan sendiri, jadi ya…apa boleh buat, selain menunggu anda selesai.” Imbuhnya. 


Sontak enam orang yang mendengar ucapannya serta tingkah laku kekanakan tadi, membuat mereka harus menahan tawa mereka, karena tidak seperti bayangan kalau nyonya besar Ellistone ternyata bukanlah Nyonya pemarah yang arogan dan sombong, tapi justru menyenangkan seperti itu. 


Demi menghapus suasana aneh yang dibuat oleh Marlina tadi, Marlina pun memperbaiki raut wajah dan gerak geriknya itu secepat kilat, “Ekhemm..Jadi kalian sudah menyelesaikan gaun itu?” Tanyanya. 


“Benar Nyonya. Dan ini adalah gaun yang sudah jadi.” Jawab salah satu desainer diantara mereka berenam. 


Mereka pun sedikit menjembreng gaun pengantin yang sudah susah payah mereka buat sampai harus begadang, karena harus diselesaikan sore ini juga. 


Marlina memperhatikan gaun yang di jembreng oleh mereka. 


Sebenarnya modelnya cukup sederhana. Tetapi karena adanya banyak brokat serta manik-manik kecil yang terbuat dari permata yang menghiasi seluruh gaun itu, maka harganya pun sejujurnya cukup tinggi. Apalagi ditambah karena pengerjaannya harus di percepat, maka dari itu, biayanya pun semakin bertambah dari harga awal. 


Merasa puas dengan hasil karya dari anak buahnya itu, Marlina pun mengulum senyum penuh kemenangan. 

__ADS_1


Karena sebentar lagi acara puncak itu akan segera dimulai. Dan Vatler serta Risyella akan menjadi dua tokoh utama dalam acara paling sakral yang pernah ada.


‘Sebentar lagi, pasti akan terwujud. Tenang saja Risyella, keraguanmu terhadap keluarga kami akan menghilang. Jadi tunggu saja sebentar lagi.’ Batin Marlina. 


Marlina sebenarnya tahu, kalau Risyella meskipun sudah mengiyakan ingin menikah dengan Vatler, tapi di wajah perempuan itu masih tersirat keraguan yang cukup dalam.


Siapapun pasti akan merasakan keraguan, karena tiba-tiba saja dijodohkan dan langsung dinikahkan. 


Karena itu, demi menghilangkan keraguan yang dimiliki oleh Risyella juga, Marlina pun memajukan hari besar itu jadi besok. Itulah alasan lain selain karena melihat Vatler berdua dengan Angie siang tadi. 


“Letakkan itu di kamarnya Risyella.” Perintah Marlina. 


Mereka semua membungkuk hormat, dan Rosie yang mewakili mereka menjawab, “Baik Nyonya,” 


Setelah itu, Rosie berjalan memimpin untuk mengantar mereka menuju ke kamarnya Risyella.


'Ahh…..akhirnya sebentar lagi Vatler bisa menikah dengan wanita pilihanku. Semoga saja tidak ada kendala lain. Dan Risyella….ngomong-ngomong, luka dari bekas jahitan yang ada di punggungnya persis itu, apa dari kejadian itu ya?’ Marlina pun menyandarkan tubuhnya ke belakang sambil mendongak ke atas untuk menerawang untuk menggali masa lalunya sendiri. 


Masa lalu kelam yang hampir terlupakan.


Jika tadi siang dirinya tidak melihat apa yang dimiliki Risyella di punggungnya itu, Marlina tentu saja tidak akan pernah mencoba untuk mengingat kejadian dari masa lalunya.

__ADS_1


__ADS_2