Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
56 : IPHTV : Titip Dia.


__ADS_3

"T-tapi ini sangat banyak. Bagaimana kalian segampang itu memberikan uang pada orang asing sepertiku? Tanya Risyella dengan air mata sudah tumpah membasahi wajahnya. "Aku cari uang sebanyak ini saja sangat susah, kenapa kalian begitu entengnya membuang uang? Hiks.."


Vatler dan Marlina jujur saja terkejut dengan reaksi Risyella yang bukannya senang diberi uang banya, tapi justr umenangis?


Bagaimana tidak menangis, jika uang yang diberikan ibunya Vatler secara cuma-cum aitu bagi Risyella sama saja sebagai bentuk penghinaan.


'Risyella sungguh berbeda. Kelihatannya sebagai bentuk terima kasihku padanya, aku harus menggunakan cara lain.' Pikir Marlina.


'Kenapa aku seperti memegang ranting? Jika aku menguatkannya lagi, aku rasa pergelangan tangannya hancur.' Vatler pula berpikiran lain, karena baru saja mencengkram pgelangan tangan Risyella yang begitu kurus.


Lain orang lian pikiran pula. 'Aku mau banget uang ini. Tapi mau bagaimanapun masa aku meneria uang sebanyak ini dengan cuma-cuma? Kan rasanya aku seperti mata duitan.'


*************


Esok paginya.


Risyella yang saat itu sedang mengeluarkan motornya keluar, sesuatu yang mengejutkan pun kembali terjadi..


"Kau mau pergi?"


"Hii!!" Suara yang lagi-lagi muncul di belakangnya persis, berhasil mengagetkan Risyella dan membuat motor yang sedang Risyella naiki langsung oleng kesampi kanan.


GREEP..


Untungnya Vatler yang awalnya hanya berdiri di ambang pintu, dengan sigap segera menahan motor Risyella yang hhampir roboh itu.


"Kenapa kau selalu muncul dengan tiba-tiba?!" Tanya Risyella dengan sedikit berteriak, sebab geram dengan kemunculan Vatler yang selalu tidak bisa Risyella prediksi kapan sudah berada di belakangnya persis.


"Apakah itu mengejutkanmu?"


"Siapapun pasti terkejut. Aku itu tidak punya isnting yang baik untuk merasakan kehadiranmu itu." Racau Risyella, lalu memperbaiki posisi motornya agar bisa Risyella keluarkan.


"Risyella, kau mau pergi keluar kan?" Marlina tiba-tiba hadir, seperti seorang murid yang harus absen setiap pertemuan.


"Iya. Apa anda mau titip sesuatu?" Tanya Risyella menawarkan di.


"Hmm..." Marlina sekilas membuat ekspresi wajah berpikir, sebelum memutuskan untuk menjawabnya, "Aku titip anakku padamu saja. Ajak dia pergi juga. Ya kan, Vatler?"


'What?!' Risyella langsung melongo. 'Membawa laki-laki ini? Bukannya titip makanan atau apa, kenapa titip anakkmu kepadaku?!' Teriak hati mulai keluar, tapi tidak bisa di dengar oleh mereka berdua.

__ADS_1


"Aku tidak ingin pergi." Sela Vatler.


Tidak puas dengan jawaban Vatler, Ibunya kembali berkata : "Maka kau tidak berhak masuk kedalam rumah." Marlina mendorong tubuh Vatler untuk keluar dari rumah.


"Kalau begitu, aku hanya tinggal pulang saja." Sinis Vatler.


"Berarti kau pulang saja sendiri. Aku bisa membekukkan semua rekeningmu. Tidak ada hanphone juga." Dengan lidah menjulur, Marlina memperlihatkan handphone milik Vatler yang sudah berada di tangannya.


Rsyella yang malas mendengar perdebatan antara ibu dan anak, memilih untuk menyalakan mesin motor dulu. Setelah beberapa waktu, Risyella pun sudah siap pergi dengan helm sudah berada di kepalanya. 'Apa mereka berdua selalu ribut seperti itu?' Liriknya, lalu dia pun naik ke motornya lagi.


Namun ketika hendak menancap gas, dia tiba-tiba dicegat lagi.


"Tunggu. Vatler akan ikut denganmu, sekalian harus beli sesatu. Jika itu memang ada." Ucap Marlina, berhasil menghapus perasaan Risyella yang sempat lega itu.


****************


Di mall.


"Wah, lihat dia. Ganteng-ganteng seperti itu, ternyata pakai motor. Kalau saja dia pakai mobil, pasti lebih keren." Antara pujian bersama dengan hinaan langsung keluar dari mulut wanita yang baru saja memarkirkan motornya di halaman belakang mall.


"Apakah perempuan itu kekasihnya?"


