Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
65 : IPHTV : Lamaran


__ADS_3

"Karena itu, saya ingin mengajukan lamaran atas anak saya, Vatler kepada anak anda Risyella."


Setelah enam hari berlalu, kini tepat di hari ke tujuh, ketika Risyella dan Vatler saat ini sedang pergi berolahraga bersama karena Vatler sendiri yang mengajak, di saat itu pula Ibunya Vatler yaitu Marlina, mengajak Ibunya Risyella untuk mendiskusikan sesuatu.


"Sebentar," Ibunya Risyella langsung menyentuh dahinya. Dia bingung karena tiba-tiba Marlina membuat lamaran atas nama anaknya sendiri. "Bukankah kedatangan anda kesini adalah untuk liburan saja? Kenapa tiba-tiba Risyella diajukan lamaran oleh anda? Kita saja belum lama saling mengenal."


Dan isi dari diskusi itu adalah bahwa kedatangan dari Marlina bersama dengan anaknya itu memang disengaja untuk melamar Risyella secara langsung.


Dan karena itulah sekarang Ibunya Risyella langsung dilanda kebingungan sebab Ibunya Vatler mengatakan hal yang bersifat sensitif itu secara dadakan begitu.


Sekarang Marlina hanya tersenyum simpul seraya berkata : "Sya akui ini terlihat mendadak. Tapi tujuan kami sebenarnya memang untuk meminang anak anda Risyella agar jadi bagian dari kelaurga kami. Vatler, dia usianya sudah menginjak umur 27 tahun, sebagai Ibu saya ingin melihat anak itu menikah dan pilihan kami adalah Risyella lah yang akan menjadi Istrinya."


"Tapi kenapa Risyella? Di luarkan banyak sekali perempuan yang mengantri."


"Saya tahu. Vatler memang bisa dengan mudah bisa memilih perempuan sesuka hatinya karena dia memang punya daya tarik yang besar untuk memikat banyak perempuan. Tapi sebagai Ibunya, saya tidak ingin anakku justru memilih perempuan secara sembarangan.


Anda harus tahu, terlepas dari pnampilan luarnya yang terlihat cantik, kira-kira bisakah kita menebak isi pikiran perempuan yang sebenarnya? Saya sudah melihatnya sendiri selama 1 minggu ini.


Risyella lebih baik untuk anak saya saja. Bukankah ini kesempatan bagus untuk RIsyella agar bisa menikmati apa ang belum pernah dia nikmati?


Kami akan menjamin kebutuhannya, karena itu biarkan Risyella menjadi menantu kami." Terus terang Marlina.


Tidak segan-segan dengan segala hal yang saat ini sedang dia pikirkan atas soal Risyella, karena Marlina sudah mantap untuk memilih Risyella sebagai bagian dari keluarganya.

__ADS_1


Apa alasannya, karena Marlina seperti melihat dirinya sendiri ketika muda. Karena itulah, Marlina merasa nyaman jika Vatler menjadikan Risyella sebagai Istrinya.


"Kalau soal ini, lebih baik bertanya kepada Risyella secara langsung." Ujar Ibunya Risyella. "Karena jika orang tua yang memutuskan ini, kesan sebagai orang tua di mata Risyella, dia pasti akan menganggap kalau kami seperti menjualnya." Imbuhnya.


Marlina pun dibuat menganggu setuju. "Anda benar juga." Marlina tersenyum senang penuh harap. Setelah satu minggu menginap bersama di rumah Risyella, Marlina pun sadah sangat yakin akan keputusannya untuk memilih Risyella sebagai menantunya.


Marlina dan suaminya sebenarnya sudah lama mencoba mencari wanita yang cocok untuk Vatler. Mengingat Vatler terlihat tidak peduli dengan kehidupan pribadinya yang diusianya itu sudah pas untuk memiliki hubungan pernikahannya sendiri. Meskipun disisi lain mereka berdua memang sudah sangat menginginkan seorang cucu.


***************


Malam harinya.


"Apa?!" Pekik Risyella. Dia terkejut karena Ibunya Vatler tiba-tiba menyatakan kalau tujuan sebenar dari mereka berdua untuk menginap dirumhanya hanyalah sekedar kedok untuk memperhatikan kehidupan pribadi Risyella.


Vatler yang baru saja selesai makan itu ikut mendengarkan percakapan itu dan langsung menghela nafas pelan. 'Sudah aku duga, tujuan Ibu adalah untuk ini.' Pikir Vatler, memperhatikan Risyella yang lagi-lagi terkejut itu. 'Apakah dia memang orang yang mudah terkejut sepert iitu? Tapi....aku kenapa juga turut jadi malu sendiri saat Ibu lah yang menyatakan pertunanganku untuk wanita itu?' Vatler pun tiba-tiba tersenyum mencibir dalam diamnya.


