Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
114 : IPHTV : Hari H


__ADS_3

DRRTT...


DRRTT....


Dahinya terus mengernyit saat ponsel miliknya tiba-tiba saja berdering.


Angie yang kala itu sedang tertidur sambil memeluk bingkai foto milik kakaknya, perlahan membuka matanya.


"Siapa sih?" Angie menggerutu pelan karena tidurnya tiba-tiba saja di ganggu dengan suara ponsel miliknya.


Dengan gerakan malas, Angie meraba nakas miliknya untuk mencari keberadaan Ponsel miliknya.


DRRTT....


Setelah menemukan ponsel miliknya, Angie membuka matanya lebar-lebar saat dia harus terbangun dalam posisi yang mengejutkan, sebab apa? Karena~


"Gawat, aku terlambat!" Pekik Angie ketika deretan panggilan tak terjawab itu menjadi alarm darurat untuk Angie sendiri, untuk buru-buru pergi. "Haishh...kenapa aku sampai lupa kalau hari ini ada acara pertemuan Alumni ku? Semoga saja aku masih sempat." Gerutu Angie.


Karena sifat Angie yang tidak ingin terlambat dalam hal apapun, saat ini dia pun buru-buru pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.


Setelah mandi dengan cepat, Angie keluar dengan tubuh sudah di balut dengan handuk kimono. Dia berjalan menuju lemari dan memilih gaun putih dengan panjang selutut sebagai penampilannya untuk acara pertemuannya dengan teman-teman SMA nya.


Karena terburu-buru itulah, sekalipun Angie tidak menyempatkan dirinya untuk memakai make up, dia tetap memperlihatkan kecantikan dan keanggunan.


Banyak laki-laki yang menembaknya, tetapi karena hatinya hanya untuk Vatler seorang, maka dia terus membuat penolakan kepada semua laki-laki yang menyatakan cinta kepadanya.


"Ah..sudah." Angie tersenyum manis saat melihat penampilannya di depan cermin. Rambut panjang berwarna coklat itu pun, hanya dia ikat ke bekang menjadi satu, setelah itu dia berputar di depan cermin. "Sudah Ok nih." Puji Angie kepada dirinya sendiri. Tanpa ketinggalan sebagai pemanis untuk dirinya itu, Angie pun mengambil parfum dan menyemprotkannya ke bagain leher dan pergelangan tangannya.


Melihat penampilannya sudah cukup sempurna, Angie pun mengambil ponsel miliknya dan bergegas keluar dari kamar, dan buru-buru menuruni pulan anak tangga.


Namun, hal itu menjadi kesialannya sendiri.


Sebab salah satu kakinya salah mengambil pijakan tangga, hasilnya dalam seketika tubuh Angie langsung terhuyung ke depan, dan...


BRUKK.....

__ADS_1


Ponsel yang Angie pegang pun langsung terseret jauh di depan sana.


Dari situ, ponsel Angie tiba-tiba saja berdering, dan nama yang tercantum di layar ponsel Angie adalah Vatler.


Tapi sayang seribu sayang, harapan bisa dihubungi oleh Vatler itu, ternyata tidak membuat dirinya bisa mengangkat telepon nya, karena saat ini Angie sudah terbaring di lantai dalam kondisi terbaring dan tidak sadarkan diri.


__________


"Kenapa Angie tidak mengangkatnya? Biasanya jika aku meneleponnya, dia langsung mengangkatnya detik itu juga." Lirih Vatler.


Karena semalam dirinya tidak bisa datang ke rumah Angie untuk merayakan ulang tahun wanita itu, sebenarnya Vatler hendak membuat janji lain agar dilaksanakan malam ini juga.


Tapi apa yang Vatler dapat, seluruh panggilan miliknya tidak ada satu pun yang dijawab.


Tentu saja hal itu membuat Vatler jadi sedikit merasakan khawatir, karena Angie yang seperti ini, membuat Vater memiliki tebakan, kalau Angie sedang marah kepadanya.


"Tuan..." Satu orang pelayan mengetuk pintu beberapa saat, sebelum dia pergi masuk kedalam kamar milik Tuan muda nya itu.