"Mungkin saja dia sepuu."


"Dari dia berjalan, auranya seperti bukan laki-laki biasa, ya?"


Satu pujian dua pujian serta ungkapan dari rasa iri mereka pun terus menyeruak masuk ke indera pendengaran mereka berdua.


Vatler dan Risyella yang baru saja sampai di sebuah parkiran dari pusat perbelanjaan langsung mendapatkan berbagai sorotan dari kaum hawa.


Itulah konsekuensi yang Risyella miliki setalah menerima titipan agar membawa Vatler dalam acara shoping nya.


Sekalipun harus membahayakan dirinya senidri karena jadi pusat perhatian banyak orang, di sudut lain hati Risyella pun sebenarnya jadi memiliki kebanggan sendiri karena bisa membawa pria setampan itu dengannya ke depan mukan umum.


Bumbu pujian, atau hinaan, Risyelal alami. Tapi nyataanya tetap tidak membuat hatinya merasa sedih, karena yang ada justru adalah, dia merasa senang. Risyella setidaknya kali ini akan jadi hari paling spesial untuknya.


Bagaimana tidak spesial, jika kepergiannya kali ini, akhirnya ada yang menemaninya. Tidak seperti hari-hari biasanya yang harus dia kerjakan sendiri, kali ini Risyella pun jadi merasakan bagaimana itu rasanya seorang pria berjalan bersama dengannya untuk belanja bersama pula.


Satu hal yang belum pernah sekalipun Risyella alami selama hidupnya.

__ADS_1


'Tapi dia benar-benar tinggi. Berdiri saja dia sudah jadi pusat perhatian.' Pikir RIsyella, saat dia memperhatikan Vatler dari belakang. Terlihat jelas, hanya dengan melihat punggungnya yang lebar itu, membuat kesan pada diri Risyella terhadap Vatler pun jadi semakin meningkat jauh.


Kesan apa?


Yaitu kesan sempurna.


Ya.....


Meskipun bari kenal sehari, dia sudah memiliki kesan tersendiri kalau pria seperti Vatler ada pria yang tidak bisa dia jangkau.


Walaupun hatinya benar-benar menyukainya, tapi berdasarkan status dan level dari mereka berdua, sudah terlihat dengan sangat jelas perbedaannya


Itulah meengapa, Risyella tidak mau mengharapkan lebih dari sekedar membantu seorang tamu hidup di pedesaan.


Merasa di tatap oleh wanita yang baru dikenalinya belum lama ini, Vatler pun berbalik. Sehingga saat ini mereka berdua akhirnya saling berhadapan dan bertatapan satu sama lain.


"Tatapan matamu-" Vatler seketika menghentikan kalimatnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa tatapan milik wanita di depannya itu benar-benar berbeda dari yang lain.


Dari sisi apa itu, sayangnya Vatler belum tahu itu apa.


Risyella yang terkejut dengan Vatler yang saat ini sudah saling berhadapan, membuat Risyella segera memalingkan wajahnya kearah lain. "M-maaf, aku tidak sopan." Lirih Risyella, merasa malu karena sudah ketahuan menatap Vatler secara terang-terangan.


Vatler pun hanya mengatupkan mulutnya. Ungkapan kata yang ingin dikatakannya pun tertahan di dalam tenggorokannya.


'Aku tahu apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Itu adalah tatapan mata yang sedang menahan keinginan hatinya.' Tatap Vatler, pada RIsyella yang saat ini sedang menutup mulutnya sendiri karena tengah menahan malu, sudah ketahuan menatapnya.


'Kenapa dia terus menatapku? Apakah dia sedang balas dendam karena tadi aku menatapnya?!' Racau Risyella, tidak bisa melepaskan tangannya daripada menutup mulutnya.


"Risyella-"


'A-apa? Dia tadi memanggil namaku?' Risyella mengerjapkan matanya untuk menatap Vatler dengan berani. "Apa?" Tanyanya balik. 'Kenapa suasana aneh ini malah terjadi di tengah umum? Kan aku tambah malu. Ayolah...sebenarnya apa yang ingin dia katakan? Kenapa harus membuatku menunggu dan penasaran seperti ini sih?'


TAP...TAP....TAP.....


Tanpa di duga lagi, Vatler tiba-tiba berjalan menghampiri Risyella yang saat ini sedang berdiri layaknya patung.


"Apa kau-" Semakin berjalan mendekat, Vatler pun sedikit membungkukkan tubuhnya kearah Risyella. Tepat di saat Vatler sudah berada di depan Risyella persis, Vatler pun berbisik. "................."


Sebuah bisikan yang berhasil membuat kedua mata Risyella membulat sempura, lalu melirik kearah Vatler yang saat ini wajahnya ada disampingnya persis.

__ADS_1


__ADS_2