Risyella pun sejujurnya sudah tersipu malu.


'Pilihannya tentangku? Memangnya apa yang kira-kira Vatler pikirkan tentangku ya?' Benak hati Risyella. Dia sangat berharap kalau kali ini bukanlah mimpi yang Risyella mimpikan beberapa hari yang lalu.


Risyella diam-diam melirik kearah Vatler yang kapanpun dan dimanapun itu, Vatler selalu bersikap cukup menawan, karena terlihat seperti orang yang memiliki perhitungan tinggi dalam segala situasi yang ada, dan itu adalah kesan Risyella terhadap Vatler. Baginya Vatler itu terlalu sempurna untuknya, dan..


'Apakah aku boleh serakah tentang ini? Pernikahan? Istri? Dengan dia? Apakah aku pantas mendapatkan takdir seperti ini?' Namun jauh di dalam hatinya, Risyella terbesit rasa khawatir kalau dirinya bukanlah wanita yang pantas untuk pria seperti Vatler. Karena itulah, Risyella pun kembali angkat suara. "Maaf, tapi...seperti yang kalian tahu. Aku bahkan tidak memiliki pendidikan tinggi. Kenapa anda memilihku sebagai-"

__ADS_1


"Aku tidak mempermasalahkan latar belakangmu." Sela Vatler saat itu juga, dimana ucapan yang Vatler lontarkan itu sukses membuat Risyella mematung.


"Benar. Lagipula, jika kamu menolaknya, apa tidak sayang dengan tampang anakku yang menggoda ini diambil perempuan lain?" Ujar Marlina sambil tersenyum lebar seraya ujung jarinya menekan-nekan lengan Vatler ynag punya otot cukup kekar.


"Jangan menjadikanku sebagai objek pilihan." Kata Vatler memperingatkan Ibunya yang selalu saja berkata sembarangan dengan kalimat-kalimat yang bagi Vatler itu, terasa sudah mencoreng citra keluarga Ellistone.


"Bukankah kenyataannya tampilanmu jadi nomor satu sebagai pilihan semua perempuan ya?" Sahut sang Ibu, lagi-lagi memberikan pernyataan yang membuat orang semakin memandangnya sebagai orang aneh.


'Apa ini? Aku siapa? Aku dimana? Ini aku benar-benar bukan berada di dalam mimpi kan?' Risyella terus menerus mencoba menenangkan dirinya sendir ketika harus memahami situasi yang ada di depannya itu gara-gara Ibunya Vatler memilihnya sebagai calon menantunya? Sekaligus menjadi calon istri Vatler?


Selama satu minggu bersabar menampung dua orang asing ini, inilah yang Risyella dapatkan.


Mendapatkan Jackpot bisa mendapatkan pria idamannya!


'Padahal aku pikir perjodohan hnayalah cerita yang ada di daam novel saja. Tapi ini?' Risyella kembali diam-diam mencuri-curi pandanga Vatler, hingga tindakannya itu langsung diketahui oleh Vatler sendiri. 'AH! Mata kami bertemu!' Racau Risyella, tidak kuat menghadapi tatapan pria berkharisma seperti pria itu, Vatler.


"Bagaimana dengan jawabanmu?" Tanya Ibunya Risyella melihat anaknya itu dari tadi diam saja.


"Aku....aku mau." Jawab Risyella dengan sipu wajah malu. Siapa yang tidak malu ketika pria yang akan menjadi calon suaminya itu, 'Kenapa dia terus menatapku?!'


BLUSSH....


Melhat wajah lucu Risyella karena bersikap malu-malu seperti itu padahal tadi terdengar semangat menjawab Iya, membuat Vatler memejamkan matanya dan tersenyum tipis. 'Aku akan mengakui, kalau dia memang cukup unik. Tapi-' Vatler membuka matanya lagi, tapi kini tatapannya itu adalah sorotan mata sayu. 'Memangnya dia bisa menghadapi laki-laki sepertiku?' Pikir Vatler.

__ADS_1


Vatler sebenarnya bukanlah orang yang bisa begitu ramah pada semua orang, terutama kepada wanita.


Oleh sebab itu, jauh di dalam hatinya Vatler bertanya-tanya apakah Risyella mampu menghadapi sifat sejatinya?


__ADS_2