Vatler buru-buru mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas, barulah dia berjalan menghampiri pelayan tersebut, yang ternyata ingin memberikan sepucuk undangan dari salah satu temannya yang akan menikah pada minggu depan.


Setelah memberikan undangan tersebut, Vatler menyuruh pelayan itu pergi dari kamarnya.


"Hah~ Jadi ini akhir dari semua wanita yang ingin kencan buta denganku?" Bisik Vatler, saat melihat nama yang tercantum di sepucuk undangan yang baru saja di terimanya itu, sebenarnya adalah perempuan yang pernah hendak berkencan buta dengannya. Tapi karena Vatler melempar tugas miliknya kepada teman-temannya, hasilnya temannya itulah yang mendapatkan wanita itu dan akhirnya menjalani pernikahan, seperti yang akan di adakan oleh Vatler saat ini. "Apakah aku harus datang? Sudahlah, aku pikirkan ini belakangan saja." Imbuhnya.


Dia pun meletakkan undangan itu di samping handphone yang tadi Vatler letakkan itu.


Setelah itu, Vatler memutar tubuhnya ke belakang dan berjalan mendekat ke arah jendela.


SRAK....


Tirai itu langsung Vatler tepis untuk melihat kondisi yang ada di halaman depan rumahnya.


WOSH...WOSH....WOSH.....


Baling-baling helikopter itu terus berputar dan membawa para penumpang pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


Lalu tempat apakah yang sedang mereka tuju, yaitu adalah ke Villa milik dari Vatler. Karena kebetulan Letak Villa milik Vatler letaknya sedikit jauh dari kota, maka dua helikopter yang bertugas itu pun melakukan antar jemput untuk para tamu undangan yang di undang oleh Ibu nya Vatler.


Dan saat ini, salah satu helikopter yang Vatler utus untuk menjemput para tamu undangan, akhirnya datang juga.


*


*


*


Perlahan namun pasti, helikopter berwarna hitam itu mendarat dengan cukup sempurna, sampai akhirnya baling itu semakin pelan.


DREEKK....


PIntu helikopter itu terbuka.


Beberapa orang perlahan turun dari alat transprtasi udara itu.


"Jadi pada akhirnya anak keras kepala itu menikah?" Satu orang wanita keluar dengan ucapan yang berupa sindiran.


"Ya...aku jadi penasaran, siapakah wanita yang Vatler pilih itu. Kan tahu sendiri, setiap kencan buta yang diatur oleh Marlina selalu saja gagal, dan berakhir dengan menikah dengan teman-temannya itu." Satu wanita lainnya pun turun, dan memberikan kata umpatan yang cukup dijadikan bahan untuk bergosip.


"Kalian berdua, diam saja kenapa. Tidak perlu bergosip di sini." Seorang laki-laki awal lima puluh tahunan itu akhirnya turun dan menengahi gosip dari mereka berdua.


"Marvin, kamu selalu saja membela anak itu." Cetus wanita ini kepada suaminya itu.


"Aku bukan membela, tapi kebiasaan kalian yang bergosip itu membuatku ingn muntah saja" ujar Marvin kepada Istrinya itu.


"Lihat itu kak, dia benar-benar membuatku kesal, karena setiap kali membahas anak itu, dia selalu saja membelanya." Ungkap wanita dengan jelingan mata yang tajam, kepada kakaknya yang saat ini berdiri di sebelahnya.


Mengabaikan istrinya yang sedang mengadu kepada kakaknya, Marvin pergi meninggalkan kedua wanita itu.


'Vatler?' Detik hati Marvin, saat matanya tidak sengaja melihat Vatler saat ini sedang berada di kamarnya sendiri dan tengah menatap ke arahnya. Sampai akhirnya Vatler yang saat ini sedang memakai jas putih, tiba-tiba saja menutup tirainya. 'Sudah lama seperti ini, dia masih saja berekspresi seperti itu, apakah dia tidak lelah?' Batin Marvin.


Karena di tinggal pergi, Marvin yang sudah tidak sabar melihat keponakannya itu, buru-buru masuk kedalam rumah, dan mencoba mencari keponakannya yang sudah lama tidak dia temui.

__ADS_1


__ADS_2